LOGINFreya menikah dengan Arga, pria mapan yang berasal dari keluarga terpandang. Tiga tahun sudah ia berusaha menjadi istri yang baik, meski sejak awal kehadirannya tidak pernah benar-benar diterima oleh keluarga Arga. Statusnya sebagai perempuan dari keluarga miskin membuatnya sering diremehkan, dianggap tidak pantas mendampingi putra kebanggaan keluarga itu. Awalnya, Arga masih berdiri di pihak Freya, melindunginya dari sindiran dan hinaan. Namun seiring waktu, kesabaran Arga memudar. Kata-katanya mulai menyakiti, sikapnya semakin dingin, hingga membuat Freya merasa seolah ia hanya beban dalam rumah tangga mereka. Puncaknya terjadi saat keluarga Arga terang-terangan mendekatkan Arga dengan seorang wanita lain—seseorang yang dianggap “sepadan” dengan status keluarga mereka. Luka dan penghinaan itu menjadi titik balik bagi Freya. Ia memilih berhenti menangis dan mulai bangkit. Dengan tekad kuat, Freya membangun bisnis online kecil-kecilan dari rumah. Langkahnya penuh tantangan, namun keteguhan hati dan semangatnya membuahkan hasil. Perlahan, usaha itu berkembang pesat hingga membawa Freya pada kesuksesan yang membuat banyak orang tercengang. Kini, dunia berbalik. Arga dan keluarganya harus menyaksikan bagaimana perempuan yang dulu mereka remehkan berdiri tegak dengan harga diri dan kejayaan yang ia bangun sendiri.
View MoreDanika POV
“Stop, my love.” My voice echoed in the room, mirroring my moans as we lay tangled on the bed.
“What babe, don’t you like it?”
Drake panted seductively as he nibbled at my neck. He wasn’t helping matters as he was back kissing me passionately again, his lips playing tag with mine and his hands doing wicked things to my body.
If we continued on this path, we would end up making passionate love—not that I didn’t want it myself anyway.
“Babe,” I called out again, and this time, thank Goddess, he stopped, panting really hard.
“You know I want you. I’ve always wanted you,” he asked.
“Don’t you want me?”
“You know I do, babe.”
“Then let’s do it. Make love to me. It wouldn’t change anything anyway,” he tried to convince me.
A part of me wanted to scream yes, but another part of me knew this wasn’t the right thing to do. I could see the desire to have me in his eyes, but I could also detect the hurt in his tone of voice, and it hurt me too.
With my eyes a little clearer from the hooded desire from earlier, I tried my best to make him see some reason.
“Babe, I know you love me,” I started, “and I love you very much too. You promised to make me yours, remember? On my twentieth birthday, which is just two days away.”
I paused to take a look at his reaction, and thank the Goddess he wasn’t taking it the wrong way.
He sighed. “Babe, you know I can’t stay a minute without you. I promise that immediately after your wolf awakens, I’ll name you as my mate and future Luna of my pack.”
He declared it with all seriousness, and my heart leaped for joy. If it was someone else, I would have doubted the credibility of this promise, but this was my Drake. My one and only lover and sweetheart.
“Thank you so much, my love.” I thanked him with the wildest kiss.
“We won’t have to be apart after then—never,” I said, breaking the kiss, and stood up. After bidding him goodbye, I reluctantly set out to leave.
When I reached home, everyone was outside doing one thing or the other.
“Dad, Mom, I’m back,” I called out, hoping against hope that my mom would say something this time.
But again, I was met with disappointment.
“Oh, my baby girl is back.” My dad craned his neck a little, his eyes never leaving my face.
“How is Drake doing today?”
At the mention of his name, my face immediately heated up. My face turned into a cooked shrimp, my mind wandering back to a few hours ago about what almost happened between Drake and me.
In two days, I would become my favorite person’s Luna. I couldn’t wait to be claimed by the future Alpha of the acclaimed, respectable, and powerful Silver Tail Pack.
I was ecstatic. A dream come true for me.
“Why are you blushing so hard?” My sister Eleanor not only chimed in, but she was two years younger than I am, and everybody’s heartthrob. She was the jovial and bold one who always went for whatever she wanted.
At the age of eighteen, her wolf awakened with beautiful eyes and white fur with a little touch of brown, making her my mom’s favorite. My dad loved her as much as he loved me, but Mom’s love for her was on a whole other level.
