Home / Young Adult / Istri Pengganti Sang Miliarder / 4. Aku Akan Menikah Denganmu

Share

4. Aku Akan Menikah Denganmu

Author: Rich Ghali
last update Last Updated: 2025-11-03 01:20:06

Evelyn bangkit berdiri seraya membereskan semua berkas yang harus ia tunjukkan pada Barra. Jantung wanita itu tidak bisa dinormalisasikan sejak tadi. Pikirannya tengah berada entah di mana. Ia benar-benar stress memikirkan jalan hidupnya mengingat ucapan sang teman yang mengatakan bahwa Barra tengah mencari istri.

“Semangat, Lyn! Barang kali entar dilamar.” Fani memberikan candaan yang disambut tawaan oleh orang sekitar. Sementara Evelyn hanya bisa tersenyum seraya menunduk malu.

Dengan dada yang berdebar tidak karuan, Evelyn berjalan menuju ruang di mana Barra berada. Lelaki itu telah menunggu di sana. Senyum lelaki itu langsung menyambut setelah Evelyn mengetuk pintu dan masuk. Melihat senyum manis itu, Evelyn semakin gugup. Ia sangat membenci jika berada dalam situasi seperti ini, sebab kegugupannya terlihat dengan sangat jelas.

“Saya minta maaf, Tuan.” Evelyn langsung menyuguhkan kata maaf seraya menyerahkan lembaran-lembaran berisi design miliknya.

“Untuk?” Barra mengerutkan kening, tidak mengerti. Ia menerima tumpukan kertas yang diserahkan oleh Evelyn.

“Design gaun yang Tuan minta tidak bisa saya selesaikan.” Evelyn berucap dengan rasa bersalah yang besar. Ia takut jika sang bos akan marah, sebab itu gaun yang diminta untuk diberi perhatian lebih. Dan kini design untuk gaun itu malah tidak ada gambaran sedikit pun.

Barra menarik napas dalam. Ia tidak menanggapi ucapan Evelyn. Matanya terfokus pada gambar-gambar yang berada di kertas dalam genggaman.

“Tidak apa-apa.” Akhirnya Barra menjawab dengan nada lemah. Sepasang mata tajam dan penuh dengan binar itu tampak meredup dan melemah. Seakan ada hal yang membuatnya sedih dan tengah ia sembunyikan.

Evelyn mendongak. Tidak percaya jika tanggapan Barra akan seperti itu. Ia mengira akan diberi teguran keras, nyatanya ia bahkan tidak diberi teguran sama sekali.

“Apa yang memesan gaun itu orang penting?” Evelyn bertanya hati-hati.

Bara terdiam untuk beberapa saat. Kemudian menarik napas berat.

“Sebenarnya gaun itu saya yang mesan, itulah sebabnya saya meminta kamu untuk memberikan perhatian lebih pada gaun itu. Namun, percuma juga. Tunangannya dibatalkan.”

Sejenak mereka terdiam. Barra tenggelam dengan pikirannya. Sementara Evelyn tidak tahu harus memberikan respons seperti apa. Ia tengah bingung kini. Bukankah selama ini bos muda yang tengah duduk di hadapannya tidak memiliki pacar sama sekali? Lantas, mengapa tiba-tiba mendapat kabar bahwa tunangannya dibatalkan?

“Evelyn.” Barra memanggil dengan sangat serius.

Evelyn kembali mendongak. Ia membalas tatapan Barra dengan sangat dalam. Untuk beberapa saat mereka terdiam dengan saling tatap. Evelyn merasakan wajahnya memanas, sejalan dengan rona merah yang mulai timbul di kedua pipinya. Perasaan gugup yang sedari tadi mengukung dirinya, kini semakin membuat ia gugup dan terkunci agar tidak bisa bergerak. Ia seakan terikat oleh tatapan itu.

“Apa kau benar-benar menyukaiku? Bukan karena kau mengincar hartaku?” Barra bertanya dengan serius.

Pertanyaan yang mendadak dan serius seperti itu membuat Evelyn terdiam dan berhenti bernapas untuk beberapa detik. Selama dua tahun bekerja dengan Barra, ia telah menahan diri untuk tidak jatuh cinta, tapi pada kenyataannya ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Untuk mencairkan suasana, Evelyn tertawa terbahak. “Kau tengah membicarakan apa, Tuan? Aku tidak mengerti.” Ia mengelak untuk mengakui.

