MasukSisa-sisa alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya bekerja lebih baik daripada dukungan apa pun yang pernah ia terima.
Rasa hangat itu membakar keraguan Villetta, mengubah ketakutan yang biasanya melumpuhkan menjadi sebuah keberanian yang sembrono. Ruang tengah yang biasanya terlihat megah kini terasa gelap dan mengancam, hanya menyisakan sorot lampu kota dari balik jendela besar yang menembus kegelapan. Di tengah kesunyian itu, Arjune berdiri menghadap kaca, membelakangi ruangan. Ia masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang Villetta lihat di televisi—citra pria sempurna yang dipuja negeri—namun dari punggungnya saja, Villetta bisa merasakan aura yang jauh lebih pekat dan berbahaya. “Berapa lama lagi kamu menguji kesabaran saya?” Pria itu berbalik, menatap Villetta dengan sorot mata yang mampu membekukan aliran darah. Villetta, yang kepalanya masih berdenyut dan langkahnya tidak stabil, justru tertawa miris. Alkohol dari botol koleksi Arjune yang ia tenggak di tempat Mira tadi benar-benar membuatnya berani. “Gue nggak pernah sepakat akan hal itu,” sahutnya menantang. Dahi Arjune berkerut dalam saat Villetta menggunakan bahasa tidak formal padanya. "Jangan menggunakan bahasa itu dengan saya, Villetta.” Villetta dengan pandangan kaburnya melihat pria itu melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. “Dari mana saja kamu?” tanya Arjune dengan nada rendah yang menuntut. Villetta mendecih mendengar pertanyaan itu. Bukankah Arjune tahu ke mana pun ia pergi? Tadi saja, saat pria itu masih berada di tempat lain, ia seolah sudah tahu bahwa Villetta tidak ada di rumah. Sang Deputi Protokol ini memang memiliki mata di mana-mana. “Kamu mabuk," desis Arjune, tangannya terangkat hendak memastikan kondisi istrinya. Villetta dengan kasar menepis tangan Arjune sebelum sempat menyentuhnya. “Nggak usah sok peduli!” Mata Villetta berkilat tajam di bawah remang lampu apartemen. “Bersikaplah seperti sebelumnya.” desisnya dengan keberanian yang dipacu oleh sisa-sisa alkohol yang ia curi. Rahang Arjune mengeras, garis wajahnya tampak semakin kaku terkena bayangan cahaya kota dari balik jendela. Ia melangkah maju, memerangkap Villetta hingga punggung wanita itu membentur pintu yang tertutup rapat. “Kamu pikir perintah saya untuk tetap di jangkauan adalah sebuah keramahan?" Arjune menunduk, mendekatkan wajahnya hingga Villetta bisa merasakan napas dingin pria itu di kulitnya. "Selama empat tahun ini saya membiarkan kamu hidup disini karena itu cara termudah untuk menjaga kamu tetap aman. Tapi sepertinya kebebasan yang saya berikan justru membuat kamu lupa siapa yang memegang kendali." "Kendali?" Villetta tertawa hambar, meski jantungnya berdegup kencang karena posisi mereka yang terlalu intim sekaligus mengancam. "Ah, soal pewaris? Ambil aja, June. Gak butuh!” Arjune mengernyit, tatapannya mendingin. Ia menarik lengan kemeja Arjune dengan sisa tenaganya, memaksa pria itu kembali berhadapan dengannya. “Sok hebat!” desis Villetta tajam. “Hebat karena saya yang menolong keluarga kalian dari kebangkrutan.” Villetta menatapnya dengan kilat amarah yang meluap. Namun, Arjune belum selesai. Ia melangkah maju, memangkas ruang hingga Villetta terhimpit. “Ayahmu berulang kali melakukan kesalahan dan masalah. Saya selalu menyelesaikannya dalam diam dan tidak pernah mengusikmu,” lanjut Arjune dengan suara rendah namun