“I wonder why her face is all shades of red,” my dad seconded Eleanor’s comment.
I quickly ran away from my family’s presence and into my room. I wasn’t in for their teases this morning.
I dove into my bed, still shy, and my face was still all shades of red. As I swung my legs, I couldn’t help but think how the day of my awakening would be.
I’d seen a fair amount of what awakenings looked like—tearing, a flash, the sound of howling, and a change of position from standing on two legs to standing on all fours.
I hoped mine wouldn’t be as painful, and wished my wolf would be as captivating and exceptionally beautiful.
In the blink of an eye, the day had arrived, with me looking at myself in the mirror, a self-satisfying smile playing on my lips. I wore a short, silver off-the-shoulder gown with matching slippers.
I chose a pair of black earrings and a necklace for adornment. Not that it would matter after a few hours, but still, I wanted to look gorgeous and beautiful for Drake.
After all, it was my birthday and the day I would become his Luna.
One last look in the mirror and I was ready.
With my heart thudding in anticipation, I slowly pushed open the double doors that led to the grand hall. The sound of my heels clicked on the marble tiles as I stepped inside the hall.
My heart was beating so fast, almost out of rhythm, and the surrounding air was charged with heavy anticipation. But the moment I stepped inside, all eyes turned towards me.
The loud voices and chatter turned into pin-drop silence, and hushing murmurs erupted in the hall.
“Look at her, walking all majestic. Who does she think she is, acting all high and mighty like she’s already Luna?” someone from behind me sneered.
“To top it all, she doesn’t even have a wolf yet,” another person said, and they all laughed.
“She’s acting all the better because she’s the Alpha’s girlfriend,” another voice added.
“It’s good that he’s going to leave her for someone more humble, as well as prettier,” another person said, and many more injurious words continued stabbing at my heart.
Was going to leave her? Who was going to leave me? What was happening?
My head had already sprinted into a jumbled mess. Drake wouldn’t leave me for someone else now, would he? He had already confessed to me that he loved me very much.
And I loved him as much as he did. He was going to make me his Luna. So long as Drake didn’t forsake me, our feelings, our love—then nothing else mattered to me.
And with this newfound confidence, I ignored the murmurs and pushed through the crowds towards my man—until something I saw made me halt in my tracks.
Situated on the podium was a seat meant for the Alpha and the Luna. My heartbeat quickened when I saw Drake, my own man, seated in the Alpha’s seat.
And in the Luna’s seat… the one seated there was—
My eyes widened, my mouth practically hitting the floor.
What? What in the earthwide world is happening?
Malam Itu Hujan turun tipis. Udara terasa lembab. Lampu-lampu jalan terlihat redup di balik kaca. Freya membungkuk, satu tangan memegang ujung meja, satu tangan menekan perutnya yang seperti diremas dari dalam. > “Ah—” Sebuah erangan kecil lolos. Tidak keras, tapi jelas penuh rasa sakit. Talita yang sedang melipat pakaian-pakaian pesanan berhenti seketika. > “Freya? Kamu kenapa? Mukamu pucat banget.” Freya mencoba tersenyum, senyum yang terlalu dipaksa. > “Cuma… sakit perut biasa. Mungkin masuk angin.” Namun tepat setelah itu rasa nyeri datang lebih kuat, membuat lututnya hampir goyah. Talita memegang bahunya, suaranya panik: > “Ini bukan masuk angin! Kamu bahkan nggak bisa berdiri tegak! Kita ke rumah sakit sekarang!” Freya menggeleng pelan, menahan sakit sambil menarik napas pendek-pendek. > “Tunggu… Telepon Arga dulu. Dia harus tahu…” Talita mengambil ponsel Freya dan menekan panggilan. Nada berdering. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Tidak diangkat. Talita mencoba
