แชร์

5. Joy Hilang

ผู้เขียน: Rich Ghali
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-03 01:20:16

Ponsel Evelyn berdering sejak tadi. Namun, ia tidak ingin memberikan respons apa pun. Wanita itu membiarkan begitu saja ponselnya berbunyi hingga mati sendiri karena tidak kunjung mendapatkan jawaban.

Waktu telah menunjukkan pukul 21.00 kini, tapi ia belum menginjakkan kaki ke rumah Vernon sepulang dari kantor. Ia butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri. Ada banyak hal yang membuatnya pusing dan stress jika dipikirkan. Hingga akhirnya Evelyn memutuskan untuk mengunjungi bar sekadar minum beberapa gelas alkohol agar ia bisa sedikit lebih tenang.

Baru dua gelas saja, kepala Evelyn langsung terasa sakit. Ia merasa pusing, dan mulai mabuk. Sementara ia telah sering mencoba minuman itu, tapi selalu saja memberikan efek yang sama untuk dirinya. Ia selalu kalah dalam gelas kedua.

Sebelum mabuknya semakin parah, Evelyn memutuskan untuk pulang.

Untung saja tidak terjadi apa-apa pada dirinya hingga ia masuk ke dalam taksi dengan aman. Taksi melaju dengan kecepatan tinggi menuju alamat yang Evelyn sebutkan.

“Pak, kenapa dunia itu kejam sekali? Kenapa saya dilamar oleh pujaan hati setelah saya menikah dengan lelaki yang tidak saya cintai?” Evelyn protes pada supir taksi yang berada di kursi kemudi. Sepertinya ia tidak bisa mengendalikan ucapan karena ia setengah sadar.

Tampaknya sang supir sudah terbiasa mendapat penumpang seperti itu. Ia tampak biasa saja dan tidak merespons sama sekali. Mungkin ia juga tengah berpikir mengapa anak-anak muda zaman sekarang menjadikan mabuk-mabukan sebagai pelampiasan dari amarah yang ada. Bukannya menjadi solusi, malah masalah yang semakin bertambah.

Setelah beberapa saat, akhirnya taksi tiba di depan pagar rumah Vernon. Evelyn turun setelah membayar tagihan. Ia membuka pintu pagar dan berjalan setengah terhuyung menuju pintu masuk. Sesekali wanita itu hampir terjatuh karena tersandung kaki sendiri.

“Bi ... Bi Asih ....” Evelyn memanggil dengan sangat lemah.

Menit berikutnya, pintu terbuka. Evelyn masuk dengan langkah yang tidak beraturan. Ia langsung jatuh terduduk di sofa ruang depan.

Bi Asih yang memerhatikan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tidak punya hak untuk memarahi ketika mendapati majikannya pulang dalam keadaan mabuk. Namun, satu hal yang mengganjal hati dan pikirannya saat ini. Yaitu Joy.

“Bi, Evelyn dan Joy sudah pulang?” Vernon bertanya dari lantai atas sana. Ia melongok ke bawah, melihat-lihat keadaan. Namun, tidak ia temukan putri kecilnya di sana.

Bi Asih terdiam. Ia juga bingung harus menjawab apa. Harusnya Evelyn pulang bersama dengan Joy. Namun, nyatanya tidak sama sekali. Lalu, ke mana putri kecilnya itu pergi?

Vernon bergegas menuruni anak-anak tangga. Ia masih mengenakan pakaian kerja yang lengkap. Sebab, ia tidak bisa tenang sebelum Evelyn pulang membawa putrinya ikut serta.

“Di mana Joy?” Vernon langsung bertanya setelah ia hanya menemukan Evelyn di sofa.

“Aku baru pulang, harusnya kau lebih tau.” Evelyn menjawab dengan nada tidak bersahabat.

“Bukankah kau sudah kuminta untuk menjemputnya dan mengantarnya pulang tadi siang?” Vernon protes.

“Kau tidak berkata apa pun padaku.”

“Kau tidak membuka pesan yang kukirim?” Vernon menebak dengan benar.

Seketika semua orang yang berada di sana memasang wajah panik. Tidak terkecuali Evelyn. Ia langsung sadar dari mabuknya. Detik itu juga ia bangkit berdiri dan berjalan cepat menuju pintu ke luar. Vernon seolah paham apa yang terjadi, juga ikut berlari keluar dari rumah. Mobil yang belum ia masukkan ke garasi, mempermudah dirinya untuk masuk ke mobil.

