LOGINBesoknya, Hana menemui Bara. Sebenarnya dia tidak mau merepotkan siapa pun. Hanya saja, untuk kali ini, Hana benar-benar butuh bantuan Bara untuk memalsukan kehadirannya di rumah sakit sebelumnya. Ini bertujuan agar Kalila tidak curiga kepadanya. Membiarkan sang adik berpikiran kalau dirinya tidak ganti dokter atau rumah sakit.
"Itu sulit, Han."
Hana terlihat murung mendengar jawaban Bara.
"Kenapa? Bukankah dokter di sana juga teman sejawatmu?"
Bara menganggukkan kepala. "Benar, tapi masalahnya itu seniorku. Mana mungkin aku melakukan itu."
Hana tampak kecewa. Tetapi, dia tidak bisa memaksakan kehendak. Apalagi pada orang lain.
"Baiklah kalau begitu, aku permisi."
Hana berdiri dengan lemah. Bara merasa bersalah dengan penolakannya. Lalu, tiba-tiba saja pria itu melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat si empunya tercenung.
"Han, untuk apa kamu melakukan itu? Bukankah kamu adalah orang yang jujur. Aku merasa tak percaya kamu meminta hal seperti itu."
Hana menghentikan langkah, tapi wanita itu tak menoleh sedikit pun.
"Aku hanya ingin bebas dari kesakitan. Itu saja."
Setelahnya, Hana pun memilih untuk pergi. Sementara Bara hanya bisa mematung di tempat.
Hana pulang dengan tangan hampa. Tadinya, takut jika Kalila curiga kalau dirinya tidak mengunjungi rumah sakit yang lama.
Namun, dengan kejadian ini, tampaknya Hana harus siap dengan segala risiko.
Selama dalam perjalanan pulang, Hana membuka media sosialnya dengan akun anonim. Bibirnya terangkat saat melihat kalau banyak sekali yang membagikan postingan itu. Ditambah, komentar netizen yang begitu pedas.
Rendi yang melihat gelagat nyonyanya dari spion depan pun angkat bicara. Sebenarnya, dia sudah lama ingin berbicara dengan Hana. Hanya saja, takut tersinggung.
Namun, melihat video yang baru disebar itu lebih banyak penontonnya dari video yang sebelumnya, membuat Rendi khawatir.
"Nyonya, maaf kalau saya lancang. Apa sebaiknya Nyonya hentikan dulu memposting videonya?"
Hana menoleh, kaget. Untuk pertama kalinya, Rendi berani buka suara. Selama ini hanya manut tanpa memberikan masukan. Tetapi, tak butuh waktu lama sampai Rendi mulai berani berbicara.
"Maksud kamu gimana, Ren?" tanya Hana, dengan tenang.
Memang dia butuh sekutu yang membantunya. Sementara, hanya Bi Asih dan Rendi saja orang kepercayaan Hana. Sedangkan, Aji punya banyak rekan kerja yang berpengalaman di berbagai bidang.
"Saya hanya takut, identitas Nyonya cepat terbongkar. Mengingat Tuan Aji itu banyak kenalan, mudah baginya melacak siapa Nyonya."
Hana tersenyum puas sembari menganggukkan kepala. "Benar, Ren. Aku juga berpikir seperti itu. Makanya, aku sewa IT yang bisa mengotak-atik akun anonimku."
"Tetap saja, Nyonya. Risiko itu ada. Em, bagaimana kalau Nyonya kasih jeda waktu sampai video ini mereda. Nanti, Nyonya bisa sekalian ungkap bukti lainnya."
Hana lagi-lagi terdiam. Dia menelaah saran dari Rendi. Benar, mengingat dia menyewa IT, tidak menutup kemungkinan Aji juga menyewa IT.
"Baiklah, Ren. Aku akan ikuti saranmu. Sementara waktu, aku tidak akan posting video itu."
***
Sorenya, Kalila pulang. Seperti biasa dijemput Rendi. Tetapi, wajah wanita itu tampak marah.
"Sial!"
Kalila menjerit di kamarnya sembari melemparkan tasnya. Jeritannya itu sampai terdengar oleh Hana.
Wanita itu langsung menghampiri Kalila, dan melihat adiknya sedang mengamuk.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu marah-marah?" tanya Hana, penasaran.
Untuk kali ini, Hana serius bertanya. Ingin tahu kenapa adiknya pulang dalam keadaan seperti ini.
Kalila duduk di depan Hana sembari menangis. Wanita itu sudah tidak kuat lagi dengan cemoohan dan hinaan orang-orang.
Apalagi untuk ke sekian kalinya, dia gagal testing model. Alasannya selalu sama. Mereka semua tahu perihal video syur dirinya dan Aji.
Entah Hana sudah tahu atau tidak, tapi Kalila sudah tidak kuat lagi. Dia harus memohon bantuan Hana. Sebab, datang pada Aji, yang diterima hanyalah omelan karena Aji pun mendapat banyak penolakan dari clientnya.
"Kak, aku mau jujur," ucap Kalila, sembari terisak.
