Share

Bab 3 – Dipalak Mama

Penulis: Miss Heaven
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-01 20:01:30

Aku segera menepis bayangan masa lalu saat sebutir air mata gugur dari pelupuk mataku. Kotak-kotak berbagai ukuran masih terus keluar dari rumahku menuju rumah sebelah. Beruntung, jalan di depan kediaman kami adalah pembatas kompleks yang langsung berhadapan dengan sungai dan hutan kota, sehingga aktivitas pindahan ini tidak perlu disaksikan oleh penghuni lain. Aku malas menjawab pertanyaan orang-orang tentang kenapa aku pindah.

Aku meringis membayangkan reaksi orang-orang atas kabar tak sedap ini. Namun, itulah yang harus aku hadapi di hari-hari mendatang.

Peluh membasahi wajah dan bajuku. Napasku terengah-engah saat mengangkat kardus terakhir keluar dari rumah. Baru melangkah beberapa tapak dari pintu gerbang, sebuah mobil kecil berwarna putih menepi, lalu berhenti di depanku.

“Areta? Angkut-angkut apa?” Wajah manis berhidung mancung dan berambut ikal muncul dari balik kaca jendela yang diturunkan.

Aku mengeluh dalam hati. Aku kenal wanita ini, janda penghuni rumah di ujung jalan. Jaraknya hanya selisih tiga petak dari milikku.

“Enggak apa-apa. Cuma mau pindah ke rumah Mama. Dari mana, Nes, jam segini kok udah pulang?”

Wanita yang sehari-hari dipanggil Vanessa itu meringis. “Aku diare. Tadi makan rujak. Nggak lama kok mules-mules. Ngomong-ngomong, kenapa pindah ke rumah orangtua?”

“Rumah ini mau aku sewakan,” jawabku singkat. Sebenarnya, aku agak males menanggapi wanita itu. Vanessa, kalau sudah bicara, tidak tahu titik koma.

“Loh, kenapa?” Naluri penggosip Vanessa langsung bereaksi.

“Enggak ada apa-apa. Kami butuh uang.”

Mata janda tanpa anak itu langsung melebar. Bila menyangkut segala hal yang berbau uang, Vanessa cepat tanggap.

“Oh, ya? Berapa? Aku bantu cari penyewa, boleh? Kamu kasih aku komisi berapa?”

Aku menggigit bibir sambil berpikir sejenak. Vanessa memiliki toko komputer di BSD Junction. Pasti kenalan dan pelanggannya banyak. Buktinya, ia bisa menjual apa saja—mulai komputer, mobil, perhiasan, hingga tanah dan rumah. Daripada keluar uang untuk memasang iklan, lebih baik aku menyetujui tawaran Vanessa.

“Boleh,” sahutku pada akhirnya.

Vanessa tersenyum lebar. “Komisinya 10%, deal!”

“Sebanyak itu?” Aku langsung mendelik. “Enggak sekalian minta leherku, Nes? Kebangetan kamu. Tega benar sama tetangga sendiri.”

Vanessa tergelak. “Kalau kamu memakai jasa agen properti, segitu juga potongannya.”

“Satu persen aja!”

“Tujuh setengah deh.”

“Ogah! Dua persen.”

“Lima!”

“Dua setengah! Kalau enggak mau, ya, udah!”

Wajah Vanessa berkerut seperti menahan sesuatu. “Ya udah, dua setengah! Udah, ya, nggak tahan mulesnya nih.” Setelah itu, ia melajukan mobil kembali.

Aku tergelak. “Deal, dua setengah, ya! Enggak pakai lama lakunya,” seruku.

Ibuku telah menunggu di ruang tengah saat aku masuk membawa kardus terakhir. Aku meletakkan benda itu di lantai dekat dengan tangga.

“Barang-barang Arlan sudah dikemas juga?” tanya ibuku.

“Belum. Malas, ah. Biar dia urus aja sendiri.”

“Uang sewanya dibagi dua, Ta?”

“Keenakan dia kalau dibagi dua. 70-30, Ma. Kalau dia mau, dia dapat segitu. Kalau enggak mau, malah nggak dibagi. Rumah dan tanah itu aku yang keluar uang, loh.”

“Mama setuju! Menjadi perempuan itu harus tegas. Untung kamu nggak mau nurut waktu dia minta kamu berhenti kerja. Kalau tau kondisinya bakal begini, mau jadi apa kamu?”