“Keluar dari mobilku!” Vernon berucap dengan nada tinggi ketika Evelyn ikut masuk dan duduk di kursi samping kemudi.

“Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Semakin banyak yang mencari akan semakin bagus.” Evelyn tidak peduli dengan ketidaksukaan yang ditunjukkan oleh Vernon.

“Orang mabuk sepertimu tidak akan berguna sama sekali.” Vernon berucap secara frontal. Ia tidak menyangka jika Evelyn menyukai minuman semacam itu. Wanita itu benar-benar jauh berbeda dibanding dengan Inara.

Vernon membuka pintu mobil, lalu mendorong Evelyn agar lekas enyah dari sana.

“Vernon, cukup! Berhenti kekanak-kanakan. Joy lebih penting sekarang!” Evelyn protes akan sikap Vernon yang dalam keadaan genting seperti ini pun tidak ingin mengalah pada egonya. Sekuat apa pun Vernon mendorong, Evelyn tidak ingin keluar. Sebab, ia ingin ikut serta dalam mencari Joy. Biar bagaimana pun ia tetap salah dalam hal ini.

Vernon terdiam. Ia berhenti meminta Evelyn untuk turun dari mobilnya. Sebab, apa yang dikatakan oleh Evelyn ada benarnya juga. Beberapa saat kemudian, mobil mulai melesat dengan kecepatan tinggi menuju sekolah Joy.

Sepanjang perjalanan mereka hanya diam sembari melihat kiri dan kanan. Mereka tidak seakrab itu untuk menenangkan satu dengan yang lain. Mereka juga tidak sedekat itu untuk saling bertukar kata.

Mobil berhenti ketika mereka tiba di area sekolah. Mesin mobil sengaja tidak dimatikan, sebab keadaan yang sangat gelap. Evelyn gegas turun dan berlari sembari memanggil nama anak sambungnya itu dengan rasa panik yang besar.

“Joy! Ini mami, Sayang!” Evelyn berlari mengitari sekolah, mengelilingi setiap sudut dengan Vernon secara berpencar. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan bocah itu di sana.

Tiba-tiba ucapan Barra mengenai kasus penculikan anak lewat begitu saja di pikiran Evelyn. Ia semakin panik dan semakin merasa bersalah. Seluruh tubuhnya terasa meluruh. Ia telah lalai menjadi seorang ibu, juga lalai menjadi seorang bibi yang baik untuk gadis kecil itu.

“Joy!” Evelyn memanggil dengan histeris, tapi tidak ada sahutan sama sekali.

Evelyn tidak lagi bisa menahan tangis, tangisnya pecah memikirkan keadaan bocah itu. Tangannya gemetar mengusap wajah dengan kasar.

Evelyn dan Vernon kembali bertemu di depan mobil. Mereka sama-sama panik. Namun, Evelyn terlihat jauh lebih panik. Sebab, ia menanggung dua beban sekaligus. Vernon memiliki tanggung jawab untuk Joy karena Joy adalah anak kandungnya. Sementara tanggung jawab Evelyn lebih besar, karena Joy adalah anak sambungnya.

“Jika terjadi sesuatu kepada Joy, kau tidak akan pernah kumaafkan.” Vernon berucap datar, tapi terdengar sangat tajam dan menusuk.

Evelyn mendongak. Ia mengusap wajah dan menatap Vernon dengan sangat tajam.

“Sebagai seorang ayah, apakah kau merasa telah memberikan kasih sayang yang cukup untuk Joy? Berapa kali dalam sehari kau memberikan pelukan untuknya? Berapa kali dalam sehari kau memberikan ciuman padanya? Berapa kali dalam sehari kau mengatakan bahwa kau mencintainya? Berapa banyak waktu dalam sehari kau habiskan untuk dirinya?!” Evelyn membalas dengan tajam. Melampiaskan amarah yang selama ini tertahan dalam dada.

Evelyn tahu selama lima tahun ini Joy hidup dengan kekurangan kasih sayang. Setiap kali Joy berlibur ke tempat Evelyn, Joy selalu berkata bahwa papanya sangat sibuk dan ia merasa kesepian.

“Kau merasa telah menjadi ayah yang baik? Ke mana kau ketika kakakku meninggal saat melahirkan anakmu?!” Evelyn berucap dengan kasar.

