Share

Bab 5

Author: Izhaha
last update publish date: 2026-04-09 06:03:52

Kalimat terakhir Arjune semalam masih menggema di kepala Villetta, berputar layaknya kaset rusak yang tak mau berhenti. Tetaplah di jangkauan saya.

Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat sekaligus jerat yang mencekik secara bersamaan. Lamunannya pecah saat suara bel pintu apartemen berbunyi nyaring. Begitu Villetta membuka pintu, sosok wanita paruh baya dengan riasan sempurna dan aura menuntut sudah berdiri di sana.

“Mama meneleponmu beberapa kali, kenapa kamu tidak mengangkatnya?” Tanpa menunggu izin, ibunya melangkah masuk, aroma parfum mahalnya langsung menjajah ruangan.

“Ponselku mati, Ma,” dusta Villetta sembari menutup pintu.

“Bukannya kemarin kamu harus datang ke klinik fertilitas?” Sang Ibu berbalik, menatap Villetta dengan sorot mata menilai yang tajam. Ia berjalan menuju ruang tamu, diikuti Villetta yang mengekor di belakangnya dengan perasaan waswas.

“Ah, Mama juga yang harus bersusah payah membawakan obat kesuburan untukmu.” Wanita itu meletakkan sebotol vitamin dan sebuah paperbag di atas meja.

Villetta meraih botol obat itu, namun perhatiannya teralihkan pada isi paperbag di sampingnya. Saat ia menarik isinya keluar, napas Villetta tertahan. Jemarinya menyentuh kain berenda putih yang begitu tipis dan transparan—bahkan benda itu nyaris tidak bisa disebut sebagai pakaian.

“Itu pakaian dinasmu malam ini,” ujar ibunya datar, seolah sedang membicarakan cuaca.

“Kenapa aku harus memakainya?” Suara Villetta bergetar, ia merasa harga dirinya baru saja dilempar ke lantai.

"Karena kamu tidak cukup cerdas untuk memikat pria seperti Arjune dengan kepalamu," tukas ibunya tenang namun tajam. "Gunakan apa yang tersisa darimu, Villetta. Berikan dia ahli waris, atau kamu akan selamanya menjadi istri pengganti yang tidak dianggap. Jangan sampai Papa kehilangan posisinya hanya karena kamu gagal menjadi seorang wanita."

Villetta meremas kain renda yang terasa panas di telapak tangannya. “Aku tidak mau memakainya. Aku bukan pelacur, Ma.”

Ibunya tertawa sinis, sebuah suara yang terdengar lebih tajam daripada belati. "Pelacur? Kamu itu istrinya, Letta. Menyenangkan suami adalah tugasmu. Jangan sok suci saat posisi keluarga kita sedang berada di ujung tanduk. Pakai itu, atau kamu akan melihat Papa kehilangan segalanya."

Lagi-lagi, seluruh beban tanggung jawab keluarga dibebankan pada pundak Villetta. Wanita itu tidak akan pernah tahu bahwa Villetta bukannya tidak pernah berusaha.

Pikiran Villetta melayang kembali ke malam pertama pernikahan mereka empat tahun lalu. Saat itu, ia mencoba menepis rasa takutnya, memberanikan diri untuk mendekat dan melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Ia sudah menyiapkan hati untuk menjadi milik Arjune sepenuhnya.

Namun, Arjune justru memberikan penolakan yang lebih menghancurkan daripada makian. Pria itu menatapnya dengan pandangan sedingin es, menatap tanpa minat saat Villetta sudah bertelanjang di hadapannya. Tanpa sepatah kata pun, Arjune berbalik dan kembali ke kamarnya sendiri, meninggalkan Villetta yang terpaku dalam kehinaan.

Rasa malu itu masih terasa panas, membakar kulitnya setiap kali ingatan itu muncul. Bagaimana mungkin ibunya berharap ada keajaiban di rahimnya, sementara suaminya sendiri menganggap tubuh Villetta tak lebih dari sekadar perabot ruangan yang tak kasat mata?

