Share

Bab 4 – Tetangga Julid

Penulis: Miss Heaven
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-01 20:01:45

“Kardus ini ditaruh mana, Reta?” tanya Vanessa sambil mengangkat kotak berlabel dapur.

Sinar matahari siang itu mulai terik menyelinap masuk lewat celah jendela dapur. Suara gesekan kardus di lantai dan langkah kaki terdengar riuh di dalam rumah Mama. Aku dan Vanessa tengah sibuk mengatur barang-barang pindahan, sementara Mama berada di dapur, sibuk mempersiapkan sesuatu.

 “Taruh di pojok dekat lemari itu aja, Nes,” jawabku sambil menyeka peluh di dahi.

Vanessa meletakkan kardus dengan hati-hati, lalu menepuk-nepuk tangannya. “Aduh, Re, pindahan begini berasa olahraga total, ya. Tapi tenang aja, tenagaku masih kuat!”

Aku tersenyum kecil, merasa bersyukur Vanessa mau repot-repot membantuku. Meski sering dianggap cerewet, julid, dan kepo, ternyata dia adalah tetangga yang bisa diandalkan.

Dari dapur, Mama muncul dengan nampan berisi tiga gelas es kelapa muda dan sepiring besar kudapan. Ada lemper, risoles, dan pastel yang masih hangat. “Istirahat dulu, Areta, Vanessa! Nih, Mama bikinin es kelapa muda biar kalian segar lagi,” katanya sambil meletakkan nampan itu di meja ruang tengah.

“Wah, Bu Mira, ini baru namanya servis premium! Kalau ada ginian sih, aku jadi betah lama-lama di sini,” canda Vanessa sambil mengambil segelas es kelapa muda.

Kami bertiga duduk di ruang tengah, menikmati kudapan sambil berbincang. Vanessa menyeruput minumannya, lalu menatapku dengan ekspresi serius namun lembut. “Reta, aku tahu kamu lagi galau berat sekarang. Tapi dengar deh, aku udah pernah melewati masa-masa kayak gini. Nggak mudah memang, tapi aku yakin kamu pasti bisa.”

Aku terdiam, mengangkat kepala untuk menatap Vanessa. “Nes, masa yang kamu bilang ‘kayak gini’ itu beda sama masalahku. Suami kamu meninggal, sementara aku….” Kalimatku terhenti di tenggorokan. Rasanya terlalu menyakitkan untuk diucapkan.

“Diselingkuhi,” Mama menyambung dengan nada tegas, tanpa ragu-ragu. “Maaf, Vanessa, tapi sakitnya nggak bisa dibandingkan. Kamu ditinggal mati suami yang sayang sama kamu. Areta ditinggal oleh suami yang mengkhianati dia. Dampaknya pasti beda.”

Vanessa mendesah pelan, meletakkan gelasnya. “Bu Mira ini gimana toh. Aku tuh nggak ada bilang sakitku lebih besar dari Areta, atau sebaliknya. Tapi yang pasti, rasa kehilangan itu sama-sama menghancurkan, mau ditinggal mati atau ditinggal selingkuh. Aku cuma mau Areta tahu kalau dia bisa bangkit dari ini semua. Jujur saja, kalau bisa memilih. Aku lebih pilih lihat almarhum selingkuh daripada lihat almarhum meninggal.”

Mama mendengus kecil, namun tidak menyela. Vanessa melanjutkan, “Pas aku kehilangan suamiku lima tahun lalu. Waktu itu, aku pikir aku nggak akan bisa hidup lagi, semua gelap. Almarhum itu cinta pertama dan satu-satunya, Re? Dunia rasanya sesak. Aku bahkan nggak bisa makan dengan benar selama berbulan-bulan. Tapi, lama-lama aku sadar satu hal, hidup tetap harus jalan. Aku harus kuat, bukan cuma buat diriku sendiri, tapi buat orang-orang yang peduli sama aku.”

Aku menggigit bibir, menahan emosi yang mulai menggelegak di dada. Kata-kata Vanessa menyentuh sesuatu dalam diriku, meski aku belum sepenuhnya yakin bisa sekuat dia.

“Tapi, Vanessa,” Mama menyela lagi, “lebih baik kehilangan karena Tuhan mengambil orang yang kita sayangi daripada kehilangan karena dia memilih orang lain. Paling nggak, suamimu tetap setia sampai akhir. Itu berbeda, tahu?”

