Share

Bab 17

Penulis: Izhaha
last update Tanggal publikasi: 2026-05-29 12:33:00

Ruangan itu kembali sunyi. Arjune baru saja selesai menarik ritsleting gaun merah marun Villetta yang sudah kusut. Villetta hanya diam, menatap wajah Arjune dengan mata berkaca-kaca.

"Kenapa kamu menatapku sedih seperti itu, Letta?" tanya Arjune. Ibu jarinya bergerak lembut mengusap sudut mata istrinya.

Villetta menggeleng kecil, tetap bungkam.

Arjune beralih menatap gaun Villetta yang melonggar di bagian dada akibat ulahnya tadi. "Hmm, sepertinya kamu harus memakai pakaian baru.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 33

    Air mata Villeta hampir saja luruh, namun ia menahannya sekuat tenaga agar tidak jatuh ke atas kertas usang itu. Di halaman yang terkena noda tanah kering tersebut, tulisan tangan Arjune yang biasanya kaku dan tegas, tampak digoreskan dengan sedikit tergesa-gesa.Jika aku tidak pulang dari misi ini, berikan koordinat kabin ini kepada Villeta. Ini satu-satunya tempat aman yang tersisa. Katakan padanya, maaf karena aku tidak pernah menjadi suami yang normal. Tapi di tempat sekotor ini, hanya bayangan wajahnya yang membuatku ingin tetap hidup dan pulang.Di bawah paragraf pendek itu, ada sebuah coretan kecil yang tampak seperti tanggal. Itu adalah tanggal pernikahan mereka tahun lalu. Pria itu mengingatnya, bahkan di tengah kepungan bahaya yang mengancam nyawanya.Villeta perlahan menutup buku harian bersampul kulit itu. Dadanya terasa sesak, bukan lagi karena cemburu, melainkan karena rasa rindu yang mendalam."Pria kaku kalau sudah jatuh cinta memang agak mengerikan, kan?" Riana terkek

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 32

    "Kami juga sering menginap di sini, Villeta. Sepertinya, Arjune masih menyimpan barang-barangku di lemari kamar itu?"Villeta langsung mengepalkan tinju di balik saku sweater-nya. Rasa takut yang sejak kemarin menghimpit dadanya mendadak hilang, berganti jadi rasa panas yang membakar harga diri. Bisa-bisanya? Di tempat yang ia kira menjadi tempat persembunyian paling privat dan romantis untuk mereka berdua, ternyata perempuan lain sudah lebih dulu meninggalkan jejak?Riana masih berdiri di dekat kompor, bersandar dengan santai sembari memegang cangkir teh yang mengepulkan asap tipis. Wajahnya kelihatan segar dan tanpa dosa. Sama sekali tidak merasa bersalah setelah menjatuhkan bom yang merusak suasana pagi."Kamu bilang..." Villeta bersuara, nadanya bergetar menahan geram. "Barang-barangmu? Di kamar Mas Arjune?"Riana menoleh, lalu mengangguk sekilas dengan senyum ramah yang justru terlihat amat menyebalkan di mata Villeta. "Ah, iya. Kotak hitam di sudut bawah lemari. Arjune bilang ak

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 31

    Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kayu membangunkan Villeta. Sisi ranjang di sebelahnya sudah dingin. Rasa panik sempat menyergap dadanya, namun aroma kopi hitam yang kuat dan gurih dari arah dapur perlahan menenangkan debar jantungnya.Villeta bangkit, melilitkan jubah mandi satinnya, dan melangkah keluar kamar. Di dekat meja makan kayu yang sederhana, Arjune sudah rapi dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Luka tembak di lengan kirinya yang terperban tampak sedikit menonjol di balik kain, namun pria itu bergerak seolah rasa sakit sama sekali bukan halangan. Sebuah tas jinjing taktis berukuran sedang sudah tergeletak di atas meja, siap untuk dibawa.Arjune menoleh saat mendengar langkah kaki Villeta. Senyum tipis, namun hangat, terbit di wajahnya yang masih menyiratkan kelelahan."Pagi, Sayang," sapa Arjune, meletakkan cangkir kopi miliknya lalu berjalan mendekat untuk mengecup pelipis Villeta."Pagi, Mas," jawab Villeta pelan. Matanya tak bisa beralih

