Share

Bab 11

Penulis: Nana Shina
last update Tanggal publikasi: 2026-09-19 16:39:06

Cahaya matahari menembus dinding kaca di butik pernikahan eksklusif. Deretan gaun pengantin tersusun anggun. Masing-masing menggantung elegan dengan pencahayaan lembut seolah maha karya.

Beberapa manekin mengenakan gaun putih dengan ekor panjang bak angsa, sementara di seberang terpajang setelan formal pria dalam nuansa hitam, abu-abu, dan biru gelap.

Ayu melangkah masuk dengan ekspresi kaku. Aroma white floral yang sejuk membuat moodnya terasa rapuh. Satu kesukaan dan satu kebencian. Tempa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 93

    Berbekal secarik kertas di tangannya Ayu menaiki tangga menuju lantai tiga kafe. Berbeda dengan lantai bawah yang dipenuhi aktivitas pengunjung, area tersebut lebih bersifat privat. Tidak ada ruang pelayanan maupun tempat duduk untuk pelanggan. Hanya ruang khusus karyawan, beberapa ruangan VIP, serta ruang kerja pemilik usaha. Ayu berhenti di depan salah satu pintu. Setelah berdeham singkat ia mengetuk beberapa kali hingga terdengar suara yang mempersilakannya masuk. "Hello, Ma'am." Ayu membuka pintu seraya menyapa singkat. "My dear ... aku khawatir laki-laki tadi melakukan sesuatu yang buruk kepadamu." Wanita dengan rambut yang disanggul rendah segera menghampiri Ayu. Tanpa banyak bicara ia memeluk perempuan muda itu erat-erat. Tangannya mengusap punggung hingga lengan Ayu, seolah ingin memastikan tidak ada bagian tubuh yang terluka. "Aku datang lebih cepat, Ma'am,” tutur Ayu setengah bercanda. "Aku tahu sesuatu akan terjadi." "Ya?" Ayu mengernyit bingung. Sementara perempuan

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 92

    Tepat pukul tiga sore Ayu memasuki halaman depan My Story, sebuah restoran steak yang berpadu dengan coffee shop dalam satu bangunan. Tempat itu mengusung konsep modern dengan dominasi warna putih gading, hitam, dan cokelat muda. Perpaduan ketiganya menciptakan kesan bersih sekaligus hangat, menghadirkan suasana nyaman bagi siapa pun yang berkunjung. Bergeser ke sisi kanan, langit-langit kafe dirancang dengan lekukan geometris yang lembut. Dari luar tempat itu tampak ramai oleh pengunjung yang menikmati suasana estetik. Sebagian pengunjung memenuhi area makan, sementara yang lain memilih duduk di sisi coffee shop. Ada yang asyik berbincang dengan topik harian, ada juga yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing sembari sesekali menyesap kopi. Ayu mengalihkan pandangan ke area outdoor. Di sana Baskara duduk tenang sambil mengusap layar ponsel. Jaket denim khasnya tersampir di sandaran kursi, sementara tubuh hanya dibalut kaus polo cokelat dan celana jeans biru tua. Begitu men

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 91

    Riris muncul dengan napas tersengal. Gadis berkacamata itu tampak terburu-buru mencari seseorang. "Ris, ketok dulu kalau masuk," tegur Clara khawatir tim pemasaran tersinggung. "Sorry. Anu..." Riris mengalihkan perhatian pada senior perfumer. "Pak Hendrik minta kamu ke ruangannya, Ay." Situasi memburuk. Dengan gerakan gesit Ayu meletakkan kembali botol parfum di atas meja. Ia mengembuskan napas pendek sebelum mengangguk dan mengikuti Riris dari belakang. "Heh, mau kabur kemana kamu? Tanggung jawab, Bego!" celetuk Dika macam rem blong. "Mulutnya tolong dijaga, Pak!" Maudy yang sejak tadi bersabar melayangkan tatapan sinis. Andini menarik napas panjang, mempertahankan pikiran jernih yang hampir goyah dan pecah. "Begini, Pak Dika. Tolong jangan memperkeruh masalah. Kita tunggu keputusan pimpinan sampai besok pagi," tegur Sheila, ketua tim pemasaran tiga. “Maaf untuk semua kegaduhan yang terjadi.” Ayu membungkuk tipis. “Saya akan mencari sumber dari masalah ini dan menem