Plak!

Satu tamparan mendarat di pipi Evelyn dengan kasar. Sudut bibir dan hidungnya mengeluarkan darah saat itu juga. Pipinya memerah dengan gambar telapak tangan membekas di sana. Evelyn mengusap hidungnya dengan punggung tangan hingga noda merah mengotori punggung tangan itu.

Vernon terdiam membatu. Ia kaku, tidak percaya bahwa ia akan sanggup memberikan tamparan untuk istrinya. Sementara selama hidupnya ia tidak pernah menyakiti wanita sama sekali. Selama ia bernapas, ia belum pernah memukul wanita sekali pun. Ini yang pertama kali.

Evelyn tertawa tipis. Ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur dinding pos penjaga. Pandangan wanita itu menggelap, tapi ia menahan diri agar tidak tumbang.

Sementara Vernon masuk ke dalam mobil dan menyesali sikapnya barusan. Ia memaki diri sendiri karena telah menjadi lelaki pengecut yang berani main tangan. Pandangannya kosong menatap tangan kanannya yang gemetar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   131. Ending

    Evelyn menatap suaminya dengan mata sembab. Mata itu bahkan telah bengkak karena telah menangis untuk waktu yang lama. Ia tidak tidur semalaman, sebab tidak bisa tenang karena sang suami tidak kunjung siuman.“Vernon, kapan kau akan bangun? Mana janjimu yang ingin membuatku dan anak-anak hidup bahagia?” Evelyn berucap dengan suara serak.Terdengar ketukan di pintu ruangan. Evelyn bangkit untuk membukakan. Tampak kedua ornagtuanya yang datang untuk membesuk setelah hampir 24 jam Vernon berada di rumah sakit.“Papa.” Wanita itu langsung menghabur ke dalam pelukan papanya. Ia kembali menangis sejadi-jadinya di sana. Sebab, terlampau takut jika kehilangan suaminya. Ia belum siap kehilangan lelaki yang begitu ia cintai.“Maaf karena kemaren papa tidak menjawab teleponmu. Papa masih kesal karena kau tetap nekat buat pergi dari rumah. Tadi malam ibunya Vernon datang ke rumah, dia ngasih tahu apa yang terjadi. Papa jadi khawatir sama kamu.” Lelaki paruh baya itu berucap dengan penuh simpati.

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   130. Infeksi Otak

    Evelyn menggeliat kecil saat ia terbangun di pagi hari. Wanita itu berbalik, menatap suaminya yang masih terlelap di sisinya.Evelyn tersenyum menatap, ia elus lembut wajah lelaki itu dengan penuh cinta.“Sayang, bangun. Sudah pagi.” Evelyn berucap dengan lembut. Tidak ada tanggapan sama sekali dari Vernon. Lelaki itu tetap saja terlelap. Helaan napasnya terdengar begitu lemah, tapi teratur. Bahkan pelukannya di tubuh Evelyn masih erat seperti sebelumnya.“Vernon.” Evelyn menepuk pipi suaminya dengan lembut, berharap dengan itu Vernon akan lekas bangun. Namun, tetap saja Vernon tidak memberikan respons apa pun.Evelyn menghela napas dengan dalam. Ia tatap wajah tampan itu lamat-lamat dari jarak yang begitu dekat. Wajahnya terasa panas saat napas mereka saling beradu.“Bangun, hey, bangun.” Evelyn terus berusaha membangunkan. Ia kecup wajah suaminya berkali-kali untuk mengganggu tidur lelaki itu. Namun, itu tidak memberikan efek apa pun, Vernon tidak kunjung bangun.“Ya sudahlah, nanti

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   129. Ciuman Ternikmat

    “Kamu punya mantan berapa?” Vernon tiba-tiba bertanya menjelang tidur mereka. Kini meraka hanya ada berdua, sebab Luke tidur di kamarnya.“Apa gunanya membahas masa lalu?” Evelyn balik bertanya. Ia kurang suka dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut suaminya.“Aku mau tahu saja. Kau sepertinya mudah disukai oleh orang lain.” Vernon berucap ingin tahu.Evelyn tertawa tipis.“Kau salah, justru tidak ada yang suka padaku. Bahkan kau juga sempat menolakku.” Evelyn ingat betul sekuat apa dulu suaminya itu menolak hubungan mereka. Andai ia tidak hamil, mungkin hubungan mereka tidak akan berlanjut hingga kini. Sebab, tidak ada yang mengikat mereka dan memaksa untuk hidup bersama. Kehamilan itu juga tidak diinginkan, bahkan Evelyn mendapatkannya karena malam pertama yang dipaksa.Vernon menoleh menatap istrinya.“Issa sangat menyukaimu, Joy juga, bahkan Barra.”“Cuma mereka. Kau juga tidak pernah tahu bagaimana perjuanganku untuk masuk ke dalam kehidupan Issa. Issa juga sempat menolakku.”

