MasukSungguh tidak terduga. Padahal, Hana belum mempersiapkan segalanya untuk membongkar kebejatan kedua orang itu. Ingin menghancurkan Kalila dan Aji sehancur-hancurnya.
Namun, kenapa semua di luar dugaan. Kalila malah mengakui dan meminta maaf atas perbuatannya. Apa ini? Dia selemah itu. Setelah mendapat cemoohan dari semua orang, mentalnya langsung down.
Tidak seperti tampang dan omongannya tempo hari di ruang kerja Aji, yang katanya ingin membuat Hana menderita dan merebut apa pun yang didapat oleh Hana.
"Kak, percaya sama aku! Aku gak fitnah Mas Aji. Kami memang berselingkuh!"
Lamunan Hana buyar mendengar seruan dari Kalila. Kalau sudah begini, Hana harus putar otak. Mengubah rencana. Kalila tidak boleh mendapatkan pengampunan secepat ini.
"Kalau begitu, aku ingin mendengar langsung dari pengakuan Mas Aji."
Kalila tampak kaget. Sepertinya dia tidak menyangka kalau Hana akan mengatakan hal seperti itu. Kalila pikir, Hana akan terpancing emosi dan mengamuk pada Aji. Lalu, berakhir memaafkan Kalila sebab sudah jujur. Tetapi, semua di luar dugaan.
Kalila pun tak bisa berbuat banyak. Dia hanya diam dengan segala kebingungannya.
***
Tepat pukul 5 sore, Aji pun pulang. Hari ini benar-benar melelahkan untuknya, karena harus menyelesaikan masalah sebab video syur dirinya yang beredar. Berharap di rumah mendapat ketenangan.
Namun, baru juga masuk ke rumah, Aji dikagetkan dengan tatapan tak biasa dari orang rumah. Di sana ada Hana yang terduduk dengan wajah tak biasa.
Bukan hanya itu saja. Ada Bi Asih dan Rendi yang berdiri di belakang Hana. Lebih mengejutkan, di hadapan istirnya ada Kalila yang duduk menunduk.
Perasaan Aji mulai tak karuan. Jarang sekali mereka berkumpul di sini, apalagi dengan situasi seperti sekarang.
"Loh, kenapa pada kumpul di sini? Ada apa?" tanya Aji, bingung. Dia menoleh ke semua orang, tapi tak ada yang menjawab.
Hana berusaha untuk tenang. Sebenarnya dia ingin sekali mengamuk dan memaki kedua orang itu. Tetapi, dia adalah wania baik-baik dan akan menyelesaikan masalah ini dengan cara elegan.
"Duduk dulu, Mas. Aku ingin bicara," ucap Hana, suaranya begitu tenang. Tetapi, auranya sangat tajam, membuat Aji khawatir.
Namun, tak urung pria itu pun duduk di samping Hana. Tidak mungkin dia duduk di pinggir Kalila, bisa dicurigai semua orang.
"Ada apa, Hana? Kenapa jadi tegang begini? Apa terjadi sesuatu?" tanya Aji, sudah mulai tidak nyaman.
Hana tersenyum hambar, setelahnya mengajukan pertanyaan yang membuat Aji syok.
"Sejak kapan kamu berselingkuh dengan adikku?"
Mata pria itu membulat sempurna. Tubuhnya serasa disiram air es. Spontanitas pria itu langsung menatap Kalila yang saat ini tengah berwajah pasrah.
Pria itu seperti tengah memberi pertanyaan, apa yang Kalila lakukan sampai Hana bertanya seperti itu.
"Maaf, Mas. Aku sudah tidak kuat dihina dan dijadikan bahan ejekan semua orang," ujar Kalila, dengan suara parau. Wanita itu hampir saja menangis, tapi berusaha menahannya.
Hana tampak tenang mendengar itu. Sementara Bi Asih terlihat sedih. Berbeda dengan Rendi yang memang sudah tahu semuanya, tampak tenang.
Aji masih mematung di tempat. Dia mencerna apa yang dikatakan oleh Kalila. Suara wanita terus berdengung di telinganya.
