Compartilhar

BAB 05

last update Data de publicação: 2026-09-30 06:04:39

Untuk beberapa saat, Estella hanya terpaku pada pria yang berjalan mendekatinya.

 

Benev.

 

Pria itu berhenti tepat di hadapannya dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku celana. Tubuhnya yang tinggi menjulang dibalut setelan hitam yang rapi, sementara langkahnya yang tenang justru membuat kehadirannya terasa semakin menekan.

 

Aura dominannya memenuhi ruangan. Tanpa perlu meninggikan suara, semua orang yang bicara dengannya pasti menurut tanpa berani membantah.

 

Tatapan mereka bertemu.

 

Benev tidak berkedip sedikit pun. Tatapannya lurus dan sulit dibaca, membuat Estella tanpa sadar membuka bibir. Namun, tak ada satu kata pun yang keluar. Ia justru menelan ludah dengan susah payah.

 

“Ini bukan tugasmu, Ben.” Jessica segera angkat bicara. “Bagaimana mungkin kamu yang melatih anak baru ini?”

 

Benev tidak menjawab.

 

Tatapannya perlahan turun, menelusuri Estella dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bukan dengan tatapan yang membuat gadis itu nyaman, melainkan seperti seseorang yang sedang menilai sesuatu.

 

Tatapan itu kemudian berhenti pada wajah Estella yang masih polos tanpa riasan.

 

“Aku yang akan melatihnya.” Suara Benev terdengar datar.

 

Jessica langsung menggeleng. “Jangan buang waktumu untuk ini. Pekerjaanmu saja sudah cukup banyak. Lagi pula, Jonathan bisa melatihnya.”

 

“Aku sedang lenggang.” Benev menjawab tanpa sedikit pun menoleh kepada Jessica. Kemudian, pandangannya kembali tertuju kepada Estella. “Anak baru.”

 

Estella tersentak. “I-iya?”

 

“Ikuti aku,” Benev berbalik dan mulai berjalan meninggalkan aula.

 

Estella sempat terdiam beberapa detik, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Namun, melihat Benev semakin menjauh, ia buru-buru mengambil barangnya lalu menyusul.

 

“Ben!” Jessica segera mengejar mereka, langkahnya dipercepat hingga berhasil menyamai Benev.

 

“Tunggu sebentar. Aku serius, jangan lakukan ini. Kamu tidak pernah menangani anak baru sebelumnya. Kalau ada masalah—”

 

“Aku tahu apa yang kulakukan.”

 

“Tapi … Ben, dengarkan aku.” Jessica menahan langkahnya, nyaris memohon. “Setidaknya biarkan Jonathan yang melatihnya. Kamu punya urusan lain yang jauh lebih penting.”

 

Benev akhirnya berhenti. Estella yang berjalan beberapa langkah di belakangnya ikut menghentikan langkah.

 

Pria itu menoleh perlahan kepada Jessica. Tatapannya tenang. “Kamu tidak memiliki wewenang untuk melarang sesuatu yang akan kulakukan, Jes.”

 

Benev kembali berjalan. Kali ini, tak ada lagi yang mencoba menghentikannya. Estella pun buru-buru menyusul.

 

Mereka meninggalkan aula dan melewati koridor panjang yang mengarah ke bagian lain dari kompleks Noir. Semakin jauh mereka berjalan, suasana di sekitar Estella perlahan berubah.

 

Bangunan yang mereka tuju ternyata tidak berada di bagian utama tempat para peserta pelatihan berkumpul.

 

Setelah melewati sebuah pintu besar, mereka tiba di halaman luas yang menghubungkan beberapa bangunan berbeda.

 

Estella mengira mereka akan berjalan kaki sampai ke tujuan. Namun, Benev justru berhenti di depan sebuah mobil hitam yang terparkir di sisi halaman.

 

Ia membuka pintu belakang. “Masuk.”

 

Estella berkedip. Ia menatap mobil itu, kemudian menatap Benev. “Ke mana, Tuan?”