Vanessa tersenyum simpul, seperti sudah menduga argumen itu akan keluar. “Bu Mirah ih, coba pikir lagi. Memang sakit ditinggal selingkuh. Tapi ada sisi baiknya juga, Areta jadi tahu sekarang, siapa Arlan sebenarnya, dan dia bisa melanjutkan hidup tanpa orang seperti itu. Kalau aku? Aku nggak punya pilihan. Tuhan mengambil suamiku begitu saja, tanpa peringatan, tanpa kesempatan untuk bertanya kenapa?”

Hening sejenak. Bahkan Mama terlihat sedikit tertegun mendengar pernyataan itu.

“Maksud aku tuh gini lho, Re,” Vanessa melanjutkan, menatapku dengan penuh keyakinan. “Beberapa minggu pertama, bahkan beberapa bulan pertama memang berat. Tapi selama kamu yakin kamu mampu untuk melewatinya, semua ini nggak akan semenyedihkan yang kamu pikirkan kok. Kamu masih muda, masih punya banyak kesempatan. Jangan sampai luka yang begini ini menghalangi kamu untuk bahagia. Dunia ini besar, banyak cogan siap gantiin Arlan, dan hidup nggak berhenti hanya karena seseorang nggak tahu cara menghargai kamu.”

Aku menunduk, menatap gelas es kelapa yang mulai berembun di tanganku. Kata-kata Vanessa perlahan-lahan menyusup ke dalam hatiku. Meski rasa sakitku belum sepenuhnya hilang, ada percikan kecil keberanian yang mulai tumbuh.

Mama akhirnya menghela napas panjang, lalu tersenyum. “Ya sudah, Areta. Yang penting, kamu nggak boleh nyerah. Vanessa ada benarnya juga. Kalau hidup terus dipenuhi dendam sama Arlan, kamu nggak akan bisa bahagia.”

Aku mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis ke arah Vanessa. “Iya, Ma. Aku ngerti maksud Vanessa. Mungkin aku butuh waktu, tapi aku akan coba.”

Vanessa menepuk bahuku dengan lembut. “Nah, gitu dong! Semangat, Areta. Hidupmu terlalu berharga untuk cowok modelan Arlan yang nggak tahu caranya bersyukur.”

Setelah suasana kembali cair, aku memandang Vanessa yang sedang asyik mengunyah lemper. Ada sesuatu yang mengganjal di benakku sejak tadi.

“Nes,” panggilku sambil memicingkan mata.

Vanessa menoleh dengan ekspresi santai, mulutnya masih penuh. “Hmm?” gumamnya, mencoba mengunyah lebih cepat.

“Kamu kok kasih tahu Arlan sih kalau aku lagi pindahan ke rumah Mama?” tanyaku langsung tanpa basa-basi.

Vanessa terdiam sejenak. Ia menelan makanannya perlahan, lalu menyengir, sedikit rasa bersalah tampak di wajahnya. “Eh, ya … kan dia masih suami kamu, Reta. Kalian belum bercerai, dan gono-gini belum dibagi. Aku rasa dia berhak tahu kalau kamu pindahan dan mau nyewain rumah bersama kalian.”

Aku mendesah kesal, menatap Vanessa dengan tajam. “Hedehhhh, Nes, gara-gara kamu, sekarang dia bolak-balik nelepon aku. Mana aku jadi nggak bisa fokus beresin barang-barang!”

Vanessa memasang ekspresi tak berdosa, lalu mengangkat bahu. “Ah masa? Aku nggak dengar hape kamu bunyi terus, kok. Mana coba?”

“Ya jelas nggak bunyi, Nes, orang aku matiin hapeku biar nggak diganggu! Dia tuh kayak alarm, tiap sepuluh menit nelepon terus. Kalau nggak aku matiin, mungkin aku udah gila sekarang,” gerutuku sambil menyandarkan tubuh di sofa.

Mama, yang sejak tadi mendengarkan tanpa bersuara, menyelipkan komentar dengan nada menyindir. “Jangan-jangan Vaness ini informan si Arlan, Ta.”

Vanessa menepuk pahaku dengan gaya bercanda. “Ya ampun, maaf, maaf, ya, Bu Mira. Aku tuh bukan infoman siapa-siapa. Aku cuma mikir, daripada nanti Arlan tahu dari orang lain terus ngamuk, mending aku kasih tahu langsung. Lagian kan dia masih suami Areta, wajar kalau dia pingin tahu perkembangan soal rumah ini.”

Aku memutar bola mata, setengah menyerah. “Ya, tapi nggak harus sekarang banget, Nes! Udah tahu aku ini nggak mau berurusan dulu sama dia.”

