Beranda / Romansa / Istri Pilihan Untuk Aryan / Bab 2 Seperti Apa Dia?

Share

Bab 2 Seperti Apa Dia?

Penulis: Iinyoursoul28
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-02 13:52:21

Kini Haris sudah bersama dengan anak, menantu, dan juga cucunya yang duduk bersama di ruang tengah. Wajah ketiganya terlihat sangat was-was serta enggan menatap Haris.

“Mulai besok aku akan meminta Cakra untuk mengawasi dan membantu Aryan agar pantas menjadi pewaris keluarga Athaya,” kata Haris membuka obrolan di antara mereka.

“Tapi Kek, kenapa hanya aku yang harus mengurus Athaya Group? Sedangkan Kakek masih memiliki cucu lain selain aku,” kata Aryan mengingatkan.

Aryan sebenarnya enggan jika dirinya menjadi pewaris tunggal seluruh kekayaan milik sang kakek karena sejak dirinya digadang-gadang akan menjadi seorang pewaris hidupnya berubah 180 derajat.

Pria itu merasa tidak bebas karena hidupnya selalu diatur bahkan selalu disorot sehingga ruang geraknya terbatas. Bahkan Aryan pernah kehilangan sosok cinta pertamanya hanya karena hal tersebut.

“Aku tidak akan memilihnya jadi terima saja keputusanku, Aryan. Selain itu, aku sudah mempersiapkan wanita yang akan menikah denganmu.”

Mata mereka melebar dengan mulut yang juga tidak kalah terbuka lebar setelah mendengar kata-kata terakhir Haris. Sejak kapan pria tua itu merencanakan banyak hal tentang hidup Aryan bahkan masa depannya?

“Kakek, ini sudah benar-benar keterlaluan!”

Aryan bangkit dari tempat duduknya dengan sorot matanya yang tajam. “Sampai kapan pun aku tidak ingin menikah dengan wanita mana pun ke—“

“Sampai kapan kamu mau menunggu wanita yang sudah rela meninggalkanmu, Aryan?”

Pertanyaan Haris terdengar menohok hingga membuat pria itu pergi meninggalkan mereka dengan tangannya yang terkepal serta wajahnya yang sudah berubah merah padam.

“Papa, aku mohon kali ini saja untuk urusan Aryan yang satu ini Papa tidak usah ikut campur ya,” mohon Ayu dengan penuh harap serta sorot matanya yang terlihat sangat serius.

Ayu tahu betul apa yang dirasakan putranya karena selama sepuluh tahun belakangan Aryan berusaha untuk menahan diri agar tidak bersikap kasar kepada papa mertuanya.

“Lalu, kalau bukan aku yang ikut campur siapa yang akan mengurusnya?”

“Aryan masih punya kami orang tuanya yang masih bisa merawat dan mengurus Aryan dengan baik, Pa.” Kali ini Haikal membuka mulutnya untuk membela anak dan istrinya.

Haris tersenyum sinis seolah sedang mengejek putranya yang tidak becus mengurus cucunya.

“Lalu, menurutmu dengan membiarkan Aryan tidur dengan beberapa wanita itu adalah cara terbaik yang kalian punya untuk merawat dan juga mengurus cucuku?”

Untuk kesekian kalinya orang tua Aryan dibuat senam jantung mendengar ucapan dari Haris. Keduanya tidak menyangka jika putra satu-satunya yang sangat mereka sayangi bahkan dibanggakan sudah bertindak sangat jauh.

Haris menarik napas lalu membuangnya secara perlahan. “Kali ini aku akan membiarkan kalian mengenal calon menantu kalian lebih dulu sebelum menikahkan mereka.”

Dengan cara begini Haris berharap kalau keduanya akan mempertimbangkan permintaannya untuk menikahkan Aryan dengan cucu sahabatnya tersebut.