 

“Tempatku.”

 

Jawaban singkat itu membuat Estella semakin bingung.

 

Estella akhirnya masuk ke dalam mobil, Benev menyusul beberapa detik kemudian.

 

Pintu tertutup, lalu kendaraan itu perlahan meninggalkan halaman utama Noir. Dari balik kaca jendela, Estella melihat bangunan tempat ia berlatih semakin jauh di belakang mereka.

 

Mobil terus melaju melewati jalan kompleks yang panjang dan berkelok, hingga bangunan-bangunan di sekitar mereka mulai berganti menjadi kawasan yang jauh lebih sepi.

 

_____

 

“Saya ingin menyampaikan informasi yang Anda minta semalam, Tuan. Mengenai bagaimana gadis itu bisa sampai ke Noir.”

Damien berdiri di depan meja kerja Benev dengan sebuah berkas di tangannya.

Benev yang sejak tadi membaca dokumen mengangkat pandangan. “Silakan.”

Damien membuka berkas tersebut. “Orang tuanya sudah meninggal sejak dia berusia sepuluh tahun. Setelah itu, dia tinggal bersama bibinya. Awalnya saya mengira keluarganya merawat dia karena hubungan darah, tetapi kenyataannya tidak begitu.”

Benev diam, pandangannya lurus pada sang asisten untuk menunggu lanjutannya.

“Dia tidak disekolahkan. Bahkan sekolah dasarnya saja tidak selesai. Selama bertahun-tahun, dia lebih banyak mengurus pekerjaan rumah.”

Jari Benev yang semula mengetuk meja perlahan berhenti.

Damien melanjutkan, “Dan bibinya sendiri yang menjualnya ke Noir.”

Ruangan seketika terasa lebih sunyi, namun Benev tidak langsung bereaksi.

“Bibinya menerima uang untuk menyerahkan Estella kepada Noir,” lanjut Damien. “Dari informasi yang saya dapat, gadis itu sendiri bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya diberi tahu bahwa dia akan bekerja dan membayar semua biaya yang pernah dikeluarkan bibinya.”

Tatapan Benev berubah.

Estella. Nama itu kembali memenuhi pikirannya. Gadis kecil yang pernah ia lihat bertahun-tahun lalu.

Saat itu Benev masih berusia tujuh belas tahun dan masih tinggal di panti asuhan. Orang tua Estella adalah salah satu keluarga yang rutin datang memberikan bantuan.

Ayah dan ibunya tidak pernah datang hanya untuk menyerahkan sumbangan lalu pergi. Mereka sering berbicara dengannya, membawakannya makanan, memberi uang saku, bahkan menyemangatinya untuk terus belajar.

Bagi Benev, keduanya bukan sekadar donatur. Mereka adalah orang dewasa yang pernah memperlakukannya seperti keluarga. Dan Estella adalah putri mereka.

Gadis kecil berusia lima tahun yang pernah berdiri di samping ibunya sambil memegang erat ujung gaun wanita itu ketika Benev pertama kali melihatnya.

Benev masih mengingatnya. Ia juga tidak pernah melupakan kebaikan keluarga itu. Karena itulah ia pernah berjanji untuk membalas budi kebaikan mereka suatu saat nanti.

Sekarang ia baru tahu mengetahui sebuat kenyataan, bahwa orang yang ingin dia balas budinya sudah tiada delapan tahun yang lalu. Dan meninggalkan putrinya yang masih kecil.

Estella bukan sekadar kehilangan orang tua, ia kehilangan seluruh kehidupannya setelah itu.

Keluarga Estella bukan keluarga biasa. Orang tuanya memiliki bisnis dan aset dalam jumlah besar. Estella seharusnya menjadi salah satu pewarisnya. Tetapi selama bertahun-tahun, seluruh hak itu berada di tangan bibinya.

Benev menatap Damien datar. “Semua asetnya? Termasuk hak Estella sebagai pewaris?”