Barra menarik napas dalam. “Aku tengah mencari ibu untuk putraku. Kupikir kau menyukaiku.” Barra mengempaskan punggung pada sandaran kursi, lalu melipat tangan di dada. “Mungkin aku akan menawarkan pada gadis lain jika kau menolak.”

Evelyn terdiam. Ia benar-benar bingung sekarang. Ada banyak hal yang telah ia lewatkan selama dua tahun menjadi followers Barra. Ia tidak tahu jika lelaki itu telah pernah menikah sebelumnya, bahkan telah memiliki seorang anak. Bagaimana mungkin? Bahkan karyawan yang lain pun tidak mengetahui kabar itu. Apa memang serahasia itu Barra dalam menyimpan privasi?

“Tunggu dulu.” Evelyn menahan. Ia mengerutkan kening sembari menutup mata. Mencoba untuk berpikir. Ia merasa pusing memikirkan pujaan hatinya itu.

“Aku tidak pernah tahu bahwa kau pernah menikah.” Evelyn berucap tidak percaya. Ia menyipitkan mata menatap Barra. “Lalu, masalah tunangan, juga anak. Aku tidak mengerti sama sekali. Semua orang tahu bahwa kau lajang, Tuan.” Evelyn benar-benar tidak mengerti. Apalagi lelaki itu tidak terlihat seperti hot papa sama sekali. Ia terlihat seperti pemuda lajang pada umumnya. Bahkan media sosialnya pun hanya ada foto dirinya.

Barra tertawa tipis. Ia merasa miris.

“Kau tahu kasus penculikan akhir-akhir ini sangat pesat. Aku hanya tidak ingin putraku menjadi salah satu korban. Tidak ada yang tahu bahwa dia adalah putraku, kecuali keluarga inti.” Barra menjelaskan.

“Berapa usianya?”

“Lima tahun.”

Kini giliran Evelyn yang tertawa. Ia menertawakan diri sendiri, sebab ia bisa terkecoh untuk fakta sebesar itu. Ia selalu mencaritahu semua hal yang berkaitan dengan Barra, tapi bisa melewatkan hal sepenting itu.

Untuk beberapa saat Evelyn terdiam. Ia tidak bisa mengambil keputusan, sebab dirinya sendiri sudah tidak berstatus lajang sejak kemarin. Ia telah menjadi istri orang kini.

“Kau terlambat, Tuan!” Evelyn berucap dalam hati.

Andai Barra mengutarakan niatnya lebih cepat, mungkin hasilnya akan berbeda.

“Kau menjadikanku pilihan hanya karena kau batal tunangan? Andai dia tidak meninggalkanmu, kau tidak akan pernah menawarkan ini kepadaku?” Evelyn memberikan jawaban yang sekiranya tidak perlu menyertai alasan bahwa ia tidak bisa karena ia telah menikah.

“Aku yang membatalkan. Dia bukan wanita yang tepat, karena dia hanya bersandiwara bahwa dia menyukai putraku.” Bara menegaskan bahwa dia tidak ditinggalkan, tapi dia yang meninggalkan.

Evelyn seperti orang gila kini. Ia lagi-lagi tertawa untuk pembicaraan yang sangat serius. Sebab, pikirannya tengah terbelit-belit.

“Apa kau tidak bisa memberikanku waktu? Aku butuh pendekatan denganmu, juga dengan putramu.” Evelyn berucap dengan lemah. Sesungguhnya ia akan langsung berkata iya andai statusnya masih lajang kini.

“Aku tahu menikah bukan permainan. Namun, aku hanya memiliki waktu tiga bulan dari sekarang sebelum hak asuh putraku diambil alih oleh orang tua mendiang istriku.” Barra terlihat frustrasi ketika mengatakan hal itu.

Kini Evelyn paham apa yang tengah terjadi sekarang. Ia terdiam. Berusaha berpikir mencari jalan keluar. Bagaimana pun, ia tidak ingin jika Barra mencari gadis lain, sebab posisi itu telah ia inginkan sejak dulu. Entah lajang atau duda, Barra tetaplah Barra. Lelaki itu telah mencuri hatinya sejak pertemuan pertama mereka dulu.

