LOGINSementara Aji masih disekap di gudang, Hana memilih untuk pergi ke kampus Kalila tanpa memberitahu adiknya. Dia sekarang sudah mulai bisa membaca apa saja yang dipikirkan oleh wanita itu. Cara yang tepat adalah langsung mengambil bukti yang disebutkan oleh Kalila di loker kampusnya. Hana bisa saja datang dengan berbagai alasan, salah satunya mengambil barang adiknya yang sudah di-DO dari kampus. Hal itu sangat mudah dilakukan karena dia adalah wali dari Kalila. Sementara ini, dia harus benar-benar hati-hati terhadap adiknya. Meskipun Aji sudah tertangkap basah dan mungkin untuk sementara waktu tidak bisa melawan, Hana tidak boleh lengah terhadap orang-orang yang dikira lemah. Sepeninggal Hana, Kalila berusaha untuk keluar dari kamar. Sayangnya, pintunya terkunci dari luar. Kalau dia keluar dari jendela pun percuma; jendelanya dihalangi oleh teralis. Jadi, yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu sampai Hana datang. Dia akan berusaha untuk kabur dari tempat ini setelah berhasil menga
Hana melangkahkan kaki menjauh dari gudang itu, tapi Bi Asih langsung menghentikannya. "Nyonya ... apa Nyonya yakin ingin melakukan semua ini?" tanya wanita paruh baya itu berusaha bertanya baik-baik. Dia tahu penderitaan Hana sangat dalam, bertahun-tahun ditipu oleh adik dan suaminya sendiri. Tetapi masalahnya, jika balas dendam dilakukan seperti ini, apakah semuanya akan impas? Lalu, bagaimana kalau perlakuan Hana terendus oleh polisi? Masa depan Hana akan lebih hancur dari sebelumnya jika melakukan semua ini tanpa pertimbangan yang matang.Hana terdiam. Tubuhnya masih membelakangi dua orang tersebut. Dia tersenyum kecil. Sebenarnya hatinya merasa berat melakukan ini semua—bukan karena dia masih cinta kepada Aji, tapi dia takut kalau semua kejahatannya akan berbalik menjadi karma untuk anaknya sendiri. Hanya saja, jika dia tidak berbuat seperti ini, bukan hanya Kalila yang akan kehilangan nyawa, tetapi dia dan anaknya pun akan terancam. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengo
Aji benar-benar syok. Dia sama sekali tidak menyangka kalau istrinya bisa berbuat seperti ini, apalagi reaksi Hana yang di luar dugaan. Selama bertahun-tahun menikah, ini kali pertama dia melihat wajah Hana yang sama sekali berbeda dari biasanya. Pria itu berusaha memberontak, meminta agar dilepaskan. Suara-suara rintihan keluar dari mulutnya, memberikan sinyal kalau dirinya ingin berbicara."Kenapa, Mas? Kamu ingin menjelaskan sesuatu? Atau kamu ingin bertanya kenapa aku seperti ini?" tanya Hana dingin. "Sayangnya, aku tidak akan membuka sumpalan di mulutmu. Kamu cukup dengarkan saja semua yang ingin aku katakan.""Pertama, aku tahu kamu sudah memasukkan obat yang salah kepadaku sampai sakitku berlarut-larut. Tapi untunglah, Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Dia menolongku dengan membuka semua kebohonganmu, Mas. Aku bisa sembuh, dan aku bisa membalaskan semua dendamku padamu!"Tubuh Aji seketika menegang, rasa dingin mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Dia benar-benar tidak menyangk
Setelah itu, Hana pun benar-benar menutup pintu. Bahkan, sang wanita menguncinya dari luar. Kalila hanya bisa terduduk dengan tangisan tanpa suara. Hidupnya sudah benar-benar hancur kali ini. Dia tidak punya pilihan lain. Meskipun dia memberikan kesaksian, tetap saja pada akhirnya akan dipenjara juga.Wanita itu hanya bisa terdiam dan menunggu kapan dirinya bisa mengambil bukti yang ada di kampus. Kalila tahu saat ini Aji masih ada di rumah, jadi tidak mungkin kalau dia tiba-tiba saja keluar. Siapa tahu mereka bertemu, yang ada semua rencana akan gagal total.Setelah mengamankan Kalila, Hana kembali ke gudang. Dia melihat Bi Asih dan Rendy masih berjaga di sana."Bagaimana? Dia sudah sadar?" tanya Hana yang langsung dijawab dengan gelengan kepala."Belum, Non. Tapi, Non, apakah saya harus tetap di sini?" tanya Bi Asih. Hana melihat kekhawatiran di wajah Bi Asih, sepertinya dia takut kalau dirinya juga terlibat dalam masalah ini."Bi, tidak boleh ada yang terlibat, termasuk Rendy. Kali