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 30

    "Dan aku menginginkanmu, Mas," balas Villeta dengan suara serak, sepasang netranya menatap langsung ke dalam manik mata kelam Arjune.Sebelum Arjune sempat bergerak untuk memosisikan tubuhnya di atas, Villeta menahan dada bidang pria itu. Kedua telapak tangan mungilnya menekan pundak kokoh Arjune. Arjune tertegun, menaikkan sebelah alisnya, memberikan celah bagi Villeta untuk bergera. Dengan satu gerakan berani, Villeta duduk tegak di atas perut berotot Arjune, mengungkung suaminya di bawah kendali penuh.Arjune mendongak, napasnya tertahan di tenggorokan. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyuman miring yang sarat akan tantangan. ‘’Apa ini?""Kenapa? Kamu keberatan kalau malam ini aku yang memegang kendali?" tanya Villeta."Sama sekali enggak," sahut Arjune, kedua tangannya diam di sisi tubuh, membiarkan Villeta melakukan apa pun yang dia inginkan. "Tunjukkan sama aku apa yang mau kamu lakukan."Tanpa ragu, Villeta meraih simpul tali jubah mandinya. Mengabaikan udara dingin

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 29

    Arjune melumat bibir Villeta dengan lapar, seolah menyalurkan seluruh rasa frustrasi, kemarahan pada dunia, dan rasa cintanya yang posesif. Tangan kokohnya merayap naik, mencengkeram tengkuk Villeta untuk memperdalam tautan mereka, sementara tangan lainnya memeluk pinggang sang istri begitu erat, memangkas jarak yang tersisa di antara tubuh mereka.Villeta mendesah pelan di sela tautan bibir mereka, meremas pundak kokoh Arjune seiring dengan detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan. Ia membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya dalam gairah yang membakar akal sehat, menyerahkan seluruh rasa aman dan hidupnya pada pria ini. Namun, di tengah ciuman yang kian menuntut dan gila itu, Arjune tiba-tiba merasakan tetesan air mata hangat Villeta yang mengalir ke sela bibir mereka. Rasa asin air mata itu seketika memukul kesadarannya, menghadirkan sebuah ketakutan terbesar yang belum pernah Arjune rasakan seumur hidupnya: ketakutan bahwa ia mungkin tidak akan bisa mendekap wanita ini seperti ini

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 28

    Arjune menatap layar ponselnya selama tiga detik, lalu mematikannya tanpa ekspresi. Informasi dari Roy adalah badai besar yang siap meruntuhkan karier dan statusnya. Namun, saat ia menunduk dan melihat Villeta yang masih gemetar di pelukannya, badai itu mendadak terasa seperti gerimis kecil yang tidak berarti.Dunia boleh saja berbalik memusuhi istrinya, tetapi dunia tidak tahu bahwa Arjune adalah benteng yang tidak akan pernah bisa ditembus."Mas..." Villeta berbisik lirih, merasakan ketegangan sesaat di tubuh suaminya. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu di luar?"Arjune menyimpan ponselnya kembali ke saku. Ia merengkuh tubuh Villeta, lalu menyusupkan satu lengannya di bawah lutut sang istri dan lengan lainnya menopang punggungnya. Dengan satu gerakan, ia mengangkat Villeta ke dalam gendongannya."Mas, tanganmu terluka! Jangan dipaksa, aku bisa jalan sendiri—" Villeta panik melihat darah Arjune yang kembali merembes. "Turunkan aku, Mas, kumohon. Luka itu bisa infeksi.""Diam dan pegangan,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status