Compartilhar

BAB 04

last update Data de publicação: 2026-09-30 06:04:24

“Ternyata yang melamar kerja di sini bukan hanya aku,” gumam Estella.

Ia memasukkan pakaian terakhir ke dalam lemari kecil yang disediakan untuknya, lalu menutup pintunya perlahan.

Sejak awal, Estella mengira dirinya akan pulang pergi jika bekerja di Noir. Ia tidak pernah membayangkan bahwa tempat ini juga menyediakan kamar untuk para pekerjanya.

Kamar itu memang tidak besar, tetapi cukup untuk satu orang. Sebuah ranjang berukuran 90 x 200 cm berada di sudut ruangan, sebuah nakas kecil dan lemari pakaian sederhana.

Semuanya terasa asing. Namun bagi Estella, memiliki tempat untuk tidur sendiri sudah lebih dari cukup.

Beberapa saat sebelumnya, ia bahkan mendapat makan malam bersama para pelamar lain. Dari percakapan yang didengarnya, mereka semua masih berada dalam tahap pelatihan.

Estella menghela napas panjang. “Besok aku mulai latihan.” Ia duduk di tepi ranjang, memandangi lantai sejenak. “Entah latihan apa. Mereka juga belum menjelaskan sebenarnya aku akan bekerja sebagai apa di sini.”

Rasa penasaran membuat alisnya sedikit berkerut.

Estella kemudian bangkit dan berjalan menuju meja rias. Di sana, pantulan wajahnya menyambutnya. Pipinya masih menyisakan kemerahan bekas tamparan Lauren.

Tadi, atas permintaan manajer, ia sudah mengompresnya dengan air dingin. Namun bekasnya belum sepenuhnya menghilang.

Jemari Estella perlahan menyentuh pipinya. “Bibi tadi bilang aku cantik.” Ia memiringkan wajah, mengamati pantulannya sendiri. “Dan katanya aku akan sukses di sini.”

Senyum tipis muncul di bibirnya. “Apa mungkin aku akan jadi model?”

Estella terkekeh kecil, meski suaranya terdengar ragu. Ia tidak tahu pekerjaan apa yang menantinya esok hari. Tidak tahu mengapa tempat sebesar ini membutuhkan begitu banyak perempuan muda.

Dan lebih dari itu, ia sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya tersembunyi di balik nama Noir. Yang Estella tahu hanyalah satu hal, ia ingin hidupnya berubah. Ia ingin berhenti bergantung pada orang lain.

“Apapun pekerjaannya …,” Estella menatap pantulan dirinya sekali lagi. “Semoga ini menjadi awal aku bisa hidup mandiri dan berdiri di atas kakiku sendiri.”

Senyumnya mengembang kecil. Estella merasa mungkin saja hidup sedang memberinya kesempatan kedua.

_____

Pagi harinya, Estella terbangun jauh sebelum alarm berbunyi.

Kebiasaan itu sudah melekat sejak bertahun-tahun tinggal di rumah sebelumnya. Tubuhnya seolah terbiasa bangun lebih awal, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang menyuruhnya.

Ia sempat duduk di tepi ranjang sambil mengucek mata. Baru kemudian, Estella teringat bahwa tempat ini berbeda. Ia tidak perlu menyapu, tidak perlu mengepel, dan tidak perlu menyiapkan sarapan untuk orang lain.

Bahkan semalam, manajer sudah mengatakan bahwa seluruh pekerja akan mendapatkan sarapan yang disediakan pihak Noir.

“Aku mandi dulu, nanti baru ke meja makan,” suaranya masih serak khas orang yang baru bangun tidur.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Estella keluar dari kamarnya dengan rambut yang masih setengah basah.

Namun langkahnya terhenti ketika tiba di ruang makan. Sebagian besar penghuni Noir sudah berada di sana.

Estella memandangi mereka satu per satu, ada sesuatu yang berbeda. Hampir semua perempuan di sana sudah tampil rapi.

Rambut mereka ditata, wajah mereka dipoles dengan riasan sempurna, pakaian mereka terlihat jauh lebih elegan daripada milik Estella.

Beberapa bahkan mengenakan sepatu hak tinggi yang membuat langkah mereka tampak anggun.

Estella menunduk melihat pakaiannya sendiri, kemudian ia menyentuh rambutnya yang masih lembap.

“Oh ….” Estella berjalan mendekati meja makan dengan senyum kecil. Matanya sempat memperhatikan beberapa wanita di sana yang tampil begitu rapi dengan pakaian cantik dan riasan wajah sempurna.