Vanessa tersenyum kecil, lalu mengambil segelas es kelapa muda. “Saran aku, sih, Re, bagi aja uang sewanya ke Arlan. Biar dia nggak bisa cari-cari alasan buat ribut sama kamu.”

Aku langsung menegakkan tubuh, menatap Vanessa dengan serius. “Nggak, Nes. Rumah itu aku beli pakai uangku sendiri. Kenapa aku harus bagi sama dia? Dia nggak punya hak sedikit pun!”

“Tapi, Re—”

“Nggak ada tapi-tapian,” potongku tegas. “Dia nggak pernah keluar uang sepeser pun buat rumah itu. Sekarang, setelah dia ngancurin pernikahan ini, masa aku harus bagi hasil juga? Nggak bakal, Nes.”

Vanessa tampak berpikir, seolah mencari argumen untuk membantahku, tetapi akhirnya ia hanya mengangguk kecil. “Ya udah, terserah kamu, deh. Aku cuma nyaranin aja biar nggak ada drama.”

Mama menyela sambil tersenyum tipis. “Bagus, Areta. Tegas itu perlu. Lagipula, kalau kamu kasih satu jari, Arlan pasti minta seluruh tangan.”

Aku tersenyum tipis, merasa sedikit didukung. Meski Vanessa sering menyebalkan, aku tahu dia peduli. Tapi kali ini, aku harus tetap pada pendirianku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 39 – Extra Part 3

    Lima tahun kemudian….“Nes kamu mulai racik saos barbeque-nya deh.”“Iya, Ta, aku kelarin dulu potong paprika nih, kurang satu doang.” Sambil menusukkan paprika, jamur, sosis, dan udang ke tusukan sate untuk barbeque, aku mencuri pandang ke arah anak-anak yang sedang asyik bermain masak-masakan.Putra bungsuku, Eja, dengan percaya diri memainkan peran sebagai chef. Bocah kecil itu benar-benar lucu dalam keseriusannya, lengkap dengan celemek dan topi koki mainan. Di seberangnya, Valery, putri Vanessa dan Bang Azka menjadi teman bermainnya. Valery mencicipi hasil ‘masakan’ Eja sambil memberikan pujian yang membuat pipi Eja merona.“Aduh, sweet banget ya anak-anak kita,” Vanessa tersenyum sambil mulai membuat racikan saus andalannya. Matanya berbinar, menatap Eja dan Valery yang tampak harmonis.Aku tertawa kecil, merasa gemas melihat betapa polos dan manisnya mereka. “Iya, lihat tuh, Valery kelihatan betul-betul menikmati masakan chef Eja.”Namun, momen manis itu tiba-tiba dipecahkan ol

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 38 – Ekstra Part 2

    “Nes, kamu sama Bang Azka kenapa mesti banget nunggu setahun baru akhirnya menikah? Bukannya kalian udah lama ya pacaran?”Aku duduk di sudut kamar hotel, mengamati Vanessa yang tengah dirias. Kamar ini dipenuhi cahaya hangat, dan tangan terampil MUA bergerak di wajah Vanessa, menciptakan kecantikan yang semakin menawan. Malam ini Vanessa akan menjadi pengantin wanita, dengan Azka sebagai pria yang mendampinginya untuk selamanya.Vanessa terdiam sejenak, tatapannya terpaku pada bayangannya sendiri di cermin. Dengan suara yang lembut dan sedikit berat, dia akhirnya menjawab, “Areta … sebenarnya, aku tahu, Bang Azka dulu lebih naksir ke kamu.” Ia menunduk, seolah mempertimbangkan kata-katanya. “Setahun ini aku harus meyakinkan diri sendiri, juga meyakinkan Bang Azka, apakah kami benar-benar bisa menumbuhkan cinta di antara kami. Beuh, jadi puitis gini dah bahasaku.”“Ih mana ada lah. Bang Azka tuh naksir ke kita berdua, buktinya dia membuka diri ke kamu juga kan?”Tapi Vanessa tersenyum

