Share

Restu yang dipaksakan

last update Tanggal publikasi: 2026-08-09 20:59:08

BAB 4- Restu yang dipaksakan

“Kael Arvand?” tanya Raymond saat melihat Kael berjalan masuk ke dalam mansion di belakang Elena.

Elena membawa Kael ke mansion keluarganya malam itu, ingin memperkenalkan pria itu kepada kedua orang tuanya

Kael berdiri tegak. “Benar, Pak,” jawab Kael sopan.

Raymond bangkit perlahan. “Lima tahun lalu, kamu yang menjaga Elena,” kata Raymond bersemangat.

“Iya, Pak,” jawab Kael ia lagi.

Elena berdiri di samping Kael, lalu menggenggam tangannya erat, mencoba menyalurkan keberanian yang dia kumpulkan sejak siang tadi.

“Kael adalah calon suamiku,” kata Elena mantap.

Ruangan mendadak sunyi. Elena memperhatikan Sabrina yang membeku di tempatnya, sementara rahang Raymond terlihat mengeras dengan memindahkan tatapannya dari Elena kepada Kael bergantian.

Elena menahan napas menunggu reaksi berikutnya, meski dia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.

“Apa?” tanya Sabrina pelan.

“Kael calon suamiku!” ulang Elena tegas.

“Pernikahan bukan keputusan yang bisa dibuat sesuka hati, Sayang,” ujar Sabrina.

“Aku tahu, Bu, dan ini sudah menjadi keputusanku,” jawab Elena tak mau kalah.

Elena menatap sendu wanita yang telah melahirkannya, wanita yang kini usianya menginjak hampir setengah abad itu. Namun masih terlihat cantik meskipun garis kerutan samar terlihat di wajahnya, dengan kulit putih susu, dan rambut sebahu berwarna kecoklatan terlihat terawat.

“Kamu bisa memilih pria dari keluarga yang jauh lebih sesuai dengan keluarga kita,” lanjut Sabrina memperingatkan.

“Aku tidak mencari nama keluarga,” jawab Elena tenang. “Aku memilih orangnya.”

Kael berdiri disamping Elena, terlihat menepuk punggung tangan Elena menenangkan dan itu tidak luput dari pengamatan orang tua Elena.

“Ayah tidak menyetujui ini!” tolak Raymond tegas.

Elena langsung menatap Raymond nanar, merasakan sesuatu di dadanya mengencang mendengar penolakan itu. “Kenapa?” tanya Elena.

“Karena Ayah tidak yakin kamu mengambil keputusan ini dengan benar,” jawab Raymond. “Kamu bahkan tidak pernah membicarakan hubungan ini dengan kami.”

“Karena aku tahu Ayah akan menolaknya sebelum mendengarkan penjelasanku,” balas Elena.

Dia mencoba menjelaskan alasannya, meskipun Elena tahu kalimat itu tidak akan cukup meredakan amarah ayahnya.

“Itu bukan alasan!” bentak Raymond. “Lima tahun lalu dia bekerja untukmu sebagai bodyguard! Sekarang kamu membawanya ke sini dan mengatakan dia akan menjadi suamimu?”

“Pekerjaannya lima tahun lalu tidak menentukan siapa dia sekarang,” jawab Elena, menahan diri agar tidak terpancing.

“Dan kalau Ayah menolak?” tanya Raymond.

“Aku tetap akan menikah dengannya,” jawab Elena tanpa ragu, meski dia bisa merasakan tangannya sedikit dingin saat mengucapkan kalimat itu.

Sabrina langsung berdiri. “Elena!” serunya.

“Aku serius, Ibu,” kata Elena sambil menatap ibunya penuh keyakinan meski hatinya sendiri bergejolak.

“Lancang kamu, Elena!” ujar Raymond tegas.

Raymond menatap putrinya dengan wajah penuh amarah, bahkan asbak di meja jadi sasaran kemarahan Raymond, dibantingnya ke lantai hingga pecahannya berserakan. Elena tersentak mendengar suara itu, tapi memilih tetap berdiri di tempatnya.

Tanpa Elena sadari, air matanya terjatuh begitu saja. “Maafkan Elena, Ayah, Ibu, tapi tolong kali ini terima keputusanku. Ini semua demi masa depanku. Ini hidupku,” ujar Elena dengan air mata yang terus jatuh.

