LOGINAyu Anindita adalah seorang senior perfumer di perusahaan parfum terkemuka, Scentara. Dua tahun menanti hari pernikahan Ayu justru menyaksikan tunangannya Baskara Nareindra berselingkuh. Pengkhianatan itu menghancurkan seluruh mimpi indah. Untuk menenangkan diri Ayu mengambil cuti dan menghabiskan beberapa hari di sebuah resort alam daerah Batu. Di resort itu Ayu bertemu Arkana Banyu. Cinta pertama masa kuliah yang hilang tanpa ucap perpisahan. Pertemuan itu seharusnya jadi nostalgia semata. Sampai akhirnya tanpa sengaja Ayu menghadiri acara perjodohan Arka. Berniat menghindar si wanita justru ditarik oleh sang cinta pertama di hadapan seluruh keluarga besar. "Aku menolak perjodohan ini. Aku sudah memiliki calon istri. Kami telah jatuh cinta dan menjalin hubungan rahasia sejak masih mahasiswa." Semua orang tak menyangka Arka memeluk mesra gadis asing dan memperkenalkannya sebagai wanita yang akan dinikahi. Nyaris seluruh orang berbisik pedas. Namun sang kakek malah tertawa dan mempersilakan Arka Ayu untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Kebohongan berubah jadi sebuah kontrak nikah selama satu tahun. Bagi Arka pernikahan itu jadi satu-satunya cara menghentikan paksaan untuk berumah tangga. Sementara bagi Ayu hal itu jadi kesempatan untuk keluar dari belenggu keluarga angkat yang semakin hari semakin merendahkannya. Sekembali ke kota Ayu dibuat kaget oleh sosok calon suami. Ternyata Arka bukan sekadar cinta pertama yang pernah ia kagumi. Tetapi dia adalah CEO baru di perusahaan tempatnya bekerja. Ayu harus bersandiwara. Memakai topeng istri di hadapan keluarga Arka dan jadi karyawan biasa di hadapan rekan-rekannya. Seiring berjalannya waktu baik Ayu maupun Arka merasakan kenyamanan satu sama lain. Mereka saling melengkapi dan membutuhkan. Ayu jadi sosok dinamis yang hangat seperti matahari. Sementara Arka adalah lelaki yang tenang bak bulan purnama. Dengan segala bayang kelabu di belakang mampukah mereka mempertahankan pernikahan kontrak tanpa celah? Atau justru saling jatuh hati dan mengubah tujuan hidup untuk cinta yang bersemi kembali?
View MoreJika kesialan adalah tropi penghargaan dia akan memilikinya segudang penuh. Berkali melompat, menghindar, hingga mengubur bulat-bulat nasib buruk. Dia selalu jadi pemenang dalam perlombaan sebagai tumbal.
Anniversary kedua. Saat tangan membawa hadiah dan kue cokelat merah muda Ayu melihat sang calon suami bercumbu mesra dengan adik satu-satunya. Di apartemen yang ia cicil. Di sofa merah marun yang dia beli tahun lalu. "Jangan salahkan Kak Baskara, Kak! Semua salahku! Maafkan aku...," pinta si adik bersimpuh meminta pengampunan. Dia terisak. Akan tetapi suaranya terasa seperti sebuah tawa kemenangan. Kaku. Tubuh perempuan yang dikhianati tak mampu memberi respons terbaik. Dia hanya mampu berdiri dengan tatapan hambar. Tak ada makian. Tak ada kekerasan brutal. "Sayang ayo bangun. Aku enggak mau anak kita yang ada di dalam perutmu kesakitan." Ucapan calon suami Ayu menyadarkan si wanita dari situasi miris. Perempuan itu buru-buru menoleh. Dia melempar tatapan sinis sekaligus jijik. "Anak?" Pandangan Ayu berubah. Telaga matanya beriak dengan menyembunyikan amarah yang tertahan. Baskara menarik tangan Sita untuk berdiri di belakang. Lelaki itu tahu Ayu akan meluapkan kekecewaan sekaligus amarah setelah ini. "Ayu. Begini,” tutur Baskara dengan tatapan bimbang. Dia tidak sungguh-sungguh tangguh menatap sang tunangan. “Aku dan Sita sudah lama menjalin hubungan. Beberapa bulan setelah pertunangan kita." "Apa?" Ayu memberi penekanan. Sementara sang pengkhianat tak melanjutkan ucap. Dia berpaling menatap Sita dan menggenggam hangat. Ayu tak menyangka si adik akan sejauh ini. Dia tahu sejak dulu Sita memiliki kebiasaan merebut