تسجيل الدخولKalimat terakhir Arjune semalam masih menggema di kepala Villetta, berputar layaknya kaset rusak yang tak mau berhenti. Tetaplah di jangkauan saya.
Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat sekaligus jerat yang mencekik secara bersamaan. Lamunannya pecah saat suara bel pintu apartemen berbunyi nyaring. Begitu Villetta membuka pintu, sosok wanita paruh baya dengan riasan sempurna dan aura menuntut sudah berdiri di sana. “Mama meneleponmu beberapa kali, kenapa kamu tidak mengangkatnya?” Tanpa menunggu izin, ibunya melangkah masuk, aroma parfum mahalnya langsung menjajah ruangan. “Ponselku mati, Ma,” dusta Villetta sembari menutup pintu. “Bukannya kemarin kamu harus datang ke klinik fertilitas?” Sang Ibu berbalik, menatap Villetta dengan sorot mata menilai yang tajam. Ia berjalan menuju ruang tamu, diikuti Villetta yang mengekor di belakangnya dengan perasaan waswas. “Ah, Mama juga yang harus bersusah payah membawakan obat kesuburan untukmu.” Wanita itu meletakkan sebotol vitamin dan sebuah paperbag di atas meja. Villetta meraih botol obat itu, namun perhatiannya teralihkan pada isi paperbag di sampingnya. Saat ia menarik isinya keluar, napas Villetta tertahan. Jemarinya menyentuh kain berenda putih yang begitu tipis dan transparan—bahkan benda itu nyaris tidak bisa disebut sebagai pakaian. “Itu pakaian dinasmu malam ini,” ujar ibunya datar, seolah sedang membicarakan cuaca. “Kenapa aku harus memakainya?” Suara Villetta bergetar, ia merasa harga dirinya baru saja dilempar ke lantai. "Karena kamu tidak cukup cerdas untuk memikat pria seperti Arjune dengan kepalamu," tukas ibunya tenang namun tajam. "Gunakan apa yang tersisa darimu, Villetta. Berikan dia ahli waris, atau kamu akan selamanya menjadi istri pengganti yang tidak dianggap. Jangan sampai Papa kehilangan posisinya hanya karena kamu gagal menjadi seorang wanita." Villetta meremas kain renda yang terasa panas di telapak tangannya. “Aku tidak mau memakainya. Aku bukan pelacur, Ma.” Ibunya tertawa sinis, sebuah suara yang terdengar lebih tajam daripada belati. "Pelacur? Kamu itu istrinya, Letta. Menyenangkan suami adalah tugasmu. Jangan sok suci saat posisi keluarga kita sedang berada di ujung tanduk. Pakai itu, atau kamu akan melihat Papa kehilangan segalanya." Lagi-lagi, seluruh beban tanggung jawab keluarga dibebankan pada pundak Villetta. Wanita itu tidak akan pernah tahu bahwa Villetta bukannya tidak pernah berusaha. Pikiran Villetta melayang kembali ke malam pertama pernikahan mereka empat tahun lalu. Saat itu, ia mencoba menepis rasa takutnya, memberanikan diri untuk mendekat dan melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Ia sudah menyiapkan hati untuk menjadi milik Arjune sepenuhnya. Namun, Arjune justru memberikan penolakan yang lebih menghancurkan daripada makian. Pria itu menatapnya dengan pandangan sedingin es, menatap tanpa minat saat Villetta sudah bertelanjang di hadapannya. Tanpa sepatah kata pun, Arjune berbalik dan kembali ke kamarnya sendiri, meninggalkan Villetta yang terpaku dalam kehinaan. Rasa malu itu masih terasa panas, membakar kulitnya setiap kali ingatan itu muncul. Bagaimana mungkin ibunya berharap ada keajaiban di rahimnya, sementara suaminya sendiri menganggap tubuh Villetta tak lebih dari sekadar perabot ruangan yang tak kasat mata? "Dengar, Letta," ibunya kembali berujar sembari merapikan tas mahalnya. "Arjune itu pria normal. Tidak ada pria yang bisa menolak jika disuguhi keindahan seperti ini. Gunakan kepalamu, bukan hanya air matamu." Villetta hanya terdiam, meremas kain renda transparan di pangkuannya hingga buku-bukunya memutih. Ia ingin berteriak bahwa Arjune yang ia kenal bukanlah pria normal yang bisa ditaklukkan hanya dengan selembar kain tipis. Arjune adalah pria yang lebih suka mengurungnya daripada memeluknya di atas ranjang. "Ingat," ibunya berhenti di ambang pintu untuk memberikan ultimatum