“Dikuasai oleh bibinya.”

Benev menyandarkan punggungnya pada kursi.

Jadi selama ini gadis itu hidup seperti orang yang tidak memiliki apa-apa, sementara kekayaan yang seharusnya menjadi miliknya berada di tangan orang lain. Dan sekarang, bahkan dirinya sendiri telah dijual ke Noir.

Benev mengepalkan tangan di atas meja. Ia tahu persis apq yang harus dia lakukan untuk membantu Estella.

Bukan hanya karena rasa kasihan, melainkan ia ingin menepati janjinya pada diri sendiri untuk membalas kebaikan kedua orang tua Estella padanya.

“Aku akan turun tangan untuk mengembalikan semua haknya,” ucap Benev dengan suara rendah.

Damien menggeleng pelan. “Tidak sesederhana itu, Tuan.”

Benev menatapnya dingin.

“Secara hukum, Nona Estella memang pewaris. Tetapi dia masih di bawah umur. Dia tidak memiliki pendidikan yang cukup, tidak memahami bisnis keluarganya, dan tidak punya orang yang secara sah berdiri di sisinya. Anda juga bukan siapa-siapa baginya.”

“Kalaupun Anda mengambil alih urusannya sekarang, orang-orang yang memegang aset keluarganya bisa mempertanyakan dasar kewenangan Anda. Mereka bisa mengatakan Anda orang luar yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan Estella.”

Damien menutup berkasnya. “Belum lagi, Tuan, jika mereka tahu Estella berada di Noir dan Anda yang berusaha mengambil kembali asetnya, identitas Noir mungkin akan tersebar luas, dan keamanan bisa terancam.”

Benev tidak menjawab, tatapannya beralih ke jendela. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Gadis yang beberapa saat lalu berdiri di hadapannya dengan wajah polos, bahkan tidak mengerti ke mana dirinya dibawa.

Ia tidak bisa membiarkan Estella kembali kepada orang-orang yang telah mengambil semuanya darinya. Tidak setelah mengetahui keadaan sebenarnya.

“Aku akan tetap melakukannya.” Benev akhirnya membuka suara.

Damien menatapnya. “Tuan, apa yang akan Anda lakukan?”

“Aku akan mengembalikan seluruh haknya.” Nada suara Benev tenang, tetapi tegas. “Dan aku akan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa mengambilnya lagi.”

Damien menghela napas panjang. “Itu tidak akan mudah. Bahkan kalau Anda berhasil mendapatkan kembali asetnya, tetap akan ada masalah mengenai siapa yang akan menjadi wali dan mengambil keputusan untuknya sampai dia cukup umur.”

Damien melanjutkan dengan hati-hati. “Kalau Anda benar-benar ingin turun tangan, Anda harus memiliki kedudukan yang sah di sisinya. Kalau tidak, semua yang Anda lakukan akan mudah dipatahkan.”

Benev terdiam cukup lama. “Aku tahu apa yang harus kulakukan. Suruh gadis itu masuk.”

 

Damien mengangguk. “Baik, Tuan.”

 

Ia berbalik dan meninggalkan ruangan.

 

Di luar, Estella yang sejak tadi menunggu berdiri di dekat pintu langsung mengangkat kepala ketika Damien keluar.

 

“Masuk,” ucap Damien singkat.

 

Estella mengangguk kecil. Ia kemudian melangkah memasuki ruangan yang jauh lebih luas dan tenang dibandingkan aula tempatnya berlatih tadi.

 

Pintu tertutup di belakangnya.

 

Estella berjalan mendekati meja kerja Benev. “Tuan,” sapanya hati-hati. “Apa kita akan memulai latihan?”

 

Benev mengangkat wajah, tatapan mereka kembali bertemu.

 

“Tapi sebelum itu,” lanjut Estella, “saya ingin bertanya lebih jelas mengenai pekerjaan yang akan saya lakukan.”

