LOGIN“Pacarku itu cuma satu, Reta. Cuma Anya!”
Kata-kata Arlan menghantamku seperti sembilu yang tajam. Dia benar-benar tega bicara seperti itu padaku, istrinya sendiri. Apa dia bahkan tak sadar sudah menyayat perasaanku?
“Areta! Jawab!” desaknya dengan nada tak sabar.
Aku memandangnya tajam, meskipun hati terasa terluka. “Jawab dulu, kamu ada hubungan apa sama Vanessa? Kamu pacaran juga dengan dia?”
“Enggak, dong!” sahutnya santai, seakan itu bukan hal besar. “Vanessa belum terbukti bisa punya anak atau nggak. Ngapain aku coba-coba sama dia?”
Ah, jadi ini masih tentang anak, batinku, menahan perih yang semakin menusuk.
Memang, Anya punya satu anak, dan aku tahu dia sudah berpisah dari suaminya dua tahun lalu. Entah apa status pernikahan mereka sekarang, apakah sudah bercerai resmi atau hanya menggantung. Aku tak peduli untuk menelisik lebih jauh. Lagipula, aku punya caraku sendiri untuk tahu semua ini. Berkat banyak kenalan dan hobiku yang suka stalking, aku bisa mendapatkan informasi apa pun—keunggulan yang sudah lama membantuku menarik klien besar di perusahaan sekuritas tempatku bekerja.
“Kalau udah tahu dari Vanessa, kenapa tadi nggak sekalian tanya apa alasanku pindah?” Aku balas dengan nada sinis, berharap dia sedikit terganggu.
“Dia enggak sempat nanya kamu karena keburu kebelet beol!” balasnya tanpa malu.
Sungguh, luar biasa sekali suami dan tetanggaku ini! Sampai hal sekecil itu pun Arlan tahu dari Vanessa. Aku semakin curiga mereka berdua punya sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan biasa.
“Dengar, ya, Arlan,” kataku mencoba mengendalikan nada suaraku, meski amarah sudah mendidih. “Kamu bilang aku juga harus keluar dari rumah itu kalau kamu pindah. Jadi, rumah bakal kosong, kan? Makanya aku mikir lebih baik disewakan. Lumayan, ada yang menjaga dan mengurus, sekalian dapat tambahan uang.”
Arlan terdiam sejenak, lalu akhirnya membuka mulut. “Berapa harga sewanya?”
Aku menyebutkan nilai yang cukup besar, berharap dia akan berpikir dua kali untuk minta bagian.
“Hmmm, aku dapat berapa?” Nada suaranya dingin dan tak bersahabat, membuat niatku untuk berbagi sewa seketika hilang.
“Enak aja! Kamu nggak modal buat beli rumah dan tanahnya, nggak malu minta bagian uang sewa? Aku tuh, sebagai istri yang harus kamu santuni, bukan sebaliknya! Mana yang katanya kodrat lelaki menghidupi istri? Mana, manaaaa?!” Aku memekik, tanpa bisa lagi menahan diri.
“Iya, iya! Aku nggak minta. Tapi kamu urus barang-barangku!” katanya.
Aku langsung menyeringai. Yes! Apa susahnya mengurus barang? Asal uang sewanya tetap utuh tanpa harus berbagi dengannya, aku akan dengan senang hati mengurus semuanya.
“Beres. Nanti aku kirim pakai pick up ke rumah Anya.”
“Kok ke sana? Enggak dong! Kamu bener-bener udah keterlaluan! Kamu pikir aku kumpul kebo, ya? Aku cuma pegang tangan dan cium bibir aja!”
“Seneng banget mengulang-ulang bagian cium bibir itu,” balasku menyindir. “Siapa yang ngomong kalau istri kedua itu untuk 'ehm-ehm' tempo hari, hah?”
“Otakmu itu udah keracunan apa, Reta? Kamu pikir 'ehm-ehm' itu apa?”
Aku tercekat. “Terserah, kalian cuma cium bibir, cium dada, atau cium pantat sekalipun, aku nggak peduli. Itu urusanmu sama dia dan Tuhan. Sekarang mau dikirim ke mana barang-barangmu?”
“Ke Karawaci.”
“Kamu mau numpang di rumah ibumu?”