terakhir. "Malam ini kalian tidur sekamar. Jangan buat Mama kecewa lagi." Pintu tertutup, meninggalkan Villetta dalam kesunyian. Ia menatap pakaian itu dengan rasa jijik yang meluap. Villeta tidak sanggup menyimpan sesak itu sendirian lagi. Begitu banyak kejadian yang menghantam hidupnya akhir-akhir ini—rencana Arjune yang tiba-tiba hingga tekanan dari sang Mama—membuatnya perlu ruang bernapas sejenak. Villetta melarikan diri ke apartemen Mira, satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu menjadi "Nyonya Arjune". Villetta berdiri di depan pintu apartemen sahabatnya dengan napas yang memburu. Tangannya bergetar saat menekan bel berkali-kali, menciptakan bunyi nyaring yang memecah keheningan lorong. Begitu pintu terbuka, ia langsung menghambur, menyambar dan memeluk Mira dengan erat seolah-olah dunianya baru saja runtuh. Mira terkesiap, nyaris kehilangan keseimbangan saat menerima beban tubuh Villetta. Raut panik langsung menghiasi wajahnya. "Letta? Lo ke mana aja sih?!" seru Mira dengan nada tinggi yang dipenuhi kekhawatiran. Villetta melepaskan pelukannya perlahan, wajahnya tampak kuyu dan berantakan. Ia tidak menjawab, hanya menatap Mira dengan tatapan kosong. "Lo nggak masuk kerja berhari-hari," lanjut Mira sembari menarik Villetta masuk ke dalam. "Gue hubungi berkali-kali tapi nggak pernah lo angkat. Gue nyaris lapor polisi, tahu nggak!" Tanpa menunggu jawaban, Mira langsung menarik Villetta masuk ke dalam apartemennya, menutup pintu rapat-rapat seolah ingin melindungi sahabatnya dari dunia luar. Mira memegang bahu Villetta, lalu tatapannya terkunci pada luka yang masih memerah di kening wanita itu. “Letta, lo kenapa? Kok nggak bilang gue sama sekali?” cecar Mira dengan suara bergetar karena cemas. Villetta terdiam sejenak. Sebenarnya, ia ingin sekali menumpahkan segalanya—tentang pernikahannya Arjune, tentang tekanan ibunya, dan tentang ledakan tempo hari. Namun, ia sadar Mira tidak pernah tahu betapa sulitnya realitas yang ia jalani. Ia belum siap menyeret sahabatnya ke dalam kerumitan hidupnya. “Gue nggak apa-apa, Mir,” sahut Villetta pelan sembari mengusap keningnya yang berdenyut. “Ini... gue cuma jatuh di kamar mandi tadi pagi. Biasalah, gue emang ceroboh.” Mira menarik napas panjang, mencoba meredakan kepanikan yang masih tersisa. Ia menuntun Villetta duduk di sofa ruang tamu yang dipenuhi tumpukan kertas kerja. "Lo bener-bener bikin jantungan, Letta. Tahu nggak, tadi orang kantor ngeluh mulu di kantor gara-gara lo nggak ada? Dia bingung nyariin draf yang harusnya lo setor," ujar Mira sembari mondar-mandir merapikan meja agar Villetta bisa duduk nyaman. Villetta tidak menjawab. Ia justru meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah botol alkohol mahal. "Lo mau coba minum nggak?" Villetta memamerkan botol itu dengan bangga, seolah sedang menunjukkan rampasan perang. Ia menemukan minuman itu saat mencari barang-barangnya yang mulai dipindahkan ke kamar Arjune. Tanpa ragu, ia menuangkan cairan ambar itu ke dalam gelas. Ia sama sekali tidak peduli jika Arjune marah karena koleksi pribadinya dibuka tanpa izin. Mira melongo menatap botol itu. "Buset, Letta!" serunya tertahan. Tapi ucapannya berbeda dengan perilakunya, Mira justru meneguk perlahan cairan itu, menikmati sensasi hangat yang melewati kerongkongannya. "Wahh..." Ia tampak takjub, matanya berbinar merasakan kualitas minuman kelas atas tersebut. Villetta hanya tertawa hambar melihat tingkah temannya. Ia menuangkan gelas kedua untuk dirinya sendiri, membiarkan rasa pahitnya itu meluruhkan sedikit demi sedikit ketegangan yang menyiksa kepalanya. Mira menatap layar televisi dengan binar kagum yang tak disembunyikan. "Gila ya, Arjune ini. Masih muda banget tapi otaknya encer parah. Nggak heran sih dia udah masuk di kesekretariatan presiden," gumamnya sembari menopang dagu. "Ganteng, cerdas, berkuasa... paket lengkap banget nggak sih?" Villetta hanya