 

Benev tidak segera menjawab, matanya kembali menelusuri wajah gadis itu.

 

Polos. Muda. Dan sama sekali belum memahami betapa rumitnya keadaan yang sedang mengelilinginya.

 

Benev terdiam beberapa saat. Kemudian, satu pertanyaan keluar dari bibirnya. “Berapa lama lagi sampai usiamu legal?”

 

Estella membeku. Ia tidak mengerti mengapa pertanyaan itu tiba-tiba muncul. “Satu bulan lagi saya berusia delapan belas tahun.”

 

Benev mengangguk pelan. Tatapannya tidak bergeser sedikit pun dari wajah Estella.

 

“Kalau begitu,” katanya tenang, “kita menikah saat kamu berulang tahun.”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
mput
yeay ada novel baru nya
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 10

    "Persiapkan pernikahan untuk satu bulan lagi, Damien." Ucap Benev pada asistennya tanpa menatap pria itu. “Mempersiapkan pernikahan?” Damien mengernyitkan dahi. “Pernikahan siapa, Tuan?” Benev tidak langsung menjawab. Pria itu masih duduk santai di kursi bar, menikmati wiski di tangannya. Setelah meneguknya, ia meletakkan gelas ke atas meja dengan gerakan tenang. “Untukku.” Damien terdiam, bola matanya membulat sempurna. “Untuk Anda?” ulangnya, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. “Anda akan menikah?” Benev hanya meliriknya sekilas. “Dengan siapa?” Damien menelan ludah. “Apa dengan Je—” “Estella.” Jawaban singkat itu langsung memutus kalimat Damien. “Nona Estella?” Damien dibuat kehilangan kata-kata. Namun, Benev sama sekali tidak berniat memberikan penjelasan lebih jauh. Ia turun dari kursi bar, meraih jasnya yang tersampir di sandaran kursi, lalu mengenakannya sambil berjalan meninggalkan ruangan. Damien segera mengejar. “Jadi benar, Tuan? And

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 09

    Langit telah sepenuhnya gelap ketika Jessica masih berdiri di depan pintu masuk asrama. Sejak tadi ia mondar-mandir tanpa tujuan, sesekali menggigit kuku ibu jarinya sambil melirik gerbang yang tak kunjung memperlihatkan tanda-tanda kepulangan Estella. “Kenapa gadis itu belum kembali juga?” gumamnya frustrasi. Jessica kembali menatap gerbang. Kosong, tidak ada Estella. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang justru membuatnya semakin gelisah. “Jangan-jangan Benev membiarkan gadis itu tinggal di rumahnya?” Mata Jessica langsung membelalak. “Dan ... apa benar mereka akan menikah?” Ia buru-buru menggeleng, seolah ingin mengusir pikirannya sendiri. “Tidak mungkin. Pasti bukan mereka.” Jessica mendengus. “Benev baru bertemu gadis itu tadi pagi. Mustahil dia langsung berpikir untuk menikah.” Namun, semakin ia mencoba menyangkal, semakin jelas wajah Estella terbayang dalam ingatannya. Gadis itu terlalu kurus. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, bahkan pendidikannya pun n

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 08

    “Ben, jawab aku. Pernikahan siapa yang gadis itu maksud?” Jessica langsung mendesak Benev. “Kamu dan gadis itu, iya?” tangannya bahkan menarik lengan Benev agar pria itu menoleh kepadanya. “Jawab aku, Ben!” Benev menghela napas panjang. “Pelankan suaramu, Jes. Ada orang sakit di sini.” “Tidak peduli!” Jessica masih belum mau menyerah. “Aku ingin tahu pernikahan siapa yang dia maksud. Kamu harus menjawabnya.” Estella hanya bisa menatap keduanya secara bergantian. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tetapi melihat cara Jessica bereaksi, pikirannya mulai dipenuhi dugaan. Pasti ada sesuatu diantara mereka berdua. Hubungan yang spesial, mungkin. Benev memejamkan mata sesaat, seolah sedang mengumpulkan kesabaran. Ketika matanya kembali terbuka, tatapannya sudah berubah dingin. “Keluar.” Ucapnya singkat, namun tajam. Jessica terdiam. “Apa?” “Tinggalkan kami berdua.” “Tidak.” Jessica menggeleng tegas. “Aku tidak akan keluar sebelum mendapatkan jawaban.” Benev menatapnya l