Hana terdiam. Entah kenapa dia merasa kalau Kalila akan membicarakan perihal video yang beredar. Tetapi, Hana tetap berusaha terlihat biasa saja.
"Jujur apa?"
"Aku ... aku berselingkuh dengan Mas Aji," ucap Kalila, diakhiri dengan tangisan.
Hana mematung di tempat. Kaki dan telapak tangannya terasa dingin. Telinganya seolah berdengung, mengulang kalimat yang diucapkan oleh Kalila.
Ini bukan hal yang mengagetkan untuknya. Hanya saja, Hana terkejut dengan pengakuan Kalila. Di luar dugaan.
Hana tidak mengerti, kenapa Kalila berbuat seperti ini? Padahal, dalam percakapan mereka, Kalila dan Aji sedang berusaha menyingkirkannya.
"Kak, maafkan aku. Aku ... aku sudah melakukan kesalahan besar. Tapi, ini semua karena Mas Aji--"
"Cukup!"
Hana langsung menghentikan perkataan Kalila. Dia tidak mau sampai masalah ini terungkap sebelum semua bukti dikumpulkan.
Paling utama, kalau Kalila memohon ampun padanya, itu artinya Hana tidak bisa memberi pelajaran pada kedua pengkhianat itu.
"Kak!"
"Cukup, Kal! Aku tidak tahu kamu kenapa. Tapi, jangan memfitnah suamiku. Mas Aji tidak seperti itu!" seru Hana.
Dalam hati, Hana memaki Aji. Terpaksa harus mengatakan itu demi rencananya.
Kalila menggelengkan kepala. "Tidak, Kak. Ini bukan fitnah. Ini kenyataan. Kalau Kakak gak percaya, coba buka media sosial Kakak. Banyak video syur aku dan Mas Aji di sana."
Hana meneguk saliva, berusaha menahan perasaan marahnya. Ditambah air matanya yang hampir saja keluar.
"Bukankah kamu sendiri yang menyuruhku untuk tidak bermain media sosial, demi kesehatanku? Agar aku tidak terpengaruh dunia luar yang akan membuatku stres. Iya, kan? Lalu, kenapa kamu malah menuduh suamiku macam-macam?"
Kalila terdiam. Dia baru tersadarkan dengan itu. Ini namanya senjata makan Tuan.
"Tidak, Kak. Dengarkan aku dulu, terlepas dari itu semua. Kakak harus percaya padaku!"
Hana bersikap tenang, tapi justru itu yang membuat Kalila mulai takut.
"Kamu mengatakan ini semua dengan tujuan apa? Ingin menghancurkan rumah tanggaku, lalu memfitnah Mas Aji?"
"Tidak!" teriak Kalila, dibarengi tangisan.
"Kalau Kakak gak percaya, tanya Mas Aji langsung!"
Aji benar-benar syok. Dia sama sekali tidak menyangka kalau istrinya bisa berbuat seperti ini, apalagi reaksi Hana yang di luar dugaan. Selama bertahun-tahun menikah, ini kali pertama dia melihat wajah Hana yang sama sekali berbeda dari biasanya. Pria itu berusaha memberontak, meminta agar dilepaskan. Suara-suara rintihan keluar dari mulutnya, memberikan sinyal kalau dirinya ingin berbicara."Kenapa, Mas? Kamu ingin menjelaskan sesuatu? Atau kamu ingin bertanya kenapa aku seperti ini?" tanya Hana dingin. "Sayangnya, aku tidak akan membuka sumpalan di mulutmu. Kamu cukup dengarkan saja semua yang ingin aku katakan.""Pertama, aku tahu kamu sudah memasukkan obat yang salah kepadaku sampai sakitku berlarut-larut. Tapi untunglah, Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Dia menolongku dengan membuka semua kebohonganmu, Mas. Aku bisa sembuh, dan aku bisa membalaskan semua dendamku padamu!"Tubuh Aji seketika menegang, rasa dingin mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Dia benar-benar tidak menyangk
Setelah itu, Hana pun benar-benar menutup pintu. Bahkan, sang wanita menguncinya dari luar. Kalila hanya bisa terduduk dengan tangisan tanpa suara. Hidupnya sudah benar-benar hancur kali ini. Dia tidak punya pilihan lain. Meskipun dia memberikan kesaksian, tetap saja pada akhirnya akan dipenjara juga.Wanita itu hanya bisa terdiam dan menunggu kapan dirinya bisa mengambil bukti yang ada di kampus. Kalila tahu saat ini Aji masih ada di rumah, jadi tidak mungkin kalau dia tiba-tiba saja keluar. Siapa tahu mereka bertemu, yang ada semua rencana akan gagal total.Setelah mengamankan Kalila, Hana kembali ke gudang. Dia melihat Bi Asih dan Rendy masih berjaga di sana."Bagaimana? Dia sudah sadar?" tanya Hana yang langsung dijawab dengan gelengan kepala."Belum, Non. Tapi, Non, apakah saya harus tetap di sini?" tanya Bi Asih. Hana melihat kekhawatiran di wajah Bi Asih, sepertinya dia takut kalau dirinya juga terlibat dalam masalah ini."Bi, tidak boleh ada yang terlibat, termasuk Rendy. Kali