Ia lalu bertanya polos, “Kita di sini akan bekerja sebagai model, ya?”

Beberapa orang terdiam, kemudian seorang wanita di ujung meja terkekeh.

“Model?” tanyanya sembari tertawa, membuat beberapa orang lain ikut tersenyum geli.

Estella mengerjapkan mata. “Bukan, ya? La-lalu apa?” tanyanya polos.

Wanita yang tadi tertawa menatap pakaian Estella dari atas sampai bawah. Rambutnya masih sedikit basah, pakaiannya sederhana, bahkan wajahnya nyaris tanpa riasan.

“Kamu pikir tempat seperti ini menerima model dengan penampilan begitu?”

Beberapa orang kembali tertawa kecil. Estella langsung menunduk, jemarinya saling meremas.

“Kalau mau jadi model, setidaknya belajar dandan dulu.” Seorang wanita lain menyela dengan nada meremehkan. “Lihat kami. Kamu pikir kami datang ke sini cuma untuk duduk cantik?”

Estella semakin bingung. “Memangnya kita akan bekerja sebagai apa?”

“Sudah, jangan banyak tanya.”

Suara lain terdengar dari belakang.

Seorang wanita yang tampaknya bertugas mengawasi mereka berjalan masuk sambil membawa beberapa berkas. Tatapannya langsung menyapu seluruh meja hingga berhenti pada Estella.

“Kamu anak baru?”

Estella buru-buru mengangguk. “Iya.”

“Habiskan sarapanmu. Sepuluh menit lagi semua berkumpul di aula.”

Wanita itu meletakkan berkas di meja, lalu kembali melirik Estella.

“Dan satu lagi. Jangan terlalu banyak berkhayal soal pekerjaanmu di sini.”

Estella terdiam. Kalimat itu justru membuat rasa penasarannya semakin besar.

Pekerjaan apa sebenarnya yang menunggunya di Noir?

Sepuluh menit kemudian, seluruh peserta berkumpul di sebuah aula luas di bagian belakang bangunan.

Estella baru beberapa langkah masuk ketika matanya menangkap sosok manajer yang berdiri di depan. Wanita itu memegang sebuah clipboard.

“Estella.”

Gadis itu langsung menghampiri. “Ya, Madam?”

“Ini pakaianmu.” Sebuah pakaian diserahkan kepadanya.

Estella menerimanya dengan bingung. Pakaiannya jauh lebih glamor daripada yang biasa ia kenakan. Potongannya begitu seksi, lengkap dengan sepatu hak tinggi.

“Ganti di ruang sebelah.”

Estella mengangguk. “Baik.”

Beberapa menit kemudian, ia kembali ke aula. Pertama kalinya, Estella melihat dirinya sendiri dengan pakaian seperti itu.

Ia merasa asing. Namun belum sempat bertanya, suara musik perlahan memenuhi ruangan. Perhatiannya segera tertuju pada bagian tengah aula.

Seorang pria dan wanita berdiri di sana. Di hadapan mereka terdapat meja kasino lengkap dengan beberapa keping chip dan kartu.

Pria itu berperan sebagai seorang tamu. Ia duduk santai, mengenakan setelan mahal dengan sebatang rokok di antara jemarinya.

Gesturnya tenang dan penuh percaya diri, seperti seseorang yang terbiasa menghabiskan uang dalam jumlah besar tanpa perlu memikirkannya.

Sementara wanita di hadapannya berperan sebagai pendamping tamu. Ia berdiri di samping meja, menuangkan minuman, menjaga percakapan tetap mengalir, dan memastikan sang tamu tidak merasa bosan selama bermain.

“Perhatikan baik-baik,” ujar manajer.

Semua mata tertuju ke depan.

“Di Noir, kalian bukan sekadar pelayan.”

Estella mengerutkan kening.

“Kalian akan berhadapan dengan orang-orang yang datang membawa uang dalam jumlah besar. Kalian harus tahu bagaimana bersikap, bagaimana berbicara, kapan harus diam, dan bagaimana membaca suasana.”

Estella perlahan memahami. Jadi inilah pekerjaan mereka, bukan menjadi model seperti yang ia bayangkan. Melainkan menjadi pendamping bagi para tamu Noir.

Tatapannya kembali tertuju pada meja kasino. Pria yang memainkan peran sebagai tamu mengangkat satu keping chip.

“Seratus ribu.”

Wanita di sampingnya tersenyum profesional.

