LOGINTiba-tiba saja Aryan muncul di hadapan banyak orang yang sejak tadi mencari keberadaannya.
Aura ketampanannya mampu menyihir semua pasang mata yang ada di dalam ruangan tersebut untuk terus menatap pria itu tanpa berkedip sedikit pun termasuk Aghnia.
Mungkinkah wanita itu sudah mulai jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Aryan?
“Aryan, syukurlah kamu sudah datang karena semua orang sudah mencarimu sejak tadi,” kata Ayu yang sudah berdiri dengan kedua tangannya yang terbuka untuk menyambut putranya.
Aryan memeluk tubuh mamanya sembari mencium kedua pipi sang mama secara bergantian. Tak lupa pria itu menyalami satu per satu semua orang yang ada di sana termasuk Aghnia.
“Kalau yang itu namanya Aghnia yang akan Kakek nikahkan denganmu,” kata Haris ketika keduanya ingin bersalaman.
“Ternyata selera Kakek bagus juga tidak kalah dengan wanita pilihanku sebelumnya.”
Pria itu tersenyum ke arah Aghnia yang sedang memandangnya tanpa berkedip sejak tadi.
Setidaknya Aryan sudah tahu kalau wanita itu sebanding dengan dirinya dalam artian paras mereka bukan dari hal lainnya.
“Halo namaku, Aryan.”
“Aghnia, cepat jabat tangannya,” bisik Tiara sambil menyenggol lengan adiknya yang masih terpesona dengan ketampanan calon suaminya.
Wanita itu tersadar dengan wajahnya yang bersemu merah lalu segera menjabat tangan Aryan. Semua orang di sana tentu bisa langsung menilai kalau keduanya terlihat serasi jika sampai bersanding di pelaminan nanti.
Apalagi selama makan bersama keduanya terlihat saling melemparkan pandangan kagum satu sama lain dan obrolan mereka juga terdengar lancar dan sefrekuensi.
“Jadi, apakah kamu mau tetap menikah dengan cucuku, Aghnia?”
“Iya, Kek.”
Terlepas dari rupa Aryan yang tampan atau tidak wanita itu memang sudah memantapkan hatinya untuk menikahi cucu kakek Haris demi membalas kesalahan sang mama di masa lalu dan yang terpenting tentang identitas papa kandungnya.
Toh jika mereka tidak bisa saling mencintai nantinya keduanya bisa memilih untuk berpisah dan menjalani hidup masing-masing, setidaknya pernikahan sudah terjadi sesuai wasiat awal, ‘kan?
“Lalu, bagaimana denganmu, Aryan?”
Kini semua mata tertuju ke arah Aryan untuk mengetahui jawaban pria itu.
Mungkinkah Aryan setuju? Jika iya jawabnya semua akan berjalan sesuai rencana di awal, jika tidak maka hal ini tidak akan diteruskan dan sang kakek pasti akan terus mececarnya untuk menikah dengan wanita pilihan lain.
“Tentu saja aku ingin sekali menikah dengan bidadari secantik Aghnia mana mungkin aku bisa menolak.”
Jawaban Aryan yang diselingi dengan gombalan tersebut mampu membuat hati Aghnia penuh dengan bunga serta merasa menjadi wanita yang paling beruntung saat itu.
“Syukurlah, kalau begitu sekarang kita bisa mulai merencanakan pernikahan keduanya,” ucap Haikal yang tampak senang serta antusias.
Haris memang merasa lega setelah melihat bagaimana respon keduanya yang setuju menikah apalagi sebelumnya beliau sempat menyaksikan keduanya sama-sama menentang pernikahan ini.
Hal ini tentu membuat Haris ingin buru-buru melangsungkan pernikahan keduanya yang akan dimeriahkan tepatnya satu bulan lagi.
Pria paruh baya itu tidak ingin keduanya berubah pikiran dan juga merubah keputusan untuk tidak menikah nantinya.
***
Satu bulan kemudian pernikahan Aghnia dan juga Aryan dirayakan dengan sangat meriah.
Bahkan banyak media massa yang meliput tentang pernikahan mereka mengingat status keluarga Athaya yang menjadi salah satu orang terkaya di negara mereka yang masuk dalam kategori lima besar.
“Sayang, apakah kau merasa lelah?” bisik Aryan.
Sejak pagi mereka memang mengikuti setiap rangkaian acara tanpa terlewat sama sekali jadi wajar saja jika pria itu khawatir dengan Aghnia yang mungkin saja akan kelelahan.
Aghnia tersenyum sambil menatap wajah pria yang sudah resmi menjadi suami. “Sama sekali tidak jadi kamu tenang saja aku masih bisa menyelesaikannya sampai selesai.”