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   128. Melayat

    Evelyn mengenakan topi pada Luke untuk menyamarkan luka di jidatnya. Anak itu tampak tampan dengan setelah pakaian yang Evelyn sarungkan. Ia benar-benar mirip dengan Vernon. Matanya, mulutnya, tatapannya, alisnya, rahangnya, benar-benar seperti Vernon. Ia hanya mengambil bagian hidung dan rambut Evelyn. Sebuah perpaduan yang begitu sempurna.[Sudah siap?] Sebuah pesan masuk dari Vernon. Sesuai janjinya, siang ini mereka akan ke rumah Barra.[Sudah.] Evelyn mengirim pesan balasan.Evelyn menunggu di ruang tamu. Ia duduk di sofa seraya mengawasi Luke yang tidak jera untuk belajar berjalan dengan berpegangan pada sofa. Tampaknya pertumbuhan anak itu semakin ke sini semakin pesat.Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya Vernon tiba di rumah. Lelaki itu berganti pakaian terlebih dahulu, agar terkesan ikut berduka atas kematian Fani dengan mengenakan pakaian serba hitam.“Joy gimana?” Evelyn bertanya dengan bingung ketika Vernon mengajaknya untuk segera berangkat. Sebab, Joy akan pulang s

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   127. Suami yang Evelyn Mau

    Vernon menyusul ke kamar setelah ia menenangkan dan menidurkan Joy di kamar anak itu. Evelyn telah terlelap ketika ia menyusul. Wanita itu tampak tidur dengan mendekap Luke. Tampak wajah Evelyn sedikit sembab, pertanda jika ia habis menangis. Barangkali ia menyesal karena telah memilih keputusan yang salah dengan kembali ke rumah itu. Atau juga karena ia merasa sakit karena ketidakpercayaan Vernon terhadapnya.Vernon duduk di tepian ranjang. Ia menghela napas dengan kasar. Terlihat menyesal karena telah memicu pertengkaran di antara mereka.“Evelyn ….” Vernon memanggil dengan lembut. Tidak ada tanggapan sama sekali dari Evelyn. Wanita itu terlihat tetap terlelap dalam tidurnya.“Sayang ….” Ia menyentuh lembut pipi Evelyn. Membuat Evelyn membuka mata karena merasa terganggu dengan sentuhan itu. “Maaf, ya.” Vernon meminta maaf karena telah menyadari kesalahannya.Evelyn hanya diam. Ia melepas pelukannya pada Luke, lalu berbalik menghadap tembok. Untuk saat ini ia tidak ingin menatap Ver

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   126. Pertengkaran Kecil

    Vernon menggeliat di saat ia terbangun dari tidurnya. Tidak lagi ia dapati sang istri di sisinya. Ranjang itu kosong, hanya ada ia seorang diri. Pertanda jika Evelyn sudah bangun lebih dulu. Dari dalam kamar mandi terdengar air yang membentur lantai, tampaknya Evelyn tengah mandi.Vernon bangkit untuk duduk. Selimutnya melorot hingga pinggang, menunjukkan otot-otot di tubuhnya yang tampak begitu kekar. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, ia bisa merasakan kembali surga dunia bersama istrinya tadi malam.Vernon mengusap wajahnya dengan kasar, sesekali ia menguap karena masih mengantuk. Ia melakukan peregangan kecil di atas ranjang. Setelahnya ia beranjak turun, menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan melangkah dengan telanjang bulat menuju kamar mandi.“Sayang, buka pintunya.” Vernon mengetuk dengan lembut, ingin ikut mandi bersama Evelyn.“Sebentar, aku mau selesai!” Terdengar Evelyn menjawab dari dalam.“Mandinya bareng.” Vernon berucap dengan manja, suaranya terdengar serak khas o

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status