Aku mengangguk. Masih teringat perdebatan panjang kami tentang pekerjaan. Arlan kesal karena aku tidak mau tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga.

“Kodrat perempuan adalah mengurus rumah tangga!” tukas dia waktu itu.

Tentu saja aku menolak keras. “Lah, kodrat laki-laki apa? Menikahi banyak perempuan?”

“Loh, kok selalu lari ke topik itu? Tugas lelaki itu menghidupi istri dan anak!”

“Ucapan kamu emang nggak salah. Yang salah adalah, kamu timpakan semua urusan rumah tangga ke aku. Kamu nggak paham, kalau mengurus rumah tangga itu harus bersama-sama antara suami dan istri?”

Aku masih ingat, setelah bersilat lidah panjang, Arlan menatapku tajam.

“Kamu menuntut hak? Sekarang aku juga mau menuntut hakku sebagai suami! Mana hakku untuk punya anak? Kamu udah bisa kasih anak ke aku? Kalau udah, silakan tuntut hakmu, akan aku berikan dengan senang hati.”

Aku menatap suamiku dengan nanar. Bahkan aku seketika tidak percaya aku telah mencintai lelaki berotak aneh ini. Apa yang kulihat selama pacaran dulu? Jangan-jangan Arlan menggunakan jasa ‘orang pintar’ untuk mengikat hatiku.

“Jadi anak tuh kamu anggap hakmu, hah?!” pekikku dengan emosi memuncak. “Anak itu titipan Tuhan, Arlan! Dikasih bagus, nggak dikasih pun nggak boleh protes!”

Sekarang aku paham mengapa sampai sekarang kami tidak mendapat karunia itu. Barangkali Sang Pencipta tidak berkenan menitipkan seorang jiwa pada kami karena tidak yakin bisa dibesarkan dengan baik.

“Areta?” Suara ibuku membuyarkan lamunanku.

“Ya, Ma?”

“Ingat tidak, Mama pernah bilang, kalau suami yang ngotot meminta istrinya berhenti bekerja itu seringkali selingkuh?”

Aku meringis. “Itu teori dari mana, Mama?”

“Nah, itu Arlan buktinya. Tahu nggak, kenapa mereka begitu?”

Aku melengos. Tentu saja aku tahu. Sudah puluhan kali topik ini kami bicarakan. Oh, bukan hanya puluhan, melainkan ratusan kali.

“Mereka melarang istri bekerja, supaya si istri tidak punya penghasilan dan pergaulan. Kamu tahu, istri yang tidak punya penghasilan dan pergaulan itu bakal mudah untuk tunduk pada suami. Beda kalau sebaliknya. Mereka punya daya lawan dan daya tawar yang tinggi. Lihat, kamu contohnya. Kebayang tidak, seandainya kamu tidak punya pekerjaan?”

Aku berkedip-kedip saja. Dalam hati, aku mengakui kebenaran kata-kata mamaku. Di sisi lain, banyak juga temanku yang berhenti bekerja setelah menikah, namun rumah tangga mereka baik-baik saja.

“Nah, kan? Mau jadi keset kaki lelaki? Mending kalau suamimu baik, setia, bertanggung jawab, mencukupi segala kebutuhan dan kesenanganmu. Kalau seperti Arlan? Baru mendapat cobaan sedikit sudah ingin mencari perempuan lain. Lagipula, anak itu hasil berdua. Jangan kamu saja yang dikambinghitamkan!”

“Aku emang bukan kambing, dan aku nggak hitam, Mama!”

“Nah, kan? Benar teori Mama!”

“Itu baru satu kasus. Mana bisa disamaratakan ke semua lelaki?”

Sang ibu mencibir. “Kan Mama bilang tadi ‘biasanya’. Ya, nggak semua. Mama bisa ngomong begitu karena pengalaman. Itu hasil pengamatan Mama selama tiga puluh tiga tahun berumah tangga.”

“Iya, Mama,” sahutku untuk mengakhiri perdebatan.

“Areta, karena kamu tinggal di sini, mulai sekarang semua biaya rumah kamu yang tanggung, ya?”

Keningku berkerut. “Apa aja emang, Ma?”

“Belanja sehari-hari, listrik, telepon, pembantu.”

“Oooke, Mama!”

“Setiap bulan Mama ke salon lalu jalan-jalan sama teman. Kamu kasih uang saku, ya?”

“Hah?”

Ibuku sontak berdecak. Mulutnya terbuka hendak menyampaikan protes. Aku sudah tahu apa yang akan dikatakan.