menusuk. “Bukankah terlalu naif jika kamu pikir saya hanya ingin mengikatmu karena seorang anak?” Arjune mengubah ekspresi wajahnya, menatap Villetta dengan tatapan yang mengingatkannya pada ancaman pria jahat dalam sebuah cerita. “Kamu tidak berhak marah, Villetta. Kesabaranku untuk memaklumi kesalahanmu juga ada batasnya.” Arjune menelengkan kepalanya sedikit, sementara satu jari tangannya menyentuh bibir Villetta dengan gerakan yang teramat pelan, lalu turun perlahan menuju lehernya. Jemari itu meraba halus kulit Villetta, sebuah sentuhan yang terasa asing sekaligus mengancam, membuat Villetta merinding di bawah kungkungan suaminya. Meski begitu, tatapan mereka tetap saling mengunci, tak ada yang mau memutuskan kontak mata yang penuh ketegangan itu. Jemari Arjune kemudian bergerak mengait syal yang melilit erat leher jenjang Villetta. Merasa rahasianya terancam, Villetta segera menahan pergelangan tangan Arjune dengan tangan yang gemetar. “Kenapa?” tanya Arjune datar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang meremehkan. “Bahkan tadi kamu berteriak lantang pada saya, kenapa sekarang kamu gemetar?” Arjune tidak memedulikan penolakan itu. Dengan satu sentakan tenang namun bertenaga, ia menarik syal tersebut hingga terbuka. Arjune terpaku. Matanya yang tajam langsung menangkap luka memar dan menghitam di leher istrinya. “Ini apa, Letta?” “Kenapa kamu menyembunyikannya?” tanyanya lagi, kali ini lebih berupa bisikan frustrasi. “Bukan urusanmu.” jawab Villetta lirih. Arjune bertanya tanpa menunggu jawaban lebih lanjut. Ia segera menyibakkan rambut Villetta dan menarik syal itu hingga terlepas sempurna dari lehernya. Di sana, ia menemukan bekas memar dan luka gores di sisi lainnya yang bahkan belum mengering sepenuhnya. “Apa ini?” tanya Arjune lagi. Villetta tidak menjawab. “Saya tanya, apa ini?!” Arjune tidak berteriak, namun suaranya rendah dan tajam, “Apa mereka mengancammu dengan pisau?” Villetta tidak menunduk. Ia justru mendongak, menatap langsung ke dalam mata Arjune dengan kilat amarah. “Kenapa? Merasa gagal menjaga?” “Siapa pelakunya?” tanya Arjune Arjune tidak membalas hinaan itu. Ia menyambar kerah kemeja Villetta. Jemarinya yang dingin membuka paksa kancing atas hanya untuk memeriksa luka itu. Satu memar lagi ditemukan di bawah tulang selangka. Villetta bisa merasakan kepalan tangan Arjune meremas kain kemejanya hingga buku-buku jari pria itu memutih, ia memejamkan mata sejenak—berusaha meredam emosi yang hendak meledak. “Ah.. sakit!” pekik Letta. “Beritahu saya, apa lagi yang bajingan itu lakukan padamu?” Kalimat itu menjadi pemantik ledakan di dada Villetta. “Bukan urusanmu!” teriak Villetta. Matanya berkilat menantang, tangan gemetarnya bergerak liar membuka sisa kancing kemejanya di depan mata Arjune. “Ini yang kamu mau?” Villetta menyentakkan kemeja itu hingga terlepas. Dengan kasar, ia melemparkan kemeja itu tepat ke wajah Arjune. “Lihat sendiri!” Arjune tidak mengelak saat kain kemeja itu menghantam wajahnya sebelum jatuh tak berdaya ke lantai. Di hadapannya, Villetta berdiri hanya dengan tanktop putih yang menempel ketat di kulit, mengekspos memar keunguan yang tampak seperti tanda dosa di bawah cahaya lampu apartemen yang remang. “Puas, June?” Villetta menghilangkan kata ‘Mas’ dalam panggilannya. Ia ingin dilihat ingin didengar. Sedangkan, Arjune tidak mengalihkan pandangannya dari Villetta, bahkan saat kakinya