***

Aghnia memutuskan untuk kembali ke rumah karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya semakin khawatir. Setidaknya wanita itu sudah merasa sedikit tenang setelah bertukar cerita dengan sang kakak dan juga bermain sebentar dengan keponakannya.

“Nia, kamu sudah pulang?” tanya Sofyan melihat putrinya yang baru saja memasuki rumah dan melewati ruang tengah.

Aghnia menghampiri sang papa dan duduk di sebelah beliau lalu mencium punggung tangan sang papa.

“Pa, Aghnia minta maaf ya karena sudah membuat kalian khawatir kemarin.”

Aghnia menundukkan kepala untuk menghindari kontak mata dengan sang papa sambil menggigit bibirnya.

Sofyan menepuk bahu putrinya sambil tersenyum hingga membuat wanita itu mengangkat kepalanya. “Sudah tidak usah dibahas lagi ya.” Aghnia menganggukkan kepalanya.

“Kamu sudah makan belum?”

“Sudah Pa tadi sekalian sarapan di rumah kak Tiara.”

“Ya sudah sekarang lebih baik kamu istirahat saja ya.”

“Baik, Pa....” Aghnia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok sang mama tapi tidak ditemukannya. “Mama ada di mana, Pa?”

“Mama masih tidur di kamar karena semalaman dia tidak bisa tidur.”

Semalaman Citra merasa bersalah setelah tahu kalau Aghnia kabur dari rumah. Wanita itu memang tidak seharusnya melimpahkan tanggung jawab atas kesalahan di masa lalunya kepada sang putri tapi semua sudah terjadi.

Aghnia menghela napas dalam-dalam. “Pasti mama seperti ini karena terlalu mengkhawatirkan aku,” batinnya.

“Kamu tidak usah menyalahkan diri kamu ya, percaya sama papa kalau sebenarnya mama hanya merasa kelelahan dan butuh istirahat jadi kamu juga harus beristirahat dan jangan sampai sakit.”

Aghnia tersenyum tipis. “Baiklah Pa, kalau begitu aku akan istirahat sekarang.”

Wanita itu bangkit lalu pergi meninggalkan papanya. Lebih tepatnya bukan pergi ke kamarnya tapi ke kamar orang tuanya untuk memastikan kondisi sang mama.

Saat itu Aghnia bisa dengan jelas melihat wajah teduh mamanya yang tengah tertidur. Mata wanita itu seketika berkaca-kaca dengan pikirannya yang sudah melayang pada kejadian kemarin malam.

“Maafkan aku ya, Ma.”

Aghnia membela lembut wajah sang mama yang sudah berjuang mati-matian merawatnya, apalagi harus menanggung aib tentang keberadaannya.

“Pasti selama ini Mama menjalani hidup yang berat karena kehadiranku tapi kenapa kalian masih mempertahankan aku? Seharusnya Mama dan Papa bisa menyingkirkan aku saja daripada hidup dengan perasaan bersalah.”

Cairan bening yang sedari tadi ditahan oleh Aghnia akhirnya lolos juga hingga ia menundukkan kepalanya karena tak kuasa menatap wajah sang mama.

“Nia, kamu sudah pulang?”

Citra membuka matanya ketika mendengar suara isak tangis yang menyayat hatinya. Wanita itu langsung bangkit dan membantu putrinya untuk duduk di pinggir tempat tidur.

“Ma, maafkan aku ya karena sudah membuat Mama khawatir kemarin,” ucap Aghnia dengan suaranya yang terdengar lirih seraya memeluk tubuh Citra.

Citra mengusap punggung putrinya dengan lembut. “Sudahlah tidak apa-apa, Mama tahu kamu pasti tidak mudah menerima pernikahan ini tapi kali ini Mama tidak akan memaksa jika memang ka—“

“Tidak Ma, Aghnia setuju menikah dengan cucu kakek Haris,” potong Aghnia cepat.