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 07

    “Bagaimana kondisinya?” Benev berdiri di sisi ranjang dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya tak lepas dari Estella yang masih terbaring lemah. Dokter Rowan, dokter pribadi Noir yang sudah bertahun-tahun menangani orang-orang di dalamnya, melepas stetoskop dari telinga dan mengalungkannya di leher. “Kondisinya cukup memprihatinkan.” Mata Benev menyipit. “Akibat syok?” “Syok memperburuk kondisinya, tapi bukan satu-satunya penyebab.” Rowan memeriksa beberapa catatan pemeriksaan sebelum kembali menatap Benev. “Dia mengalami demam tifoid. Tubuhnya juga menunjukkan tanda-tanda kekurangan cairan dan asupan makanan.” Rahang Benev mengeras. “Seberapa parah?” “Cukup parah. Saya menduga dia sudah beberapa hari tidak mendapatkan makanan dan cairan yang cukup. Tubuhnya kekurangan tenaga, ditambah tekanan fisik dan emosional yang mungkin dia alami sebelum sampai ke sini.” Rowan menghela napas pelan. “Gadis ini masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, sedikit tekanan saja bi

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 06

    Estella membulatkan mata. “Me-menikah?” tanyanya terbata, seolah ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak keliru. “Ya.” Jawab Benev singkat, membuat Estella semakin bingung. “Aku datang ke sini untuk bekerja. Kenapa tiba-tiba menikah?” tanya Estella. Benev mengembuskan napas panjang. “Tempat ini bukan untuk orang sepertimu.” Kening Estella langsung berkerut. “Lalu di mana tempatku sebenarnya?” ia maju selangkah. “Aku datang ke sini untuk bekerja, kan? Aku sudah diterima Madam Jessica. Hari ini juga aku seharusnya mulai latihan. Tapi sekarang Tuan bilang kita akan menikah.” Kedua tangannya meremas sisi gaun yang dikenakannya. “Tolong jelaskan padaku. Sebenarnya apa yang terjadi?” Tatapan Estella mulai dipenuhi kebingungan. “Bibiku mengirimku ke sini untuk bekerja. Katanya aku harus membayar semua biaya yang sudah dia keluarkan untukku selama ini. Aku juga sudah diterima di sini. Jadi kenapa sekarang Tuan bilang tempat ini bukan untuk orang sepertiku?” Benev menatapnya b

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 05

    Untuk beberapa saat, Estella hanya terpaku pada pria yang berjalan mendekatinya. Benev. Pria itu berhenti tepat di hadapannya dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku celana. Tubuhnya yang tinggi menjulang dibalut setelan hitam yang rapi, sementara langkahnya yang tenang justru membuat kehadirannya terasa semakin menekan. Aura dominannya memenuhi ruangan. Tanpa perlu meninggikan suara, semua orang yang bicara dengannya pasti menurut tanpa berani membantah. Tatapan mereka bertemu. Benev tidak berkedip sedikit pun. Tatapannya lurus dan sulit dibaca, membuat Estella tanpa sadar membuka bibir. Namun, tak ada satu kata pun yang keluar. Ia justru menelan ludah dengan susah payah. “Ini bukan tugasmu, Ben.” Jessica segera angkat bicara. “Bagaimana mungkin kamu yang melatih anak baru ini?” Benev tidak menjawab. Tatapannya perlahan turun, menelusuri Estella dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bukan dengan tatapan yang membuat gadis itu nyaman, melainkan seperti seseorang yang sedang me

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status