“Kamu serius? Jika memang kamu merasa lelah, kamu bisa istirahat lebih dulu karena sebentar lagi acaranya juga akan selesai lalu kita akan pulang ke rumah.”
Kali ini Aghnia menjawab pertanyaan pria itu dengan menganggukkan kepalanya.
Jujur saja Aghnia selalu merasa senang karena selama mengenal Aryan, pria itu selalu bersikap baik dan juga memperlakukannya layaknya seperti seorang ratu.
“Baiklah tapi kamu bisa beritahu aku jika nanti kamu merasa lelah,” kata Aryan sambil menggenggam tangan istrinya.
“Terima kasih kakek karena sudah meninggalkan wasiat yang sangat berharga untukku sehingga aku bisa bertemu bahkan menikah dengan pria sebaik Aryan.”
Aghnia tidak menyangka kalau wasiat yang sempat dianggapnya sial malah membawanya bertemu dengan pria yang sangat baik seperti Aryan.
Bahkan dengan wasiat sang kakek, wanita itu jadi tahu kebenaran tentang dirinya yang selama ini sengaja disembunyikan.
“Aryan, kamu mau ke mana?”
Aghnia mengerutkan dahinya ketika pukul satu malam pria itu terbangun dan kini sudah berpakaian rapi seperti hendak mau pergi.
Tidak mungkin ‘kan kalau malam ini Aryan ada pekerjaan mendadak apalagi tepat setelah hari bahagia mereka.
“Mau aku pergi ke mana pun itu bukan urusanmu,” jawab Aryan dengan nada suara yang terdengar kasar dan juga dingin.
Tunggu, ada apa dengan pria itu? Kenapa sikapnya berubah dalam beberapa jam saja?
Kedua bola mata Aghnia seketika membulat dengan sempurna mendengar jawaban dari suaminya.
Padahal selama acara pernikahan sampai mereka tertidur semuanya masih baik-baik saja.
“Aryan, kenapa jawabanmu seperti itu? Apa aku sudah berbuat salah kepadamu?” tanya Aghnia seraya bangkit dari tempat tidur dan hendak mendekati suaminya.
Aryan memberikan tatapan sinis ke arah Aghnia. “Kau memang tidak salah apa-apa tapi yang salah adalah kakekku karena sudah memaksaku menikah denganmu.”
“Tapi jika kamu tidak menginginkan pernikahan ini bukankah dari awal kamu bisa menolaknya, Aryan?”
Aghnia masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi karena tubuhnya masih terasa lelah hingga tidak bisa menyatu dengan otaknya untuk memahami apa yang pria itu katakan.
“Sudahlah, kau pasti tidak akan mengerti jika aku menjelaskannya nanti jadi lebih baik kau kembali tidur karena aku harus pergi sekarang.”
Aryan berusaha menahan diri untuk tidak menyakiti wanita itu secara verbal atau pun non verbal karena pria itu menganggap Aghnia adalah wanita yang sangat baik dan juga terpaksa terjebak dengan pernikahan ini.
***
Tepat satu bulan sebelum pertemuan keluarga yang diadakan oleh kakek Haris dengan Aghnia dan keluarga.
Pria itu sedang memikirkan cara untuk menghindari pernikahan tersebut tapi tiba-tiba saja malah diberikan ide konyol oleh asistennya.
“Mas Aryan, aku dengar kamu sebentar lagi akan menikah ya?” tanya Doni, asisten pribadi.
“Entahlah Dona tapi yang jelas pernikahan ini bukan keinginanku tapi keinginan kakek karena ulahmu yang tidak bisa menjaga rahasia,” jawab Aryan dengan tatapannya yang tajam.
Rahasia yang dimaksud oleh Aryan adalah ketika untuk kesekian kalinya pria itu tertangkap basah sedang bersama seorang wanita bayaran di kamar hotel milik sang kakek.
Begitulah Aryan ketika memanggil nama asisten pribadinya, bukan karena merasa kesal tapi memang sang asisten bisa dibilang pria melambai alias pria kemayu.
Tapi walau begitu cara kerja Doni dalam menangani segala kebutuhan Aryan selama ada di kantor atau pun di luar kantor terbilang cukup kompeten jadi wajar saja jika Aryan masih mempertahankannya bekerja di perusahaan Athaya Group.
Doni segera menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan mengintip melalui celah jari tangannya yang longar. Sungguh pria itu sangat takut jika sang bos sampai marah kepadanya.
“Ih jangan menatapku seperti itu dong Mas, aku ‘kan jadi takut lagian bukannya aku enggak mau jaga rahasia tapi kakek mengancam akan memecatku,” jelas Doni agar Aryan tidak lagi marah kepadanya.