Aghnia merasa sudah waktunya dirinya menunjukkan baktinya sebagai seorang anak walau dengan mengorbankan diri untuk menikah dengan cucu kakek Haris.

“Tapi Nak...”

“Ini sudah jadi keputusanku jadi tolong kali ini Mama hargai keputusanku ya,” mohon Aghnia dengan tatapan matanya yang terlihat tulus.

Citra kembali memeluk tubuh putrinya karena apa yang baru saja Aghnia lakukan berhasil membuat dirinya terharu. Tapi jujur kali ini Citra sudah tidak lagi menginginkan hal itu.

“Selain itu, aku ingin Mama memberitahukan kepadaku tentang siapa sebenarnya pria yang sudah tega melakukan hal itu kepada Mama?”

Kedua bola mata Citra membulat dengan sempurna hingga wanita itu melepaskan pelukan mereka dengan dahinya yang berkerut.

“Untuk apa kamu ingin tahu tentang pria brengsek itu, Nak?”

Citra benar-benar tidak ingin kalau Aghnia kembali berurusan dengan pria yang hampir menghancurkan rumah tangannya dahulu. Citra hanya tidak ingin Aghnia dipermalukan apalagi disakiti oleh pria itu.

“Aku hanya ingin tahu seperti apa dirinya dan apakah mirip denganku?” canda Aghnia yang berusaha mengubah suasana agar tidak terlalu tegang.

Aghnia hanya ingin tahu sosok pria yang membuat keluarganya sengsara. Setidaknya dirinya hanya ingin melihat bagaimana kehidupan pria itu?

***

Setelah mendengar kalau Aghnia setuju menikah dengan cucunya, Haris membawa anak serta menantunya untuk menemui Aghnia dan keluarganya di salah satu restoran.

Awalnya Haris sudah mengajak Aryan tapi entahlah pria itu akan datang atau tidak karena kalau dilihat dari sikapnya pria itu masih marah kepadanya.

“Aghnia perkenalkan ini Haikal dan juga Ayu yang nantinya akan menjadi orang tua barumu setelah menikah,” kata Haris memperkenalkan keduanya kepada Aghnia.

Wanita itu bangkit dari tempat duduknya lalu mencium punggung tangan keduanya secara bergantian. Tentu apa yang dilakukan Aghnia barusan menimbulkan kesan positif bagi orang tua Aryan.

“Sepertinya calon istri pilihan Papa ini memang yang terbaik karena selain cantik Aghnia juga anak yang sopan,” puji Ayu sambil tersenyum.

“Terima kasih Tante tapi pujian Tante terlalu berlebihan karena yang cantik itu hanya Tante dan Mama,” balas Aghnia sambil memandang dua wanita hebat yang kini sedang bersamanya secara bergantian.

Bukan hanya merendah atau sekedar ingin mengambil hati dari mertuanya tapi Aghnia memang benar-benar ingin melemparkan pujian kepada Citra dan juga Ayu.

Tapi apa yang barusan dilakukan oleh wanita itu lagi-lagi menimbulkan nilai plus bagi calon mertuanya.

Sungguh kamu ini memang luar biasa, Aghnia!

“Tentu Papa harap kalian bisa menjaga Aghnia setelah menikah dengan Aryan nanti.”

“Tapi di mana Aryan saat ini, Pak Haris?” tanya Citra.

Sejak sampai tadi memang mereka tidak melihat sosok pria itu entah di mana yang jelas mereka terutama Aghnia sangat penasaran dengan sosok pria itu.

Bukan hanya soal parasnya tapi yang lebih utama adalah sikapnya karena Aghnia tidak ingin seumur hidup tinggal dengan orang yang memiliki kepribadian buruk.

Setidaknya Aghnia mau Aryan bisa bersikap baik terhadap keluarganya terutama kepada kedua orang tuanya.

