LOGINElena Valeri dipaksa keluarganya menikah demi menjaga nama keluarga. Di sisi lain,Kael Arvand, mantan bodyguard berusia tiga puluh tiga tahun, lelah menghadapi tekanan ibunya yang terus menjodohkannya. Elena dan Kael memutuskan menjalani pernikahan kontrak selama satu tahun. Tinggal serumah membuat keduanya perlahan saling mengenal dan jatuh cinta tanpa disadari. Namun kehadiran Vivian, wanita yang lama mencintai Kael, serta Adrian, mantan kekasih Elena, mengguncang hubungan mereka. Ketika masa kontrak berakhir, Kael dan Elena harus menentukan apakah mereka akan berpisah sesuai perjanjian atau memulai kehidupan baru sebagai pasangan yang benar-benar saling mencintai.
View MoreBAB 1 : Pertemuan yang Tak Disengaja
*** “Kael?” panggil Elena. Sosok yang baru saja hendak membuka pintu mobil itu berhenti, lalu menoleh. “Elena?” ada nada ragu di suara Kael, seolah tidak yakin dengan yang dilihatnya. “Aku kira kamu sudah lupa,” kata Elena sambil tersenyum kecil. Lima tahun lalu, Kael adalah bodyguard pribadinya, dikontrak keluarganya setelah muncul ancaman terhadap keluarga mereka. “Sulit melupakan seseorang yang pernah membuatku menunggu dua jam di lobi hotel,” sindir Elena, setengah bercanda. “Kamu masih mengingatnya?” tanya Kael yang terlihat sedikit terkejut. Waktu itu, Elena masih remaja dan sedang menghadiri acara ulang tahun temannya di salah satu hotel, namun ternyata ada yang mengincarnya. Kael yang sigap langsung mengalihkan perhatian lawan dan mengeksekusi lawan tanpa menimbulkan keributan. Dia sering merasa Kael terlalu kaku, terlalu banyak mengawasi, dan juga terlalu diam untuk sekadar diajak bicara. “Tentu saja,” jawab Elena. “Kael, apa kamu ada waktu untuk sekadar menemaniku minum kopi?” tanya Elena melanjutkan. “Hm… boleh juga,” jawab Kael sambil menganggukkan kepalanya. Mereka menyeberang ke kafe di seberang jalan, tempat yang terlihat aesthetic, tidak terlalu ramai, dan juga harum aroma kopi dan roti panggang yang menguar dan menenangkan. “Kamu kelihatan lebih santai sekarang,” kata Elena sambil memandang Kael dari atas hingga bawah. “Iya, begitulah. Sepertinya kamu kelihatan lebih sibuk,” balas Kael membenarkan. “Aku baru pulang, habis ketemu klien,” ujar Elena. “Tapi, nada suaramu terdengar seperti baru pulang dari medan perang,” kata Kael tenang. Elena nyaris tertawa karena itu memang tepat sekali. Karena tadi bukan hanya sekedar pertemuan bisnis saja, seperti biasa Elena harus mengikuti arahan orang tuanya untuk kenalan secara pribadi dengan anak rekan bisnisnya dari Hartono Group. “Tepat sekali,” aku Elena sambil tertawa pelan. Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang. Kopi hitam untuk Kael, latte untuk Elena. Untuk beberapa saat mereka hanya diam. “Kamu masih di kantor yang sama?” tanya Elena lagi. “Sudah tidak lagi. Aku sekarang jadi konsultan keamanan,” papar Kael. Elena mengangkat alis kanannya, merasa tertarik dengan pembahasan kali ini. “Konsultan keamanan? Kedengarannya menarik. Berarti kamu tidak perlu turun tangan langsung.” “Tidak sepenuhnya begitu,” jawab Kael. “Sebagian besar waktuku memang dipakai untuk menilai risiko klien, bukan lagi berdiri di belakang mereka setiap saat.” “Menilai risiko maksudnya?” tanya Elena yang semakin penasaran. “Aku mengecek celah keamanan mereka,” kata Kael. “Rumah, kantor, rute perjalanan, bahkan kebiasaan sehari hari yang bisa dimanfaatkan orang lain. Setelah itu aku susun rekomendasi, kadang juga melatih tim keamanan internal mereka sendiri.” Elena menyandarkan punggung ke kursi sambil mencerna penjelasan itu. “Jadi, sekarang kamu yang mengatur orang orang seperti kamu dulu,” gumam Elena. “Iya kurang lebih seperti itu,” jawab Kael sambil menganggukkan kepalanya. Elena memutar cangkirnya perlahan di atas meja, mengamati uap tipis yang naik dari permukaan latte-nya. “Ibumu masih sesibuk dulu?” tanya Elena mengalihkan arah pembicaraan mereka. “Masih,” jawab Kael, lalu