Kabar itu tidak langsung meledak besar. Namun seperti bara kecil yang tertiup angin, gosip itu merayap pelan, menembus sela-sela percakapan kantor, komunitas sosialita, hingga media online yang haus sensasi. Awalnya hanya sebuah foto: Arga dan Eveline terlihat keluar dari sebuah hotel konferensi di Bandung. Foto itu sebetulnya bersih—mereka menjaga jarak yang sopan. Namun ekspresi mereka terlalu nyaman untuk sekadar rekan kerja. Lalu muncul foto lain. Arga tertawa lepas saat Eveline menyentuh lengannya. Foto itu diambil candid, tanpa kesadaran mereka. Sebuah momen yang seharusnya hanya milik udara dan waktu, kini menjadi konsumsi publik. > “CEO muda Arga Pratama terlihat semakin dekat dengan putri tunggal pengusaha tekstil, Eveline Prawira. Apakah ini pertanda adanya hubungan spesial?” - GossipStar ID > “Istri? Tidak terlihat dalam lingkaran sosial Arga belakangan ini.” - HypeDaily Media Tagar mulai bermunculan. #ArgaEveline #PasanganSempurna #FuturePowerCouple T
Malam turun perlahan di langit Jakarta.Hujan rintik-rintik mengguyur kaca jendela, menimbulkan bunyi ritmis yang biasanya menenangkan, namun malam ini justru terasa seperti jarum yang menekan dada Freya.Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika suara pintu utama terbuka.Freya menatap dari ruang tamu — wajahnya datar, bukan lagi senyum lembut seperti biasanya. Ia menunggu suara langkah yang sudah begitu ia kenal itu.Arga masuk dengan jas masih melekat di bahu, dasi longgar, dan wajah lelah yang tak berusaha disembunyikan. Hujan membuat rambutnya sedikit basah.Ia bahkan tidak menatap ke arah Freya. Langsung menuju dapur, membuka kulkas, mengambil air mineral, lalu meneguknya dalam sekali minum.Suasana di antara mereka hening.Begitu hening hingga suara detak jam dinding terdengar seperti palu kecil yang memukul waktu.Freya akhirnya berdiri. Di tangannya masih ada amplop berisi foto-foto yang tadi diberikan oleh Ny. Ratna. Ia berjalan perlahan, langkahnya tenang, tapi mata
Langit siang tampak cerah, tapi suasana di rumah itu terasa dingin.Freya baru saja selesai membereskan sisa sarapan Arga. Di meja makan masih tercium samar aroma kopi hitam dan roti panggang — kebiasaan pagi yang ia jaga dengan hati-hati, meski sering diabaikan.Ia baru saja hendak menjemput paket pesanan dari kurir ketika suara klakson mobil terdengar di halaman.Nada klakson itu khas — dua kali, cepat dan pendek.Freya terdiam sejenak.Ia tahu suara itu.Beberapa detik kemudian, suara langkah sepatu berhak terdengar di lantai marmer. Dan di ambang pintu ruang tamu, berdirilah Ny. Ratna Malik, dengan busana elegan warna krem dan tas bermerek menggantung di lengannya.> “Selamat siang, Freya,” sapanya datar, dengan nada yang tidak mengandung kehangatan sedikit pun. “Kau sendirian?”Freya menelan ludah, berusaha menjaga sopan santun.> “Iya, Bu. Arga sudah berangkat ke kantor.”Ny. Ratna melangkah masuk tanpa diminta. Tatapannya langsung jatuh pada beberapa tumpukan pakaian dan kardus
Malam itu, rumah terasa lengang. Arga baru pulang larut, wajahnya lelah dan dingin, langsung masuk kamar tanpa banyak bicara. Freya hanya bisa menatap punggung suaminya dengan perasaan hampa. Kata-kata yang dulu menumbuhkan luka kini berubah menjadi penguat tekad. Kalau aku terus diam, aku akan sel
Akhir pekan itu, restoran mewah di pusat kota dipenuhi suara gelak tawa dan obrolan riuh. Ruang VIP yang biasanya digunakan untuk jamuan bisnis, kali ini dikuasai oleh sekumpulan wanita anggun bergaun elegan—para sosialita yang terbiasa hidup dalam kemewahan. Di salah satu sudut meja panjang itu,
Pagi itu, cahaya matahari menembus tirai tipis kamar. Suara pintu yang menutup pelan menandakan Arga sudah berangkat ke kantor. Seperti biasa, kepergian suaminya meninggalkan keheningan yang terasa hampa di rumah megah itu.Freya duduk di tepi ranjang, menatap kamar yang tertata rapi. Hatinya masih
Ruang makan keluarga besar itu berkilauan dengan lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit. Meja panjang dipenuhi hidangan mewah—sop buntut yang masih mengepul, ikan salmon panggang dengan saus lemon butter, hingga wine mahal yang dihidangkan dalam gelas kristal. Namun di balik semua ke












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.