Aryan membuang napas kasar, mau bagaimana pun pria itu tidak bisa sepenuhnya menyalahkan asistennya yang masih bekerja di bawah perintah sang kakek.
“Baiklah lupakan soal itu tapi bisakah kau mencarikan aku ide untuk menghindari pernikahanku karena aku tidak ingin menikah dengan siapa pun kecuali Bella.”
Doni menurunkan kedua tangannya sambil tersenyum dengan jari telunjuk yang beralih di dahinya.
Pria itu sedang mencari ide yang mungkin bisa menyelamatkan sang bos. Tapi saat ini otak pria itu seperti tidak bisa diajak kompromi karena gejolak lapar di perutnya.
“Maaf Mas, aku sedang tidak bisa berpikir karena lapar,” kata Doni sambil tersenyum yang dibalas Aryan dengan tatapan malas.
“Tapi Mas daripada menghindar bukannya lebih baik Mas menikah saja ya? Maksudku, kalau menghindar pun pasti kakek akan terus memaksa Mas Aryan untuk menikah lagi ‘kan nantinya?”
Kalau dipikirkan kembali memang benar Aryan akan terus didesak oleh sang kakek sampai benar-benar menikah nantinya.
Tapi jujur hatinya saat ini hanya untuk satu wanita dan apa yang dilakukannya selama ini kepada banyak wanita hanya sebatas memuaskan nafsunya saja.
“Kau benar, Dona.”
“Kalau begitu, bagaimana jika Mas Aryan menikah saja? Setidaknya sekali ini saja bertahan untuk waktu yang lama jika Mas memang tidak mencintai wanita itu, kalian bisa bercerai dan aku siap menikah dengan Mas Aryan nantinya,” kata Doni yang diselingi candaan agar mereka tidak terjebak dengan obrolan serius lebih lama.
Tapi jika Aryan mau dengan Doni sepertinya pria kemayu ini juga tidak akan keberatan iya, ‘kan? haha
Haris akhirnya sampai di paviliun timur—tepat di mana putri sulung serta cucunya tinggal. Saat itu Arion dan Dewi sedang sarapan sambil mengobrol ringan.“Ternyata dia benar-benar sudah kembali,” monolog Haris, sudut bibirnya tertarik hingga menampakkan sebuah senyuman dengan matanya yang berkaca-kaca.Ingin rasanya Haris melangkah agar lebih dekat, memeluk erat tubuh putrinya tapi kenangan buruk di masa lalu mereka berhasil membuat kakinya membeku.“Pa, aku tahu kalau Papa kangen sama Mbak Dewi jadi sebaiknya kita langsung temui dia ya,” ajak Haikal yang entah sejak kapan ada di dekat tubuh renta itu.Haris menatap wajah putranya, menggelengkan kepalanya, berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu.“Pa, sampai kapan kita harus terus begini?” tanya Haikal.Langkah kaki pria paruh baya itu terhenti, di hadapannya sudah ada Dewi, Aryan, dan Aghnia yang sedang memperhatikannya.“Pa… untuk kali ini aja turunkan sedikit ego Papa ya, pasti Mbak Dewi juga kangen banget sama Papa,” kata Ayu
“Tapi Ma, ak—”“Kamu tunggu aja di sana ya karena kali ini Mama yang bakalan datang ke sana buat kamu jadi kamu tunggu aja ya di paviliun timur, kan?” potong Dewi.Seketika sebuah senyum muncul di wajah tampan Arion, ingin pura-pura tidak mendengar dan memastikannya kembali tapi ia jika sang mama berubah pikiran.“Iya Mak, aku di paviliun timur,” jawab Arion yang tanpa sadar menganggukkan kepalanya, suaranya terdengar sangat bersemangat.Siapa yang tidak akan semangat jika orang yang disayanginya akan datang untuk menemuinya.***“Aryan…”“Hmmm…”Pria itu melirik sebentar ke arah istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan kembali menatap layar ponselnya.“Terima kasih untuk makan malam hari ini,” kata Aghnia.“Sama-sama, aku pikir seharusnya kita lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarga agar bisa saling mengenal dan lebih dekat seperti yang kata kamu waktu itu.”Sudut bibir wanita itu tertarik lebar, ia tidak menyangka kalau Aryan akan mengikuti apa yang dia katakan.