“Kamu pikir Ayah tidak memikirkan masa depanmu?” tanya Raymond dengan suara lebih rendah. “Ayah hanya ingin memastikan kamu tidak membuat kesalahan yang akan kamu sesali seumur hidup.”

Raymond kemudian menatap Kael. “Dan kamu?” tanyanya dingin. “Apa yang bisa kamu berikan kepada Elena?”

Kael akhirnya maju satu langkah. “Saya tidak bisa menjanjikan kehidupan mewah,” jawab Kael tenang. “Tapi, saya bisa menjanjikan bahwa saya tidak akan meninggalkannya bahkan ketika keadaan menjadi sulit, dan semua orang meninggalkannya.”

Elena mendengar jawaban itu dan merasakan sesuatu di dadanya melunak sejenak, tapi keputusasaan membuatnya bertindak sebelum berpikir panjang. Elena tiba-tiba memeluk kaki ayahnya.

“Restui Elena dengan Kael, Ayah. Elena benar-benar tidak menyukai Nathan,” lirih Elena, membiarkan air matanya jatuh tanpa berusaha menyembunyikannya lagi.

Kael segera menarik Elena agar berhenti berlutut pada ayahnya. “Jangan berlutut seperti itu hanya karena aku sebagai alasannya, Elena,” kata Kael lembut, dan Elena membiarkan dirinya ditarik berdiri meski kakinya masih terasa lemas.

“Kamu serius pada anakku?” tanya Sabrina sambil menatap Kael nanar.

“Bahkan lebih dari itu, Nyonya,” jawab Kael mantap.

“Baiklah, kami merestui hubungan kalian. Tapi, untukmu Kael, jangan pernah kau menyakiti Elena. Karena kami yang akan kamu hadapi jika itu benar terjadi, “ ujar Raymod tegas, namun pada akhirnya melunak.

Elena menatap Kael sejenak, merasakan sedikit keberanian kembali karena jawaban kedua orang tuanya, mereka berhasil melewati satu rintangan.

⸻

Beberapa hari kemudian, Elena mengikuti Kael ke rumah sederhana keluarganya, ingin memastikan sendiri bagaimana reaksi Arumi setelah mendengar kabar pertunangan mereka.

Elena mengenakan dress pink di atas lutut dengan rambut cokelat digerai bergelombang di ujungnya, berusaha tampil sopan tanpa terlihat berlebihan di depan calon ibu mertuanya.

“Ayo masuk Elena,” ajak Kael setelah mereka berada di pintu.

Arumi yang melihat anaknya datang langsung menghampiri, namun langkahnya terhenti saat melihat Elena yang duduk disamping Kael.

Elena hendak berdiri, namun ditahan oleh Kael.

“Siapa dia?” tanya Arumi sembari duduk di hadapan anaknya, lalu menatap Elena canggung.

“Namanya Elena Valeri,” jawab Kael tenang.

Wajah Arumi langsung berubah. “Valeri?” tanya Arumi memastikan.

“Iya, Bu,” jawab Kael singkat.

Arumi menatap putranya tajam. “Kamu membawa perempuan dari keluarga kaya ke rumah ini?” tanya Arumi dengan nada tidak suka.

“Dia calon istriku,” jawab Kael tanpa ragu.

Arumi terdiam beberapa detik. “Ibu tidak setuju, Kael,” gumam Arumi pelan.

Elena diam di samping Kael, membiarkan pria itu menghadapi ibunya lebih dulu, meski dia bisa merasakan tatapan tajam Arumi sesekali mengarah padanya.

“Bu—” Kael mencoba menyela.

“Ibu tidak mau!” potong Arumi.

“Kenapa, Bu?” tanya Kael.

“Ibu tidak ingin kamu kembali terluka,” jawab Arumi lebih lembut.

Arumi kemudian mengalihkan tatapannya kepada Elena, yang berusaha tetap tenang meski merasa canggung di hadapan wanita yang jelas tidak menyambutnya dengan hangat.

“Kamu benar-benar serius dengan anak saya?” tanya Arumi.

“Saya serius, Bu,” jawab Elena tenang, memastikan suaranya tidak menunjukkan kegugupan yang sebenarnya dia rasakan.