Hana tidak memedulikan tangisan adiknya. Hatinya sudah kebal dengan semua drama yang dilakukan oleh sang adik. Lagipula, Hana menyangsikan ketulusan hati Kalila, apalagi dengan tangisan itu yang mungkin saja hanya kepalsuan.Bagi Hana, sekarang dia tidak mau lagi memedulikan orang yang tak penting, meskipun itu adalah saudara sendiri. Jika orang lain baik kepadanya, maka dia akan memberikan kebaikan berlipat-lipat pula. Tetapi, jika orang itu memberikan keburukan kepada Hana, dia akan menyingkirkannya dengan berbagai cara. Sudah cukup wanita itu melakukan pengorbanan selama ini, baik itu kepada adiknya maupun kepada suaminya. Untuk sekarang, Hana ingin benar-benar membahagiakan diri sendiri dan anaknya."Kak, aku mohon, Kak! Tolong aku!" seru Kalila setengah berteriak. Tiba-tiba saja dia memegangi kaki Hana.Wanita itu, yang hendak pergi, pun terhenti oleh pergerakan adiknya."Kak, aku mohon tolong kali ini saja! Beri aku kesempatan kedua. Apakah Kakak tega melakukan semua ini kepada
Hana akhirnya membalikkan badan sembari melipat tangan di depan dada. Tatapannya datar, tidak ada ketakutan, kesedihan, ataupun kekecewaan. Sudah terlalu banyak hal yang membuat Hana merasa sakit, bahkan mungkin saat ini perasaannya hambar kepada adiknya sendiri.Kasih sayangnya kini hanya tersisa setetes, sama seperti ikatan darah yang memang tidak bisa dihancurkan oleh apa pun. Kalau saja adiknya ini orang lain, mungkin dia akan melakukan semuanya dengan totalitas tanpa berpikir dua kali. Namun, Hana takut kalau orang tuanya merasa sedih, jadi dia hanya akan memberikan hukuman beberapa persen saja."Aku sudah punya banyak bukti, sebelum kamu mengatakan kalau kamu sendiri punya buktinya."Kalila, mendengar itu, terkesiap. Tubuhnya menegang di tempat. Raut wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang barusan didengar, seolah sebuah pukulan mutlak mendarat di hatinya sampai ia tidak bisa mencerna kata-kata kakaknya.Melihat kebingungan di mata K
Hana terdiam. Dia menatap lurus ke depan. Sudah diduga kalau adiknya itu pasti akan cuci tangan dengan cara menyerahkan bukti-bukti kejahatan Aji, agar dirinya bersih dari tuduhan apa pun.Mungkin kalau saja kasus ini tidak melibatkan perselingkuhan, tentu Hana akan memihak kepada Kalila. Tetapi, rasa sakitnya itu sudah terlalu mendalam, bahkan untuk memaafkan adiknya saja dia tak bisa.Dia melakukan ini hanya demi ikatan darah yang tidak bisa diganggu gugat. Hana akan menyelamatkan nyawa Kalila dari Aji hanya sampai batas itu, dan bukan berarti akan menyelamatkan Kalila dari hukuman yang seharusnya diterima.Terlihat Hana menarik napas panjang. Meskipun dari belakang, Kalila dengan jelas melihat pundak kakaknya naik turun, menandakan kalau wanita itu sedang berusaha tenang.Jantung Kalila berdetak dengan sangat kencang. Dia berharap kakaknya bisa memberikan toleransi kepadanya agar tidak dihukum atau membusuk di dalam penjara. Kalila janji, setelah masalah ini selesai, dia akan pergi
Setelah Aji diikat dengan kuat dan rapi di gudang, Rendy dan Bi Asih pun membantu Hana untuk mencari bukti-bukti yang sekiranya bisa dijadikan alat untuk menghancurkan Aji, terutama perselingkuhan suaminya dan adiknya. Namun sebelum itu, Hana pun menemui Kalila yang sedari tadi ada di kamar. Sejauh ini adiknya menurut dan tidak mengeluarkan suara apa pun yang bisa mencurigakan. "Tolong, ya. Cari apa pun yang sekiranya bisa dijadikan bukti dan juga cari saja di manapun. Entah itu di mobil, di tas kerja Mas Aji atau di manapun. Aku ingin bukti itu segera didapatkan sebelumnya Mas Aji sadar kembali." Kedua orang itu menganggukkan kepala, sementara Hana langsung berjalan ke tempat Kalila. Di dalam, wanita itu sudah benar-benar ketakutan. Bagaimana kalau Aji tahu keberadaannya di sini? Pasti wanita itu akan berada dalam bahaya atau mungkin nyawanya akan hilang detik itu juga.Tubuhnya tersentak saat mendengar pintu terbuka. Dia mematung tempat, takut jika yang datang itu Aji, tapi Kal







