مشاركة

Bab 6

مؤلف: Izhaha
last update تاريخ النشر: 2026-05-07 13:13:27

Sisa-sisa alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya bekerja lebih baik daripada dukungan apa pun yang pernah ia terima.

Rasa hangat itu membakar keraguan Villetta, mengubah ketakutan yang biasanya melumpuhkan menjadi sebuah keberanian yang sembrono.

Ruang tengah yang biasanya terlihat megah kini terasa gelap dan mengancam, hanya menyisakan sorot lampu kota dari balik jendela besar yang menembus kegelapan.

Di tengah kesunyian itu, Arjune berdiri menghadap kaca, membelakangi ruangan. Ia masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang Villetta lihat di televisi—citra pria sempurna yang dipuja negeri—namun dari punggungnya saja, Villetta bisa merasakan aura yang jauh lebih pekat dan berbahaya.

“Berapa lama lagi kamu menguji kesabaran saya?” Pria itu berbalik, menatap Villetta dengan sorot mata yang mampu membekukan aliran darah.

Villetta, yang kepalanya masih berdenyut dan langkahnya tidak stabil, justru tertawa miris. Alkohol dari botol koleksi Arjune yang ia tenggak di tempat Mira tadi benar-benar membuatnya berani. “Gue nggak pernah sepakat akan hal itu,” sahutnya menantang.

Dahi Arjune berkerut dalam saat Villetta menggunakan bahasa tidak formal padanya. "Jangan menggunakan bahasa itu dengan saya, Villetta.”

Villetta dengan pandangan kaburnya melihat pria itu melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. “Dari mana saja kamu?” tanya Arjune dengan nada rendah yang menuntut.

Villetta mendecih mendengar pertanyaan itu. Bukankah Arjune tahu ke mana pun ia pergi? Tadi saja, saat pria itu masih berada di tempat lain, ia seolah sudah tahu bahwa Villetta tidak ada di rumah. Sang Deputi Protokol ini memang memiliki mata di mana-mana.

“Kamu mabuk," desis Arjune, tangannya terangkat hendak memastikan kondisi istrinya.

Villetta dengan kasar menepis tangan Arjune sebelum sempat menyentuhnya. “Nggak usah sok peduli!”

Mata Villetta berkilat tajam di bawah remang lampu apartemen. “Bersikaplah seperti sebelumnya.” desisnya dengan keberanian yang dipacu oleh sisa-sisa alkohol yang ia curi.

Rahang Arjune mengeras, garis wajahnya tampak semakin kaku terkena bayangan cahaya kota dari balik jendela. Ia melangkah maju, memerangkap Villetta hingga punggung wanita itu membentur pintu yang tertutup rapat.

“Kamu pikir perintah saya untuk tetap di jangkauan adalah sebuah keramahan?"

Arjune menunduk, mendekatkan wajahnya hingga Villetta bisa merasakan napas dingin pria itu di kulitnya.

"Selama empat tahun ini saya membiarkan kamu hidup disini karena itu cara termudah untuk menjaga kamu tetap aman. Tapi sepertinya kebebasan yang saya berikan justru membuat kamu lupa siapa yang memegang kendali."

"Kendali?" Villetta tertawa hambar, meski jantungnya berdegup kencang karena posisi mereka yang terlalu intim sekaligus mengancam. "Ah, soal pewaris? Ambil aja, June. Gak butuh!”

Arjune mengernyit, tatapannya mendingin. Ia menarik lengan kemeja Arjune dengan sisa tenaganya, memaksa pria itu kembali berhadapan dengannya.

“Sok hebat!” desis Villetta tajam.

“Hebat karena saya yang menolong keluarga kalian dari kebangkrutan.”

Villetta menatapnya dengan kilat amarah yang meluap. Namun, Arjune belum selesai. Ia melangkah maju, memangkas ruang hingga Villetta terhimpit.

“Ayahmu berulang kali melakukan kesalahan dan masalah. Saya selalu menyelesaikannya dalam diam dan tidak pernah mengusikmu,” lanjut Arjune dengan suara rendah namun menusuk.