Latihan akhirnya selesai. Satu per satu para peserta mulai meninggalkan aula. Suara langkah kaki dan percakapan mereka perlahan menjauh, menyisakan ruangan yang semakin lengang.

Estella hendak mengikuti yang lain ketika sebuah suara memanggilnya.

“Estella, kemari.”

Ia menoleh. Jessica berdiri di dekat meja bersama seorang pria yang tadi menjadi peraga latihan.

Estella segera menghampiri. “Iya, Madam?”

Jessica melirik sekilas kepada pria di sampingnya. “Masih ada latihan yang harus kamu pelajari bersama Jonathan.”

Estella mengikuti arah pandangan Jessica, kemudian dia memberikan senyum kecil. “Baik, Madam.”

Jonathan mengangkat alis, lalu melirik Jessica. “Anak baru?”

“Baru datang kemarin.”

Tatapan Jonathan kembali kepada Estella.

Jessica menyerahkan sebuah map tipis kepada Jonathan. “Dia masih polos, jadi ajari dia ciuman. Kalau untuk urusan lainnya, tamu bisa mengajarinya, dia hanya butuh membuka kaki dan menikmati.”

Mendengar percakapan yang menurutnya cukup intens itu Estella mengernyit. Ia hendak bertanya, tapi Jessica belum selesai.

“Soal ciuman, aku takut dia malah melukai lidah dan bibir tamu. Dia masih amatir.”

Jonathan mengusap tengkuknya, kemudian tersenyum tipis. “Tenang saja. Ini pekerjaan mudah. Serahkan padaku.”

“Aku yang akan melatihnya.”

Sebuah suara berat dari ambang pintu membuat percakapan mereka terhenti.

Jessica menoleh, Jonathan ikut mengangkat kepala.

Estella hanya berdiri diam, tidak mengenal pria yang baru saja muncul itu.

Sosok tinggi dengan setelan hitam berdiri di ambang pintu. Tatapannya tenang, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat suasana aula seketika terasa berbeda.

Jessica membeku sesaat. “Benev?”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 10

    "Persiapkan pernikahan untuk satu bulan lagi, Damien." Ucap Benev pada asistennya tanpa menatap pria itu. “Mempersiapkan pernikahan?” Damien mengernyitkan dahi. “Pernikahan siapa, Tuan?” Benev tidak langsung menjawab. Pria itu masih duduk santai di kursi bar, menikmati wiski di tangannya. Setelah meneguknya, ia meletakkan gelas ke atas meja dengan gerakan tenang. “Untukku.” Damien terdiam, bola matanya membulat sempurna. “Untuk Anda?” ulangnya, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. “Anda akan menikah?” Benev hanya meliriknya sekilas. “Dengan siapa?” Damien menelan ludah. “Apa dengan Je—” “Estella.” Jawaban singkat itu langsung memutus kalimat Damien. “Nona Estella?” Damien dibuat kehilangan kata-kata. Namun, Benev sama sekali tidak berniat memberikan penjelasan lebih jauh. Ia turun dari kursi bar, meraih jasnya yang tersampir di sandaran kursi, lalu mengenakannya sambil berjalan meninggalkan ruangan. Damien segera mengejar. “Jadi benar, Tuan? And

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 09

    Langit telah sepenuhnya gelap ketika Jessica masih berdiri di depan pintu masuk asrama. Sejak tadi ia mondar-mandir tanpa tujuan, sesekali menggigit kuku ibu jarinya sambil melirik gerbang yang tak kunjung memperlihatkan tanda-tanda kepulangan Estella. “Kenapa gadis itu belum kembali juga?” gumamnya frustrasi. Jessica kembali menatap gerbang. Kosong, tidak ada Estella. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang justru membuatnya semakin gelisah. “Jangan-jangan Benev membiarkan gadis itu tinggal di rumahnya?” Mata Jessica langsung membelalak. “Dan ... apa benar mereka akan menikah?” Ia buru-buru menggeleng, seolah ingin mengusir pikirannya sendiri. “Tidak mungkin. Pasti bukan mereka.” Jessica mendengus. “Benev baru bertemu gadis itu tadi pagi. Mustahil dia langsung berpikir untuk menikah.” Namun, semakin ia mencoba menyangkal, semakin jelas wajah Estella terbayang dalam ingatannya. Gadis itu terlalu kurus. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, bahkan pendidikannya pun n