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 90

    Ayu menyusuri lorong lantai dua menuju lift. Senyum manis menghiasi wajahnya sementara sebuah ponsel menempel di telinga kiri. Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya memberikan anggukan hormat. Ayu membalas dengan gestur serupa tanpa sedikit pun mengalihkan perhatian dari percakapan di seberang sambungan. "Iya, Ma'am. Aku akan mampir ke kafe dalam waktu dekat." Sahutan protes terdengar menggemaskan di telinga Ayu. Perempuan yang sedang diajak bicara itu memiliki segudang kesibukan, mungkin jauh lebih padat daripada dirinya, tetapi perempuan itu tetap bersikukuh ingin bertemu. "Oh, ya? Di kelas fragrance? Pasti menyenangkan bertemu gadis yang mirip denganku." Ayu terkekeh. Ia bahkan spontan menutup mulut ketika tawanya sedikit lebih lepas daripada yang direncanakan. Disusul anggukan pelan seakan lawan bicara di seberang bisa melihat reaksinya. "He-em. Setelah Velvet Rain keluar aku punya banyak waktu luang. Jadi—" "Ayu!" Suara panggilan mendadak membuat senior perfume

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 89

    Bisik-bisik lirih menyertai orang yang telah duduk di ruang rapat. Suasananya mengingatkan pada rapat pertama Arka sejak menjabat sebagai CEO Scentara. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Berbagai kabar simpang siur yang beredar sejak pagi menambah ketegangan di antara para peserta. Hampir seluruh kursi telah terisi. Hanya tersisa dua tempat duduk masing-masing di bagian ujung tengah meja dan sisi samping nomor dua. Beberapa anggota rapat mulai menduga-duga. Ada seseorang yang telah dilengserkan tanpa banyak pemberitahuan. "HeIen," panggil Hendrik kepada kepala bagian pemasaran. Perempuan itu hanya membalas dengan pandangan tenang. Sesekali ia membuka map di hadapannya kemudian mendongakkan wajah untuk menanggapi Hendrik di seberang. "Kursi wakil kepala itu—" Ucapan Hendrik terhenti ketika pintu ruang rapat mendadak terbuka lebar. Sekretaris Arka masuk lebih dahulu disusul sang CEO, dua staf khusus, dan seorang pemuda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Arka

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 88

    Dering telepon di meja samping ranjang memecah keheningan kamar. Arka yang masih memeluk Ayu erat terpaksa melonggarkan rengkuhannya untuk meraih ponsel dan menerima panggilan. "Halo." Lelaki itu menerima sapaan dan menyimak penjelasan singkat dari seseorang di seberang sambungan. Di sisi lain Ayu menggeliat kecil. Ia membuka mata dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya. "Jam berapa sekarang?" tanyanya lirih. "Jam delapan, Sayang," jawab Arka tanpa melepaskan ponsel dari telinganya. Seseorang di ujung sambungan tiba-tiba menyela. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda bersama Senior Perfumer Ayu." "Tidak masalah. Silakan lanjutkan." Penelepon itu kembali menjelaskan informasi mengenai rapat mendadak yang akan diadakan besok, termasuk kehadiran seseorang dari pihak CEO. Sementara itu Ayu yang semula masih menikmati empuknya kasur dan elusan lembut Arka mendadak membeku. Telinga perempuan itu menangkap jelas bagaimana seseorang di seberang menyebut dirinya. Senior Perfumer A

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status