LOGINTepat pukul tiga sore Ayu memasuki halaman depan My Story, sebuah restoran steak yang berpadu dengan coffee shop dalam satu bangunan. Tempat itu mengusung konsep modern dengan dominasi warna putih gading, hitam, dan cokelat muda. Perpaduan ketiganya menciptakan kesan bersih sekaligus hangat, menghadirkan suasana nyaman bagi siapa pun yang berkunjung. Bergeser ke sisi kanan, langit-langit kafe dirancang dengan lekukan geometris yang lembut. Dari luar tempat itu tampak ramai oleh pengunjung yang menikmati suasana estetik. Sebagian pengunjung memenuhi area makan, sementara yang lain memilih duduk di sisi coffee shop. Ada yang asyik berbincang dengan topik harian, ada juga yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing sembari sesekali menyesap kopi. Ayu mengalihkan pandangan ke area outdoor. Di sana Baskara duduk tenang sambil mengusap layar ponsel. Jaket denim khasnya tersampir di sandaran kursi, sementara tubuh hanya dibalut kaus polo cokelat dan celana jeans biru tua. Begitu men
Riris muncul dengan napas tersengal. Gadis berkacamata itu tampak terburu-buru mencari seseorang. "Ris, ketok dulu kalau masuk," tegur Clara khawatir tim pemasaran tersinggung. "Sorry. Anu..." Riris mengalihkan perhatian pada senior perfumer. "Pak Hendrik minta kamu ke ruangannya, Ay." Situasi memburuk. Dengan gerakan gesit Ayu meletakkan kembali botol parfum di atas meja. Ia mengembuskan napas pendek sebelum mengangguk dan mengikuti Riris dari belakang. "Heh, mau kabur kemana kamu? Tanggung jawab, Bego!" celetuk Dika macam rem blong. "Mulutnya tolong dijaga, Pak!" Maudy yang sejak tadi bersabar melayangkan tatapan sinis. Andini menarik napas panjang, mempertahankan pikiran jernih yang hampir goyah dan pecah. "Begini, Pak Dika. Tolong jangan memperkeruh masalah. Kita tunggu keputusan pimpinan sampai besok pagi," tegur Sheila, ketua tim pemasaran tiga. “Maaf untuk semua kegaduhan yang terjadi.” Ayu membungkuk tipis. “Saya akan mencari sumber dari masalah ini dan menem
Ayu menyusuri lorong lantai dua menuju lift. Senyum manis menghiasi wajahnya sementara sebuah ponsel menempel di telinga kiri. Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya memberikan anggukan hormat. Ayu membalas dengan gestur serupa tanpa sedikit pun mengalihkan perhatian dari percakapan di seberang sambungan. "Iya, Ma'am. Aku akan mampir ke kafe dalam waktu dekat." Sahutan protes terdengar menggemaskan di telinga Ayu. Perempuan yang sedang diajak bicara itu memiliki segudang kesibukan, mungkin jauh lebih padat daripada dirinya, tetapi perempuan itu tetap bersikukuh ingin bertemu. "Oh, ya? Di kelas fragrance? Pasti menyenangkan bertemu gadis yang mirip denganku." Ayu terkekeh. Ia bahkan spontan menutup mulut ketika tawanya sedikit lebih lepas daripada yang direncanakan. Disusul anggukan pelan seakan lawan bicara di seberang bisa melihat reaksinya. "He-em. Setelah Velvet Rain keluar aku punya banyak waktu luang. Jadi—" "Ayu!" Suara panggilan mendadak membuat senior perfume
Bisik-bisik lirih menyertai orang yang telah duduk di ruang rapat. Suasananya mengingatkan pada rapat pertama Arka sejak menjabat sebagai CEO Scentara. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Berbagai kabar simpang siur yang beredar sejak pagi menambah ketegangan di antara para peserta. Hampir seluruh kursi telah terisi. Hanya tersisa dua tempat duduk masing-masing di bagian ujung tengah meja dan sisi samping nomor dua. Beberapa anggota rapat mulai menduga-duga. Ada seseorang yang telah dilengserkan tanpa banyak pemberitahuan. "HeIen," panggil Hendrik kepada kepala bagian pemasaran. Perempuan itu hanya membalas dengan pandangan tenang. Sesekali ia membuka map di hadapannya kemudian mendongakkan wajah untuk menanggapi Hendrik di seberang. "Kursi wakil kepala itu—" Ucapan Hendrik terhenti ketika pintu ruang rapat mendadak terbuka lebar. Sekretaris Arka masuk lebih dahulu disusul sang CEO, dua staf khusus, dan seorang pemuda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Arka
Dering telepon di meja samping ranjang memecah keheningan kamar. Arka yang masih memeluk Ayu erat terpaksa melonggarkan rengkuhannya untuk meraih ponsel dan menerima panggilan. "Halo." Lelaki itu menerima sapaan dan menyimak penjelasan singkat dari seseorang di seberang sambungan. Di sisi lain Ayu menggeliat kecil. Ia membuka mata dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya. "Jam berapa sekarang?" tanyanya lirih. "Jam delapan, Sayang," jawab Arka tanpa melepaskan ponsel dari telinganya. Seseorang di ujung sambungan tiba-tiba menyela. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda bersama Senior Perfumer Ayu." "Tidak masalah. Silakan lanjutkan." Penelepon itu kembali menjelaskan informasi mengenai rapat mendadak yang akan diadakan besok, termasuk kehadiran seseorang dari pihak CEO. Sementara itu Ayu yang semula masih menikmati empuknya kasur dan elusan lembut Arka mendadak membeku. Telinga perempuan itu menangkap jelas bagaimana seseorang di seberang menyebut dirinya. Senior Perfumer A
"Aku enggak memaksamu untuk menyerahkan diri sepenuhnya." Suara Arka terdengar rendah. "Tapi setelah kontrak kita selesai, aku enggak akan pernah merasakan Purnama Pertama, Ay. Sampai kapanpun." Ayu berbalik. Ia meninggalkan Arka yang masih berdiri di tempatnya. Sementara dirinya kembali duduk di tepi ranjang. "Tapi kita bukan suami istri sungguhan, Ar. Aku..." Kalimatnya terhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati. Ayu semata-mata menolak bukan karena tak memiliki perasaan terhadap lelaki itu. Akan tetapi ada pertimbangan lain yang membuatnya sulit memberikan persetujuan. Hati kecilnya terusik oleh naluri. Sedangkan ia harus menghargai perempuan yang dicintai oleh suami. Bagaimana jika perempuan itu mengetahui bahwa Arka telah berbagi keintiman dengannya? Jika keadaan dibalik, Ayu tak yakin sanggup menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya memeluk perempuan lain. Di sisi lain Arka ikut berpindah. Ia berjongkok di hadapan Ayu lalu meraih kedua tangan perempua