menginjak kain kemeja itu seolah benda itu tidak ada harganya. Perubahan panggilan Villetta yang menghilangkan kata ‘Mas’ adalah sebuah deklarasi perang yang langsung membakar saraf-saraf sabar Arjune yang sudah tipis. “Puas?” Arjune mengulang kata itu dengan nada yang sangat rendah, hampir serupa geraman. “Kamu pikir saya sepicik itu, Villetta?” Arjune berdesis. Suaranya tidak lagi tenang—ada retakan emosi yang berbahaya di sana. Arjune mencengkeram kedua sisi pintu di belakang kepala Villetta, mengurungnya dalam ruang yang begitu sempit hingga aroma parfum maskulin pria itu memabukkan indra Villetta. Villetta menantang mata itu, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Ia merasa tercekik oleh kehadiran Arjune, namun di saat yang sama, ia merasa lebih 'hidup' daripada sebelumnya. Dinamika yang benar-benar hancur, namun membuat ketagihan. “Karena jika kamu dikelola ego kamu sendiri,” sambung Arjune lagi, suaranya kini kembali tenang namun jauh lebih mematikan, “maka saya adalah tuan yang paling buruk yang pernah kamu miliki.”Kata orang, Diana adalah anak yang beruntung.Ia terlahir dari keluarga berada, dengan seorang ayah yang memiliki reputasi besar di panggung politik. Wajahnya bahkan sangat mirip dengan sang kakak, Viona. Namun, kemiripan fisik itu tidak lantas membuat takdir mereka berjalan sejajar. Viona begitu mudah bergaul dan selalu mampu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Sementara Diana adalah gadis pemalu yang canggung, tidak mudah membuka percakapan, dan lebih sering memilih menarik diri ke dalam kesendirian.Diana tidak pernah keberatan dengan semua ketimpangan itu.Setidaknya, sampai sebelum pernikahan politiknya dengan Arjune terjadi.Pernikahan yang sejak awal tidak pernah benar-benar ia impinkan itu justru perlahan menjelma menjadi sepotong kebahagiaan tak terduga. Diana pernah menggantungkan harapan bahwa pernikahan itu akan memberinya kehangatan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Namun, kenyataan tiga tahun kehidupan mereka justru terbentang penuh jarak. Tiga tahun hid
Pria berparang itu menurunkan senjatanya beberapa sentimeter. Matanya menyipit, menatap Arjune seolah sedang berusaha menemukan celah dari sikap tenang pria tersebut."Menyerah?" Nada suaranya terdengar tidak percaya. "Segampang itu?"Arjune mengangkat kedua tangannya sedikit lebih tinggi. "Saya datang ke sini untuk melihat keadaan, bukan berperang dengan warga sendiri."Diana yang berdiri di sampingnya melirik cepat. Warga sendiri? Entah kenapa, kalimat itu terasa aneh keluar dari mulut Arjune. Pria yang selama ini bahkan tampak tidak peduli pada sebagian besar orang di sekitarnya, tiba-tiba menyebut mereka sebagai warga sendiri."Jangan percaya, Ketua!" teriak seorang pria dari kerumunan. "Itu cuma taktiknya saja!"Beberapa pria lain ikut mengangkat senjata mereka. Suasana yang sempat mereda kembali menegang. Diana menahan napas. Satu kesalahan kecil saja, dan keadaan bisa berubah menjadi kekacauan yang fatal.Pria yang dipanggil Ketua mengangkat satu tangan. "Diam." Suaranya tidak
