Beranda / Romansa / Istri Kontrak Sang Mantan Bodyguard / BAB 5 — Pernikahan dan Ancaman Nathan

Share

BAB 5 — Pernikahan dan Ancaman Nathan

last update Tanggal publikasi: 2026-08-10 21:39:53

Hari pernikahan Elena dan Kael akhirnya tiba. Pernikahan itu digelar di sebuah hotel mewah.

Sebagai anak tunggal keluarga Valeri, Elena mendapatkan pesta pernikahan yang megah.

“Apa kamu gugup?” goda Arsen, sahabat Kael.

“Tidak,” jawab Kael yang tetap menatap lurus ke depan dengan bahu yang tegak.

Arsen mengangkat alis karena sama sekali tidak percaya.

“Kalau begitu, kenapa terus melihat pintu?” tanya Arsen.

Pertanyaan itu membuat Kael menoleh sebentar ke arah sahabatnya.

“Memangnya tidak boleh?” jawabnya sambil menatap sengit sahabatnya.

Sedangkan Arsen sendiri terkekeh melihat sikap sok cuek Kael.

Musik kemudian mulai terdengar dan semua tamu berdiri. Tak lama, pintu ballroom terbuka. Suasana yang semula dipenuhi bisikan perlahan berubah hening.

Seluruh perhatian tertuju pada Elena yang muncul bersama Raymond di ambang pintu.

Elena mengenakan gaun pengantin putih dengan potongan elegan yang membalut tubuhnya dengan anggun.

Bagian atas gaun itu dihiasi renda halus dan manik-manik kecil yang berkilauan setiap kali terkena cahaya lampu kristal. Sementara ekor gaun yang panjang mengikuti langkahnya dengan anggun.

Wajah Elena tampak semakin cantik dengan riasan lembut yang menonjolkan mata dan garis wajahnya. Kelopak matanya dihiasi warna-warna netral dengan sedikit kilau, bulu matanya tampak lentik, dan bibirnya dipulas warna merah muda lembut. Pipi Elena diberi rona tipis yang membuat wajahnya terlihat segar dan berseri.

Rambutnya ditata dalam sanggul rendah yang rapi dengan beberapa helai rambut dibiarkan jatuh lembut di sisi wajah. Sebuah tiara kecil terpasang di atas kepalanya, sementara veil panjang menjuntai dari belakang rambutnya hingga menyentuh lantai.

Setiap langkah Elena membuat ujung veil dan ekor gaunnya bergerak perlahan, menciptakan kesan anggun dan memukau.

“Sepertinya biji matamu ingin keluar. Kenapa? Pengantinmu cantik sekali, ya?” goda Arsen lagi ketika melihat Kael yang terus memandangi kecantikan Elena tanpa berkedip.

“Berisik. Kembali ke tempatmu!” jawab Kael dengan suara berbisik kesal.

Raymond berjalan di samping Elena yang menggenggam lengan ayahnya dengan lembut. Meski berusaha tersenyum, sorot matanya menunjukkan perasaan campur aduk antara bahagia, di ujung altar, Kael tidak bergerak sedikit pun. Namun, tatapannya yang sejak tadi tenang berubah lebih lembut saat melihat Elena berjalan mendekat.

Langkah Elena dan Raymond akhirnya berhenti tepat di depan Kael.

Raymond menatap Kael lekat, seolah ingin memastikan sesuatu sebelum melepaskan putrinya.

“Jaga anak saya. Jika kamu sudah tidak menginginkannya, kembalikan dia kepadaku dengan baik-baik,” pinta Raymond dengan suara yang terdengar berat dan penuh pertimbangan.

“Saya akan menjaganya,” jawab Kael.

Dia berdiri tegak tanpa sedikit pun keraguan di wajahnya.

Raymond menyerahkan tangan Elena kepada Kael dengan perlahan.

“Mulai hari ini, saya mempercayakan Elena kepadamu,” tutur Raymond yang berusaha agar matanya tidak terlihat berkaca-kaca.

“Saya mengerti, Pak,” jawab Kael sambil menggenggam tangan Elena dengan mantap dan hangat.

Jika di atas altar Kael tengah merayakan hari bahagianya dengan Elena, berbeda dengan Nathan yang datang ke pernikahan itu karena mendapat undangan dari keluarga Valeri.

Matanya tidak lepas dari pengantin wanita sejak pintu ballroom terbuka.

“Sudahlah, Nathan. Dia sudah menikah,” tegur Jason, sahabat Nathan.

Nathan menghela napas panjang. “Aku tahu,” gumam Nathan.

“Kalau tahu, lalu kenapa tatapanmu seperti itu?” tanya Jason sambil menyilangkan tangan .