“Pikirmu aku mau pulang ke mana? Ooo, apa aku pindah yang dekat aja, ya? Rumah Vanessa kayaknya masih bisa nampung satu penghuni lagi ....”
Mendengar kalimat itu, aku langsung membentaknya, “Jangan sinting kamu ya!!!!!”
Aku mengakhiri panggilan dengan Arlan. Dengan lega, aku mulai mengemasi barang-barang Arlan. Kali ini, aku bahkan sempat menyiapkan makanan kesukaannya, capcay dan cumi goreng tepung. Hitung-hitung sebagai makan malam terakhir kami. Kenangan manis di akhir akan lebih mudah diingat daripada luka yang bikin hati masam, kan?
Langit mulai berona kemerahan saat aku sibuk hilir-mudik dari dapur ke ruang makan, melewati teras belakang yang menghadap taman. Dulu, setiap senja dan akhir pekan, kami biasa duduk di sana sambil minum kopi, menikmati kudapan ringan, bercengkerama ringan, berbagi canda. Arlan suka tanaman, dan koleksi sukulennya berjejer rapi di teras itu—masih terawat, walau sudah lama aku yang merawatnya. Ada pohon mangga harum manis di pojokan, berdampingan dengan pepaya dan jeruk nipis. Dia suka sekali minuman jeruk segar.
Kenangan itu tiba-tiba menghantam, menciptakan bongkahan es di dadaku. Rasanya sesak, dingin, seperti tertusuk dari dalam. Lututku lemas, membuatku terduduk di kursi makan. Aku menutup wajah dengan kedua tangan, dan sebelum bisa menahan, bahuku sudah berguncang hebat. Isakan tak bisa lagi aku sembunyikan, pecah memenuhi sudut-sudut rumah yang sunyi ini.
Arlan datang di tengah tangisku. Saat mendengar suaraku, ia tampaknya terdiam sejenak di pintu masuk, seolah mempertimbangkan. Aku bisa mendengar langkahnya yang pelan-pelan mendekat, kemudian tanpa suara ia menaruh tas dan melepas sepatu. Dia mendekat ke arah ruang makan, dan aku tahu dia bisa melihatku, duduk di sana dengan sesenggukan yang tak bisa aku tahan.
“Reta?” suaranya lembut saat memanggilku.
Aku mendongak, buru-buru mengusap air mata dengan telapak tangan. “Kamu udah pulang?” sapaku, serak dan kaku.
Dia mengangguk, lalu duduk di kursi di depanku. Sekilas, aku tahu dia merasa sama perihnya dengan aku. Sudah berapa lama aku menangis? Perlahan, dia mengulurkan tangan, menggenggam jemariku. Genggaman yang erat, bukan untuk menyatakan cinta, tapi untuk memberikan kekuatan menghadapi masa depan—masa depan yang tak lagi melibatkan kami berdua.
Aku menoleh dan menatapnya. Dari samping, dia masih sama seperti pertama kali aku jatuh cinta padanya. Wajah yang tegas, mata lebar dengan bulu mata tebal, rambut ikal yang selalu aku suka. Dia hanya terdiam, menatap ke arah jendela, seolah pikirannya melayang entah ke mana. Hanya ibu jarinya yang terus bergerak, mengelus tanganku dengan lembut, membuat hatiku remuk.
“Aku kangen kita yang begini,” bisiknya, dengan sorot mata yang memancarkan duka yang tak bisa aku abaikan. Aku merasakan ketulusannya, bukan sekadar akting.
Aku juga, Arlan. Kangen banget! Andai saja tidak ada orang ketiga....
Namun aku tak bisa lemah, bukan sekarang. Aku menarik tanganku, menjaga jarak dari kelembutan yang bisa mengikis prinsipku. Dengan cepat, aku berdiri, membuka tudung saji dan menaruhnya di atas kulkas. Aku mengambil air dari dispenser untuknya, kemudian membalikkan badan untuk memberikannya. Tapi, Arlan sudah berdiri di belakangku. Lengannya melingkari pinggangku dari belakang, dagunya bersandar lembut di lekuk leherku, napasnya terasa di pipiku.
“Aku kangen, Areta,” bisiknya. Dia mengambil gelas dari tanganku dan meletakkannya di atas dispenser, sementara tangannya yang lain menjelajah lembut, membelai punggungku, menyentuhku dengan kehangatan yang sudah lama tak kurasakan.