Haris, Ayu, dan juga Haikal saling melemparkan pandangan mereka masing-masing sembari tersenyum tipis. Jujur saja mereka kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari calon besannya tersebut.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 32 Penuh Tekanan Dan Emosi

    Haris akhirnya sampai di paviliun timur—tepat di mana putri sulung serta cucunya tinggal. Saat itu Arion dan Dewi sedang sarapan sambil mengobrol ringan.“Ternyata dia benar-benar sudah kembali,” monolog Haris, sudut bibirnya tertarik hingga menampakkan sebuah senyuman dengan matanya yang berkaca-kaca.Ingin rasanya Haris melangkah agar lebih dekat, memeluk erat tubuh putrinya tapi kenangan buruk di masa lalu mereka berhasil membuat kakinya membeku.“Pa, aku tahu kalau Papa kangen sama Mbak Dewi jadi sebaiknya kita langsung temui dia ya,” ajak Haikal yang entah sejak kapan ada di dekat tubuh renta itu.Haris menatap wajah putranya, menggelengkan kepalanya, berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu.“Pa, sampai kapan kita harus terus begini?” tanya Haikal.Langkah kaki pria paruh baya itu terhenti, di hadapannya sudah ada Dewi, Aryan, dan Aghnia yang sedang memperhatikannya.“Pa… untuk kali ini aja turunkan sedikit ego Papa ya, pasti Mbak Dewi juga kangen banget sama Papa,” kata Ayu

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 31 Putri Kesayangan Haris Kembali

    “Tapi Ma, ak—”“Kamu tunggu aja di sana ya karena kali ini Mama yang bakalan datang ke sana buat kamu jadi kamu tunggu aja ya di paviliun timur, kan?” potong Dewi.Seketika sebuah senyum muncul di wajah tampan Arion, ingin pura-pura tidak mendengar dan memastikannya kembali tapi ia jika sang mama berubah pikiran.“Iya Mak, aku di paviliun timur,” jawab Arion yang tanpa sadar menganggukkan kepalanya, suaranya terdengar sangat bersemangat.Siapa yang tidak akan semangat jika orang yang disayanginya akan datang untuk menemuinya.***“Aryan…”“Hmmm…”Pria itu melirik sebentar ke arah istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan kembali menatap layar ponselnya.“Terima kasih untuk makan malam hari ini,” kata Aghnia.“Sama-sama, aku pikir seharusnya kita lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarga agar bisa saling mengenal dan lebih dekat seperti yang kata kamu waktu itu.”Sudut bibir wanita itu tertarik lebar, ia tidak menyangka kalau Aryan akan mengikuti apa yang dia katakan.

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 30 Rasa Penasaran

    Pandu menggelengkan kepala, tersenyum tipis, sebisa mungkin pria paruh baya itu berusaha menutupi rasa gugupnya agar putranya tidak curiga.“Dia itu putranya Pak Tomi.”“Pak Tomi yang dulu jadi asisten pribadi Papa, kan?”Pandu menganggukkan kepala. “Iya… tadi itu dia ke sini rencananya mau pinjam duit karena Pak Tomi sedang sakit, terus ya Papa kasih aja, hitung-hitung sebagai cara Papa bantu dia.”“Ooo… aku pikir siapa gitu. Tapi minggu depan Papa jadi kan medical check up ke Singapura?”“Minggu depan ya?”“Iya minggu depan, jangan bilang Papa ada janji sama orang lain terus lupa deh.”Pandu terkekeh. “Enggak kok.”“Bagus deh jadi minggu depan aku bisa sekalian temani Papa ke Singapura.” Satya tersenyum.“Kamu sebenarnya enggak harus kok temani Papa, kamu itu seharusnya pergi berlibur cari jodoh, Satya.”“Yah… jodoh lagi yang dibahas deh,” kata Satya sambil membuang napas kesal.“Ya iya dong, kan Papa juga mau punya cucu dari kamu.”Pria paruh baya itu tersenyum puas ketika melihat

