공유

Bab 11

작가: Nana Shina
last update 게시일: 2026-09-19 16:39:06

Cahaya matahari menembus dinding kaca di butik pernikahan eksklusif. Deretan gaun pengantin tersusun anggun. Masing-masing menggantung elegan dengan pencahayaan lembut seolah maha karya.

Beberapa manekin mengenakan gaun putih dengan ekor panjang bak angsa, sementara di seberang terpajang setelan formal pria dalam nuansa hitam, abu-abu, dan biru gelap.

Ayu melangkah masuk dengan ekspresi kaku. Aroma white floral yang sejuk membuat moodnya terasa rapuh. Satu kesukaan dan satu kebencian. Tempa
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 14

    Beberapa karyawan di meja samping mengintip lewat ujung mata. Mereka penasaran dengan kejadian yang ada di tempat Ayu dan Arka. Sosok CEO baru yang pertama kali makan di kantin sudah jadi bahan legit untuk berbisik-bisik. Ditambah, suasana di sekitar meja mereka kini terasa aneh. Udara seolah lebih sesak dan pengap daripada beberapa menit sebelumnya. Ayu menyesali keputusannya makan di kantin hari ini. Seharusnya ia membawa bekal dan makan di ruang piket. Atau mending tidak makan sama sekali. Lebih baik sang senior perfumer kelaparan daripada harus satu lokasi dengan calon suami di tengah krisis. Masih dalam zona kepura-puraan, Arka menurunkan sendoknya perlahan. Satu iris daging terakhir tenggelam ke dasar mangkuk. Seakan berniat meninggalkan Arka dan Ayu yang sibuk mencari alasan. Ayu menunduk sejenak. Ia berusaha mempertahankan wajah setenang mungkin sebelum akhirnya mengangkat kepala dan menatap lurus ke arah Arka. "Pak Arka!" Damar yang duduk beberapa kursi dari san

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 13

    Kantin Scentara jadi sudut paling ramai di jam makan siang. Aroma tiga hidangan khusus menyebar dengan nuansa menggiurkan. Di antara semuanya, kuah rawon yang pekat nan gurih paling mudah menarik perhatian. Ayu dan para anggota tiba tepat waktu. Suasana terasa ramai tetapi belum masuk ke sesi kacau. Di sekelilingnya karyawan tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Beberapa pegawai teladan masih membicarakan pekerjaan. Sementara yang lainnya sudah membahas rencana di akhir pekan. Semua bergerak dalam alur yang sudah biasa dilakukan. Mereka memilih makanan, ambil nampan, makan lahap, lalu kembali ke meja penuh tumpukan beban. “Ay, mau rawon, pecel, atau gado-gado?” tanya Riris sembari menggesek kartu makan. Ia berdiri di depan layar pemesanan sambil menatap plakat menu yang terpasang di samping kanan. “Gado-gado aja, Ris," jawab Ayu enteng. Minggu lalu senior perfumer mentraktir rekannya rujak uleg. Sekarang giliran Riris yang menggesek kartunya dua kali. Setelah menekan gambar

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 12

    Kaca reflektif besar mengamankan ruangan Arka. Saat seharusnya cahaya menyentuh badan sang CEO yang suntuk, ia malah menolak dan hanya menunggu di luar jendela. Jam dinding hitam hampir menunjuk angka teratas ketika Arka mengangkat pandangan dari layar komputer. Ia diselimuti aura negatif yang tak teredam. Tatapan mata yang begitu dalam membuat lelaki itu makin tak tersentuh apapun dari luar. Sejak pagi Arka duduk di kursi empuk dengan pikiran runyam. Telepon berdering, dokumen silih berganti, dan beberapa kali sekretarisnya masuk membawa berkas darurat yang harus segera ditandatangani. Dengan semua keadaan itu, Arutala Banyu duduk santai di sofa tengah. Ia datang tanpa banyak bicara. Hanya sesekali melirik, kemudian memejamkan mata seakan merindukan ruang yang telah berpindah tuan. "Kenapa Paman masih di sini?" tanya Arka seraya bangkit dari kursi. CEO baru itu mengambil jeda. Ia bergabung dengan pamannya di sofa full leather untuk mengistirahatkan badan. Aru membuka mata.