Pandu menggelengkan kepala, tersenyum tipis, sebisa mungkin pria paruh baya itu berusaha menutupi rasa gugupnya agar putranya tidak curiga.“Dia itu putranya Pak Tomi.”“Pak Tomi yang dulu jadi asisten pribadi Papa, kan?”Pandu menganggukkan kepala. “Iya… tadi itu dia ke sini rencananya mau pinjam duit karena Pak Tomi sedang sakit, terus ya Papa kasih aja, hitung-hitung sebagai cara Papa bantu dia.”“Ooo… aku pikir siapa gitu. Tapi minggu depan Papa jadi kan medical check up ke Singapura?”“Minggu depan ya?”“Iya minggu depan, jangan bilang Papa ada janji sama orang lain terus lupa deh.”Pandu terkekeh. “Enggak kok.”“Bagus deh jadi minggu depan aku bisa sekalian temani Papa ke Singapura.” Satya tersenyum.“Kamu sebenarnya enggak harus kok temani Papa, kamu itu seharusnya pergi berlibur cari jodoh, Satya.”“Yah… jodoh lagi yang dibahas deh,” kata Satya sambil membuang napas kesal.“Ya iya dong, kan Papa juga mau punya cucu dari kamu.”Pria paruh baya itu tersenyum puas ketika melihat
“Jujur aku senang sekali karena akhirnya kamu mau ikut andil mengurus perusahaan Kakek, Rion.” Aryan melirik ke arah sepupunya yang tersenyum sambil menyedot kopi miliknya.“Aku juga sangat senang tapi apa kamu tidak khawatir kalau pertemuan kita ini malah membuatmu kehilangan banyak hal?”“Maksudmu?” Aryan mengeryitkan dahinya.Arion meletakkan gelas kopi miliknya di atas meja, menatap ke arah lurus, menikmati angin segar yang berhembus di sekitar area rooftop.“Ya sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di sini sebagai cucu keluarga ini beberapa orang di sini mengira kalau aku mulai mengincar posisi pewaris yang sudah melekat padamu.”Pria itu menoleh ke arah sepupunya yang malah kelihatan santai, tidak ada perasaan takut apalagi merasa tersaingi. Malah Aryan sendiri sempat terkekeh ketika mendengar penjelasannya.“Kalau boleh jujur aku sama sekali tidak peduli dengan siapa yang akan mewarisi seluruh harta kekayaan Kakek, malah kalau aku akan sangat senang jika kamu mau menerimanya
“Aghnia, apa sejak menikah kamu langsung tinggal di kediamaan Athaya?”Pria itu membuka obrolan di antara mereka ketika pesanan makanan dan minuman sudah lengkap tersaji di hadapan mereka.“Ya sejak aku resmi menjadi istri Aryan, aku langsung di bawa untuk tinggal di paviliun.”“Jadi…” Aghnia melirik ke arah pria itu yang santai mengiris steik yang ada di hadapannya, ada raut khawatir yang terpancar di wajah ayunya karena tadi ia hampir keceplosan tentang kisah hidup Aryan di masa lalu.“Kamu mungkin sudah tahu kan mengenai ceritaku dan keluargaku terutama mendiang papaku?” lanjut Arion sambil melemparkan pandangannya ke arah wanita di hadapannya yang ternyata juga sedang memperhatikannya.Tuh kan bener!Buru-buru Aghnia memutar bola matanya menatap makanan miliknya dan juga perlahan menelan salivanya. Ia benar-benar bingung harus berkata jujur atau berbohong saja kali ini.“Aku berharap kamu bisa jujur, Aghnia,” tambah Arion.“Emm…” wanita itu mengangkat kepalanya. “Ya aku pernah men
“Mbak Aghnia…”Suara Doni berhasil mengalihkan fokus Aghnia yang memang sedang menunggunya di ruang tunggu, ada di lobi tidak jauh dari resepsionis. Wanita itu bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum ke arahnya.“Mbak Aghnia, ada apa ke kantor? Cari Mas Aryan ya?”“E—““Tapi sayang Mbak, Mas Aryan lagi di luar,” sela Doni.“Oh lagi di luar, meeting ya?”Doni menggelengkan kepalanya, menampilkan senyumnya yang sengaja dipaksa. “Enggak Mbak tadi Mas Aryan bilang mau ketemu sekaligus makan siang sama teman lamanya.”“Oh, gitu… tapi boleh enggak kalau kita ngobrol sebentar? Kamu sibuk enggak, Don?”“Ngobrol soal apa ya, Mbak?”Mendadak Doni merasa khawatir karena takut dicecar berbagai macam pertanyaan tentang sang bos yang tidak ada di tempatnya. Apalagi sebelumnya Aryan sudah berpesan untuk tidak sembarangan bicara dengan Aghnia agar wanita itu tidak curiga.“Sini duduk dulu ya.” Tanpa sadar Aghnia meraih tangan pria itu agar bisa duduk bersamanya. “Aku cuma mau tanya apa kamu ada fo







