Share

Fakta yang Terungkap

Penulis: Zinnia Azalea
last update Terakhir Diperbarui: 2024-05-12 00:32:34

Sepuluh hari sudah terlewati, Sofia masih menjalani hari dengan kesendirian. Setelah perdebatan dengan Eril dan keluarganya, Sofia memilih pergi dan enggan meminta maaf pada Lily. Sofia merasa dia tidak salah. Meskipun dia orang tak punya, namun Sofia masih memiliki harga diri. Sofia tidak ingin terus mengalah demi suaminya itu. Sofia sudah cukup lelah dengan sikap asli Eril. Ia pun tak mau mendatangi Eril ke rumahnya. Sofia cukup tahu malu.

Sofia merasa bosan. Wanita yang tengah berbadan dua itu bergegas membersihkan ruangan, termasuk kolong tempat tidur yang telah lama tak ia bersihkan. Meskipun Sofia tahu tempat itu selalu bersih, namun Sofia memilih membersihkannya saja hari ini untuk menghilangkan jenuh. Sofia mengambil sapu. di sapunya kolong tempat tidur itu. Beberapa kertas keluar dari kolong ranjang. Sofia merapikan kertas yang sudah disobek itu, ia lalu menyambungkan potongan kertas itu dengan potongan kertas lain. Sekali lagi, hatinya merasa hancur saat melihat kertas yang bertuliskan slip gaji Eril.

Di slip gaji itu tertulis nama Eril menjabat sebagai Manager HRD. Di sana pun tertulis nominal gaji Eril yakni sebesar dua belas juta perbulan. Air mata Sofia menitik, hingga membasahi kertas itu. Dengan teganya Eril memberikan nafkah yang sangat pas-pasan, sedangkan gajinya sangat besar melampaui UMR di kotanya.

"Kenapa kamu tega, Mas?" Sofia berbicara dengan suara bergetar. Bahkan ia menepuk dadanya yang terasa sesak mengetahui fakta yang baru ia dapatkan..

Memorinya teringat akan bulan demi bulan ia harus berjuang bagaimana nafkah satu juta dari Eril harus cukup ditangannya. Tak jarang Sofia diam-diam menjual gorengan milik Bu Mimin untuk sekedar mencari tambahan uang untuk sarapan atau membeli token listrik. Sofia merasa ikhlas karena mungkin penghasilan suaminya memang tak seberapa. Namun kebohongan Eril yang sudah terbongkar membuat hatinya sakit tidak terkira.

"Selama ini aku yang dipaksa untuk hidup menderita!" Sofia tersenyum getir.

****

Esok harinya Eril pulang dengan wajah masam. Ia membuka pintu kontrakan dengan kunci cadangan yang ia bawa. Dibukanya pintu perlahan. Di ruang itu sangat gelap gulita. Eril tahu token listrik habis hari ini. Untung hari sudah menjelang pagi, Eril segera menyibak gorden agar seluruh ruangan tidak terlalu gelap.

Cahaya masuk melewati gorden yang bernuansa putih itu. Tatapannya terpaku pada sang istri, Sofia yang sedang tertidur dengan posisi meringkuk. Hatinya menghangat, namun sisi hatinya masih saja bersikeras. Eril masih sangat kesal dengan sikap Sofia yang sangat keras kepala dan menurutnya pembangkang. Eril akui Eril sangat mencintai Sofia. Namun jika dibanding dengan keluarganya, Eril lebih menyayangi keluarganya. Cinta kepada keluarganya lebih besar.

"Sofia, bangunlah!" Eril mengguncang bahu Sofia pelan, hingga wanita berparas cantik itu terbangun dari tidurnya.

"Hm," Sofia mengucek matanya. Ia melihat Eril tengah memandangnya dengan tatapan tak bersahabat.

"Aku pulang dan aku sudah gajian, ini uang belanjaan mu!" Eril menyimpan uang yang di masukan ke dalam amplop cokelat itu di pangkuan Sofia.

"Masih ingat pulang kau rupanya, Mas?" Sindir Sofia sembari tersenyum getir.

"Simpan saja Mas! Mulai hari ini kamu kelola sendiri uang belanja satu juta satu bulan. Aku sudah pusing mengelola uang yang pas-pasan itu," Sofia tersenyum kecut. Dadanya terasa sesak kembali saat ia mengingat slip gaji Eril yang tadi pagi ia temukan.