Aku juga! jerit hatiku. Bagaimanapun, aku wanita yang sehat, penuh hormon, yang punya kebutuhan, punya kerinduan. Sejak kami pisah kamar, sudah tiga bulan lebih aku tak merasakan sentuhan ini.
Oh, Arlan....
Sentuhan itu membuat otot-otot mengendur. Ketegangan yang mencengkeram hati lenyap, berganti rasa hangat yang sangat nyaman. Tubuhku meresponsnya, rasa hangat mulai menjalar, menggantikan semua ketegangan yang tadinya mengurungku. Sesaat, aku memejamkan mata, menikmati sentuhan yang sudah lama tak ada.
Tidak, ini tidak benar.
Hatiku menolak tapi tubuhku menginginkannya.
Apa yang harus kulakukan?
***
Aku merasakan jemari Arlan menyusup di balik baju, menyentuh kulit yang sudah lama tak disentuhnya. Tubuhku melemas, seperti tanpa kendali. Spontan, aku membalikkan tubuh, mencari bibirnya, bibir tebal dan ranum itu. Aku tidak menolak saat Arlan mengangkat tubuhku ke dalam gendongannya, lalu membawaku ke kamar.
Di dalam pelukannya, aku merasa pasrah. Kami tiba di kasur yang belum sempat aku bereskan. Sebenarnya, tadi aku sudah melipat bed cover dan hendak melepas seprai, tetapi entah kenapa tanganku berhenti melepas karet-karet dari sudut kasur dan malah merapikannya kembali. Aku bahkan merebahkan diri di atas bed cover yang lembut dan harum itu, mengelusnya perlahan, seolah tengah membelai seseorang yang biasa berbaring di sana.
Hatiku seperti retak, setiap kepingnya berjatuhan satu per satu. Aku merindukan sosok yang selalu menemani pagiku, sosok yang kini memelukku erat, napasnya membelai kulitku.
“Areta….” desahan lirihnya terdengar, tangannya menyibakkan rambut yang menutupi wajahku. Aku mendengar panggilan itu penuh luka.
“Lan…” balasku tak kalah lirih, lebih mirip desahan yang tertahan. Aku merindukan pria ini, setiap lekuk tubuhku menginginkan sentuhannya. Namun, mengapa ada jarak yang menghalangi? Pikiran tentang Anya seketika mencengkeram hatiku. Kerinduan yang mendalam itu berubah menjadi luka yang menganga.
Kamu harus tahu siapa lebih baik dari kami, Arlan!
Aku memburu bibir Arlan, bukan hanya karena rindu, tetapi untuk menegaskan dengan siapa sebenarnya bibir itu seharusnya bersama. Napasku semakin tak beraturan saat aku meraup hak milikku dan memainkannya.
Arlan membalas, lidahnya bergerak menyusuri setiap inci, seolah menegaskan, ‘Kamu tidak boleh ke mana-mana! Kamu hanya untukku!’
Tanganku meraih kancing kemejanya, melepaskan satu demi satu, hingga kemeja itu jatuh. Aku membuka semua yang menutupi tubuhnya dengan cepat, tak menyisakan apa pun. Geramku berubah menjadi nafsu untuk menguasainya.
‘Aku habisi kamu tanpa sisa sebelum kabur ke perempuan lain!’ pikirku sambil mencengkeram miliknya dengan penuh kendali. Arlan mengerang keras, tubuhnya bergetar. Entah itu kesakitan atau kenikmatan, aku tak peduli—barang itu milikku!
Arlan juga merasakan hal yang sama. Dia meraih tubuhku, menarik rok terusan yang kupakai hingga terlepas. Tanpa ragu, dia membuang semua yang tersisa dari tubuhku. Tatapan matanya nanar, takjub melihat tubuhku yang bergeliat di depannya.
Kamu pikir bisa semudah itu pergi lalu memberikan tubuhmu ke orang lain? Langkahi dulu mayatku, Arlan!
Arlan membenamkan mulutnya di dadaku, menyerap kehangatan yang ada hingga cupang-cupang merah membekas. Kami bagaikan dua anak anjing yang saling bergulat, menggigit, dan bergulung untuk menyalurkan kegemasan. Hingga pada satu titik, aku mendorong Arlan ke kasur, menahan dadanya agar tetap terbaring. Aku mengunci posisi kami, menjepit pinggulnya erat-erat. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menuruti kemauanku.
