LOGINSentuhan itu terjadi begitu saja.Tidak direncanakan.Tidak dicari.Hanya karena langkah mereka yang semakin dekat di antara orang-orang yang berjalan berlalu-lalang.Punggung tangan Arsen menyentuh jari Kamila.Sangat ringan.Hampir seperti hembusan angin yang lewat.Kamila sedikit terkejut.Ia menoleh sebentar ke arah tangan mereka.Namun ia tidak langsung menarik tangannya.Arsen juga menyadarinya.Ia melirik sekilas.Kemudian kembali menatap ke depan, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.Namun langkahnya melambat sedikit.Mereka terus berjalan di antara deretan tenda.Lampu warna-warni menggantung rendah di atas kepala.Kabel-kabel listrik melintang dari satu tiang ke tiang lain.Suara genset kecil berdengung di belakang salah satu tenda.Musik dangdut masih diputar dari speaker tua yang sesekali terdengar pecah.Di depan mereka, beberapa anak kecil sedang berlarian sambil membawa balon.Salah satu balon berbentuk ikan berwarna biru terang.Anak itu hampir menabrak Kamila.Kamila mu
Malam turun perlahan di gang kecil itu.Cahaya matahari yang tadi masuk melalui jendela kini sudah berubah menjadi warna jingga pucat yang menempel di dinding rumah.Angin sore masuk lewat celah tirai.Membawa aroma masakan dari rumah tetangga.Bawang goreng.Sambal yang sedang ditumis.Dan suara sendok beradu dengan wajan.Kamila masih duduk di sofa.Kakinya dilipat ke samping, tubuhnya sedikit bersandar. Matanya memandang keluar jendela ruang tengah.Langit mulai berubah gelap.Lampu-lampu rumah di gang satu per satu menyala.Arsen berdiri di dapur kecil yang menyatu dengan ruang tengah. Ia membuka lemari atas, melihat-lihat isinya.Ada beberapa gelas.Dua piring.Beberapa mangkuk kecil.Ia mengambil dua gelas lalu menuangkan air dari dispenser.Ketika ia kembali ke ruang tengah, Kamila masih memandang keluar.Arsen menyerahkan satu gelas padanya.“Minum dulu.”Kamila menerimanya.“Terima kasih.”Beberapa detik mereka hanya minum dalam diam.Tiba-tiba terdengar suara dari luar.Musi
Pelukan itu tidak lama.Namun cukup untuk membuat dada Kamila terasa hangat.Arsen memeluknya dengan satu tangan—karena tangan satunya masih menopang kepala kecil Dania yang tertidur di bahunya.Kamila memejamkan mata sebentar.Ia bisa mendengar detak jantung Arsen.Tenang.Teratur.Berbeda sekali dengan dulu, ketika setiap kali mereka dekat, selalu ada sesuatu yang tegang di antara mereka.Sekarang… rasanya lebih damai.Perlahan Kamila melepaskan pelukan itu.Ia mengusap ujung matanya yang basah.“Dania harus ditidurin dulu,” gumamnya pelan.Arsen mengangguk kecil.“Iya.”Ia berjalan kembali ke kamar kecil di samping ruang tengah.Langkahnya hati-hati.Seakan takut lantai rumah itu mengeluarkan suara keras.Kamar itu tidak besar.Namun cukup.Tempat tidur bayi berada di sudut dekat jendela. Tirai tipis berwarna putih menahan cahaya matahari agar tidak terlalu terang.Arsen menunduk sedikit.Ia menurunkan Dania ke kasur bayi dengan gerakan yang sangat pelan.Tangannya menahan punggung
Mobil hitam itu melaju pelan meninggalkan kontrakan Kamila. Mesinnya halus, hampir tidak terdengar. Hanya suara ban yang sesekali menyentuh kerikil jalan ketika mereka keluar dari area kontrakan. Di dalam mobil, suasana tenang.Terlalu tenang.Kamila duduk di kursi penumpang depan. Dania berada di kursi bayi di belakang, terikat sabuk dengan rapi. Bayi kecil itu tertidur . Napasnya kecil, teratur. Pagi-pagi sekali Arsen mengajaknya pergi entah kemana. Arsen menyetir tanpa banyak bicara.Tangannya mantap di setir.Sesekali matanya melirik kaca spion tengah… memastikan Dania masih tertidur nyaman.Matahari mulai terbit. Cahayanya masuk melalui kaca depan mobil, membuat bayangan lembut di wajah Arsen.Kamila menoleh sedikit.Ia memperhatikan laki-laki di sampingnya itu.Rahannya masih tegas seperti dulu. Tapi ada sesuatu yang berubah dalam cara ia menatap jalan. Lebih tenang. Lebih… hati-hati.Beberapa hari terakhir terasa seperti mimpi.Arsen yang ia kenal dulu berbeda dengan Arsen s
Mobil berhenti pelan di depan kontrakan kecil mereka. Tidak ada pagar tinggi. Tidak ada satpam yang membuka gerbang dengan hormat. Hanya gang sempit yang cukup untuk satu mobil lewat perlahan. Tembok-tembok rumah di kanan kiri berdiri rapat. Beberapa catnya pudar. Jemuran tetangga bergoyang pelan diterpa angin sore. Arsen mematikan mesin. Suara mesin yang tadinya berdengung perlahan menghilang, menyisakan sunyi yang hangat. Dania tertidur lagi. Kamila tidak langsung turun. Ia memandangi rumah kecil itu beberapa detik. Pintu kayunya yang sedikit mengelupas di sudut. Pot tanaman kecil di depan yang daunnya mulai menguning karena ia lupa menyiram kemarin. Rumah yang dulu sering membuatnya merasa kurang. Hari ini terasa berbeda. Arsen keluar lebih dulu, lalu membuka pintu sisi Kamila. Ia membungkuk sedikit, melepas sabuk kursi bayi dengan hati-hati. Gerakannya pelan. Telaten. Kamila memperhatikan tanpa bicara. Dulu Arsen bukan tipe laki-laki yang sabar dengan hal-hal kecil. I
Pagi itu berjalan lebih sibuk dari biasanya.Bukan karena ada yang mendesak.Bukan karena ada kabar buruk.Melainkan karena Arsen, dengan nada hati-hati yang hampir seperti orang meminta izin, berkata setelah sarapan:“Kita ke rumah Papi siang ini, ya.”Kalimat itu sederhana.Namun tangan Kamila yang sedang melipat kain kecil Dania sempat berhenti sepersekian detik.Rumah besar.Rumah keluarga Arsen.Tempat yang selama ini hanya ia dengar dalam potongan-potongan cerita. Tentang ruang tamu yang luas dengan langit-langit tinggi. Tentang tangga melingkar dengan pegangan kayu mengilap. Tentang halaman depan yang lebih mirip taman kecil daripada pekarangan rumah.Tentang standar.Tentang harapan.Tentang tatapan-tatapan yang dulu membuatnya merasa seperti tidak cukup.Kamila mengangkat wajahnya perlahan.“Sekarang?” tanyanya pelan.Arsen mengangguk. “Papi sudah beberapa kali minta ketemu Dania lagi. Cintya juga cerewet banget.”Nama itu membuat sesuatu bergerak pelan di dalam dada Kamila.