bisa memutar bola matanya jengah mendengar bualan itu. Seandainya Mira tahu kalau pria "paket lengkap" itu aslinya punya hobi mengatur setiap embusan napas orang di rumah layaknya sedang menyusun draf negara. "Yah, tapi nggak aneh juga sih," lanjut Mira dengan nada sedikit menyindir, suaranya merendah. "Keluarga Yudanegara kan emang kayak gitu. Mereka kayak pegang separuh kunci politik di negara ini. Apa sih yang nggak bisa mereka dapet?" Villetta menatap layar itu enggan menanggapi, lalu ia bertanya pelan, "Kalau soal ledakan... ada beritanya nggak?" Mira menatap sahabatnya dengan bingung. "Ledakan? Ledakan apaan? Nggak ada berita ledakan, Letta. Cuma gosip artis.” Villetta tertegun. Ia heran bagaimana mungkin ledakan sebesar yang ia saksikan—yang hampir merenggut nyawanya—sama sekali tidak muncul di media. Apakah suaminya memang seberkuasa itu hingga mampu menghapus sebuah tragedi dari muka publik dalam sekejap? Mulai penasaran. Ia segera membuka mesin pencarian di ponselnya, mengetikkan kata kunci tentang ledakan yang ia saksikan dengan mata kepala sendiri. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada laporan kepolisian, tidak ada unggahan saksi mata di media sosial, bahkan tidak ada satu pun portal berita yang menyinggung insiden tersebut. Pikirannya mulai berputar liar. Apakah kasus ini sengaja ditutup demi menjaga kestabilan negara? Padahal, ia ingat betul ada banyak pejabat penting yang hadir di lokasi saat itu. Villetta merasa ada variabel besar yang hilang dari logikanya, sebuah teka-teki yang sengaja dihapus oleh tangan-tangan berkuasa. Lamunannya terhenti saat ponsel di genggamannya bergetar. "Ah, sial!" umpat Villetta pelan. Jantungnya hampir copot saat melihat nama Arjune muncul di layar. ‘Viletta, dimana kamu?’Sisa-sisa alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya bekerja lebih baik daripada dukungan apa pun yang pernah ia terima. Rasa hangat itu membakar keraguan Villetta, mengubah ketakutan yang biasanya melumpuhkan menjadi sebuah keberanian yang sembrono. Ruang tengah yang biasanya terlihat megah kini terasa gelap dan mengancam, hanya menyisakan sorot lampu kota dari balik jendela besar yang menembus kegelapan. Di tengah kesunyian itu, Arjune berdiri menghadap kaca, membelakangi ruangan. Ia masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang Villetta lihat di televisi—citra pria sempurna yang dipuja negeri—namun dari punggungnya saja, Villetta bisa merasakan aura yang jauh lebih pekat dan berbahaya. “Berapa lama lagi kamu menguji kesabaran saya?” Pria itu berbalik, menatap Villetta dengan sorot mata yang mampu membekukan aliran darah. Villetta, yang kepalanya masih berdenyut dan langkahnya tidak stabil, justru tertawa miris. Alkohol dari botol koleksi Arjune yang ia tenggak di tempat Mira
Kalimat terakhir Arjune semalam masih menggema di kepala Villetta, berputar layaknya kaset rusak yang tak mau berhenti. Tetaplah di jangkauan saya. Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat sekaligus jerat yang mencekik secara bersamaan. Lamunannya pecah saat suara bel pintu apartemen berbunyi nyaring. Begitu Villetta membuka pintu, sosok wanita paruh baya dengan riasan sempurna dan aura menuntut sudah berdiri di sana.“Mama meneleponmu beberapa kali, kenapa kamu tidak mengangkatnya?” Tanpa menunggu izin, ibunya melangkah masuk, aroma parfum mahalnya langsung menjajah ruangan.“Ponselku mati, Ma,” dusta Villetta sembari menutup pintu.“Bukannya kemarin kamu harus datang ke klinik fertilitas?” Sang Ibu berbalik, menatap Villetta dengan sorot mata menilai yang tajam. Ia berjalan menuju ruang tamu, diikuti Villetta yang mengekor di belakangnya dengan perasaan waswas.“Ah, Mama juga yang harus bersusah payah membawakan obat kesuburan untukmu.” Wanita itu meletakkan sebotol vitamin dan