Dengan gerakanku yang terus berlanjut, Arlan akhirnya melewati puncak, terengah dengan erangan keras. Saat napasnya mulai kembali normal, aku menahannya di tempat.
‘Enak saja kamu! Mau kabur begitu aja? Siapa yang kasih izin?’
Aku menuntut hakku lagi, meraih tangannya untuk melanjutkan semuanya dengan cara yang kuinginkan.
Arlan menyerah. Tangannya bergerak dengan cepat, geram tercermin di wajahnya. “Kamu ketagihan, Reta?” ejeknya, sembari menancapkan lagi hak miliknya. Tidak peduli aku mengerang karena sakit atau nikmat, Arlan mengisi setiap celah, seolah ingin meninggalkan bekas yang tak akan hilang, bahkan jika aku bersama yang lain.
Akhirnya, ketika kami sama-sama mencapai akhir, tubuhku lunglai, napas memburu, dan dadaku naik-turun tak beraturan. Aku jatuh ke dadanya, menggigit bahunya gemas, meninggalkan bekas gigi yang membentuk dua lengkung kemerahan.
“Aretaaaa!” erangnya karena kesakitan. Mendengar itu, aku tersentak. Sadar bahwa aku meninggalkan tanda di kulitnya.
“Salahmu sendiri! Siapa suruh ngaduk-ngaduk nggak karuan!” balasku, meski malu karena kesalahanku sendiri. Aku mengusap bekas gigitan di bahunya. Harus kuakui, ini adalah pengalaman paling intens yang pernah kami alami selama empat tahun menikah.
Empat tahun. Dan mungkin, inilah pengalaman terakhir kami sebelum semua berakhir. Dadaku terasa ngilu saat menyadari kenyataan itu, terasa sesak. Aku bangkit dan duduk bersandar, menatap jendela yang menunjukkan langit mulai gelap.
Arlan menyusul, duduk di sampingku. Wajahnya terlihat penuh beban, seperti mencerminkan kesedihanku. Dia menarik selimut, menutupi tubuh kami, lalu merengkuhku ke dalam pelukannya. Wajahku kubenamkan dalam pelukan itu, dan akhirnya air mataku jatuh.
“Aku tuh sayang sama kamu, Areta,” bisiknya.
“Bohong!” seruku sambil memukul dadanya. “Kalau sayang, kenapa kamu tega sakitin aku kayak ini?”
Ia diam sejenak. Kami sudah membicarakan ini ratusan kali tanpa hasil. Tangisku membuat hatinya perih, aku tahu itu.
“Areta, bisa nggak kita nggak usah cerai aja? Please, aku mohon,” pintanya dengan suara bergetar.
“Dimadu itu sama kayak kamu lagi bunuh aku pelan-pelan, Arlan. Kapan sih kamu bisa paham?” desahku, tetap merapat ke pelukannya meski hatiku terluka.
Arlan mengecup kepalaku lembut, jari-jarinya menyusup di antara helai rambutku. “Kita tetap akan seperti ini, walaupun nanti sudah ada Anya.”
Aku merintih. “Kamu laki-laki, kamu nggak akan bisa ngerti. Gimana akan sama kalau hatimu nanti terbagi dua? Itu nggak mungkin, Arlan!”
“Aku janji nggak akan muncul bersama Anya di depan kamu. Kalau perlu, aku bahkan akan memastikan kamu nggak melihat dia di mana pun. Gimana?”
“Tapi aku tahu kamu juga miliknya. Tahu aja udah nusuk aku!” Air mataku tumpah lagi, bahuku bergetar, dan Arlan hanya bisa menarikku lebih erat.
“Ssst! Jangan nangis. Aku paling nggak kuat lihat kamu begini, Reta,” bisiknya lembut.
“Kalau nggak mau lihat aku begini, jangan nikah lagi, Arlan!”
Aku melihatnya termenung, mungkin memikirkan Anya. Tanpa riasan, wajah Anya biasa saja, persis seperti penilaian Bu Dian. Sementara aku, dengan atau tanpa polesan, tetap cantik. Tapi Anya memiliki sesuatu yang aku tak punya. Dia memiliki rahim yang bisa memberi Arlan keturunan. Sementara aku … sekeras apa pun usaha kami, tetap saja rahim ini gersang.