Hana tidak memedulikan tangisan adiknya. Hatinya sudah kebal dengan semua drama yang dilakukan oleh sang adik. Lagipula, Hana menyangsikan ketulusan hati Kalila, apalagi dengan tangisan itu yang mungkin saja hanya kepalsuan.Bagi Hana, sekarang dia tidak mau lagi memedulikan orang yang tak penting, meskipun itu adalah saudara sendiri. Jika orang lain baik kepadanya, maka dia akan memberikan kebaikan berlipat-lipat pula. Tetapi, jika orang itu memberikan keburukan kepada Hana, dia akan menyingkirkannya dengan berbagai cara. Sudah cukup wanita itu melakukan pengorbanan selama ini, baik itu kepada adiknya maupun kepada suaminya. Untuk sekarang, Hana ingin benar-benar membahagiakan diri sendiri dan anaknya."Kak, aku mohon, Kak! Tolong aku!" seru Kalila setengah berteriak. Tiba-tiba saja dia memegangi kaki Hana.Wanita itu, yang hendak pergi, pun terhenti oleh pergerakan adiknya."Kak, aku mohon tolong kali ini saja! Beri aku kesempatan kedua. Apakah Kakak tega melakukan semua ini kepada
Hana akhirnya membalikkan badan sembari melipat tangan di depan dada. Tatapannya datar, tidak ada ketakutan, kesedihan, ataupun kekecewaan. Sudah terlalu banyak hal yang membuat Hana merasa sakit, bahkan mungkin saat ini perasaannya hambar kepada adiknya sendiri.Kasih sayangnya kini hanya tersisa setetes, sama seperti ikatan darah yang memang tidak bisa dihancurkan oleh apa pun. Kalau saja adiknya ini orang lain, mungkin dia akan melakukan semuanya dengan totalitas tanpa berpikir dua kali. Namun, Hana takut kalau orang tuanya merasa sedih, jadi dia hanya akan memberikan hukuman beberapa persen saja."Aku sudah punya banyak bukti, sebelum kamu mengatakan kalau kamu sendiri punya buktinya."Kalila, mendengar itu, terkesiap. Tubuhnya menegang di tempat. Raut wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang barusan didengar, seolah sebuah pukulan mutlak mendarat di hatinya sampai ia tidak bisa mencerna kata-kata kakaknya.Melihat kebingungan di mata K
"Kok, kamu ngomong seperti itu sama suami sendiri? Kamu mencurigaiku?" tanya Aji, tiba-tiba saja malah benar-benar berbeda jauh dari sebelumnya. Saat Hana mengatakan tentang gaji dan keuangan, ini membuat Hana takut kalau Aji itu sebenarnya psikopat yang sedang menyamar jadi suaminya. Namun, suda
"Pokoknya aku tidak mau tahu, cepat lakukan itu sebelum waktunya habis. Bisa-bisa aku sial sendiri, karena Kalila lebih dulu melaporkan semuanya pada Hana. Aku yakin, wanita itu menyimpan bukti-bukti tentangku. Pokoknya itu semua harus segera diatasi. Ini bukan hal yang bisa dimainkan lagi."Hana t
Melihat situasi yang mulai memanas, sang kakek pun langsung buka suara. "Maaf kalau saya memotong pembicaraan kalian. Saya ingin menjelaskan duduk permasalahannya, agar tidak ada salah paham, ya," ucap Kakek itu yang membuat mereka bertiga menoleh. Kebetulan di sana juga sudah ada Rendi. "Maaf, Kake
“Tas?”Rendi bergegas melihat isi tas itu, tentu saja menggunakan sarung tangan. Ini akan jadi bukti untuk diperlihatkan pada Hana. Isinya masih aman, kecuali HP. Sudah dipastikan kalau Aji menculik Kalila.Pria itu mencoba mencari apalagi yang bisa dijadikan bukti, sampai Rendi melihat ada jaket mili