"Kenapa kamu diam saja, Mas? Kalila sudah mengakuinya. Aku tidak bisa mengambil kesimpulan dan menyalahkanmu, sebelum mendengar pengakuanmu," ujar Hana, ada penekanan di kalimat terakhir yang diucapkan wanita itu.
Wajah Aji tiba-tiba saja pucat. Dia benar-benar tidak tahu kalau ada kejadian tak terduga seperti ini. Padahal, semua rencana berjalan lancar. Sampai bocornya video asusila dirinya dan Kalila beredar, semua jadi kacau balau. Sampai Kalila pun malah mengakui kebejatan mereka.
"Mas, kenapa diam saja? Kalau kamu bungkam, berarti kamu--"
"Tidak!" seru Aji, memotong ucapan Hana.
Kalila, Bi Asih dan Rendi terkejut. Sementara, Hana hanya diam menatap suaminya.
"Kamu ngomong apa, sih, Han? Mana mungkin aku selingkuh dengan adikmu."
Kalila terperangah, tak menyangka dengan pengakuan Aji.
"Mas, kamu! Apa yang kamu katakan?! Apa kamu gila?!" protes Kalila, tak terima.
Aji tampak emosi, sembari berkacak pinggang. "Kamu yang gila! Apa yang kamu bicarakan pada kakakmu, hah?! Kamu sengaja menghancurkan hubungan kami?!"
Kalila semakin terperangah. Dia kira, Aji akan mengaku. Dengan begitu bisa menyelesaikan semua masalah ini.
"Mas, kamu jangan macam-macam! Ada bukti kalau kita selingkuh!"
"Apa buktinya? Apa maksudmu video syur yang beredar?"
Hana terkesiap, termasuk Bi Asih. Tetapi, tidak dengan Rendi. Pria itu memang pembawaannya tenang.
"Hah? Video syur apa?" Hana pura-pura tidak tahu.
Aji bangkit dan berjongkok di depan Hana. "Iya, Han. Sudah hampir 1 bulan, banyak video syur yang beredar. Di sana ada aku dan Kalila."
"Jadi, benar kalian selingkuh?!" tanya Hana, serius.
Namun, kejadian mengejutkan pun kembali terulang. Pria itu menggelengkan kepala. "Tidak, Han. Itu hanya rekayasa rival kerjaku untuk menjatuhkan aku. Sebab dia tahu kalau kamu sedang sakit, sementara Kalila tinggal bersama kita. Mereka memanfaatkan semua itu untuk memfitnahku."
Hana terdiam. Siapa sangka? Suaminya ini pandai sekali berakting dan mengarang bebas. Padahal, dia berencana untuk menjebak keduanya jika sama-sama mengaku. Tetapi, lagi-lagi di luar dugaan.
Kalila kesal. Kakak iparnya itu malah mengarang cerita dan menjadikannya seolah satu-satunya orang yang jahat.
"Bohong! Itu bohong, Kak. Dia mengatakan itu karena tidak mau disalahkan!"
Kalila berteriak. Dia tidak mau dituduh memfitnah Aji, padahal pria itu juga pelaku.
Aji berdiri dan menoleh pada Kalila dengan tatapan tajam. "Kamu yang bohong! Kamu sengaja kan melakukan ini semua, berkomplotan dengan musuhku?"
Kalila langsung menggelengkan kepala, menolak tuduhan itu. "Gila kamu, Mas! Pandai sekali berakting. Padahal, kamu juga terlibat dalam perselingkuhan ini."
"Terserah kamu mau bilang apa. Intinya, semua yang kamu katakan pada Hana adalah kebohongan."
Kalila geram. Dia pun ikut berdiri. Berjalan cepat dan berdiri tepat di depan pria itu.
"Kurang ajar kamu, Mas! Kamu yang punya rencana, tapi kamu malah menyalahkanku. Aku melakukan ini karena tak tahan. Kamu juga tidak bisa menolongku, malah memfitnahku. Brengsek!"