“Bukankah terlalu naif jika kamu pikir saya hanya ingin mengikatmu karena seorang anak?”

Arjune mengubah ekspresi wajahnya, menatap Villetta dengan tatapan yang mengingatkannya pada ancaman pria jahat dalam sebuah cerita. “Kamu tidak berhak marah, Villetta. Kesabaranku untuk memaklumi kesalahanmu juga ada batasnya.”

Arjune menelengkan kepalanya sedikit, sementara satu jari tangannya menyentuh bibir Villetta dengan gerakan yang teramat pelan, lalu turun perlahan menuju lehernya.

Jemari itu meraba halus kulit Villetta, sebuah sentuhan yang terasa asing sekaligus mengancam, membuat Villetta merinding di bawah kungkungan suaminya. Meski begitu, tatapan mereka tetap saling mengunci, tak ada yang mau memutuskan kontak mata yang penuh ketegangan itu.

Jemari Arjune kemudian bergerak mengait syal yang melilit erat leher jenjang Villetta. Merasa rahasianya terancam, Villetta segera menahan pergelangan tangan Arjune dengan tangan yang gemetar.

“Kenapa?” tanya Arjune datar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang meremehkan. “Bahkan tadi kamu berteriak lantang pada saya, kenapa sekarang kamu gemetar?”

Arjune tidak memedulikan penolakan itu. Dengan satu sentakan tenang namun bertenaga, ia menarik syal tersebut hingga terbuka. Arjune terpaku. Matanya yang tajam langsung menangkap luka memar dan menghitam di leher istrinya.

“Ini apa, Letta?”

“Kenapa kamu menyembunyikannya?” tanyanya lagi, kali ini lebih berupa bisikan frustrasi.

“Bukan urusanmu.” jawab Villetta lirih.

Arjune bertanya tanpa menunggu jawaban lebih lanjut. Ia segera menyibakkan rambut Villetta dan menarik syal itu hingga terlepas sempurna dari lehernya. Di sana, ia menemukan bekas memar dan luka gores di sisi lainnya yang bahkan belum mengering sepenuhnya.

“Apa ini?” tanya Arjune lagi.

Villetta tidak menjawab. “Saya tanya, apa ini?!” Arjune tidak berteriak, namun suaranya rendah dan tajam, “Apa mereka mengancammu dengan pisau?”

Villetta tidak menunduk. Ia justru mendongak, menatap langsung ke dalam mata Arjune dengan kilat amarah. “Kenapa? Merasa gagal menjaga?”

“Siapa pelakunya?” tanya Arjune Arjune tidak membalas hinaan itu. Ia menyambar kerah kemeja Villetta. Jemarinya yang dingin membuka paksa kancing atas hanya untuk memeriksa luka itu.

Satu memar lagi ditemukan di bawah tulang selangka. Villetta bisa merasakan kepalan tangan Arjune meremas kain kemejanya hingga buku-buku jari pria itu memutih, ia memejamkan mata sejenak—berusaha meredam emosi yang hendak meledak.

“Ah.. sakit!” pekik Letta.

“Beritahu saya, apa lagi yang bajingan itu lakukan padamu?”

Kalimat itu menjadi pemantik ledakan di dada Villetta. “Bukan urusanmu!” teriak Villetta. Matanya berkilat menantang, tangan gemetarnya bergerak liar membuka sisa kancing kemejanya di depan mata Arjune. “Ini yang kamu mau?”

Villetta menyentakkan kemeja itu hingga terlepas. Dengan kasar, ia melemparkan kemeja itu tepat ke wajah Arjune. “Lihat sendiri!”

Arjune tidak mengelak saat kain kemeja itu menghantam wajahnya sebelum jatuh tak berdaya ke lantai. Di hadapannya, Villetta berdiri hanya dengan tanktop putih yang menempel ketat di kulit, mengekspos memar keunguan yang tampak seperti tanda dosa di bawah cahaya lampu apartemen yang remang.

“Puas, June?” Villetta menghilangkan kata ‘Mas’ dalam panggilannya. Ia ingin dilihat ingin didengar.