sesuatu darinya. Tapi seorang kekasih adalah yang terburuk. Wajah Ayu merah padam. Wanita itu mencengkeram erat paper bag berisi hadiah dan kue anniversary yang seharusnya jadi barang spesial. Dia berusaha menatap kedua orang tanpa melayangkan tamparan. Dia terus bertanya-tanya. Apa salahnya? Mengapa gadis bergaun cyan itu mempermainkan hidupnya? Mengapa juga kekasih terlalu gampang tergoda? "Kami saling cinta, Ay.” "Bullshit, Bas!" "Sungguh! Sita hamil anakku sekarang!" Deg! Detak jantung yang tak keruan makin memburu perkara sebuah janin bersarang pada si adik kurang ajar. Ayu menatap lekat calon suami. Lelaki itu sudah buta dan tuli. Memilih si adik daripada bakal istri yang bertahun-tahun menemani. "Kamu serius mengatakan ini?" tanya Ayu memastikan. Genangan air mata berkumpul dan bersiap luruh. Namun Ayu tidak ingin terlihat lemah. Sekuat tenaga dia menahan emosi sekaligus benci yang memberontak. "Kamu tahu, Ay? Selama ini kita enggak cocok. Kamu terlalu fokus dengan pekerjaanmu. Aku cuma bagian kecil yang enggak akan terlihat besar di mata kamu,” ungkap Baskara untuk pertama kalinya. Dia menunduk sejenak kemudian menggelengkan kepala tanda tak kuat. "Dua tahun, Bas. Setelah dua tahun pertunangan kenapa baru bilang kita enggak cocok? Aku nemenin kamu buka usaha mebel dari nol. Aku bantu persiapan bahan dan cek finishing saat kamu belum bisa bayar lebih karyawan. Sekarang kamu bilang kita enggak cocok dan aku kurang perhatian?" Ayu menggebu. Dia melempar paper bag yang sedari tadi dipegang ke arah Baskara. Lelaki itu kelabakan. Dia mampu menangkap satu tas dan terlihat box jam tangan Hamilton edisi terbaru. "Katakan sekali lagi kalau kamu selingkuh dengan Sita karena kita enggak cocok," tutur Ayu parau. Baskara bimbang. Bibirnya terkatup tanpa bisa melawan. Di sisi lain Sita menarik ujung lengan kemeja. Terdengar gumam dengan rona gelisah. Sang calon ayah langsung bereaksi tegas dan siap membela si selingkuhan. "Aku lebih bahagia dengan Sita, Ay." "Sungguh?” “Kamu bukan apa-apa sekarang.” “Astaga, Bas..." Ayu mendengkus. Perempuan itu menunduk tajam sambil memegangi kepala yang mulai nyut-nyutan. Dia mengumpat dalam hati. Bukan untuk Baskara ataupun Sita. Tetapi untuk dirinya sendiri. Dia terlambat menyadari semua rahasia. Bertahun dia membangun istana cinta. Lalu segalanya runtuh hanya dalam semalam. "Kenapa?" tutur Ayu lirih. Dia memberi sorot mata menyayat hati. Anehnya tatapan itu membuat si wanita begitu indah nan memabukkan. Rambut gelombang yang ia tata berjam-jam. Bibir tipis rona peach. Hingga kemeja putih berbalut cardigan soft pink membuatnya begitu menawan. Andai tak ada Sita di sana, Baskara akan kembali hanyut pada pemilik mata indah bola pingpong. "Aku... aku butuh seorang perempuan yang bisa mendukungku di belakang, Ay. Bukan perempuan yang malah memunggungiku seperti kamu." "Kapan aku memunggungimu? Jika kamu memang menginginkan Sita kenapa enggak sejak awal kamu pilih dia?" gertak Ayu. Nada bicaranya meninggi. Dia tidak bisa memahami situasinya lagi. "Saat itu aku kira kamu bisa jadi support sistem-ku. Tapi kenyataannya hampir setiap saat kamu terlihat unggul. Sita yang selalu ada untukku. Dia lembut dan penyayang. Aku lebih nyaman dengan sosok pendamping yang manis dan menghiburku di belakang." "Baskara Nareindra!" Panggilan keras ditujukan pada sang kekasih. Ayu sungguh tak mampu melihat sisi baik dari dua orang yang berkhianat. Kini hanya dia yang hancur. Sementara Sita seolah menyeringai senang di balik bahu lelaki yang terjebak cinta palsu. Ayu yakin Sita menjalani setengah hati. Dia hanya ingin merebut apa yang Ayu miliki. Dia senang jadi pemenang dan melihat Ayu jadi pecundang. "Pernikahan kita sebulan lagi! Bisa-bisanya kamu bertingkah gila