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 29 Masuk Tanpa Permisi

    “Jujur aku senang sekali karena akhirnya kamu mau ikut andil mengurus perusahaan Kakek, Rion.” Aryan melirik ke arah sepupunya yang tersenyum sambil menyedot kopi miliknya.“Aku juga sangat senang tapi apa kamu tidak khawatir kalau pertemuan kita ini malah membuatmu kehilangan banyak hal?”“Maksudmu?” Aryan mengeryitkan dahinya.Arion meletakkan gelas kopi miliknya di atas meja, menatap ke arah lurus, menikmati angin segar yang berhembus di sekitar area rooftop.“Ya sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di sini sebagai cucu keluarga ini beberapa orang di sini mengira kalau aku mulai mengincar posisi pewaris yang sudah melekat padamu.”Pria itu menoleh ke arah sepupunya yang malah kelihatan santai, tidak ada perasaan takut apalagi merasa tersaingi. Malah Aryan sendiri sempat terkekeh ketika mendengar penjelasannya.“Kalau boleh jujur aku sama sekali tidak peduli dengan siapa yang akan mewarisi seluruh harta kekayaan Kakek, malah kalau aku akan sangat senang jika kamu mau menerimanya

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 28 Ide Bagus

    “Aghnia, apa sejak menikah kamu langsung tinggal di kediamaan Athaya?”Pria itu membuka obrolan di antara mereka ketika pesanan makanan dan minuman sudah lengkap tersaji di hadapan mereka.“Ya sejak aku resmi menjadi istri Aryan, aku langsung di bawa untuk tinggal di paviliun.”“Jadi…” Aghnia melirik ke arah pria itu yang santai mengiris steik yang ada di hadapannya, ada raut khawatir yang terpancar di wajah ayunya karena tadi ia hampir keceplosan tentang kisah hidup Aryan di masa lalu.“Kamu mungkin sudah tahu kan mengenai ceritaku dan keluargaku terutama mendiang papaku?” lanjut Arion sambil melemparkan pandangannya ke arah wanita di hadapannya yang ternyata juga sedang memperhatikannya.Tuh kan bener!Buru-buru Aghnia memutar bola matanya menatap makanan miliknya dan juga perlahan menelan salivanya. Ia benar-benar bingung harus berkata jujur atau berbohong saja kali ini.“Aku berharap kamu bisa jujur, Aghnia,” tambah Arion.“Emm…” wanita itu mengangkat kepalanya. “Ya aku pernah men

  • Istri Pilihan Untuk Aryan   Bab 27 Mencari Tahu

    “Mbak Aghnia…”Suara Doni berhasil mengalihkan fokus Aghnia yang memang sedang menunggunya di ruang tunggu, ada di lobi tidak jauh dari resepsionis. Wanita itu bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum ke arahnya.“Mbak Aghnia, ada apa ke kantor? Cari Mas Aryan ya?”“E—““Tapi sayang Mbak, Mas Aryan lagi di luar,” sela Doni.“Oh lagi di luar, meeting ya?”Doni menggelengkan kepalanya, menampilkan senyumnya yang sengaja dipaksa. “Enggak Mbak tadi Mas Aryan bilang mau ketemu sekaligus makan siang sama teman lamanya.”“Oh, gitu… tapi boleh enggak kalau kita ngobrol sebentar? Kamu sibuk enggak, Don?”“Ngobrol soal apa ya, Mbak?”Mendadak Doni merasa khawatir karena takut dicecar berbagai macam pertanyaan tentang sang bos yang tidak ada di tempatnya. Apalagi sebelumnya Aryan sudah berpesan untuk tidak sembarangan bicara dengan Aghnia agar wanita itu tidak curiga.“Sini duduk dulu ya.” Tanpa sadar Aghnia meraih tangan pria itu agar bisa duduk bersamanya. “Aku cuma mau tanya apa kamu ada fo

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status