Sedangkan, Arjune tidak mengalihkan pandangannya dari Villetta, bahkan saat kakinya menginjak kain kemeja itu seolah benda itu tidak ada harganya.

Perubahan panggilan Villetta yang menghilangkan kata ‘Mas’ adalah sebuah deklarasi perang yang langsung membakar saraf-saraf sabar Arjune yang sudah tipis.

“Puas?” Arjune mengulang kata itu dengan nada yang sangat rendah, hampir serupa geraman.

“Kamu pikir saya sepicik itu, Villetta?” Arjune berdesis. Suaranya tidak lagi tenang—ada retakan emosi yang berbahaya di sana.

Arjune mencengkeram kedua sisi pintu di belakang kepala Villetta, mengurungnya dalam ruang yang begitu sempit hingga aroma parfum maskulin pria itu memabukkan indra Villetta.

Villetta menantang mata itu, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Ia merasa tercekik oleh kehadiran Arjune, namun di saat yang sama, ia merasa lebih 'hidup' daripada sebelumnya. Dinamika yang benar-benar hancur, namun membuat ketagihan.

“Karena jika kamu dikelola ego kamu sendiri,” sambung Arjune lagi, suaranya kini kembali tenang namun jauh lebih mematikan, “maka saya adalah tuan yang paling buruk yang pernah kamu miliki.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 6

    Sisa-sisa alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya bekerja lebih baik daripada dukungan apa pun yang pernah ia terima. Rasa hangat itu membakar keraguan Villetta, mengubah ketakutan yang biasanya melumpuhkan menjadi sebuah keberanian yang sembrono. Ruang tengah yang biasanya terlihat megah kini terasa gelap dan mengancam, hanya menyisakan sorot lampu kota dari balik jendela besar yang menembus kegelapan. Di tengah kesunyian itu, Arjune berdiri menghadap kaca, membelakangi ruangan. Ia masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang Villetta lihat di televisi—citra pria sempurna yang dipuja negeri—namun dari punggungnya saja, Villetta bisa merasakan aura yang jauh lebih pekat dan berbahaya. “Berapa lama lagi kamu menguji kesabaran saya?” Pria itu berbalik, menatap Villetta dengan sorot mata yang mampu membekukan aliran darah. Villetta, yang kepalanya masih berdenyut dan langkahnya tidak stabil, justru tertawa miris. Alkohol dari botol koleksi Arjune yang ia tenggak di tempat Mira

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 5

    Kalimat terakhir Arjune semalam masih menggema di kepala Villetta, berputar layaknya kaset rusak yang tak mau berhenti. Tetaplah di jangkauan saya. Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat sekaligus jerat yang mencekik secara bersamaan. Lamunannya pecah saat suara bel pintu apartemen berbunyi nyaring. Begitu Villetta membuka pintu, sosok wanita paruh baya dengan riasan sempurna dan aura menuntut sudah berdiri di sana.“Mama meneleponmu beberapa kali, kenapa kamu tidak mengangkatnya?” Tanpa menunggu izin, ibunya melangkah masuk, aroma parfum mahalnya langsung menjajah ruangan.“Ponselku mati, Ma,” dusta Villetta sembari menutup pintu.“Bukannya kemarin kamu harus datang ke klinik fertilitas?” Sang Ibu berbalik, menatap Villetta dengan sorot mata menilai yang tajam. Ia berjalan menuju ruang tamu, diikuti Villetta yang mengekor di belakangnya dengan perasaan waswas.“Ah, Mama juga yang harus bersusah payah membawakan obat kesuburan untukmu.” Wanita itu meletakkan sebotol vitamin dan

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 4

    "...lakukan dengan bersih. Saya tidak mau ada jejak yang tersisa."Suara Arjune terdengar dari arah balkon, memecah keheningan kamar. Villetta mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun rasa nyeri di kepalanya berdenyut hebat. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di balik selimut."Pastikan dia tidak bisa bicara lagi. Jika dia melawan, lenyapkan saja."Villetta tersentak di balik kelopak matanya yang masih terpejam. Lenyapkan? Siapa yang sedang Arjune bicarakan dengan nada sedingin es itu?"Ya. Kabari saya jika tugas itu sudah selesai."Suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari balkon. Villetta segera mengatur ritme napasnya, berpura-pura masih terlelap meski jantungnya kini beradu liar. Sebuah tangan yang dingin tiba-tiba menyentuh keningnya dengan gerakan yang sangat pelan."Nghh..." Villetta mengerang pelan, sengaja membuka matanya dengan sandiwara yang payah."Sudah bangun?" tanya Arjune datar.Villetta menatap suaminya yang kini sudah mengenakan kemeja rapi . "Mas Arjun