menghela napas pendek. “Bahkan sekarang tambah rajin mencarikanku jodoh.” Elena tertawa kecil, meski tawa itu terasa lebih canggung. “Kedengarannya kita berdua sama sama direpotkan oleh perjodohan,” katanya. Kael menatap Elena sejenak, seolah menangkap sesuatu di balik nada suaranya. “Kamu juga?” tanyanya. “Lebih parah, mungkin…” jawab Elena sambil tersenyum tipis. Setelah menghela nafas, Elena menegakkan punggung dan meletakkan cangkirnya perlahan di atas meja. “Kamu sudah punya kekasih?” tanya Elena menyelidik sambil memiringkan kepalanya. “Tidak ada,” jawab kael singkat dan tidak perduli. Elena mengangguk pelan, terlihat kelegaan dari ekspresinya. “Ayah dan ibuku ingin aku menikah tahun ini. Aku tidak mau menikah dengan pria yang baru kukenal dua minggu,” jawab Elena menjelaskan masalahnya tanpa diminta. Kael hanya diam mendengarkan ucapan mantan majikannya itu. “Elena menarik napas panjang setelah sebuah ide muncul dibenaknya.“Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu,” kata Elena lirih. Tangannya sedikit gemetar saat membuka tas dan mengeluarkan sebuah map tipis, map yang sudah dia bawa ke mana mana selama seminggu terakhir, menunggu momen yang tepat, atau mungkin menunggu keberanian yang cukup. “Apa itu?” tanya Kael sambil menatap amp itu dengan alis terangkat tinggi. Elena menatap map itu sebentar, lalu kembali menatap Kael. Sekarang atau tidak sama sekali, pikirnya. “Menikahlah denganku, mungkin kita bisa bekerja sama,” pinta Elena bak seorang ibu menawarkan permen pada anaknya. Dia melihat Kael yang terdiam kaget, dan untuk sepersekian detik Elena nyaris menarik kembali kata katanya. “Aku harap kopinya belum terlalu pahit sampai membuatku salah dengar,” kata Kael canggung. “Kamu tidak salah dengar,” tegas Elena. “Maksudnya bagaimana?” tanya Kael bingung. “Ini adalah berkas perjanjian pernikahan,” jawab Elena sambil mendorong map itu sedikit ke arahnya. Kael kemudian mengambil berkas, lalu membuka dan membaca isinya.“Satu tahun, tanpa kewajiban romantis, tanpa campur tangan dalam pekerjaan masing masing, hanya tampil sebagai pasangan di depan keluarga, lalu berpisah baik baik setelah setahun berlalu,” gumam Kael. Setelah membaca setiap detailnya, Kael kemudian menatap Elena. “Kamu menyiapkan ini sejak kapan?” tanya Kael. “Sejak tiga bulan lalu,” jawab Elena mantap. “Kamu sudah merencanakan menikah kontrak selama tiga bulan?!” Kael terdengar tidak percaya. “Aku merencanakan cara menyelamatkan hidupku dari makan malam perjodohan setiap minggu,” kilah Elena. Dan benar saja, dia melihat sudut bibir Kael nyaris terangkat, seolah pria itu tahu persis apa yang sebenarnya dia sembunyikan di balik candaan itu. “Tapi, kenapa aku?” tanya Kael akhirnya. Elena terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang paling jujur yang bisa dia berikan. “Karena aku percaya padamu. Aku sudah bertemu banyak orang, hari ini aku malah beruntung karena bertemu denganmu,” jelas Elena. Dia melihat Kael tidak langsung membalas, dan entah kenapa keheningan itu terasa berarti. Elena melanjutkan, karena dia tidak mau berhenti sekarang. “Aku juga punya alasan memilihmu,” kata Elena. “Kamu tidak akan memanfaatkan situasi ini.” lanjutnya “Kamu yakin?” tanya Kael memastikan. “Aku yakin,” jawab Elena tegas. Dia memang yakin, dan satu satunya keputusan yang terasa benar sejak berbulan bulan terakhir. “Dan kalau aku menolak?” Kael bersandar di kursinya, sambil menatap Elena dengan lekat. “Kita tetap minum kopi malam ini, lalu pulang sebagai dua orang yang hanya kebetulan bertemu lagi,” jawab Elena tenang. “Aku tidak butuh jawaban malam ini. Pikirkan saja dulu,” tambah Elena. Elena melihat Kael hanya mengangguk, lalu berpamitan padanya dan berjalan menuju pintu, dengan kartu nama dan map yang tetap tertinggal di atas meja.Hari pernikahan Elena dan Kael akhirnya tiba. Pernikahan itu digelar di sebuah hotel mewah.Sebagai anak tunggal keluarga Valeri, Elena mendapatkan pesta pernikahan yang megah. “Apa kamu gugup?” goda Arsen, sahabat Kael.