“Iya, iya!” Aku pasrah. Daripada uang dipakai untuk membiayai suami yang tidak setia, lebih baik untuk menyenangkan ibuku.

“Tas Mama juga udah kumal ….”

Untuk hal satu ini, ibuku sudah keterlaluan. “Mama! Pakai aja tasku, tuh. Anakmu ini hamper jadi janda, Mamaaaaa! Jangan dirampok, dong?” rengekku.

“Cuma begitu saja kok nggak mau. Kalau bukan minta ke kamu, Mama harus minta pada siapa?”

“Minta Mas Angga, dong. Manajer kan gajinya buesar!”

“Mama takut sama istrinya Angga!” Wajah wanita itu seketika berkerut.

Aku langsung terbahak. Aku tahu iparku itu sangat perhitungan. Belum sempat memperhatikan reaksi mama, tiba-tiba suara derum mobil memasuki telingaku. Segera aku menghampiri jendela untuk menengok ke luar.

Mobil Arlan berhenti tepat di depan pagar. Ketika dia melangkah keluar, hatiku mencelos. Tak mau mengingat bagaimana hari-hari menyedihkan selama bersamanya, aku segera menengok dan beranjak pergi dari jendela. Dan dalam hitungan detik, bibirku bergetar.

Apa yang terjadi pada kami? Kenapa pernikahan harus jadi seperti ini?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 39 – Extra Part 3

    Lima tahun kemudian….“Nes kamu mulai racik saos barbeque-nya deh.”“Iya, Ta, aku kelarin dulu potong paprika nih, kurang satu doang.” Sambil menusukkan paprika, jamur, sosis, dan udang ke tusukan sate untuk barbeque, aku mencuri pandang ke arah anak-anak yang sedang asyik bermain masak-masakan.Putra bungsuku, Eja, dengan percaya diri memainkan peran sebagai chef. Bocah kecil itu benar-benar lucu dalam keseriusannya, lengkap dengan celemek dan topi koki mainan. Di seberangnya, Valery, putri Vanessa dan Bang Azka menjadi teman bermainnya. Valery mencicipi hasil ‘masakan’ Eja sambil memberikan pujian yang membuat pipi Eja merona.“Aduh, sweet banget ya anak-anak kita,” Vanessa tersenyum sambil mulai membuat racikan saus andalannya. Matanya berbinar, menatap Eja dan Valery yang tampak harmonis.Aku tertawa kecil, merasa gemas melihat betapa polos dan manisnya mereka. “Iya, lihat tuh, Valery kelihatan betul-betul menikmati masakan chef Eja.”Namun, momen manis itu tiba-tiba dipecahkan ol

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 38 – Ekstra Part 2

    “Nes, kamu sama Bang Azka kenapa mesti banget nunggu setahun baru akhirnya menikah? Bukannya kalian udah lama ya pacaran?”Aku duduk di sudut kamar hotel, mengamati Vanessa yang tengah dirias. Kamar ini dipenuhi cahaya hangat, dan tangan terampil MUA bergerak di wajah Vanessa, menciptakan kecantikan yang semakin menawan. Malam ini Vanessa akan menjadi pengantin wanita, dengan Azka sebagai pria yang mendampinginya untuk selamanya.Vanessa terdiam sejenak, tatapannya terpaku pada bayangannya sendiri di cermin. Dengan suara yang lembut dan sedikit berat, dia akhirnya menjawab, “Areta … sebenarnya, aku tahu, Bang Azka dulu lebih naksir ke kamu.” Ia menunduk, seolah mempertimbangkan kata-katanya. “Setahun ini aku harus meyakinkan diri sendiri, juga meyakinkan Bang Azka, apakah kami benar-benar bisa menumbuhkan cinta di antara kami. Beuh, jadi puitis gini dah bahasaku.”“Ih mana ada lah. Bang Azka tuh naksir ke kita berdua, buktinya dia membuka diri ke kamu juga kan?”Tapi Vanessa tersenyum