"Aku datang bukannya kamu minta maaf, malah terus ngesinisin suami sendiri. Mau kamu apa sih?" Eril menatap tajam Sofia, bak elang yang menatap buruannya.

"Tidak ada yang aku inginkan. Aku sudah bosan menjadi istri yang selalu kamu perlakukan dengan seenaknya. Aku akan pergi dari sini dan pulang ke rumah kedua orang tuaku!" Sofia yang sudah tak bisa membendung lagi air matanya meninggikan suaranya.

"Maksud kamu apa sih, Sof? Istighfar!" Eril mencoba membawa Sofia ke dalam pelukannya. Namun wanita cantik itu menghempaskan tangan sang suami.

"Ini apa Mas?" Sofia mengambil kertas slip gaji yang sudah ia sambungkan dari dalam saku dasternya. Ia lempar kertas yang menghancurkan hatinya itu ke wajah Eril.

Eril berjongkok mengambil kertas yang Sofia lemparkan. Matanya terbelalak saat melihat kertas yang bertuliskan slip gaji atas nama dirinya. Pria itu merutuki kebodohannya yang menyobek slip gaji dan membuangnya di kolong ranjang.

"Maafkan aku, Yang. Tapi semuanya tidak seperti yang kamu bayangkan! Gaji aku ditabung, agar kita cepat punya rumah. Yang lain dipakai untuk kebutuhan Mega kuliah dan biaya sehari-bari ibu," Eril berusaha menjelaskan. Memang ia berkata jujur. Eril memang menabung untuk tujuan membangun rumah dan semua itu tanpa sepengetahuan Sofia.

"Membangun rumah tapi dengan cara menyiksaku, Mas? Satu bulan aku selalu makan dengan menu ala kadarnya. Padahal aku butuh nutrisi untuk darah dagingmu ini!" Sofia menunjuk perutnya yang bulat.

"Belum dengan uang kontrakan yang selalu telat dibayar. Ibu kos harus selalu menagihnya ke sini karena aku sering telat bayar. Token selalu habis dan telat isi. Aku tak pernah membeli baju atau make-up. Apa kamu peka, Mas? Lihatlah penampilanku, Mas! Aku terlihat menyedihkan setelah kamu nikahi. Kamu gak sadar gak hah?" Urat-urat di leher Sofia terlihat menonjol karena teriakan wanita hamil itu. Eril pun sedikit gentar melihat kemarahan Sofia yang baru ia lihat. Biasanya Sofia akan bersabar jika mereka bertengkar.

"Dzalim kamu mas!" Hardik Sofia lagi, ia mengelus perutnya yang buncit.

"Sayang, kamu gak kenapa-kenapa?" Eril panik melihat Sofia sedikit meringis ketika memegang perutnya itu.

"Gak, sudahlah. Ada sesuatu pada diriku atau tidak, aku yakin kamu tidak akan peduli. Bahkan kamu pergi selama sepuluh hari tanpa tahu bagaimana aku menghabiskan waktu dengan anakmu yang sedang aku kandung. Aku akan pergi ke rumah orang tuaku. Di sana aku dihargai. Aku bosan meratapi kemalangan sendirian di rumah ini," Sofia duduk di pinggir tempat tidurnya.

"Jangan, jangan pergi! Maafkan aku!" Eril kini harus mengalah dan menurunkan egonya.

"Aku peduli sama kamu, Sayang. Aku peduli sama calon anak kita," Eril melunak, ia merangkul Sofia dan membawanya ke pelukannya walaupun wanita itu menepis. Namun tenaga Eril lebih besar. Sofia hanya diam ketika tubuh tegap itu memeluknya dengan erat.

"Maafkan aku, Sayang! Aku memang salah, izinkan aku memperbaiki semuanya," lirih Eril terdengar bersungguh-sungguh di telinga Sofia.

Sofia tak tahu, apakah Eril sedang membohonginya atau tidak.

"Memperbaiki apa maksudmu?" Suara Sofia terdengar serak dalam pelukan suaminya.

"Izinkan aku untuk merubah sikapmu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian di sini lagi. Aku akan memberikan nafkah yang pas untukmu," Eril membuat janji.

"Dan jauhi Lily!" Pinta Sofia.