"Dengar, Letta," ibunya kembali berujar sembari merapikan tas mahalnya. "Arjune itu pria normal. Tidak ada pria yang bisa menolak jika disuguhi keindahan seperti ini. Gunakan kepalamu, bukan hanya air matamu."

Villetta hanya terdiam, meremas kain renda transparan di pangkuannya hingga buku-bukunya memutih. Ia ingin berteriak bahwa Arjune yang ia kenal bukanlah pria normal yang bisa ditaklukkan hanya dengan selembar kain tipis. Arjune adalah pria yang lebih suka mengurungnya daripada memeluknya di atas ranjang.

"Ingat," ibunya berhenti di ambang pintu untuk memberikan ultimatum terakhir. "Malam ini kalian tidur sekamar. Jangan buat Mama kecewa lagi."

Pintu tertutup, meninggalkan Villetta dalam kesunyian. Ia menatap pakaian itu dengan rasa jijik yang meluap.

Villeta tidak sanggup menyimpan sesak itu sendirian lagi. Begitu banyak kejadian yang menghantam hidupnya akhir-akhir ini—rencana Arjune yang tiba-tiba hingga tekanan dari sang Mama—membuatnya perlu ruang bernapas sejenak. Villetta melarikan diri ke apartemen Mira, satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu menjadi "Nyonya Arjune".

Villetta berdiri di depan pintu apartemen sahabatnya dengan napas yang memburu. Tangannya bergetar saat menekan bel berkali-kali, menciptakan bunyi nyaring yang memecah keheningan lorong. Begitu pintu terbuka, ia langsung menghambur, menyambar dan memeluk Mira dengan erat seolah-olah dunianya baru saja runtuh.

Mira terkesiap, nyaris kehilangan keseimbangan saat menerima beban tubuh Villetta. Raut panik langsung menghiasi wajahnya.

"Letta? Lo ke mana aja sih?!" seru Mira dengan nada tinggi yang dipenuhi kekhawatiran.

Villetta melepaskan pelukannya perlahan, wajahnya tampak kuyu dan berantakan. Ia tidak menjawab, hanya menatap Mira dengan tatapan kosong.

"Lo nggak masuk kerja berhari-hari," lanjut Mira sembari menarik Villetta masuk ke dalam. "Gue hubungi berkali-kali tapi nggak pernah lo angkat. Gue nyaris lapor polisi, tahu nggak!"

Tanpa menunggu jawaban, Mira langsung menarik Villetta masuk ke dalam apartemennya, menutup pintu rapat-rapat seolah ingin melindungi sahabatnya dari dunia luar. Mira memegang bahu Villetta, lalu tatapannya terkunci pada luka yang masih memerah di kening wanita itu.

“Letta, lo kenapa? Kok nggak bilang gue sama sekali?” cecar Mira dengan suara bergetar karena cemas.

Villetta terdiam sejenak. Sebenarnya, ia ingin sekali menumpahkan segalanya—tentang pernikahannya Arjune, tentang tekanan ibunya, dan tentang ledakan tempo hari. Namun, ia sadar Mira tidak pernah tahu betapa sulitnya realitas yang ia jalani. Ia belum siap menyeret sahabatnya ke dalam kerumitan hidupnya.

“Gue nggak apa-apa, Mir,” sahut Villetta pelan sembari mengusap keningnya yang berdenyut. “Ini... gue cuma jatuh di kamar mandi tadi pagi. Biasalah, gue emang ceroboh.”

Mira menarik napas panjang, mencoba meredakan kepanikan yang masih tersisa. Ia menuntun Villetta duduk di sofa ruang tamu yang dipenuhi tumpukan kertas kerja.

"Lo bener-bener bikin jantungan, Letta. Tahu nggak, tadi orang kantor ngeluh mulu di kantor gara-gara lo nggak ada? Dia bingung nyariin draf yang harusnya lo setor," ujar Mira sembari mondar-mandir merapikan meja agar Villetta bisa duduk nyaman.

Villetta tidak menjawab. Ia justru meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah botol alkohol mahal.