Tiba-tiba saja Kalila menampar pipi Aji, membuat semua orang kaget. Bahkan, Hana sampai ikut berdiri.
"Cukup, Kalila! Kamu keterlaluan!"
"Tapi, Kak. Dia yang salah, pria ini tidak baik untukmu!"
Aji tidak boleh kalah meyakinkan Hana, jangan sampai istrinya memihak Kalila dan dia akan benar-benar hancur sebelum mendapatkan semua keinginannya.
"Tidak, Han. Kamu jangan percaya ucapan Kalila. Dia itu yang jahat, sengaja membuatmu sakit."
"Apa?!"
Sepertinya Aji keceplosan berbicara, membuat membulatkan mata. Kalila pula seperti ditusuk dari belakang.
"Apa yang tadi kamu katakan, Mas?!"
Hana tidak memedulikan tangisan adiknya. Hatinya sudah kebal dengan semua drama yang dilakukan oleh sang adik. Lagipula, Hana menyangsikan ketulusan hati Kalila, apalagi dengan tangisan itu yang mungkin saja hanya kepalsuan.Bagi Hana, sekarang dia tidak mau lagi memedulikan orang yang tak penting, meskipun itu adalah saudara sendiri. Jika orang lain baik kepadanya, maka dia akan memberikan kebaikan berlipat-lipat pula. Tetapi, jika orang itu memberikan keburukan kepada Hana, dia akan menyingkirkannya dengan berbagai cara. Sudah cukup wanita itu melakukan pengorbanan selama ini, baik itu kepada adiknya maupun kepada suaminya. Untuk sekarang, Hana ingin benar-benar membahagiakan diri sendiri dan anaknya."Kak, aku mohon, Kak! Tolong aku!" seru Kalila setengah berteriak. Tiba-tiba saja dia memegangi kaki Hana.Wanita itu, yang hendak pergi, pun terhenti oleh pergerakan adiknya."Kak, aku mohon tolong kali ini saja! Beri aku kesempatan kedua. Apakah Kakak tega melakukan semua ini kepada
Hana akhirnya membalikkan badan sembari melipat tangan di depan dada. Tatapannya datar, tidak ada ketakutan, kesedihan, ataupun kekecewaan. Sudah terlalu banyak hal yang membuat Hana merasa sakit, bahkan mungkin saat ini perasaannya hambar kepada adiknya sendiri.Kasih sayangnya kini hanya tersisa setetes, sama seperti ikatan darah yang memang tidak bisa dihancurkan oleh apa pun. Kalau saja adiknya ini orang lain, mungkin dia akan melakukan semuanya dengan totalitas tanpa berpikir dua kali. Namun, Hana takut kalau orang tuanya merasa sedih, jadi dia hanya akan memberikan hukuman beberapa persen saja."Aku sudah punya banyak bukti, sebelum kamu mengatakan kalau kamu sendiri punya buktinya."Kalila, mendengar itu, terkesiap. Tubuhnya menegang di tempat. Raut wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang barusan didengar, seolah sebuah pukulan mutlak mendarat di hatinya sampai ia tidak bisa mencerna kata-kata kakaknya.Melihat kebingungan di mata K
Hana terdiam. Dia menatap lurus ke depan. Sudah diduga kalau adiknya itu pasti akan cuci tangan dengan cara menyerahkan bukti-bukti kejahatan Aji, agar dirinya bersih dari tuduhan apa pun.Mungkin kalau saja kasus ini tidak melibatkan perselingkuhan, tentu Hana akan memihak kepada Kalila. Tetapi, rasa sakitnya itu sudah terlalu mendalam, bahkan untuk memaafkan adiknya saja dia tak bisa.Dia melakukan ini hanya demi ikatan darah yang tidak bisa diganggu gugat. Hana akan menyelamatkan nyawa Kalila dari Aji hanya sampai batas itu, dan bukan berarti akan menyelamatkan Kalila dari hukuman yang seharusnya diterima.Terlihat Hana menarik napas panjang. Meskipun dari belakang, Kalila dengan jelas melihat pundak kakaknya naik turun, menandakan kalau wanita itu sedang berusaha tenang.Jantung Kalila berdetak dengan sangat kencang. Dia berharap kakaknya bisa memberikan toleransi kepadanya agar tidak dihukum atau membusuk di dalam penjara. Kalila janji, setelah masalah ini selesai, dia akan pergi