"Iya, aku akan menjauhinya," cicit Eril sambil terus memeluk Sofia. Dalam hatinya, Eril memang sangat menyayangi wanita yang selalu sabar terhadapnya itu. Sofia terdiam. Sofia tidak tahu apakah yang Eril ucapkan benar atau tidak. Sofia memilih untuk memberikan Eril kesempatan. Ia akan menilai sikap Eril ke depannya. Jika suaminya tak berubah, Sofia akan menyerah saja. Sofia akan memilih pulang ke rumah orang tuanya dan membuka usaha di sana.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Lusuhku Ternyata Sang Pewaris   Akhir Yang Bahagia

    Sofia dan Reynard tertawa melihat tingkah anak kembar mereka. Ya, Sofia dan Reynard memang dianugerahi anak kembar sepasang. Mereka menamakan bayi kembar mereka Khanza dan Kenzi. "Kenzi, anak Papa!" Reynard memangku Kenzi yang sudah bisa berjalan. Sedangkan Sofia memangku Khanza di gendongannya. "Jangan terlalu cape ya, Sayang! Kita kan sudah menyewa baby sitter," Reynard mengelus wajah sang istri dengan lembut. Pria itu membenarkan anak rambut Sofia yang berantakan. "Iya, Sayang," Sofia mengambil tangan Reynard dan menciumnya lembut, membuat dada Reynard menghangat. "Mesra-mesraan terus! Di depan anak juga gas," celetuk seseorang yang berjalan di belakang mereka. "Kakek," seru Sofia melihat kakeknya, Hartanto datang bersama dengan kedua orang tuanya. "Ayah, ibu, kenapa kalian tidak bilang mau ke mari?" Tanya Sofia dengan wajah berbinar. "Masa mau ke rumah anak harus bilang dulu?" Canda Rahman yang kemudian terduduk di samping anak dan menantunya. "Bukan begitu, Yah. K

  • Istri Lusuhku Ternyata Sang Pewaris   Kehidupan Lain

    "Alhamdulillah sah!" Ucap dua orang saksi diikuti tepuk tangan dari para keluarga yang hadir."Alhamdulillah," seru Rizal dan Nareswari bersamaan saat mereka sudah sah menjadi suami istri.Nareswari mencium tangan Rizal dengan takzim. Rizal mencium kening Nares dengan lembut, membuat suasana semakin ramai. Para tamu menggoda sepasang pengantin baru itu. Pernikahan mereka dilangsungkan di sebuah gedung yang megah. Rizal ingin Nareswari merasakan pernikahan impiannya. Begitu akad telah selesai, MC segera membaca rundown acara. Acara selanjutnya adalah sungkeman.Orang tua Nareswari, Bu Laksmi dan Dicky sebagai kakak tertua Rizal yang menggantikan sang ayah duduk di kursi. Nareswari dan Rizal bergantian melakukan sungkem kepada orang tua mereka. Saat tiba sungkem kepada sang ibu, air mata Rizal tak bisa terbendung. Begitu pun dengan Bu Laksmi. Wanita beranak empat itu menangis tersedu, menyesal untuk semua kesalahan yang pernah ia perbuat."Maafkan ibu, Nak!" Bu Laksmi memeluk Rizal den

  • Istri Lusuhku Ternyata Sang Pewaris   Kepergian Lily

    Lily yang pingsan dibawa ke rumah sakit karena tak kunjung ada tanda-tanda sadar. Warga desa pun mendatangi Jamal dan Tika selaku kedua orang tua Lily. Awalnya pasangan suami istri itu menolak, tapi makian warga desa akhirnya membuat mereka mau tak mau datang ke rumah sakit dan mengurus segalanya. Setidaknya Jamal tak ingin namanya semakin buruk di mata warga desa. Besar harapannya ia bisa mencalonkan diri sebagai kepala desa lagi. Maka dari itu, ia harus memperbaiki citranya."Pasien kami pindahkan ke ruang ICU. Kankernya sudah masuk stadium 4 karena sudah menyebar ke organ lain," jelas dokter pada Jamal dan Tika."Kanker?" Tika tampang sangat terkejut."Ya, Kanker Sarkoma kaposi, kanker yang biasanya di idap oleh orang yang mengidap H*V," ucapnya."Astagfirullah!!" Jamal bagaikan disambar petir mendengar penyakit yang diderita anaknya.Ada rasa jijik yang menjalar saat mengetahui penyakit yang di derita sang putri. Jamal adalah orang yang awam akan kesehatan. Yang ia tahu penyakit i