“Kamu berasal dari keluarga besar,” ujar Arumi. “Kael tidak hidup seperti kalian.”

“Saya tahu,” jawab Elena.

“Lalu kenapa kamu memilihnya?” tanya Arumi.

Elena menatap wanita itu tanpa ragu, memilih kata yang akan diucapkannya dengan hati-hati kepada Arumi .

“Karena saya tidak memilih Kael berdasarkan uang atau keluarganya,” jawab Elena. “Saya memilih dia karena saya percaya kepadanya.”

“Ibu pernah melihat bagaimana hubungan dengan perempuan kaya yang suatu saat bisa membuat kamu terluka,” peringat Arumi.

“Saya tidak akan membiarkan masa lalu menentukan hidup saya,” jawab Kael mantap.

Elena maju selangkah, merasa perlu ikut bicara alih-alih membiarkan Kael sendirian menghadapi keraguan ibunya.

“Saya tidak meminta Ibu langsung menyukai saya,” ujar Elena. “Saya hanya meminta kesempatan.”

Arumi mengangkat wajah. “Kalau Ibu tidak merestui?” tanya Arumi.

“Saya tetap akan menikahinya,” jawab Kael tanpa ragu.

Elena menatap Kael sekilas, merasa lega karena pria itu tidak goyah meski dihadapkan pada penolakan ibunya sendiri.

Ketegangan akibat penolakan itu terjadi, tapi tidak menyurutkan niat Elena dan Kael untuk bersama. Karena setidaknya sekarang mereka memiliki tujuan yang sama, dan saling menguatkan satu sama lain menghadapi kedua keluarga yang sama-sama belum sepenuhnya merestui.

“Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, Ibu tidak bisa menghalangi. Karena kalian yang akan menjalaninya, Ibu hanya berharap yang terbaik,” ujar Arumi, akhirnya mengalah demi kebahagiaan sang anak.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Kontrak Sang Mantan Bodyguard   BAB 5 — Pernikahan dan Ancaman Nathan

    Hari pernikahan Elena dan Kael akhirnya tiba. Pernikahan itu digelar di sebuah hotel mewah.Sebagai anak tunggal keluarga Valeri, Elena mendapatkan pesta pernikahan yang megah. “Apa kamu gugup?” goda Arsen, sahabat Kael.“Tidak,” jawab Kael yang tetap menatap lurus ke depan dengan bahu yang tegak.Arsen mengangkat alis karena sama sekali tidak percaya.“Kalau begitu, kenapa terus melihat pintu?” tanya Arsen.Pertanyaan itu membuat Kael menoleh sebentar ke arah sahabatnya.“Memangnya tidak boleh?” jawabnya sambil menatap sengit sahabatnya.Sedangkan Arsen sendiri terkekeh melihat sikap sok cuek Kael.Musik kemudian mulai terdengar dan semua tamu berdiri. Tak lama, pintu ballroom terbuka. Suasana yang semula dipenuhi bisikan perlahan berubah hening. Seluruh perhatian tertuju pada Elena yang muncul bersama Raymond di ambang pintu.Elena mengenakan gaun pengantin putih dengan potongan elegan yang membalut tubuhnya dengan anggun. Bagian atas gaun itu dihiasi renda halus dan manik-manik

  • Istri Kontrak Sang Mantan Bodyguard   Restu yang dipaksakan

    BAB 4- Restu yang dipaksakan“Kael Arvand?” tanya Raymond saat melihat Kael berjalan masuk ke dalam mansion di belakang Elena.Elena membawa Kael ke mansion keluarganya malam itu, ingin memperkenalkan pria itu kepada kedua orang tuanyaKael berdiri tegak. “Benar, Pak,” jawab Kael sopan.Raymond bangkit perlahan. “Lima tahun lalu, kamu yang menjaga Elena,” kata Raymond bersemangat.“Iya, Pak,” jawab Kael ia lagi.Elena berdiri di samping Kael, lalu menggenggam tangannya erat, mencoba menyalurkan keberanian yang dia kumpulkan sejak siang tadi.“Kael adalah calon suamiku,” kata Elena mantap.Ruangan mendadak sunyi. Elena memperhatikan Sabrina yang membeku di tempatnya, sementara rahang Raymond terlihat mengeras dengan memindahkan tatapannya dari Elena kepada Kael bergantian.Elena menahan napas menunggu reaksi berikutnya, meski dia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.“Apa?” tanya Sabrina pelan.“Kael calon suamiku!” ulang Elena tegas.“Pernikahan bukan keputusan yang bisa d