Evelyn tidak ingin memikirkan apa pun. Ia setuju, tanpa berpikir panjang akan risiko ke depan.

“Aku akan menikah denganmu, tolong jangan cari wanita lain lagi. Beri aku waktu dan kesempatan.” Evelyn berucap dengan serius. Ia menggenggam tangan Barra sebagai penegasan. Telapak tangan itu terasa sangat dingin sekarang.

Barra tersenyum seraya mengangguk setuju.

“Tuhan, tolong beri aku jalan!” Evelyn menjerit dalam hati.

Kini Evelyn punya dua pilihan. Memperjuangkan cintanya untuk Barra, atau mempertahankan pernikahannya dengan mantan kakak iparnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   131. Ending

    Evelyn menatap suaminya dengan mata sembab. Mata itu bahkan telah bengkak karena telah menangis untuk waktu yang lama. Ia tidak tidur semalaman, sebab tidak bisa tenang karena sang suami tidak kunjung siuman.“Vernon, kapan kau akan bangun? Mana janjimu yang ingin membuatku dan anak-anak hidup bahagia?” Evelyn berucap dengan suara serak.Terdengar ketukan di pintu ruangan. Evelyn bangkit untuk membukakan. Tampak kedua ornagtuanya yang datang untuk membesuk setelah hampir 24 jam Vernon berada di rumah sakit.“Papa.” Wanita itu langsung menghabur ke dalam pelukan papanya. Ia kembali menangis sejadi-jadinya di sana. Sebab, terlampau takut jika kehilangan suaminya. Ia belum siap kehilangan lelaki yang begitu ia cintai.“Maaf karena kemaren papa tidak menjawab teleponmu. Papa masih kesal karena kau tetap nekat buat pergi dari rumah. Tadi malam ibunya Vernon datang ke rumah, dia ngasih tahu apa yang terjadi. Papa jadi khawatir sama kamu.” Lelaki paruh baya itu berucap dengan penuh simpati.

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   130. Infeksi Otak

    Evelyn menggeliat kecil saat ia terbangun di pagi hari. Wanita itu berbalik, menatap suaminya yang masih terlelap di sisinya.Evelyn tersenyum menatap, ia elus lembut wajah lelaki itu dengan penuh cinta.“Sayang, bangun. Sudah pagi.” Evelyn berucap dengan lembut. Tidak ada tanggapan sama sekali dari Vernon. Lelaki itu tetap saja terlelap. Helaan napasnya terdengar begitu lemah, tapi teratur. Bahkan pelukannya di tubuh Evelyn masih erat seperti sebelumnya.“Vernon.” Evelyn menepuk pipi suaminya dengan lembut, berharap dengan itu Vernon akan lekas bangun. Namun, tetap saja Vernon tidak memberikan respons apa pun.Evelyn menghela napas dengan dalam. Ia tatap wajah tampan itu lamat-lamat dari jarak yang begitu dekat. Wajahnya terasa panas saat napas mereka saling beradu.“Bangun, hey, bangun.” Evelyn terus berusaha membangunkan. Ia kecup wajah suaminya berkali-kali untuk mengganggu tidur lelaki itu. Namun, itu tidak memberikan efek apa pun, Vernon tidak kunjung bangun.“Ya sudahlah, nanti

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   129. Ciuman Ternikmat

    “Kamu punya mantan berapa?” Vernon tiba-tiba bertanya menjelang tidur mereka. Kini meraka hanya ada berdua, sebab Luke tidur di kamarnya.“Apa gunanya membahas masa lalu?” Evelyn balik bertanya. Ia kurang suka dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut suaminya.“Aku mau tahu saja. Kau sepertinya mudah disukai oleh orang lain.” Vernon berucap ingin tahu.Evelyn tertawa tipis.“Kau salah, justru tidak ada yang suka padaku. Bahkan kau juga sempat menolakku.” Evelyn ingat betul sekuat apa dulu suaminya itu menolak hubungan mereka. Andai ia tidak hamil, mungkin hubungan mereka tidak akan berlanjut hingga kini. Sebab, tidak ada yang mengikat mereka dan memaksa untuk hidup bersama. Kehamilan itu juga tidak diinginkan, bahkan Evelyn mendapatkannya karena malam pertama yang dipaksa.Vernon menoleh menatap istrinya.“Issa sangat menyukaimu, Joy juga, bahkan Barra.”“Cuma mereka. Kau juga tidak pernah tahu bagaimana perjuanganku untuk masuk ke dalam kehidupan Issa. Issa juga sempat menolakku.”