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 3

    Lampu sorot dari deretan kamera paparazzi langsung menyambar ketika sedan hitam mewah mereka berhenti tepat di depan lobi Amanpuri Grand Ballroom. Arjune turun lebih dulu, membetulkan letak kancing jasnya dengan gerakan kaku yang sempurna sebelum berputar mengulurkan tangan. Kilatan blitz semakin menggila saat kaki Villetta yang terbalut gaun sutra biru belahan tinggi menyentuh lantai."Ikuti langkah saya, Letta," bisik Arjune rendah, memberikan tekanan kecil pada jemari dingin istrinya."Pak Arjune! Boleh diperkenalkan siapa wanita di sebelah Anda?" teriak salah satu jurnalis dari balik barikade.Arjune mengabaikan pertanyaan itu, menatap lurus ke depan dengan dagu terangkat kokoh. Selama empat tahun pernikahan dingin mereka, ini adalah kali pertama Arjune membawanya kehadapan publik."Jangan tegang, Letta. Angkat wajahmu dan tersenyum," bisik Arjune tepat di telinganya."Ba-baik," sahut Villetta terbata, nyaris seperti embusan angin.Jemari panjang pria itu beralih melingkar posesif di p

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 2

    Villetta terjaga dengan perasaan seolah seluruh sarafnya baru saja disengat listrik. Arjune, suami pajangannya itu tidak mengizinkan dirinya untuk pergi tanpa sepengetahuan. Sejak kapan pria itu perlu peduli dengan dirinya? Viletta membuka mata, bukan karena alarm yang memekakkan telinga, bukan juga karena suara ketukan pintu dari asisten rumah tangga yang biasanya membawakan teh hangat pagi hari. Alih-alih rutinitas yang menenangkan, ia disambut oleh kehadiran Arjune yang terasa tidak pada tempatnya di dalam kamarnya sendiri. Mata Villetta terbelalak, menangkap sosok Arjune yang duduk di kursi dekat jendela. Tirai hanya terbuka setengah, menciptakan kontras cahaya yang dramatis, namun itu cukup untuk memperlihatkan posisi pria itu yang kaku, hampir menyerupai siaga tempur. Satu tangannya menopang dagu, sementara tatapannya terkunci lurus ke arah ranjang tempat Villetta baru saja membuka mata. Arjune belum mengganti pakaian semalam, kemeja putihnya yang sedikit kusut masih mel

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 1

    "Buka baju kamu." Perintah itu memotong kesunyian malam. Villetta, yang baru saja keluar dari kamar mandi, mematung di depan meja rias. Jemarinya yang tengah mengencangkan simpul camisole tipisnya mendadak kaku. Jari-jarinya mendingin seketika. Ia tidak berani berbalik, tapi ia bisa merasakan kehadiran pria itu tepat di belakang punggungnya. "June?" Letta berbisik, suaranya hampir tidak terdengar. "Saya bilang buka, Viletta. Sekarang." Suara itu lebih tinggi dari biasanya. Ada getaran serak yang tidak wajar di sana. Letta memberanikan diri berputar pelan, jemarinya meremas pinggiran meja marmer di belakangnya. Matanya membelalak saat melihat penampilan Arjune Harisidharta Yudanegara. Pria yang biasanya tampil tanpa cela sebagai anak tunggal Presiden—si perfeksionis yang rambutnya tak pernah sehelai pun berantakan—kini tampak kacau. Wajahnya pucat. Jas hitam mahalnya entah dibuang ke mana. Kemeja putihnya sudah terlepas dari sabuk, dasinya menggantung awut-awutan dengan s

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status