  • Istri Kontrak Sang Mantan Bodyguard   Terjebak pernikahan kontrak

    BAB 3- Terjebak Pernikahan Kontrak***“Kael, tolong beri aku solusi,” pinta Elena pada Kael, yang sekarang tengah berdiri di hadapannya. Ya, Elena mengajak Kael bertemu di salah satu cafe malam ini untuk membahas masalah Nathan dan juga pernikahan kontrak yang sebelumnya dia tawarkan pada sang mantan bodyguard.“Masalah dengan Pak Nathan?” tanya Kael setelah mendengar semua penjelasan Elena tentang calon suaminya. “Semakin parah! Dia bahkan mengekori aku hingga di kantor!” jawab Elena kesal. “Sudah kamu tolak ?” tanya Kael dengan alis kanan yang terangkat cukup tinggi. “Sudah berkali-kali,” jawab Elena malas.Elena menyeruput latte miliknya, saat ini dia sangat butuh support untuk menghadapi Nathan. “Dan dia tetap datang meskipun sudah kamu tolak yang juga perlahan merasa kesal pada sosok nathan itu. nathan itu. “Iya, bahkan dia tidak perduli dengan semua penolakanku,dan aku risih karena sikapnya itu,” jawab Elena yang setengah kesal jika mengingat Nathan. Kael menghela napas.

  • Istri Kontrak Sang Mantan Bodyguard   Bab 2 : Tekanan yang Tak Terlihat

    Bab 2: Tekanan yang Tak Terlihat***“Elena, keluarga Hartono sudah menentukan tanggal pertunangan,” kata Raymond, ayahnya.Di kediaman keluarga Valeri, Elena kembali menghadapi tekanan ketika Nathan Hartono duduk bersama ayah dan ibunya di ruang keluarga.“Maaf, Ayah. Tapi, aku tidak bisa menikah dengan Nathan,” jawab Elena tanpa takut.Nathan tersenyum tipis, sama sekali tidak tampak tersinggung dengan penolakan Elena. Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan santai, sebelum menjawab ucapan Elena.“Aku menghargai kejujuranmu, Elena,” sahut Nathan. “Tapi aku percaya, suatu hari nanti kamu akan melihat bahwa aku adalah pilihan yang tepat.”“Aku tidak ingin menjalani pernikahan yang hanya berdasarkan keputusan keluarga!” balas Elena tegas.Nathan tersenyum semakin lebar saat melihat keberanian Elena, seolah sikap itu justru membuatnya semakin tertarik alih-alih mundur, dia justru semakin tertantang.“Aku akan menunggu jawabanmu, Elena,” balas Nathan. “Tapi aku tidak terbiasa kalah jika

  • Istri Kontrak Sang Mantan Bodyguard   BAB 1 : Pertemuan yang Tak Disengaja

    BAB 1 : Pertemuan yang Tak Disengaja *** “Kael?” panggil Elena. Sosok yang baru saja hendak membuka pintu mobil itu berhenti, lalu menoleh. “Elena?” ada nada ragu di suara Kael, seolah tidak yakin dengan yang dilihatnya. “Aku kira kamu sudah lupa,” kata Elena sambil tersenyum kecil. Lima tahun lalu, Kael adalah bodyguard pribadinya, dikontrak keluarganya setelah muncul ancaman terhadap keluarga mereka. “Sulit melupakan seseorang yang pernah membuatku menunggu dua jam di lobi hotel,” sindir Elena, setengah bercanda. “Kamu masih mengingatnya?” tanya Kael yang terlihat sedikit terkejut. Waktu itu, Elena masih remaja dan sedang menghadiri acara ulang tahun temannya di salah satu hotel, namun ternyata ada yang mengincarnya. Kael yang sigap langsung mengalihkan perhatian lawan dan mengeksekusi lawan tanpa menimbulkan keributan. Dia sering merasa Kael terlalu kaku, terlalu banyak mengawasi, dan juga terlalu diam untuk sekadar diajak bicara. “Tentu saja,” jawab Elena. “Kael, apa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status