begini?" "Aku akan membatalkan pertunangan dan menikahi Sita bulan depan," tegas Baskara dengan raut muka meyakinkan. "Wah, kalian benar-benar mengagumkan. Di situasi ini kalian enggak merasa bersalah padaku?" tanya Ayu tak habis pikir. "Sita, katakan sesuatu! Jangan pura-pura bodoh!" bentak Ayu geram. "Jangan meneriakinya! Sita hamil dan emosinya enggak stabil," balas Baskara tak kalah lantang. "Bagaimana denganku? Apa menurutmu emosiku stabil melihat kekasihku berselingkuh dengan adikku sendiri?" ujar Ayu sengit. Perempuan itu memukul dada dengan kepalan tangan. "Sayang..." Sita memanggil Baskara pelan. Gadis itu limbung. Dengan sigap tunangan Ayu menangkap tubuh mungil Sita. Sementara sang kakak mengernyitkan dahi. Entah sandiwara apalagi yang akan menyelimuti. "Jangan pura-pura lemah, Ta," celetuk Ayu kesal. "Jaga ucapanmu, Ay," balas Baskara seraya melirik tipis. "Ha?" "Aku tahu selama ini kamu enggak pernah memandang Sita sebagai adik. Padahal keluarga Sita sudah berbaik hati merawatmu,” celetuk Baskara menyudutkan mantan kekasih. "Jangan buat masalah melebar, Bas,” ujar Ayu peka. Dia tahu lelaki itu akan mengeluarkan segala hal yang bisa membuat posisi Sita tak berdosa. "Dari sudut manapun kamu perempuan jahatnya. Sita yang lemah selalu jadi bayang menyedihkan karena kamu." "Dia? Menyedihkan? Harusnya aku yang mau pingsan sekarang. Kalian berselingkuh di belakangku sampai-sampai si Sita hamil!" tegas Ayu dengan amarah yang tersangkut di tenggorokan. "Ta, kamu tahu dia tunanganku! Kenapa kamu ngelakuin semua ini?" "Kak Baskara bilang enggak bahagia bareng Kakak,” jawab si adik takut-takut. Dia menekuk wajah dengan kesan sendu dan gelisah yang memuakkan. Ayu menyeringai. Dia hampir tertawa melihat sandiwara si adik yang dia tonton sejak dua puluh tahun belakangan. "Hebat! Kalian berdua memang serasi,” canda Ayu getir. Wanita itu tak minat menangis maupun meraung seperti betina serigala yang sakit hati. “Oke. Terserah mau kalian. Batalkan saja pertunangannya. Silakan menikah tapi tolong keluar dari sini. Ini apartemenku,” tegas Ayu akhirnya. "Enggak bisa. Apartemen ini atas namaku, Ay." "Tapi aku yang mencicil bulanannya, Brengsek! Kuberi waktu tiga hari. Keluar dari apartemen ini atau aku akan membuatnya semakin alot." Ayu jengah. Dia merapikan pakaian dan berbalik menuju pintu. Dari arah belakang Baskara menyusul. Dia merenggut pundak sang tunangan dengan napas memburu. "Ay! Kenapa kamu sejahat ini? Apartemen ini akan ditinggali adikmu. Seharusnya kamu berbaik hati." "Berbaik hati? Setelah semua yang kalian lakukan? Kalian benar-benar enggak waras!" "Tunggu dulu, Ay! Ayu!” Baskara coba mencegah kepergian Ayu. Namun Perempuan yang terluka hanya bisa melarikan diri. Marah, sedih, dan sesal mencekik leher hingga napas yang berembus tak benar-benar lebur. Dadanya panas. Sesak. Dia kira sang kekasih akan jadi suami impian tak tergantikan. Nyatanya malah Ayu yang didepak. Calon suami yang dia perjuangkan akan berubah jadi adik ipar. Ditambah dia akan memiliki ponakan dari hubungan menjijikkan yang terjadi di belakang. "Bodoh!" bentak Ayu sendirian. Dia memencet tombol lift menuju lobi. Saat berada di kotak sunyi itu tanpa sadar air mata turun. Dia menggigit ujung bibir. Kemudian mengertakkan gigi kuat-kuat. "Sial. Seharusnya aku ambil lavender di studio sebelum pergi,” gerutu Ayu sambil mengusap air mata. Saat keluar lift ekspresinya kembali. Tenang. Anggun. Tak menyiratkan kesan sayu sedikitpun.Deretan botol dengan kode-kode khusus tertata rapi di rak stainless. Beberapa mendekam dalam ruang terpisah sebagai hasil terbaik yang dapat diunduh satu atau dua bulan ke depan. Di ruang lengang yang berteman benda-benda transparan seorang pimpinan teliti mengejar wewangian. Dengan jaket lab kebanggaan, kacamata square frame abu muda, dan sarung tangan khas perlindungan, tertulis nama Ayu Anindita di dada kiri atas sebagai tanda pengenal. "Masih belum, Senior?" tanya satu-satunya lelaki yang ada di sana. Setengah berbisik antara gugup dan berharap segalanya segera berakhir. Sang senior membeku. Ia kipas-kipaskan blotter strip sesaat kemudian diam lagi untuk memindai notes yang menyebar pelan. Senior perfumer itu sedang menguji penciuman. Belum seratus persen tepat. Ia masih menangkap sesuatu yang terlewat. Ayu menggeser botol pertama. Ia beralih pada satu botol uji coba lalu kembali lagi pada botol yang menyita perhatian sejak awal. Dia merasa ada kurang, tetapi keempat anggo
Memasuki gedung utama tak pernah seberisik ini. Meski pagi jadi momen menyegarkan. Di kuping Ayu sekarang berdengung gumam sekitar. Perempuan itu tak terbiasa dengan gosip. Dia cenderung jadi orang yang menepi dan tak banyak berargumen selain dalam profesionalitas kerja. Kini kisah cintanya jadi konsumsi publik. Ada yang mengasihani karena Ayu ditinggal H-sebulan pernikahan. Ada juga yang bertanya-tanya apa kurangnya hingga wanita penuh power dan feminim energi itu tersisihkan."Ayu!”Si pemilik nama melambaikan tangan ringan. Sepucuk senyum dia suguhkan. Bagaimanapun dia paham. Sang sahabat akan meraung seperti manusia serigala di bulan purnama jika dia bersikap acuh tak acuh.“Selamat datang kembali di Scentara, Sister!" sapa Andini seraya memeluk manja. Sahabat Ayu sejak magang itu terlihat cerah dengan balutan blazer butter dan celana panjang tone daffodil."Lebay deh, An. Ditinggal tiga hari doang," sahut Ayu ringan. Style pakaian wanita itu berkebalikan dengan Andini yang terang
Pelukan dari lelaki masa lalu masih terasa hangat. Tarikan napas dua orang dalam jarak dekat memberikan sensasi intim yang tak jelas. Ayu menunduk ragu. Dia tak berani menatap telaga mata Arka yang begitu dalam. Sementara Arka tak melepas intaian. Dengan mata sipit tajam pria itu meraba tiap lekuk wajah yang ia kecup semenit yang lalu."Ay, wajahmu merah,” celetuk Arka di momen yang tak tepat.Ayu buru-buru mendorong Arka untuk jauh. Wanita itu menutup setengah wajahnya dengan kepalan tangan. Malu. Dia tidak bisa menutupi kebutuhan akan perhatian dan sentuhan di masa-masa patah hati."Kamu enggak anggap serius kata-kata cintaku ‘kan?" tanya Arka sambil memiringkan kepala. Lelaki itu mencoba menggali ekspresi Ayu yang ditutup-tutupi."Jangan asal bicara! Aku tahu semua cuma kebohongan," gerutu Ayu sambil melangkah ke dalam ruang. Dia mendekati ranjang dengan langkah dan ayunan tangan ringan. Dia membiasakan diri. Lebih tepatnya si perempuan bekerja keras untuk terlihat santai dan nyama
Ayu kira Arka hanya basa-basi saat bilang mengajaknya ke cafe dekat taman. Ternyata lelaki itu serius. Dia mengambil tempat duduk menghadap city light arah timur. Berbanding terbalik dengan pemandangan yang Ayu nikmati sebelum badai kebohongan melanda.Menunggu sekitar sepuluh menit. Pesanan Arka datang. Nasi pulen, rawon bumbu original, dan teh oolong tanpa gula. Ayu tersenyum. Makanan milik sang cinta pertama amat berbeda dengan suguhan di meja makan keluarga."Mau, Ay?" tawar Arka tanpa menoleh. Lelaki itu mengaduk kuah rawon sambil memastikan isian."Hem?""Kamu ngelihat makananku sampai kayak gitu. Mau?" tanya Arka sekali lagi. Kali ini dia mengangkat wajah. Menatap lurus perempuan bergaun biru yang dia bilang sebagai kekasih tercinta sejak mahasiswa."Oh enggak. Sorry."Ayu mengelus hidung seraya berdehem halus. Perempuan itu tak bermaksud mempermasalahkan selera Arka. Sejak dulu dia tahu, lelaki itu pecinta rawon dan empal goreng udang. Saat kuliah dia hanya bisa makan menu itu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.