“Karena dia terlihat cantik,” sahut Nathan sambil tersenyum.

Jason hanya tertawa kecil tanpa tahu apa yang sebenarnya disembunyikan Nathan.

***

Setelah pesta usai, Elena kembali ke kamar pengantin bersama Kael.

Saat pintu suite tertutup, Elena berdiri di depan cermin sambil mencoba melepaskan bagian belakang gaun pengantinnya.

“Kael,” panggil Elena sambil menoleh sedikit.

Kael yang baru saja meletakkan jasnya langsung menatapnya. “

“Tolong bantu aku,” pinta Elena.

Ia mendekat dan berdiri di belakang Elena. Wanita itu mengangkat rambut panjangnya agar tidak menghalangi resleting.

“sepertinya nyangkut,” kata Elena yang sedikit panik.

Kael mengulurkan tangan dan menyentuh ujung resleting. Ia menariknya perlahan, tetapi resleting itu tersangkut.

“Sebentar,” katanya sambil mencoba memperbaiki posisinya.

Kael kembali mencoba menarik resleting itu. Kali ini ia berdiri semakin dekat. Sangat dekat hingga napas hangatnya menyentuh belakang telinga Elena dan membuat tubuh wanita itu seketika meremang.

Kael menarik napas pelan ketika aroma vanila dari tubuh Elena tercium begitu dekat. akhirnya resleting berhasil turun dengan sempurna.

“Berhasil. Aku mau keluar beli pembalut dulu,” kata Elena malu-malu usai meraih hoodie-nya dan memakainya.

“Mau aku—”

“Tidak! Aku yang pergi!” potong Elena, tahu kalau Kael ingin menawarkan diri.

Tanpa menunggu jawaban Kael lagi, Elena langsung pamit ke toko yang ada di dekat hotel.

Sedangkan Kael hanya memandangi istri kontraknya itu dengan heran.

***

Saat Elena keluar dari toko, langkahnya terhenti karena seorang oria yang sangat ia kenali tengah berdiri menghadangnya.

“Nathan?!” tanya Elena yang sedikit kaget.

Nathan terdiam dengan mata yang menatap Elena tanpa berkedip, sementara ada amarah yang tertahan di sorot matanya.

“Apa yang kamu lakukan di sini? Aku baru saja menikah hari ini, dan aku tidak punya waktu untuk ini,” ujar Elena dengan suara datar dan penuh rasa tidak suka.

Tangannya menggenggam kantong belanja lebih erat.

“Aku tahu,” jawab Nathan sambil melangkah mendekat tanpa mengalihkan pandangan dari Elena.

“Maka dari itu, tidak usah menggangguku lagi!” tegas Elena.

Nathan justru terus berjalan mendekat hingga jarak mereka tinggal beberapa langkah.

“Aku tidak bisa,” jawab Nathan sambil menggeleng pelan dengan rahang yang mengeras.

Elena mundur satu langkah karena merasakan bahaya dari sikap itu.

“Jangan mendekat!” seru Elena, tangannya terangkat sebagai batas antara dirinya dan Nathan, sementara napasnya mulai memburu.

“Aku sudah mencoba menerima semuanya,” ujar Nathan dengan suara bergetar menahan emosi yang sejak tadi dipendamnya.

“Tapi, aku tidak bisa melihatmu menjadi istri pria lain.”

“Itu bukan alasan untuk datang ke sini!” bentak Elena.

“Aku mencintaimu, Elena,” ucap Nathan dengan nada yang nyaris putus asa.

Namun Elena hanya menatapnya tajam tanpa sedikit pun luluh.

“Ini bukan cinta,” balas Elena. Dia menarik napas sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih dingin. “Ini sudah menjadi obsesi.”

“Kalau aku tidak bisa memilikimu, setidaknya aku tidak akan membiarkan pria itu memilikimu,” desis Nathan.

Elena mulai menyadari bahwa Nathan sudah benar-benar melewati batas.

“Nathan, jangan lakukan sesuatu yang akan kamu sesali,” desak Elena .

“Aku sudah terlalu lama menyesal karena membiarkanmu menjauh,” jawab Nathan.

Setelah itu, Nathan memberi isyarat kepada dua pria yang berdiri tidak jauh dari sana hingga kedua pria itu langsung bergerak mendekat.

“Kamu mau melakukan apa?!” pekik Elena.

Elena langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.

“Aku hanya ingin membawamu pergi untuk sementara,” sahut Nathan dengan nada tenang, seolah itu hal yang wajar.

“Tidak!” tolak Elena. Dia berbalik hendak berlari, tetapi salah satu pria Nathan sudah lebih dulu menutup jalannya.