“Tidak,” jawab Kael yang tetap menatap lurus ke depan dengan bahu yang tegak.Arsen mengangkat alis karena sama sekali tidak percaya.“Kalau begitu, kenapa terus melihat pintu?” tanya Arsen.Pertanyaan itu membuat Kael menoleh sebentar ke arah sahabatnya.“Memangnya tidak boleh?” jawabnya sambil menatap sengit sahabatnya.Sedangkan Arsen sendiri terkekeh melihat sikap sok cuek Kael.Musik kemudian mulai terdengar dan semua tamu berdiri. Tak lama, pintu ballroom terbuka. Suasana yang semula dipenuhi bisikan perlahan berubah hening. Seluruh perhatian tertuju pada Elena yang muncul bersama Raymond di ambang pintu.Elena mengenakan gaun pengantin putih dengan potongan elegan yang membalut tubuhnya dengan anggun. Bagian atas gaun itu dihiasi renda halus dan manik-manik
BAB 4- Restu yang dipaksakan“Kael Arvand?” tanya Raymond saat melihat Kael berjalan masuk ke dalam mansion di belakang Elena.Elena membawa Kael ke mansion keluarganya malam itu, ingin memperkenalkan pria itu kepada kedua orang tuanyaKael berdiri tegak. “Benar, Pak,” jawab Kael sopan.Raymond bangkit perlahan. “Lima tahun lalu, kamu yang menjaga Elena,” kata Raymond bersemangat.“Iya, Pak,” jawab Kael ia lagi.Elena berdiri di samping Kael, lalu menggenggam tangannya erat, mencoba menyalurkan keberanian yang dia kumpulkan sejak siang tadi.“Kael adalah calon suamiku,” kata Elena mantap.Ruangan mendadak sunyi. Elena memperhatikan Sabrina yang membeku di tempatnya, sementara rahang Raymond terlihat mengeras dengan memindahkan tatapannya dari Elena kepada Kael bergantian.Elena menahan napas menunggu reaksi berikutnya, meski dia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.“Apa?” tanya Sabrina pelan.“Kael calon suamiku!” ulang Elena tegas.“Pernikahan bukan keputusan yang bisa d
BAB 3- Terjebak Pernikahan Kontrak***“Kael, tolong beri aku solusi,” pinta Elena pada Kael, yang sekarang tengah berdiri di hadapannya. Ya, Elena mengajak Kael bertemu di salah satu cafe malam ini untuk membahas masalah Nathan dan juga pernikahan kontrak yang sebelumnya dia tawarkan pada sang mantan bodyguard.“Masalah dengan Pak Nathan?” tanya Kael setelah mendengar semua penjelasan Elena tentang calon suaminya. “Semakin parah! Dia bahkan mengekori aku hingga di kantor!” jawab Elena kesal. “Sudah kamu tolak ?” tanya Kael dengan alis kanan yang terangkat cukup tinggi. “Sudah berkali-kali,” jawab Elena malas.Elena menyeruput latte miliknya, saat ini dia sangat butuh support untuk menghadapi Nathan. “Dan dia tetap datang meskipun sudah kamu tolak yang juga perlahan merasa kesal pada sosok nathan itu. nathan itu. “Iya, bahkan dia tidak perduli dengan semua penolakanku,dan aku risih karena sikapnya itu,” jawab Elena yang setengah kesal jika mengingat Nathan. Kael menghela napas.
Bab 2: Tekanan yang Tak Terlihat***“Elena, keluarga Hartono sudah menentukan tanggal pertunangan,” kata Raymond, ayahnya.Di kediaman keluarga Valeri, Elena kembali menghadapi tekanan ketika Nathan Hartono duduk bersama ayah dan ibunya di ruang keluarga.“Maaf, Ayah. Tapi, aku tidak bisa menikah dengan Nathan,” jawab Elena tanpa takut.Nathan tersenyum tipis, sama sekali tidak tampak tersinggung dengan penolakan Elena. Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan santai, sebelum menjawab ucapan Elena.“Aku menghargai kejujuranmu, Elena,” sahut Nathan. “Tapi aku percaya, suatu hari nanti kamu akan melihat bahwa aku adalah pilihan yang tepat.”“Aku tidak ingin menjalani pernikahan yang hanya berdasarkan keputusan keluarga!” balas Elena tegas.Nathan tersenyum semakin lebar saat melihat keberanian Elena, seolah sikap itu justru membuatnya semakin tertarik alih-alih mundur, dia justru semakin tertantang.“Aku akan menunggu jawabanmu, Elena,” balas Nathan. “Tapi aku tidak terbiasa kalah jika












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.