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 37 -  Ekstra Part 1

    “Ututuuuuuu, Sayang, udah kenyang ya Princess Mama.”Satu tahun berlalu sejak semua keajaiban itu terjadi, dan kini aku sedang mengendong Arinda, bayi cantikku yang montok. Dia terus saja menggeliat dengan mata terpejam. Sesekali aku mengusap punggung mungilnya dengan lembut, berharap dia cepat terlelap, memberi kami sedikit waktu untuk beristirahat. Tapi yang membuatku tak henti tersenyum adalah kehadiran Arlan yang sejak tadi berdiri di pintu, menatap kami dengan mata penuh harap.Akhirnya, begitu Arinda tertidur pulas, aku membaringkannya di ranjang bayi di sudut kamar dan menoleh ke arah Arlan, yang tampaknya sudah tak sabar. Dia mendekat, melingkarkan lengannya di pinggangku, memberikan sentuhan-sentuhan halus di pundakku, seolah meminta waktu malam ini agar menjadi milik kami berdua.“Arin udah pulas kan, Ma?”Aku tersenyum lelah, tapi tak tega menolak. “Kayaknya sih udah, Pa.”Entah kenapa, meski tubuh ini penat, hatiku terasa hangat dengan cara Arlan menunjukkan cintanya. Kami

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 36 – Tempat Terindah

    “Sayang minum dulu,” kata Arlan sambil membukakan tutup botol air mineral yang kemudian disodorkan padaku.Kami duduk di kursi tunggu klinik sambil menggenggam tangan Arlan erat. Tak ada yang bisa menenangkan hati selain sentuhan hangatnya yang menyalurkan perasaan tak sabar, bahagia, serta sedikit cemas yang meluap-luap.Hari ini adalah hari yang begitu berarti bagi kami berdua—hari pertama kami melihat bayi kecil yang hadir di antara segala badai yang pernah kami lewati.Tak lama kemudian, suster memanggil namaku, dan kami pun masuk ke ruang dokter Aida. Arlan menggenggam tanganku lebih erat, seolah tak ingin melepas. Dokter Aida menyambut kami dengan senyum hangat, lalu meminta aku untuk berbaring di tempat tidur periksa. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan ketegangan di dada.“Baik, Bu Areta, kita mulai, ya?” katanya sambil menyapukan alat USG. Layar monitor di samping tempat tidur mulai menampilkan gambar abu-abu yang bergerak.Dokter Aida mengarahkan alat USG d

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 35 – Garis Dua

    Setelah melewati hari yang penuh emosi, aku akhirnya bisa tidur dengan pulas. Bukan hanya karena lelah menangis, tapi karena Arlan yang menemaniku dan memeluk erat sepanjang malam. Rasanya hangat, aman, dan damai.Saat terbangun, aku menggeliat pelan. Ada beban di perutku. Ternyata tangan Arlan masih menindihku dengan posisi terlentang, napasnya teratur sambil mendengkur halus, mulutnya sedikit terbuka. Aku hati-hati memindahkan tangannya, lalu memiringkan tubuh, memandang wajahnya lekat-lekat. Sudah lama sekali aku tidak melihat pemandangan ini, momen saat bangun kesiangan dan menemukan suami masih di sisiku.Suami ... pikiranku berbisik, dan tanpa sadar aku tersenyumYa, suamiku tersayang, satu-satunya....Aku merapat ke tubuhnya, membelai dadanya perlahan. Perasaan sayang ini, begitu tulus, bukan karena keinginan semata, tapi rasa rindu yang lama terpendam. Aku mengecup bahunya, menghirup aroma tubuhnya, merasa begitu lengkap dalam pelukannya. Arlan menggeliat, lalu membuka mata pe

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 34 – Bimbang

    “Kalau beneran kamu udah putus dari Anya, kamu juga harus tegas dong ke anaknya.”“Iya, Ta, tapi kasihan Elsa, dia masih terlalu kecil untuk memahami ini semua.”Belum sempat aku merespons lebih jauh, tiba-tiba perawat datang mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar. “Permisi, Ibu. Boleh minta waktu sebentar? Kami butuh wali pasien untuk melengkapi dokumen di bagian kasir.”Aku mengerutkan dahi, sedikit heran. “Kenapa tiba-tiba?” tanyaku, setengah membentak.Arlan menjawab lebih dulu, wajahnya masih terlihat tegang. “Tadi pagi, dokter yang memeriksa bilang kalau aku sudah boleh pulang hari ini. Cuma mungkin belum dibereskan administrasinya,” katanya dengan suara pelan.Perawat mengangguk, melengkapi penjelasan Arlan. “Maaf, Ibu, memang baru diproses sore ini karena kami menunggu seluruh hasil pemeriksaan keluar dan persetujuan dokter. Dokter juga sudah memberikan surat kontrol balik. Jadi, semua berkasnya baru turun sore ini dari dokter yang bertanggung jawab atas Pak Arlan.”Rasanya a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status