"Lo mau coba minum nggak?" Villetta memamerkan botol itu dengan bangga, seolah sedang menunjukkan rampasan perang. Ia menemukan minuman itu saat mencari barang-barangnya yang mulai dipindahkan ke kamar Arjune.

Tanpa ragu, ia menuangkan cairan ambar itu ke dalam gelas. Ia sama sekali tidak peduli jika Arjune marah karena koleksi pribadinya dibuka tanpa izin.

Mira melongo menatap botol itu. "Buset, Letta!" serunya tertahan. Tapi ucapannya berbeda dengan perilakunya, Mira justru meneguk perlahan cairan itu, menikmati sensasi hangat yang melewati kerongkongannya. "Wahh..." Ia tampak takjub, matanya berbinar merasakan kualitas minuman kelas atas tersebut.

Villetta hanya tertawa hambar melihat tingkah temannya. Ia menuangkan gelas kedua untuk dirinya sendiri, membiarkan rasa pahitnya itu meluruhkan sedikit demi sedikit ketegangan yang menyiksa kepalanya.

Mira menatap layar televisi dengan binar kagum yang tak disembunyikan. "Gila ya, Arjune ini. Masih muda banget tapi otaknya encer parah. Nggak heran sih dia udah masuk di kesekretariatan presiden," gumamnya sembari menopang dagu. "Ganteng, cerdas, berkuasa... paket lengkap banget nggak sih?"

Villetta hanya bisa memutar bola matanya jengah mendengar bualan itu. Seandainya Mira tahu kalau pria "paket lengkap" itu aslinya punya hobi mengatur setiap embusan napas orang di rumah layaknya sedang menyusun draf negara.

"Yah, tapi nggak aneh juga sih," lanjut Mira dengan nada sedikit menyindir, suaranya merendah. "Keluarga Yudanegara kan emang kayak gitu. Mereka kayak pegang separuh kunci politik di negara ini. Apa sih yang nggak bisa mereka dapet?"

Villetta menatap layar itu enggan menanggapi, lalu ia bertanya pelan, "Kalau soal ledakan... ada beritanya nggak?"

Mira menatap sahabatnya dengan bingung. "Ledakan? Ledakan apaan? Nggak ada berita ledakan, Letta. Cuma gosip artis.”

Villetta tertegun. Ia heran bagaimana mungkin ledakan sebesar yang ia saksikan—yang hampir merenggut nyawanya—sama sekali tidak muncul di media.

Apakah suaminya memang seberkuasa itu hingga mampu menghapus sebuah tragedi dari muka publik dalam sekejap?

Mulai penasaran. Ia segera membuka mesin pencarian di ponselnya, mengetikkan kata kunci tentang ledakan yang ia saksikan dengan mata kepala sendiri. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada laporan kepolisian, tidak ada unggahan saksi mata di media sosial, bahkan tidak ada satu pun portal berita yang menyinggung insiden tersebut.

Pikirannya mulai berputar liar. Apakah kasus ini sengaja ditutup demi menjaga kestabilan negara? Padahal, ia ingat betul ada banyak pejabat penting yang hadir di lokasi saat itu. Villetta merasa ada variabel besar yang hilang dari logikanya, sebuah teka-teki yang sengaja dihapus oleh tangan-tangan berkuasa.

Lamunannya terhenti saat ponsel di genggamannya bergetar.

"Ah, sial!" umpat Villetta pelan. Jantungnya hampir copot saat melihat nama Arjune muncul di layar.