“Kita bisa berobat lagi, kan, Arlan? Ayo, kita bisa program bayi tabung. Aku punya uang, kok.”
“Kamu tahu sikap orang tuaku tentang bayi tabung, kan? Mereka anggap itu melanggar agama,” balasnya, terdengar tegas.
“Kita bisa melakukannya diam-diam.”
“Apa ada kebaikan yang dilakukan dengan membohongi orang tua?”
Aku terdiam. Jalan di depan kami seolah buntu. Sesekali, pikiran jahat terlintas dalam benakku, kalau saja ibunda Arlan tidak lagi ada di dunia ini, mungkin tidak akan ada masalah dalam rumah tangga kami.
“Mama nggak punya banyak waktu. Kalau kemoterapinya gagal, harapan hidupnya semakin pendek,” katanya pelan.
Mama lagi, Mama lagi!
Aku melepaskan diri dari pelukan dan membalikkan badan. Kesedihanku berubah menjadi kemarahan yang sudah tak dapat kutahan.
“Aku anak tunggal, Areta. Seharusnya sebelum menikah, kamu sudah tahu risikonya. Kamu tahu bahwa aku akan dituntut untuk memiliki keturunan.”
“Ya tapi nggak harus nikah lagi!” sewotku tajam.
Lima tahun kemudian….“Nes kamu mulai racik saos barbeque-nya deh.”“Iya, Ta, aku kelarin dulu potong paprika nih, kurang satu doang.” Sambil menusukkan paprika, jamur, sosis, dan udang ke tusukan sate untuk barbeque, aku mencuri pandang ke arah anak-anak yang sedang asyik bermain masak-masakan.Putra bungsuku, Eja, dengan percaya diri memainkan peran sebagai chef. Bocah kecil itu benar-benar lucu dalam keseriusannya, lengkap dengan celemek dan topi koki mainan. Di seberangnya, Valery, putri Vanessa dan Bang Azka menjadi teman bermainnya. Valery mencicipi hasil ‘masakan’ Eja sambil memberikan pujian yang membuat pipi Eja merona.“Aduh, sweet banget ya anak-anak kita,” Vanessa tersenyum sambil mulai membuat racikan saus andalannya. Matanya berbinar, menatap Eja dan Valery yang tampak harmonis.Aku tertawa kecil, merasa gemas melihat betapa polos dan manisnya mereka. “Iya, lihat tuh, Valery kelihatan betul-betul menikmati masakan chef Eja.”Namun, momen manis itu tiba-tiba dipecahkan ol
“Nes, kamu sama Bang Azka kenapa mesti banget nunggu setahun baru akhirnya menikah? Bukannya kalian udah lama ya pacaran?”Aku duduk di sudut kamar hotel, mengamati Vanessa yang tengah dirias. Kamar ini dipenuhi cahaya hangat, dan tangan terampil MUA bergerak di wajah Vanessa, menciptakan kecantikan yang semakin menawan. Malam ini Vanessa akan menjadi pengantin wanita, dengan Azka sebagai pria yang mendampinginya untuk selamanya.Vanessa terdiam sejenak, tatapannya terpaku pada bayangannya sendiri di cermin. Dengan suara yang lembut dan sedikit berat, dia akhirnya menjawab, “Areta … sebenarnya, aku tahu, Bang Azka dulu lebih naksir ke kamu.” Ia menunduk, seolah mempertimbangkan kata-katanya. “Setahun ini aku harus meyakinkan diri sendiri, juga meyakinkan Bang Azka, apakah kami benar-benar bisa menumbuhkan cinta di antara kami. Beuh, jadi puitis gini dah bahasaku.”“Ih mana ada lah. Bang Azka tuh naksir ke kita berdua, buktinya dia membuka diri ke kamu juga kan?”Tapi Vanessa tersenyum
“Ututuuuuuu, Sayang, udah kenyang ya Princess Mama.”Satu tahun berlalu sejak semua keajaiban itu terjadi, dan kini aku sedang mengendong Arinda, bayi cantikku yang montok. Dia terus saja menggeliat dengan mata terpejam. Sesekali aku mengusap punggung mungilnya dengan lembut, berharap dia cepat terlelap, memberi kami sedikit waktu untuk beristirahat. Tapi yang membuatku tak henti tersenyum adalah kehadiran Arlan yang sejak tadi berdiri di pintu, menatap kami dengan mata penuh harap.Akhirnya, begitu Arinda tertidur pulas, aku membaringkannya di ranjang bayi di sudut kamar dan menoleh ke arah Arlan, yang tampaknya sudah tak sabar. Dia mendekat, melingkarkan lengannya di pinggangku, memberikan sentuhan-sentuhan halus di pundakku, seolah meminta waktu malam ini agar menjadi milik kami berdua.“Arin udah pulas kan, Ma?”Aku tersenyum lelah, tapi tak tega menolak. “Kayaknya sih udah, Pa.”Entah kenapa, meski tubuh ini penat, hatiku terasa hangat dengan cara Arlan menunjukkan cintanya. Kami