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 11

    Cahaya matahari menembus dinding kaca di butik pernikahan eksklusif. Deretan gaun pengantin tersusun anggun. Masing-masing menggantung elegan dengan pencahayaan lembut seolah maha karya. Beberapa manekin mengenakan gaun putih dengan ekor panjang bak angsa, sementara di seberang terpajang setelan formal pria dalam nuansa hitam, abu-abu, dan biru gelap. Ayu melangkah masuk dengan ekspresi kaku. Aroma white floral yang sejuk membuat moodnya terasa rapuh. Satu kesukaan dan satu kebencian. Tempat yang seharusnya jadi pelengkap kebahagiaan, berubah jadi muara amarah yang ditahan-tahan. "Lihat, Bu, calon pengantin yang gagal ada di sini," sindir perempuan muda dengan seringai menyebalkan. Ayu berhenti melangkah. Ia mengenali suara mungil yang dibuat-buat dari arah kanan. Tak lain dan tak bukan ialah Sitania Anggara. Adik satu-satunya dari Ayu Anindita. Seumur hidup Ayu tak pernah menyangka. Ia dan Sita berdiri di butik yang sama dengan nasib bagai dadu dalam kaleng kocokan. Peru

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 10

    Jam klasik berbingkai kuningan tua berdetak lambat. Tak sungguh-sungguh mencegat waktu. Ia hanya menggoda dua orang yang kini diam di tempat. Sang tetua duduk tenang di kursi utama. Dengan satu keputusan sederhana, beliau menempatkan Ayu di sisi kiri dan Arka di sisi kanan. “Sampai kapan kalian akan begini?” Sang kakek berucap untuk pertama kali. Arka melirik sekilas ke arah calon istri. Ayu tampak sabar. Padahal Arka tahu perempuan itu pasti sedang menahan gusar. Dibalik suasana penuh beban sang calon istri begitu menawan. Malam ini Ayu mengenakan dress satin warna ivory dengan garis leher sederhana. Tidak ada perhiasan mencolok. Hanya anting mutiara klasik dan tatanan rambut sleek low ponytail yang menyiratkan kesan elegan. "Kenapa diam saja?" Kakek Arka mengulang pertanyaan sembari menautkan kedua tangan di atas meja. Pengawal yang ada di sisi fokus mendeteksi. Ia sigap menanggapi perintah jika sewaktu-waktu Kakek Arka berniat keluar dari ruang makan. "Ayu." "Ya, Ka

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 9

    Ayu mengayunkan kakinya melewati batas lorong dan ruang kerja. Melihat kedua kawan berwajah tegang, ia mengangkat sudut bibir seraya melambaikan tangan. “Ay, gimana?” Dua kawan mendekat cepat. Ayu meletakkan map hitam dengan gerakan lebih berat dibanding dua jam lalu. Begitu barang bawaan terlepas dari tangan, ia langsung menarik kursi dan mengelus dagu. "CEO kita lumayan waras," hibur Ayu seraya menyapu pandang. Ia raih botol minum di sisi komputer dan meneguknya hingga tersisa setengah. "Lumayan?" Riris penasaran. Ia mengambil satu kursi dan duduk menghadap Ayu. "Dia enggak paksa launching produk lebih awal. Tapi Senior Deva dan Senior Anggi harus mempersiapkan formulasi parfum secepatnya." Ayu membuka map. Ia menyodorkan lembar pertama pada Riris dan Clara. Kemudian menunggu respons mereka atas keputusan rapat. "Oke. Sesuai prediksi,” komentar Clara sambil menepuk pundak Ayu. “Apa hanya kita yang diperketat, Ay?" "Semua, Ris." Ayu menyandarkan punggung ke kursi. "Jik

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status