  • Istri Lusuhku Ternyata Sang Pewaris   Kabar Yang Mengejutkan

    Daffa yang benar-benar sedang di puncak emosi memutuskan untuk datang ke apartemen Delia, wanita yang pernah menjadi selingkuhannya sekaligus mantan kakak iparnya. Sebelum pergi, pria itu terlebih dahulu membeli senjata tajam yang biasa dipakai untuk mengupas buah. Entah untuk apa. Pikirnya ia harus membuat Delia hancur sama seperti dirinya.Sesampainya di depan apartemen Delia. Pria itu langsung menekan bel dengan tak sabar. Delia yang baru saja kembali dari Sumba setelah menyusul Rizal segera membuka pintu apartemen setelah ia tahu jika yang datang adalah Daffa. "Ada apa, Hah?" Tanya Delia saat pintu terbuka. Matanya terlihat sangat bengkak karena menangisi Rizal yang ternyata sudah mendapat pengganti dirinya.Daffa langsung mendorong tubuh Delia. Ia menutup pintu dengan cepat. "Apa-apaan kamu, Hah?" Delia masih tak gentar.Wanita itu mendorong Daffa dengan sekuat tenaga."Kurang ajar kau, Delia!" Daffa mendorong tubuh Delia lagi hingga terjerembab."Aku ngelakuin apa sih?" Tanya

  • Istri Lusuhku Ternyata Sang Pewaris   Berusaha Merebut

    Eril menatap putrinya Renata yang kini sudah mulai bisa berjalan. Saat ini ia dan Renata memang tinggal kembali bersama Bu Laksmi. Eril tak punya pilihan, ia tak tahu harus menitipkan Renata di mana kecuali pada ibunya. "Nih Ril pisang gorengnya," Bu Laksmi menyimpan sepiring pisang goreng di sisi putranya. "Makasih ya, Bu. Maaf ya Eril repotin ibu," ucap Eril dengan halus. Setahun berjalan hubungan ibu dan anak itu memang kembali membaik. "Engga. Ibu senang ngurus Renata. Dia anak yang baik, engga kaya ibunya," ucap Bu Laksmi dengan penuh benci ketika mengingat Lily. "Andai saja ya Bu ibunya Renata itu Sofia," Eril berandai andai. "Iya, Renata pasti sangat bahagia punya ibu yang baik seperti Sofia. Ini semua salah kita. Ibu berharap Sofia selalu bahagia. Sudah cukup dulu kita menzolimi dia," ucap Bu Laksmi dengan sedih. "Aku yang menelantarkan, Sofia. Dia berhak bahagia tapi hati aku masih belum ikhlas, Bu," Eril berkata dengan tatapan Nanar. "Sudahlah, cepat kamu ma

  • Istri Lusuhku Ternyata Sang Pewaris   Hukum Tabur Tuai

    Mega menatap dirinya di cermin. Ia meraba perutnya yang datar. Ia memang mengalami keguguran karena KDRT yang dilakukan Daffa padanya. "Bayiku!" Mega meraung. Apalagi vonis dokter membuat dirinya semakin frustasi. Bagaimana tidak, dokter memvonis dirinya akan sulit untuk mengandung lagi. Mega menatap gugatan cerai yang Daffa layangkan padanya. Orang tua Daffa juga sudah berulang kali datang untuk memaksa Mega menanda tangani gugatan cerai itu. Mega masih gamang. Akalnya belum sepenuhnya jernih. Profesi Daffa masih membuat dirinya maju mundur untuk bercerai, padahal Daffa sudah membuat Mega kehilangan janinnya. "Sudah tanda tangan saja, Mega. Apa yang kamu harapkan sekarang, Nak?" Bu Laksmi masuk ke dalam kamar sang putri bungsu. "Tapi Bu, setelah bercerai, apa aku akan mendapatkan pria seperti Daffa lagi?" Isak Mega. Ia menangis tergugu. Hatinya menolak bahtera rumah tangganya harus kandas dengan Daffa. "Apa yang kamu harapkan, Nak? Kamu berharap mati di tangannya?" Bu Laksmi m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status