Setelah Aji diikat dengan kuat dan rapi di gudang, Rendy dan Bi Asih pun membantu Hana untuk mencari bukti-bukti yang sekiranya bisa dijadikan alat untuk menghancurkan Aji, terutama perselingkuhan suaminya dan adiknya. Namun sebelum itu, Hana pun menemui Kalila yang sedari tadi ada di kamar. Sejauh ini adiknya menurut dan tidak mengeluarkan suara apa pun yang bisa mencurigakan. "Tolong, ya. Cari apa pun yang sekiranya bisa dijadikan bukti dan juga cari saja di manapun. Entah itu di mobil, di tas kerja Mas Aji atau di manapun. Aku ingin bukti itu segera didapatkan sebelumnya Mas Aji sadar kembali." Kedua orang itu menganggukkan kepala, sementara Hana langsung berjalan ke tempat Kalila. Di dalam, wanita itu sudah benar-benar ketakutan. Bagaimana kalau Aji tahu keberadaannya di sini? Pasti wanita itu akan berada dalam bahaya atau mungkin nyawanya akan hilang detik itu juga.Tubuhnya tersentak saat mendengar pintu terbuka. Dia mematung tempat, takut jika yang datang itu Aji, tapi Kal
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Hana? Tentu saja aku hanya ingin tahu, tidak lebih," ucap Aji, gelagatnya mencurigakan. Terlihat sekali canggung dan Hana sudah menangkap semua kebohongan itu sejak dia bertanya tentang kamar Kalila. Hana sudah yakin kalau semua ini tidak bisa ditunda lagi. "Ya sudah, Mas. Cepat sarapan, takut nanti telat. Jangan sampai kamu kesiangan. Nanti kesempatan untuk mencari kerja akan hilang," ujar Hana.Aji pun menurut saja dan dia langsung menyantap makanan dengan tenang. Sementara itu Nara hanya diam saja melihat pembicaraan kedua orang tuanya. Dia terlalu kecil untuk memahami yang sedang dibicarakan Hana juga ayahnya.Hana makan secara perlahan, dia ingin melihat suaminya menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Baru dia akan menyusul untuk menghabiskan makanan yang ada di piring. Karena wanita itu sedang menunggu sesuatu yang sangat penting, yakni reaksi obat yang diberikan oleh Bi Asih ke minuman milik Aji. Tak butuh waktu lama sampai Aji selesai ma
Pria itu pun bergegas untuk membersihkan diri. Dia tidak tahu ke mana Kalila, yang pasti tujuannya kali ini adalah bertemu dengan rekannya yang sudah dimintai bantuan untuk mencari di mana keberadaan Kalila. Dia juga harus pastikan kalau bukti yang Kalila punya itu segera dimusnahkan.Suara ketukan pintu membuat Aji terkesiap, kebetulan pria itu sedang memakai jam tangan. Suara Hana juga terdengar dari sana."Mas, kamu sudah bangun, kan? Ayo kita sarapan! Nara juga sudah menunggu," ucap istrinya membuat Aji yang bernapas lega. Dia kira Hana ingin mengatakan apa, ternyata hanya mengajaknya sarapan. Semenjak Kalila hilang begitu saja, entah kenapa hatinya tidak tenang. Ketakutan jika Hana tahu tentang kejahatannya, termasuk memalsukan obat saat Hana sakit dulu. "Nggak bisa dibiarin. Bisa-bisa aku gila kalau ketakutan seperti ini. Lagi pula sebaiknya memang Hana tidak tahu apa-apa. Kalau aku sudah bertemu Kalila, aku juga akan membuat Hana kehilangan segalanya, termasuk Nara," ujar Aji