‘Viletta, dimana kamu?’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 59

    Pria berparang itu menurunkan senjatanya beberapa sentimeter. Matanya menyipit, menatap Arjune seolah sedang berusaha menemukan celah dari sikap tenang pria tersebut."Menyerah?" Nada suaranya terdengar tidak percaya. "Segampang itu?"Arjune mengangkat kedua tangannya sedikit lebih tinggi. "Saya datang ke sini untuk melihat keadaan, bukan berperang dengan warga sendiri."Diana yang berdiri di sampingnya melirik cepat. Warga sendiri? Entah kenapa, kalimat itu terasa aneh keluar dari mulut Arjune. Pria yang selama ini bahkan tampak tidak peduli pada sebagian besar orang di sekitarnya, tiba-tiba menyebut mereka sebagai warga sendiri."Jangan percaya, Ketua!" teriak seorang pria dari kerumunan. "Itu cuma taktiknya saja!"Beberapa pria lain ikut mengangkat senjata mereka. Suasana yang sempat mereda kembali menegang. Diana menahan napas. Satu kesalahan kecil saja, dan keadaan bisa berubah menjadi kekacauan yang fatal.Pria yang dipanggil Ketua mengangkat satu tangan. "Diam." Suaranya tidak

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 58

    Diana berjalan menyusuri jalan setapak yang licin di lereng bukit, mengikuti langkah kecil anak laki-laki di depan mereka yang sesekali menoleh dengan gelisah.Di sampingnya, Arjune melangkah tenang. Tanah merah yang menempel di pantofel kulit mahalnya sama sekali tidak mengurangi ketegasan setiap langkah pria itu.Melihat ketenangan tersebut, dada Diana justru semakin bergemuruh.Apa dia benar-benar tidak menyadari kalau ini mencurigakan? Atau... memang sengaja membiarkan dirinya masuk ke dalam jebakan?"Apa sebenarnya yang sedang Anda rencanakan, Pak Arjune?" tanyanya akhirnya. Suaranya sengaja ditekan agar tidak terdengar oleh anak yang berjalan beberapa meter di depan mereka.Arjune tetap menatap jalan setapak di hadapannya."Rencana apa?"Diana menghentikan langkahnya. "Anda bukan orang bodoh. Anda pasti tahu anak itu sedang memancing kita."Arjune ikut berhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Diana yang berdiri beberapa undakan di bawahnya.Angin perbukitan menerbangkan rambut Di

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 57

    “Pak Arjune beneran akan membayar saya, kan?” bisik Diana, mencondongkan tubuhnya ke arah Yanuar sembari melirik waspada ke arah Arjune yang sedang berbicara serius dengan kepala desa di sudut balai warga.Yanuar menaikkan sebelah alisnya, ikut memiringkan posisi duduknya agar suaranya yang rendah tidak memantul ke sekitar mereka. “Tentu saja. Kenapa? Apa Nona takut kami tipu?”“Tidak,” sahut Diana cepat, meremas pelan tali tas selempangnya yang sudah agak pudar. “Saya cuma takut kalian mendadak lupa.”Yanuar tidak bisa menahan senyum tipis melihat binar cemas sekaligus penuh harap di bola mata wanita itu. Sikap blak-blakan Diana soal uang justru terasa menyegarkan di matanya. “Kalau begitu, saya minta nomor rekening Anda. Saya akan urus pengirimannya sekarang juga.”Mendengar kata 'sekarang juga', senyum Diana langsung merekah sempurna. Wajah lelahnya akibat kurang tidur seketika menguap, digantikan binar semringah yang tidak bisa disembunyikan. Dengan gerakan kilat, ia merogoh tasny

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 56

    “Kamu tahu? Selama tiga tahun ini, aku selalu mengutuk setiap malam yang turun hujan.”Suara bariton Arjune mengalun rendah, memecah keheningan fajar yang dingin. Tatapannya lurus menembus langit-langit kamar yang remang. Hujan di luar telah sepenuhnya berhenti, kini hanya menyisakan bunyi teratur dari sisa tetesan air yang jatuh dari ujung atap penginapan.Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, pria itu terbangun tanpa sentakan nafas memburu akibat mimpi buruk. Tidak ada kobaran api yang membakar ingatan. Tidak ada hamparan lautan hitam yang menelan Villeta. Tidak ada pula cekikan rasa bersalah yang biasa memaksanya terjaga di tengah malam buta.Perlahan, Arjune memiringkan kepalanya.Di sisi lain ranjang yang sama, Diana masih tertidur pulas. Tubuh mungilnya meringkuk erat di balik selimut tebal, memunggunginya. Rambut panjang wanita itu terurai berantakan, tersebar menutupi sebagian permukaan bantal. Kepanikan konyol akibat seekor kecoa terbang semalam tampaknya benar-ben