“Lepaskan aku!” bentak Elena. Dia mencoba menepis tangan pria itu, tetapi cengkeramannya terlalu kuat untuk dilawan.

Nathan berjalan mendekat dengan langkah pelan. “Aku tidak akan menyakitimu,” ujar Nathan sambil mengulurkan tangan ke arah Elena yang terus menggeleng.

“Jangan sentuh aku!” jerit Elena. Tubuhnya gemetar, tetapi sorot matanya tetap menolak untuk menyerah.

Nathan mengulurkan tangannya semakin dekat. Tinggal sejengkal lagi jemarinya menyentuh bahu Elena.

“Jangan sentuh dia!” teriak Kael dari kejauhan hingga membuat langkah semua orang terhenti.

Nathan langsung berhenti, sementara Elena menoleh dengan mata yang berkaca.

Kael berdiri beberapa meter dari mereka dengan wajah yang tenang, tetapi sorot matanya jauh lebih dingin dari biasanya. Kael berjalan mendekat tanpa mengalihkan pandangan dari Nathan.

“Aku sudah memperingatkanmu,” tegas Kael. Nathan menatapnya tajam tanpa sedikit pun menyingkir.

“Dia istriku!” seru Kael, dengan tatapan intimidasi.

“Istri? Baru beberapa jam,” ujar Nathan yang tertawa hambar. “Aku tidak akan pernah mengakui itu.”

Kael langsung menarik Elena ke belakang tubuhnya. Nathan menatap mereka dengan rahang mengeras dan kepalan tangan yang gemetar.

“Elena, ikut denganku!” pinta Nathan sambil mengulurkan tangan dan berharap Elena akan meraihnya.

“Tidak!” tampik Elena. Dia justru berpegangan pada lengan Kael dan menggeleng tegas.

“Jadi kamu memilih dia?” tanya Nathan dengan suara getir.

Elena mengangguk. “Iya, sampai kapanpun aku hanya memilihnya” jawab Elena , yang tidak lagi menyisakan harapan untuk Nathan.

“Bahkan setelah semua yang sudah kulakukan?” tanya Nathan.

“Justru karena itu,” balas Elena dengan tatapan tak suka.

“Kamu akan menyesal,” ujar Nathan yang tertawa kecil seperti mengejek.

Elena menggeleng. “Tidak, ini pilihanku Nathan,” jawab Elena tegas.

Genggamannya pada lengan Kael tidak sedikit pun mengendur.

Nathan kemudian menatap Kael dengan penuh kebencian. Tatapan itu menyimpan janji bahwa semua ini belum berakhir.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Kontrak Sang Mantan Bodyguard   BAB 5 — Pernikahan dan Ancaman Nathan

    Hari pernikahan Elena dan Kael akhirnya tiba. Pernikahan itu digelar di sebuah hotel mewah.Sebagai anak tunggal keluarga Valeri, Elena mendapatkan pesta pernikahan yang megah. “Apa kamu gugup?” goda Arsen, sahabat Kael.“Tidak,” jawab Kael yang tetap menatap lurus ke depan dengan bahu yang tegak.Arsen mengangkat alis karena sama sekali tidak percaya.“Kalau begitu, kenapa terus melihat pintu?” tanya Arsen.Pertanyaan itu membuat Kael menoleh sebentar ke arah sahabatnya.“Memangnya tidak boleh?” jawabnya sambil menatap sengit sahabatnya.Sedangkan Arsen sendiri terkekeh melihat sikap sok cuek Kael.Musik kemudian mulai terdengar dan semua tamu berdiri. Tak lama, pintu ballroom terbuka. Suasana yang semula dipenuhi bisikan perlahan berubah hening. Seluruh perhatian tertuju pada Elena yang muncul bersama Raymond di ambang pintu.Elena mengenakan gaun pengantin putih dengan potongan elegan yang membalut tubuhnya dengan anggun. Bagian atas gaun itu dihiasi renda halus dan manik-manik

  • Istri Kontrak Sang Mantan Bodyguard   Restu yang dipaksakan

    BAB 4- Restu yang dipaksakan“Kael Arvand?” tanya Raymond saat melihat Kael berjalan masuk ke dalam mansion di belakang Elena.Elena membawa Kael ke mansion keluarganya malam itu, ingin memperkenalkan pria itu kepada kedua orang tuanyaKael berdiri tegak. “Benar, Pak,” jawab Kael sopan.Raymond bangkit perlahan. “Lima tahun lalu, kamu yang menjaga Elena,” kata Raymond bersemangat.“Iya, Pak,” jawab Kael ia lagi.Elena berdiri di samping Kael, lalu menggenggam tangannya erat, mencoba menyalurkan keberanian yang dia kumpulkan sejak siang tadi.“Kael adalah calon suamiku,” kata Elena mantap.Ruangan mendadak sunyi. Elena memperhatikan Sabrina yang membeku di tempatnya, sementara rahang Raymond terlihat mengeras dengan memindahkan tatapannya dari Elena kepada Kael bergantian.Elena menahan napas menunggu reaksi berikutnya, meski dia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.“Apa?” tanya Sabrina pelan.“Kael calon suamiku!” ulang Elena tegas.“Pernikahan bukan keputusan yang bisa d