“Sayang minum dulu,” kata Arlan sambil membukakan tutup botol air mineral yang kemudian disodorkan padaku.Kami duduk di kursi tunggu klinik sambil menggenggam tangan Arlan erat. Tak ada yang bisa menenangkan hati selain sentuhan hangatnya yang menyalurkan perasaan tak sabar, bahagia, serta sedikit cemas yang meluap-luap.Hari ini adalah hari yang begitu berarti bagi kami berdua—hari pertama kami melihat bayi kecil yang hadir di antara segala badai yang pernah kami lewati.Tak lama kemudian, suster memanggil namaku, dan kami pun masuk ke ruang dokter Aida. Arlan menggenggam tanganku lebih erat, seolah tak ingin melepas. Dokter Aida menyambut kami dengan senyum hangat, lalu meminta aku untuk berbaring di tempat tidur periksa. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan ketegangan di dada.“Baik, Bu Areta, kita mulai, ya?” katanya sambil menyapukan alat USG. Layar monitor di samping tempat tidur mulai menampilkan gambar abu-abu yang bergerak.Dokter Aida mengarahkan alat USG d
Setelah melewati hari yang penuh emosi, aku akhirnya bisa tidur dengan pulas. Bukan hanya karena lelah menangis, tapi karena Arlan yang menemaniku dan memeluk erat sepanjang malam. Rasanya hangat, aman, dan damai.Saat terbangun, aku menggeliat pelan. Ada beban di perutku. Ternyata tangan Arlan masih menindihku dengan posisi terlentang, napasnya teratur sambil mendengkur halus, mulutnya sedikit terbuka. Aku hati-hati memindahkan tangannya, lalu memiringkan tubuh, memandang wajahnya lekat-lekat. Sudah lama sekali aku tidak melihat pemandangan ini, momen saat bangun kesiangan dan menemukan suami masih di sisiku.Suami ... pikiranku berbisik, dan tanpa sadar aku tersenyumYa, suamiku tersayang, satu-satunya....Aku merapat ke tubuhnya, membelai dadanya perlahan. Perasaan sayang ini, begitu tulus, bukan karena keinginan semata, tapi rasa rindu yang lama terpendam. Aku mengecup bahunya, menghirup aroma tubuhnya, merasa begitu lengkap dalam pelukannya. Arlan menggeliat, lalu membuka mata pe
“Kalau beneran kamu udah putus dari Anya, kamu juga harus tegas dong ke anaknya.”“Iya, Ta, tapi kasihan Elsa, dia masih terlalu kecil untuk memahami ini semua.”Belum sempat aku merespons lebih jauh, tiba-tiba perawat datang mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar. “Permisi, Ibu. Boleh minta waktu sebentar? Kami butuh wali pasien untuk melengkapi dokumen di bagian kasir.”Aku mengerutkan dahi, sedikit heran. “Kenapa tiba-tiba?” tanyaku, setengah membentak.Arlan menjawab lebih dulu, wajahnya masih terlihat tegang. “Tadi pagi, dokter yang memeriksa bilang kalau aku sudah boleh pulang hari ini. Cuma mungkin belum dibereskan administrasinya,” katanya dengan suara pelan.Perawat mengangguk, melengkapi penjelasan Arlan. “Maaf, Ibu, memang baru diproses sore ini karena kami menunggu seluruh hasil pemeriksaan keluar dan persetujuan dokter. Dokter juga sudah memberikan surat kontrol balik. Jadi, semua berkasnya baru turun sore ini dari dokter yang bertanggung jawab atas Pak Arlan.”Rasanya a