"...lakukan dengan bersih. Saya tidak mau ada jejak yang tersisa."Suara Arjune terdengar dari arah balkon, memecah keheningan kamar. Villetta mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun rasa nyeri di kepalanya berdenyut hebat. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di balik selimut."Pastikan dia tidak bisa bicara lagi. Jika dia melawan, lenyapkan saja."Villetta tersentak di balik kelopak matanya yang masih terpejam. Lenyapkan? Siapa yang sedang Arjune bicarakan dengan nada sedingin es itu?"Ya. Kabari saya jika tugas itu sudah selesai."Suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari balkon. Villetta segera mengatur ritme napasnya, berpura-pura masih terlelap meski jantungnya kini beradu liar. Sebuah tangan yang dingin tiba-tiba menyentuh keningnya dengan gerakan yang sangat pelan."Nghh..." Villetta mengerang pelan, sengaja membuka matanya dengan sandiwara yang payah."Sudah bangun?" tanya Arjune datar.Villetta menatap suaminya yang kini sudah mengenakan kemeja rapi . "Mas Arjun
Lampu sorot dari deretan kamera paparazzi langsung menyambar ketika sedan hitam mewah mereka berhenti tepat di depan lobi Amanpuri Grand Ballroom. Arjune turun lebih dulu, membetulkan letak kancing jasnya dengan gerakan kaku yang sempurna sebelum berputar mengulurkan tangan. Kilatan blitz semakin menggila saat kaki Villetta yang terbalut gaun sutra biru belahan tinggi menyentuh lantai."Ikuti langkah saya, Letta," bisik Arjune rendah, memberikan tekanan kecil pada jemari dingin istrinya."Pak Arjune! Boleh diperkenalkan siapa wanita di sebelah Anda?" teriak salah satu jurnalis dari balik barikade.Arjune mengabaikan pertanyaan itu, menatap lurus ke depan dengan dagu terangkat kokoh. Selama empat tahun pernikahan dingin mereka, ini adalah kali pertama Arjune membawanya kehadapan publik."Jangan tegang, Letta. Angkat wajahmu dan tersenyum," bisik Arjune tepat di telinganya."Ba-baik," sahut Villetta terbata, nyaris seperti embusan angin.Jemari panjang pria itu beralih melingkar posesif di p
Villetta terjaga dengan perasaan seolah seluruh sarafnya baru saja disengat listrik. Arjune, suami pajangannya itu tidak mengizinkan dirinya untuk pergi tanpa sepengetahuan. Sejak kapan pria itu perlu peduli dengan dirinya? Viletta membuka mata, bukan karena alarm yang memekakkan telinga, bukan juga karena suara ketukan pintu dari asisten rumah tangga yang biasanya membawakan teh hangat pagi hari. Alih-alih rutinitas yang menenangkan, ia disambut oleh kehadiran Arjune yang terasa tidak pada tempatnya di dalam kamarnya sendiri. Mata Villetta terbelalak, menangkap sosok Arjune yang duduk di kursi dekat jendela. Tirai hanya terbuka setengah, menciptakan kontras cahaya yang dramatis, namun itu cukup untuk memperlihatkan posisi pria itu yang kaku, hampir menyerupai siaga tempur. Satu tangannya menopang dagu, sementara tatapannya terkunci lurus ke arah ranjang tempat Villetta baru saja membuka mata. Arjune belum mengganti pakaian semalam, kemeja putihnya yang sedikit kusut masih mel
"Buka baju kamu." Perintah itu memotong kesunyian malam. Villetta, yang baru saja keluar dari kamar mandi, mematung di depan meja rias. Jemarinya yang tengah mengencangkan simpul camisole tipisnya mendadak kaku. Jari-jarinya mendingin seketika. Ia tidak berani berbalik, tapi ia bisa merasakan kehadiran pria itu tepat di belakang punggungnya. "June?" Letta berbisik, suaranya hampir tidak terdengar. "Saya bilang buka, Viletta. Sekarang." Suara itu lebih tinggi dari biasanya. Ada getaran serak yang tidak wajar di sana. Letta memberanikan diri berputar pelan, jemarinya meremas pinggiran meja marmer di belakangnya. Matanya membelalak saat melihat penampilan Arjune Harisidharta Yudanegara. Pria yang biasanya tampil tanpa cela sebagai anak tunggal Presiden—si perfeksionis yang rambutnya tak pernah sehelai pun berantakan—kini tampak kacau. Wajahnya pucat. Jas hitam mahalnya entah dibuang ke mana. Kemeja putihnya sudah terlepas dari sabuk, dasinya menggantung awut-awutan dengan s