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 37 -  Ekstra Part 1

    “Ututuuuuuu, Sayang, udah kenyang ya Princess Mama.”Satu tahun berlalu sejak semua keajaiban itu terjadi, dan kini aku sedang mengendong Arinda, bayi cantikku yang montok. Dia terus saja menggeliat dengan mata terpejam. Sesekali aku mengusap punggung mungilnya dengan lembut, berharap dia cepat terlelap, memberi kami sedikit waktu untuk beristirahat. Tapi yang membuatku tak henti tersenyum adalah kehadiran Arlan yang sejak tadi berdiri di pintu, menatap kami dengan mata penuh harap.Akhirnya, begitu Arinda tertidur pulas, aku membaringkannya di ranjang bayi di sudut kamar dan menoleh ke arah Arlan, yang tampaknya sudah tak sabar. Dia mendekat, melingkarkan lengannya di pinggangku, memberikan sentuhan-sentuhan halus di pundakku, seolah meminta waktu malam ini agar menjadi milik kami berdua.“Arin udah pulas kan, Ma?”Aku tersenyum lelah, tapi tak tega menolak. “Kayaknya sih udah, Pa.”Entah kenapa, meski tubuh ini penat, hatiku terasa hangat dengan cara Arlan menunjukkan cintanya. Kami

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 36 – Tempat Terindah

    “Sayang minum dulu,” kata Arlan sambil membukakan tutup botol air mineral yang kemudian disodorkan padaku.Kami duduk di kursi tunggu klinik sambil menggenggam tangan Arlan erat. Tak ada yang bisa menenangkan hati selain sentuhan hangatnya yang menyalurkan perasaan tak sabar, bahagia, serta sedikit cemas yang meluap-luap.Hari ini adalah hari yang begitu berarti bagi kami berdua—hari pertama kami melihat bayi kecil yang hadir di antara segala badai yang pernah kami lewati.Tak lama kemudian, suster memanggil namaku, dan kami pun masuk ke ruang dokter Aida. Arlan menggenggam tanganku lebih erat, seolah tak ingin melepas. Dokter Aida menyambut kami dengan senyum hangat, lalu meminta aku untuk berbaring di tempat tidur periksa. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan ketegangan di dada.“Baik, Bu Areta, kita mulai, ya?” katanya sambil menyapukan alat USG. Layar monitor di samping tempat tidur mulai menampilkan gambar abu-abu yang bergerak.Dokter Aida mengarahkan alat USG d

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 35 – Garis Dua

    Setelah melewati hari yang penuh emosi, aku akhirnya bisa tidur dengan pulas. Bukan hanya karena lelah menangis, tapi karena Arlan yang menemaniku dan memeluk erat sepanjang malam. Rasanya hangat, aman, dan damai.Saat terbangun, aku menggeliat pelan. Ada beban di perutku. Ternyata tangan Arlan masih menindihku dengan posisi terlentang, napasnya teratur sambil mendengkur halus, mulutnya sedikit terbuka. Aku hati-hati memindahkan tangannya, lalu memiringkan tubuh, memandang wajahnya lekat-lekat. Sudah lama sekali aku tidak melihat pemandangan ini, momen saat bangun kesiangan dan menemukan suami masih di sisiku.Suami ... pikiranku berbisik, dan tanpa sadar aku tersenyumYa, suamiku tersayang, satu-satunya....Aku merapat ke tubuhnya, membelai dadanya perlahan. Perasaan sayang ini, begitu tulus, bukan karena keinginan semata, tapi rasa rindu yang lama terpendam. Aku mengecup bahunya, menghirup aroma tubuhnya, merasa begitu lengkap dalam pelukannya. Arlan menggeliat, lalu membuka mata pe

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 34 – Bimbang

    “Kalau beneran kamu udah putus dari Anya, kamu juga harus tegas dong ke anaknya.”“Iya, Ta, tapi kasihan Elsa, dia masih terlalu kecil untuk memahami ini semua.”Belum sempat aku merespons lebih jauh, tiba-tiba perawat datang mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar. “Permisi, Ibu. Boleh minta waktu sebentar? Kami butuh wali pasien untuk melengkapi dokumen di bagian kasir.”Aku mengerutkan dahi, sedikit heran. “Kenapa tiba-tiba?” tanyaku, setengah membentak.Arlan menjawab lebih dulu, wajahnya masih terlihat tegang. “Tadi pagi, dokter yang memeriksa bilang kalau aku sudah boleh pulang hari ini. Cuma mungkin belum dibereskan administrasinya,” katanya dengan suara pelan.Perawat mengangguk, melengkapi penjelasan Arlan. “Maaf, Ibu, memang baru diproses sore ini karena kami menunggu seluruh hasil pemeriksaan keluar dan persetujuan dokter. Dokter juga sudah memberikan surat kontrol balik. Jadi, semua berkasnya baru turun sore ini dari dokter yang bertanggung jawab atas Pak Arlan.”Rasanya a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status