LOGINAmanda dan Angga menikah atas keterpaksaan. Sebuah tragedi yang memaksa keduanya untuk bersatu. Amanda diam-diam mencintai Angga meski laki-laki itu tak mengetahuinya. Selama pernikahan mereka terjadi, Angga justru tak menganggapnya sebagai istri karena bagi laki-laki itu Amanda bukanlah wanita yang dia inginkan.
View MoreEmbun masih menggantung di dedaunan. Udara pagi menembus sela jendela, membawa kesejukan yang samar-samar menyinggahi ruang tamu tua itu. Angga masih duduk di kursi dekat jendela, gitar di pangkuan. Di meja, ponselnya tergeletak, layar hitamnya memantulkan wajah yang letih tetapi tenang.Ia baru saja melewati malam yang panjang, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, tak ada sesak yang membangunkannya di tengah tidur. Di luar, suara langkah mendekat. Pintu berderit pelan. Althan masuk, kali ini tanpa suara keras atau teguran. Ia hanya berdiri sejenak, menatap adiknya dalam diam, lalu berkata,“Gue kira lo masih tidur.”Angga tersenyum kecil. “Udah nggak bisa, Bang. Pagi ini rasanya beda.”Althan mengangguk, lalu berjalan ke arah dapur, menuang dua cangkir kopi. Aroma pahit itu memenuhi udara. Ia menyerahkan satu ke Angga.“Beda gimana?” tanyanya.Angga menatap kopi itu, lalu berkata lirih,“Tadi malam Shadam nelpon. Pertama kalinya dia manggil aku ‘papi’ tanpa ragu.” Ia te
Cahaya matahari menembus tirai lusuh, menyorot debu yang menari di udara.Angga duduk di ruang tamu, masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam. Di depannya, secangkir kopi hitam dingin, dan foto lama Amanda di meja yang tak juga ia singkirkan.Angga masih berada di rumah Rania, dia seolah begitu enggan meninggalkan rumah itu. Pintu depan terbuka. Suara langkah kaki terdengar tergesa di ruang tamu.“Ga?” suara berat itu milik Althan. Tak lama, sosoknya muncul bersama Seffina yang berdiri di belakang dengan ekspresi tegang dan dingin.Angga menoleh sekilas, lalu kembali menatap lantai. “Pagi, Bang.”“Udah pagi, tapi lo belum tidur juga,” sahut Althan pelan, matanya menyapu ruangan. “Masih sama seperti dulu, ya. Rumah ini.”Seffina memeluk diri sendiri, menahan perasaan tak nyaman. “Kenapa kamu ke sini lagi, Ga? Rumah ini cuma bakal ngebuka luka lama. Kamu tahu kan gimana dulu Amanda pergi dari tempat ini?” katanya dingin.Nada suaranya menampar lebih keras dari amarah mana pun.
Cahaya lampu hanya setengah hidup. Bau alkohol memenuhi ruangan, bercampur aroma rokok yang terbakar setengah. Angga duduk di lantai, punggungnya bersandar di sofa, mata merah dan wajah kusut. Botol kosong berserakan di sekelilingnya.Dari dapur, Seffina menatap pemandangan itu dengan rahang mengeras.“Dia lagi mabuk?” suaranya dingin, menusuk. Rasanya ingin sekali dia mengirim Angga bertugas lagi supaya acara mabuk seperti ini tak terulang lagiAlthan yang baru keluar dari kamar, hanya diam sebentar lalu mengangguk pelan. “Iya, Sayang. Dia lagi nggak baik-baik aja.”“Dia kan emang nggak pernah baik-baik aja, Mas,” jawab Seffina tajam. “Dan aku nggak tahu sampai kapan kamu mau terus biarin dia tinggal di sini.”Althan menatap istrinya dengan nada lembut. “Dia adik aku.”“Tapi dia juga orang yang bikin Amanda hampir mati waktu itu!” potong Seffina dengan suara bergetar menahan emosi. Matanya mulai berkaca. “Kamu nggak tahu, Mas. Kamu nggak tahu semuanya. Waktu Amanda nangis di rumah sa
Malam di Rumah Sakit – Ruang Istirahat DokterLampu ruangan remang, hanya suara mesin pendingin dan detak jam dinding yang terdengar.Dae-jung duduk di kursi, masih mengenakan jas dokternya yang sedikit kusut. Di tangannya, selembar foto yang sudah nyaris lusuh foto Amanda dan Angga yang sedang tersenyum di tepi pantai. Dia tak tahu sejak kapan sudah menatap foto itu begitu lama. Hanya ada satu yang ia tahu, rasa perih aneh itu tak mau hilang.Pintu diketuk pelan.“Masuk aja,” ucap Dae-jung tanpa menoleh. Dia segera menyimpan foto lama tersebut ke dalam laci dan mulai fokus dengan pintu yang barusaja diketukLangkah kaki berat terdengar, dan suara yang familiar menyusul dari belakang.“Masih di rumah sakit jam segini?”Dae-jung tersenyum samar. “Kamu tahu sendiri, Angga. Hidup dokter itu nggak pernah punya jam pulang.”Angga tertawa pelan, duduk di kursi seberang tanpa diundang.“Ya, tapi kukira dokter bedah sehebat kamu juga butuh istirahat.”Ada jeda hening di antara mereka. Keduany
Amanda terkejut saat Angga tiba-tiba memeluknya dari belakang yang sedang membuat sup ayam pesanan pria itu semalam."Astagfirullah," pekik Amanda, karena belum terbiasa dengan tindakan sang suami. "Aku lagi masak, Angga, jangan ganggu!"Angga bergeming dan tak mengindahkan larang
Malam yang panjang telah keduanya nikmati seolah tidak akan ada lagi malam berikutnya. Keduanya sama-sama mencari kepuasan dunia yang selama satu bulan lebih tak mereka dapatkan. Ungkapan cinta terus terucap dari bibir Fara dan jawaban Yuda seolah tidak nyambung. Pria itu masih sedikit malu walau ha
Tatapannya nanar menatap benda bulat berwarna keemasan di atas meja. Dia menghela napasnya dengan berat dan lagi-lagi tertampar oleh kenyataan bahwa si empunya barang itu sudah lama pergi dan tak lagi peduli dengan benda tersebut. Dia ambil benda itu dan memegangnya dengan jari teluk dan ibu jari, l
Tidur Amanda harus terusik saat dengan nakalnya Angga terus menerus menelusupkan kepalanya ke dalam ceruk leher Amanda membuat wanita itu terpaksa membuka mata padahal dirinya masih sangat mengantuk."Pak Dirut, bisa diem nggak! Aku ngantuk mau tidur," geram Amanda. Namun, Angga abai.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews