LOGINEmpat tahun pernikahan, tak seorang pun tahu siapa istri asli Arjune Harisidharta, putra presiden yang dikenal sempurna, dingin, dan mustahil disentuh skandal. Nama Viletta memang tercatat sah sebagai istrinya, tetapi keberadaannya disembunyikan dan Arjune tak pernah menyentuhnya. Sampai teror itu mengaku menculik istri rahasianya. "Lepas bajumu," perintah Arjune sambil melangkah maju sampai ujung sepatunya mengunci pergerakan Letta di depan meja rias. "Jika benar ada tanda di sana. Maka malam ini juga, saya sendiri yang akan menghapus jejak bajingan itu dari tubuh kamu sampai bersih."."
View More"Buka baju kamu."
Perintah itu memotong kesunyian malam. Villetta, yang baru saja keluar dari kamar mandi, mematung di depan meja rias. Jemarinya yang tengah mengencangkan simpul camisole tipisnya mendadak kaku. Jari-jarinya mendingin seketika. Ia tidak berani berbalik, tapi ia bisa merasakan kehadiran pria itu tepat di belakang punggungnya. "June?" Letta berbisik, suaranya hampir tidak terdengar. "Saya bilang buka, Viletta. Sekarang." Suara itu lebih tinggi dari biasanya. Ada getaran serak yang tidak wajar di sana. Letta memberanikan diri berputar pelan, jemarinya meremas pinggiran meja marmer di belakangnya. Matanya membelalak saat melihat penampilan Arjune Harisidharta Yudanegara. Pria yang biasanya tampil tanpa cela sebagai anak tunggal Presiden—si perfeksionis yang rambutnya tak pernah sehelai pun berantakan—kini tampak kacau. Wajahnya pucat. Jas hitam mahalnya entah dibuang ke mana. Kemeja putihnya sudah terlepas dari sabuk, dasinya menggantung awut-awutan dengan simpul yang sudah ditarik paksa. Arjune berdiri di sana, napasnya memburu pendek-pendek, bahunya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Ia tampak seperti pria yang baru saja melewati badai atau baru saja kehilangan kendali atas sesuatu yang sangat besar. Letta menelan ludah dengan susah payah. Pernikahan perjodohan mereka sudah berjalan empat tahun, dan selama itu pula mereka hidup seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi atap. Arjune tidak pernah menyentuhnya. Jangankan menyentuh, masuk ke area pribadinya di kamarnya seperti ini pun hampir tidak pernah dilakukan sang suami. Arjune bahkan memastikan tidak ada satu pun orang di luar sana yang tahu siapa istrinya Sejak kapan pernikahan ini berubah menjadi hubungan yang mengharuskan mereka melakukan kontak fisik? Ia merasa terpojok, merasa asing dengan tatapan lapar yang bukan karena nafsu, tapi karena obsesi. "Kenapa?" Letta bertanya dengan suara gemetar, matanya menatap kancing kemeja Arjune yang terbuka dua teratas. Arjune melangkah maju. Satu langkah besar yang membuat Letta terdesak hingga pinggulnya menabrak meja rias. "Apa kamu sedang mencoba menegosiasikan perintah?" Letta terjepit di antara marmer yang dingin dan tubuh Arjune yang memancarkan panas kemarahan. Ia bisa melihat dengan jelas bulir keringat yang mengalir dari pelipis Arjune menuju rahangnya yang mengeras kuat. "Saya butuh bukti," geram Arjune, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Letta. "Bukti apa? Kamu bicara apa, June? Aku baru saja mau istirahat—” Villetta meremas camisolenya hingga buku jarinya memutih. Ingatannya kembali pada tangan kasar penculik yang merenggut pakaiannya sore tadi. Dia teringat betapa keras dia menggosok kulitnya di bawah pancuran air tadi hanya untuk menghapus jejak kejadian itu. "Jangan bohong." Arjune menyela, tangannya tiba-tiba mencengkeram sisi meja di kanan dan kiri tubuh Letta, mengurungnya sepenuhnya. “Mereka bilang kamu punya tanda di dada.” Jantung Letta serasa berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya mendadak lemas, seolah semua tulang di kakinya berubah menjadi air. “Buktikan.” Ia merapatkan camisole satinnya hingga ke batas leher, menyembunyikan kulitnya serapat mungkin. Ada rasa ngeri yang merayap di dadanya, sebuah rahasia yang bahkan ia sendiri belum sanggup untuk melihatnya di depan cermin sejak tiba di rumah setengah jam yang lalu. "Aku nggak tahu apa yang kamu bicarakan," dusta Letta, matanya menatap ke bawah, menghindari tatapan mata elang Arjune yang seolah bisa menguliti jiwanya. "Lihat saya, Letta." Arjune membentak, tangannya yang satu berpindah mencengkeram dagu Letta, memaksanya menatap pria itu. Napas Arjune yang panas menyapu wajahnya. Pria ini bukan lagi putra presiden yang santun di depan kamera. Ada kilatan gelap di matanya, jenis kemarahan yang merasa hak miliknya telah diusik oleh pihak luar. Arjune selama ini adalah pria yang gila kontrol, dan mendengar hal itu membuatnya kehilangan akal sehat. "Dia bilang ada punya tanda di sana. Di dada kiri kamu," Arjune berbisik, suaranya kini terdengar seperti desisan ular yang mematikan. "Bagaimana bisa dia tahu?” "Enggak ada apa pun, June. Tolong." Letta mencoba mendorong dada Arjune, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun. Tubuhnya terasa seperti tembok beton yang dingin. "Kalau begitu tunjukkan.” Arjune meraih kancing teratas daster Letta dengan kasar. "Saya tidak suka ada rahasia di dalam rumah saya sendiri. Terutama rahasia yang sudah diketahui oleh musuh saya." "Lepas!" Letta memekik, tangannya memukul lengan Arjune dengan panik. "Kamu nggak punya hak!" “Di rumah ini, kamu masih milik saya. Sejak ayahmu menyerahkanmu, kamu milik saya.” Letta berusaha mati-matian menahan tangan Arjune, namun pria itu terlalu kuat. Arjune didorong oleh rasa penasaran yang sudah menjadi obsesi gelap Arjune tidak melepaskannya. Jemarinya yang besar dan kasar meraba area sekitar kancing daster Letta, menekan permukaan kain itu tepat di atas dada Letta. Letta mematung, napasnya tertahan di kerongkongan saat merasakan jemari Arjune yang bergetar menekan kulitnya dari balik kain. Ada sensasi panas yang menjalar, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya bahkan dari suaminya sendiri. Mata Arjune menatap tajam ke arah tangan yang meraba kain tersebut, seolah mencoba menembus kain satin itu hanya dengan sentuhan. Ia bisa merasakan jantung Letta yang berdegup kencang di bawah telapak tangannya— tidak beraturan. Arjune nyaris menarik kancing itu hingga lepas, namun tangannya tertahan saat melihat Letta memejamkan mata dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipi. Napas Arjune tercekat seketika, seluruh tubuhnya menegang kaku bagai batu. Di balik pakaian tertutup yang selalu dikenakan Villetta, tato mawar hitam di dada wanita itu tak lagi menarik perhatiannya. "Apa... apa-apaan ini?" bisik Arjune, suaranya tercekat di tenggorokan. Pemandangan di hadapannya justru jauh lebih mengerikan dari apa yang dia bayangkan. Kulit putih Villetta dipenuhi oleh lebam kebiruan yang kontras, melingkar jelas di leher seperti bekas jeratan tali. "Bukan urusan kamu!” pekik Villetta dengan suara gemetar. Namun, mata Arjune terpaku pada bawah tulang selangka Villetta. Bekas cengkeraman kemerahan yang kasar bersanding dengan goresan baru yang masih basah. "Siapa yang melakukan ini, Villetta?!" bentak Arjune, mencengkeram sisa pakaian itu hingga urat tangannya menonjol. "Jawab." Arjune mundur satu langkah. Matanya melebar menatap jemarinya sendiri yang menyisakan bercak darah tipis dari luka Villetta. "Aku bertanya sekali lagi," desis Arjune, suaranya mendadak merendah namun terasa dingin. "Siapa orangnya?" "Jangan berani-berani menyentuhku," desis Villetta dengan suara bergetar menahan tangis. "Menjauh dariku, Arjune!" Pria di hadapannya ini tidak boleh tahu bahwa beberapa jam lalu, Villetta baru saja lolos dari sekapan sekelompok pria bersenjata. Letta berhasil lolos dengan merangkak di antara kerikil tajam demi mempertahankan nyawanya yang tak berharga, dan ia tidak butuh belas kasihan dari suami dingin yang menganggapnya sebagai aib. “Aku tidak butuh belas kasihanmu!" tekan Villetta, memalingkan wajahnya dengan ketus. Letta hanya bisa terisak tanpa suara di depan meja rias. Ia ingin berteriak bahwa ia baru saja melewati neraka yang tak ingin ia ingat. Namun, melihat tatapan Arjune yang begitu gelap, ia tahu suaminya hanya peduli pada siapa yang berani menyentuh miliknya. Melihat penolakan itu, Arjune menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh sesuatu yang sangat berbahaya. Ia berdiri tegak, membetulkan letak dasinya yang berantakan. Arjune berbalik, melangkah keluar kamar menuju balkon. Ia merogoh ponselnya dengan gerakan kasar, jarinya menekan satu nomor dengan cepat. "Istri saya aman. Cari pengirim pesan itu," perintahnya dingin.Arjune terdiam sejenak, menatap kegelapan malam dengan mata yang menyipit tajam. "Pastikan tidak ada satu pun media yang tahu tentang teror ini. Istri saya adalah rahasia saya.“Setelah mematikan ponsel, Arjune kembali melangkah masuk dari balkon. Langkah sepatu pantofelnya beradu tajam dengan lantai marmer, lalu terhenti tepat di ambang pintu keluar kamar. Punggungnya yang tegap membelakangi Letta yang masih gemetar."Mulai sekarang jangan keluar rumah tanpa sepengetahuan saya," ucapnya dingin, sebelum akhirnya benar-benar pergiPada akhirnya, Diana kembali berakhir di pelukan yang sama.Mungkin... tidak apa-apa kalau malam ini ia menyerah sebentar. Hanya sementara, ia cuma ingin menikmati rasa hangat ini.Diana tak peduli lagi apakah saat ini Arjune menganggapnya sebagai Villeta atau Diana. Baginya, mau sejauh apapun ia mencoba lari, takdir selalu membawanya ke garis akhir yang sama—meluruh pasrah di dalam dekapan pria ini.Sial.Sentuhan Arjune tak lagi ragu. Telapak tangannya yang lebar dan panas merayap naik dari pinggang Diana yang basah akibat sisa air hujan, menelusuri tiap lekuk tubuhnya dengan gerakan posesif—seolah sedang menuntut kembali hak milik yang sempat terenggut darinya selama tiga tahun terakhir.Napas mereka beradu hebat, makin lama makin liar. Setiap kali jemari Arjune mengusap kulitnya, sengatan gairah merayap cepat menyengat seluruh saraf Diana. Wanita itu meremas erat bahu tegap Arjune, melengkungkan punggungnya saat rasa melayang makin melahap habis sisa akal sehatnya.Arjune menyusuri
“...Tampan.”“Hah?”Diana perlahan mendongakkan wajahnya. Semburat merah merayap hangat memenuhi pipinya yang semula pucat. Dengan mata yang menyorot sayu dan tak fokus, ia menatap lekat wajah Arjune—seolah sedang mengamati sesuatu yang teramat menarik.“Pak Arjune...” gumamnya pelan. Bibirnya merekah lembut, membentuk senyum polos yang sedikit kekanak-kanakan. “Anda sangat tampan.”Arjune mengernyitkan dahi. “Apa-apaan ini? Kamu sedang menggodaku?”Diana cepat-cepat menggeleng, walau gerakannya terasa lambat—seperti kesadarannya yang mulai mengambang di udara.“Enggak...”Ia mengangkat telunjuknya yang bergetar halus, menunjuk tepat di depan hidung Arjune.“Kamu...” bisiknya lirih, disusul kekehan geli yang lolos begitu saja. “Sangat... tampan.”Arjune menatap wanita itu tanpa berkedip. Ada yang tidak beres. Cara Diana berbicara dan menatapnya terasa terlalu jujur, terlepas dari sifat aslinya yang biasa tertutup.“Kamu kenapa?” tanya Arjune pelan, melirik curiga. “Jangan bilang kamu