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   128. Melayat

    Evelyn mengenakan topi pada Luke untuk menyamarkan luka di jidatnya. Anak itu tampak tampan dengan setelah pakaian yang Evelyn sarungkan. Ia benar-benar mirip dengan Vernon. Matanya, mulutnya, tatapannya, alisnya, rahangnya, benar-benar seperti Vernon. Ia hanya mengambil bagian hidung dan rambut Evelyn. Sebuah perpaduan yang begitu sempurna.[Sudah siap?] Sebuah pesan masuk dari Vernon. Sesuai janjinya, siang ini mereka akan ke rumah Barra.[Sudah.] Evelyn mengirim pesan balasan.Evelyn menunggu di ruang tamu. Ia duduk di sofa seraya mengawasi Luke yang tidak jera untuk belajar berjalan dengan berpegangan pada sofa. Tampaknya pertumbuhan anak itu semakin ke sini semakin pesat.Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya Vernon tiba di rumah. Lelaki itu berganti pakaian terlebih dahulu, agar terkesan ikut berduka atas kematian Fani dengan mengenakan pakaian serba hitam.“Joy gimana?” Evelyn bertanya dengan bingung ketika Vernon mengajaknya untuk segera berangkat. Sebab, Joy akan pulang s

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   127. Suami yang Evelyn Mau

    Vernon menyusul ke kamar setelah ia menenangkan dan menidurkan Joy di kamar anak itu. Evelyn telah terlelap ketika ia menyusul. Wanita itu tampak tidur dengan mendekap Luke. Tampak wajah Evelyn sedikit sembab, pertanda jika ia habis menangis. Barangkali ia menyesal karena telah memilih keputusan yang salah dengan kembali ke rumah itu. Atau juga karena ia merasa sakit karena ketidakpercayaan Vernon terhadapnya.Vernon duduk di tepian ranjang. Ia menghela napas dengan kasar. Terlihat menyesal karena telah memicu pertengkaran di antara mereka.“Evelyn ….” Vernon memanggil dengan lembut. Tidak ada tanggapan sama sekali dari Evelyn. Wanita itu terlihat tetap terlelap dalam tidurnya.“Sayang ….” Ia menyentuh lembut pipi Evelyn. Membuat Evelyn membuka mata karena merasa terganggu dengan sentuhan itu. “Maaf, ya.” Vernon meminta maaf karena telah menyadari kesalahannya.Evelyn hanya diam. Ia melepas pelukannya pada Luke, lalu berbalik menghadap tembok. Untuk saat ini ia tidak ingin menatap Ver

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   126. Pertengkaran Kecil

    Vernon menggeliat di saat ia terbangun dari tidurnya. Tidak lagi ia dapati sang istri di sisinya. Ranjang itu kosong, hanya ada ia seorang diri. Pertanda jika Evelyn sudah bangun lebih dulu. Dari dalam kamar mandi terdengar air yang membentur lantai, tampaknya Evelyn tengah mandi.Vernon bangkit untuk duduk. Selimutnya melorot hingga pinggang, menunjukkan otot-otot di tubuhnya yang tampak begitu kekar. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, ia bisa merasakan kembali surga dunia bersama istrinya tadi malam.Vernon mengusap wajahnya dengan kasar, sesekali ia menguap karena masih mengantuk. Ia melakukan peregangan kecil di atas ranjang. Setelahnya ia beranjak turun, menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan melangkah dengan telanjang bulat menuju kamar mandi.“Sayang, buka pintunya.” Vernon mengetuk dengan lembut, ingin ikut mandi bersama Evelyn.“Sebentar, aku mau selesai!” Terdengar Evelyn menjawab dari dalam.“Mandinya bareng.” Vernon berucap dengan manja, suaranya terdengar serak khas o

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status