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 08

    “Ben, jawab aku. Pernikahan siapa yang gadis itu maksud?” Jessica langsung mendesak Benev. “Kamu dan gadis itu, iya?” tangannya bahkan menarik lengan Benev agar pria itu menoleh kepadanya. “Jawab aku, Ben!” Benev menghela napas panjang. “Pelankan suaramu, Jes. Ada orang sakit di sini.” “Tidak peduli!” Jessica masih belum mau menyerah. “Aku ingin tahu pernikahan siapa yang dia maksud. Kamu harus menjawabnya.” Estella hanya bisa menatap keduanya secara bergantian. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tetapi melihat cara Jessica bereaksi, pikirannya mulai dipenuhi dugaan. Pasti ada sesuatu diantara mereka berdua. Hubungan yang spesial, mungkin. Benev memejamkan mata sesaat, seolah sedang mengumpulkan kesabaran. Ketika matanya kembali terbuka, tatapannya sudah berubah dingin. “Keluar.” Ucapnya singkat, namun tajam. Jessica terdiam. “Apa?” “Tinggalkan kami berdua.” “Tidak.” Jessica menggeleng tegas. “Aku tidak akan keluar sebelum mendapatkan jawaban.” Benev menatapnya l

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 07

    “Bagaimana kondisinya?” Benev berdiri di sisi ranjang dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya tak lepas dari Estella yang masih terbaring lemah. Dokter Rowan, dokter pribadi Noir yang sudah bertahun-tahun menangani orang-orang di dalamnya, melepas stetoskop dari telinga dan mengalungkannya di leher. “Kondisinya cukup memprihatinkan.” Mata Benev menyipit. “Akibat syok?” “Syok memperburuk kondisinya, tapi bukan satu-satunya penyebab.” Rowan memeriksa beberapa catatan pemeriksaan sebelum kembali menatap Benev. “Dia mengalami demam tifoid. Tubuhnya juga menunjukkan tanda-tanda kekurangan cairan dan asupan makanan.” Rahang Benev mengeras. “Seberapa parah?” “Cukup parah. Saya menduga dia sudah beberapa hari tidak mendapatkan makanan dan cairan yang cukup. Tubuhnya kekurangan tenaga, ditambah tekanan fisik dan emosional yang mungkin dia alami sebelum sampai ke sini.” Rowan menghela napas pelan. “Gadis ini masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, sedikit tekanan saja bi

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 06

    Estella membulatkan mata. “Me-menikah?” tanyanya terbata, seolah ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak keliru. “Ya.” Jawab Benev singkat, membuat Estella semakin bingung. “Aku datang ke sini untuk bekerja. Kenapa tiba-tiba menikah?” tanya Estella. Benev mengembuskan napas panjang. “Tempat ini bukan untuk orang sepertimu.” Kening Estella langsung berkerut. “Lalu di mana tempatku sebenarnya?” ia maju selangkah. “Aku datang ke sini untuk bekerja, kan? Aku sudah diterima Madam Jessica. Hari ini juga aku seharusnya mulai latihan. Tapi sekarang Tuan bilang kita akan menikah.” Kedua tangannya meremas sisi gaun yang dikenakannya. “Tolong jelaskan padaku. Sebenarnya apa yang terjadi?” Tatapan Estella mulai dipenuhi kebingungan. “Bibiku mengirimku ke sini untuk bekerja. Katanya aku harus membayar semua biaya yang sudah dia keluarkan untukku selama ini. Aku juga sudah diterima di sini. Jadi kenapa sekarang Tuan bilang tempat ini bukan untuk orang sepertiku?” Benev menatapnya b

  • Istri Polos Sang Mafia   BAB 05

    Untuk beberapa saat, Estella hanya terpaku pada pria yang berjalan mendekatinya. Benev. Pria itu berhenti tepat di hadapannya dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku celana. Tubuhnya yang tinggi menjulang dibalut setelan hitam yang rapi, sementara langkahnya yang tenang justru membuat kehadirannya terasa semakin menekan. Aura dominannya memenuhi ruangan. Tanpa perlu meninggikan suara, semua orang yang bicara dengannya pasti menurut tanpa berani membantah. Tatapan mereka bertemu. Benev tidak berkedip sedikit pun. Tatapannya lurus dan sulit dibaca, membuat Estella tanpa sadar membuka bibir. Namun, tak ada satu kata pun yang keluar. Ia justru menelan ludah dengan susah payah. “Ini bukan tugasmu, Ben.” Jessica segera angkat bicara. “Bagaimana mungkin kamu yang melatih anak baru ini?” Benev tidak menjawab. Tatapannya perlahan turun, menelusuri Estella dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bukan dengan tatapan yang membuat gadis itu nyaman, melainkan seperti seseorang yang sedang me

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status