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 55

    “Pergi!”Arjune refleks menarik tubuhnya menjauh begitu Diana berteriak dengan nada panik. Kerutan bingung muncul di dahinya. Ia sempat mengira wanita itu akhirnya akan menangis atau mengakui sesuatu.Namun, yang dilihatnya justru wajah Diana yang memucat drastis. Kedua matanya membelalak ngeri, bukan menatap dirinya, melainkan ke arah bahu kirinya."Menyingkir!" teriak Diana histeris.Sebelum Arjune sempat bereaksi, Diana meraih sandal karetnya yang tergeletak di dekat ranjang.Plak!Sandal itu menghantam tepat di bahu kiri Arjune—persis di atas perban lukanya."Akh!" Arjune meringis sambil memegang bahunya. "Kamu ini apa-ap—"Kalimatnya terputus.Seekor kecoak terbang melesat dari bahunya, mengepakkan sayap dengan suara berdengung yang membuat bulu kuduk meremang.Diana memekik."Kecoak!"Dalam sekejap, seluruh keberaniannya menghilang.Ia berlari menjauh tanpa arah, sementara serangga itu justru berputar-putar mengikuti pergerakannya."Aaa! Pergi! Jangan dekat-dekat!"Melihat kecoa

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 54

    Malam semakin larut, namun atmosfer di dalam kamar penginapan tua itu justru terasa semakin memanas. Suara hantaman hujan deras pada kaca jendela kayu yang berderit menjadi satu-satunya latar belakang yang memecah keheningan mencekam di antara dua manusia tersebut.Diana memaksakan tawa kecil, meski kedengarannya kaku di telinganya sendiri. Ia buru-buru memundurkan kepalanya sedikit, berusaha mencari pasokan oksigen yang mendadak terasa menipis di sekitar mereka.“V-Villeta?” Ia menggeleng pelan, mencoba sok santai seolah nama itu hanyalah sekadar angin lalu. “Pak Arjune salah orang, ah. Nama saya Diana. Saya rasa Anda ini terlalu merindukan mantan istri Anda sampai-sampai berhalusinasi melihat wajahnya.”“Berhalusinasi, ya?”Arjune tidak langsung menjauh. Pria itu justru menyilangkan kedua tangannya di depan dada tegapnya yang masih bertelanjang. Di bawah temaram lampu kamar yang benderang sebelum badai semakin mengamuk, perban yang membalut lukanya tampak bergerak naik-turun seiring

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 8

    "Apa yang kamu lakukan di pelabuhan, Letta?"Haruskah ia jujur? Jika rumor pengkhianatan itu benar, ia harus bagaimana? Tidak, Arjune tidak boleh tahu tentang tujuan aslinya sekarang. Ia harus menguji apakah pria ini bisa dipercaya atau tidak."Distrik sembilan bukan tempat biasa yang bisa kamu kun

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 6

    Sisa-sisa alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya bekerja lebih baik daripada dukungan apa pun yang pernah ia terima. Rasa hangat itu membakar keraguan Villetta, mengubah ketakutan yang biasanya melumpuhkan menjadi sebuah keberanian yang sembrono. Ruang tengah yang biasanya terlihat megah kin

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 4

    "...lakukan dengan bersih. Saya tidak mau ada jejak yang tersisa."Suara Arjune terdengar dari arah balkon, memecah keheningan kamar. Villetta mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun rasa nyeri di kepalanya berdenyut hebat. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di balik selimut."Pastikan di

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 3

    Lampu sorot dari deretan kamera paparazzi langsung menyambar ketika sedan hitam mewah mereka berhenti tepat di depan lobi Amanpuri Grand Ballroom. Arjune turun lebih dulu, membetulkan letak kancing jasnya dengan gerakan kaku yang sempurna sebelum berputar mengulurkan tangan. Kilatan blitz semakin m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status