Kata orang, Diana adalah anak yang beruntung.Ia terlahir dari keluarga berada, dengan seorang ayah yang memiliki reputasi besar di panggung politik. Wajahnya bahkan sangat mirip dengan sang kakak, Viona. Namun, kemiripan fisik itu tidak lantas membuat takdir mereka berjalan sejajar. Viona begitu mudah bergaul dan selalu mampu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Sementara Diana adalah gadis pemalu yang canggung, tidak mudah membuka percakapan, dan lebih sering memilih menarik diri ke dalam kesendirian.Diana tidak pernah keberatan dengan semua ketimpangan itu.Setidaknya, sampai sebelum pernikahan politiknya dengan Arjune terjadi.Pernikahan yang sejak awal tidak pernah benar-benar ia impinkan itu justru perlahan menjelma menjadi sepotong kebahagiaan tak terduga. Diana pernah menggantungkan harapan bahwa pernikahan itu akan memberinya kehangatan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Namun, kenyataan tiga tahun kehidupan mereka justru terbentang penuh jarak. Tiga tahun hid
Pria berparang itu menurunkan senjatanya beberapa sentimeter. Matanya menyipit, menatap Arjune seolah sedang berusaha menemukan celah dari sikap tenang pria tersebut."Menyerah?" Nada suaranya terdengar tidak percaya. "Segampang itu?"Arjune mengangkat kedua tangannya sedikit lebih tinggi. "Saya datang ke sini untuk melihat keadaan, bukan berperang dengan warga sendiri."Diana yang berdiri di sampingnya melirik cepat. Warga sendiri? Entah kenapa, kalimat itu terasa aneh keluar dari mulut Arjune. Pria yang selama ini bahkan tampak tidak peduli pada sebagian besar orang di sekitarnya, tiba-tiba menyebut mereka sebagai warga sendiri."Jangan percaya, Ketua!" teriak seorang pria dari kerumunan. "Itu cuma taktiknya saja!"Beberapa pria lain ikut mengangkat senjata mereka. Suasana yang sempat mereda kembali menegang. Diana menahan napas. Satu kesalahan kecil saja, dan keadaan bisa berubah menjadi kekacauan yang fatal.Pria yang dipanggil Ketua mengangkat satu tangan. "Diam." Suaranya tidak
Sisa-sisa alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya bekerja lebih baik daripada dukungan apa pun yang pernah ia terima. Rasa hangat itu membakar keraguan Villetta, mengubah ketakutan yang biasanya melumpuhkan menjadi sebuah keberanian yang sembrono. Ruang tengah yang biasanya terlihat megah kin
Kalimat terakhir Arjune semalam masih menggema di kepala Villetta, berputar layaknya kaset rusak yang tak mau berhenti. Tetaplah di jangkauan saya. Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat sekaligus jerat yang mencekik secara bersamaan. Lamunannya pecah saat suara bel pintu apartemen berbunyi n
"...lakukan dengan bersih. Saya tidak mau ada jejak yang tersisa."Suara Arjune terdengar dari arah balkon, memecah keheningan kamar. Villetta mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun rasa nyeri di kepalanya berdenyut hebat. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di balik selimut."Pastikan di
Lampu sorot dari deretan kamera paparazzi langsung menyambar ketika sedan hitam mewah mereka berhenti tepat di depan lobi Amanpuri Grand Ballroom. Arjune turun lebih dulu, membetulkan letak kancing jasnya dengan gerakan kaku yang sempurna sebelum berputar mengulurkan tangan. Kilatan blitz semakin m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.