  • Istri Kontrak Sang Mantan Bodyguard   Terjebak pernikahan kontrak

    BAB 3- Terjebak Pernikahan Kontrak***“Kael, tolong beri aku solusi,” pinta Elena pada Kael, yang sekarang tengah berdiri di hadapannya. Ya, Elena mengajak Kael bertemu di salah satu cafe malam ini untuk membahas masalah Nathan dan juga pernikahan kontrak yang sebelumnya dia tawarkan pada sang mantan bodyguard.“Masalah dengan Pak Nathan?” tanya Kael setelah mendengar semua penjelasan Elena tentang calon suaminya. “Semakin parah! Dia bahkan mengekori aku hingga di kantor!” jawab Elena kesal. “Sudah kamu tolak ?” tanya Kael dengan alis kanan yang terangkat cukup tinggi. “Sudah berkali-kali,” jawab Elena malas.Elena menyeruput latte miliknya, saat ini dia sangat butuh support untuk menghadapi Nathan. “Dan dia tetap datang meskipun sudah kamu tolak yang juga perlahan merasa kesal pada sosok nathan itu. nathan itu. “Iya, bahkan dia tidak perduli dengan semua penolakanku,dan aku risih karena sikapnya itu,” jawab Elena yang setengah kesal jika mengingat Nathan. Kael menghela napas.

  • Istri Kontrak Sang Mantan Bodyguard   Bab 2 : Tekanan yang Tak Terlihat

    Bab 2: Tekanan yang Tak Terlihat***“Elena, keluarga Hartono sudah menentukan tanggal pertunangan,” kata Raymond, ayahnya.Di kediaman keluarga Valeri, Elena kembali menghadapi tekanan ketika Nathan Hartono duduk bersama ayah dan ibunya di ruang keluarga.“Maaf, Ayah. Tapi, aku tidak bisa menikah dengan Nathan,” jawab Elena tanpa takut.Nathan tersenyum tipis, sama sekali tidak tampak tersinggung dengan penolakan Elena. Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan santai, sebelum menjawab ucapan Elena.“Aku menghargai kejujuranmu, Elena,” sahut Nathan. “Tapi aku percaya, suatu hari nanti kamu akan melihat bahwa aku adalah pilihan yang tepat.”“Aku tidak ingin menjalani pernikahan yang hanya berdasarkan keputusan keluarga!” balas Elena tegas.Nathan tersenyum semakin lebar saat melihat keberanian Elena, seolah sikap itu justru membuatnya semakin tertarik alih-alih mundur, dia justru semakin tertantang.“Aku akan menunggu jawabanmu, Elena,” balas Nathan. “Tapi aku tidak terbiasa kalah jika

  • Istri Kontrak Sang Mantan Bodyguard   BAB 1 : Pertemuan yang Tak Disengaja

    BAB 1 : Pertemuan yang Tak Disengaja *** “Kael?” panggil Elena. Sosok yang baru saja hendak membuka pintu mobil itu berhenti, lalu menoleh. “Elena?” ada nada ragu di suara Kael, seolah tidak yakin dengan yang dilihatnya. “Aku kira kamu sudah lupa,” kata Elena sambil tersenyum kecil. Lima tahun lalu, Kael adalah bodyguard pribadinya, dikontrak keluarganya setelah muncul ancaman terhadap keluarga mereka. “Sulit melupakan seseorang yang pernah membuatku menunggu dua jam di lobi hotel,” sindir Elena, setengah bercanda. “Kamu masih mengingatnya?” tanya Kael yang terlihat sedikit terkejut. Waktu itu, Elena masih remaja dan sedang menghadiri acara ulang tahun temannya di salah satu hotel, namun ternyata ada yang mengincarnya. Kael yang sigap langsung mengalihkan perhatian lawan dan mengeksekusi lawan tanpa menimbulkan keributan. Dia sering merasa Kael terlalu kaku, terlalu banyak mengawasi, dan juga terlalu diam untuk sekadar diajak bicara. “Tentu saja,” jawab Elena. “Kael, apa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status