Diana berjalan menyusuri jalan setapak yang licin di lereng bukit, mengikuti langkah kecil anak laki-laki di depan mereka yang sesekali menoleh dengan gelisah.Di sampingnya, Arjune melangkah tenang. Tanah merah yang menempel di pantofel kulit mahalnya sama sekali tidak mengurangi ketegasan setiap langkah pria itu.Melihat ketenangan tersebut, dada Diana justru semakin bergemuruh.Apa dia benar-benar tidak menyadari kalau ini mencurigakan? Atau... memang sengaja membiarkan dirinya masuk ke dalam jebakan?"Apa sebenarnya yang sedang Anda rencanakan, Pak Arjune?" tanyanya akhirnya. Suaranya sengaja ditekan agar tidak terdengar oleh anak yang berjalan beberapa meter di depan mereka.Arjune tetap menatap jalan setapak di hadapannya."Rencana apa?"Diana menghentikan langkahnya. "Anda bukan orang bodoh. Anda pasti tahu anak itu sedang memancing kita."Arjune ikut berhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Diana yang berdiri beberapa undakan di bawahnya.Angin perbukitan menerbangkan rambut Di
“Pak Arjune beneran akan membayar saya, kan?” bisik Diana, mencondongkan tubuhnya ke arah Yanuar sembari melirik waspada ke arah Arjune yang sedang berbicara serius dengan kepala desa di sudut balai warga.Yanuar menaikkan sebelah alisnya, ikut memiringkan posisi duduknya agar suaranya yang rendah tidak memantul ke sekitar mereka. “Tentu saja. Kenapa? Apa Nona takut kami tipu?”“Tidak,” sahut Diana cepat, meremas pelan tali tas selempangnya yang sudah agak pudar. “Saya cuma takut kalian mendadak lupa.”Yanuar tidak bisa menahan senyum tipis melihat binar cemas sekaligus penuh harap di bola mata wanita itu. Sikap blak-blakan Diana soal uang justru terasa menyegarkan di matanya. “Kalau begitu, saya minta nomor rekening Anda. Saya akan urus pengirimannya sekarang juga.”Mendengar kata 'sekarang juga', senyum Diana langsung merekah sempurna. Wajah lelahnya akibat kurang tidur seketika menguap, digantikan binar semringah yang tidak bisa disembunyikan. Dengan gerakan kilat, ia merogoh tasny
“Kamu tahu? Selama tiga tahun ini, aku selalu mengutuk setiap malam yang turun hujan.”Suara bariton Arjune mengalun rendah, memecah keheningan fajar yang dingin. Tatapannya lurus menembus langit-langit kamar yang remang. Hujan di luar telah sepenuhnya berhenti, kini hanya menyisakan bunyi teratur dari sisa tetesan air yang jatuh dari ujung atap penginapan.Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, pria itu terbangun tanpa sentakan nafas memburu akibat mimpi buruk. Tidak ada kobaran api yang membakar ingatan. Tidak ada hamparan lautan hitam yang menelan Villeta. Tidak ada pula cekikan rasa bersalah yang biasa memaksanya terjaga di tengah malam buta.Perlahan, Arjune memiringkan kepalanya.Di sisi lain ranjang yang sama, Diana masih tertidur pulas. Tubuh mungilnya meringkuk erat di balik selimut tebal, memunggunginya. Rambut panjang wanita itu terurai berantakan, tersebar menutupi sebagian permukaan bantal. Kepanikan konyol akibat seekor kecoa terbang semalam tampaknya benar-ben
“Pergi!”Arjune refleks menarik tubuhnya menjauh begitu Diana berteriak dengan nada panik. Kerutan bingung muncul di dahinya. Ia sempat mengira wanita itu akhirnya akan menangis atau mengakui sesuatu.Namun, yang dilihatnya justru wajah Diana yang memucat drastis. Kedua matanya membelalak ngeri, bukan menatap dirinya, melainkan ke arah bahu kirinya."Menyingkir!" teriak Diana histeris.Sebelum Arjune sempat bereaksi, Diana meraih sandal karetnya yang tergeletak di dekat ranjang.Plak!Sandal itu menghantam tepat di bahu kiri Arjune—persis di atas perban lukanya."Akh!" Arjune meringis sambil memegang bahunya. "Kamu ini apa-ap—"Kalimatnya terputus.Seekor kecoak terbang melesat dari bahunya, mengepakkan sayap dengan suara berdengung yang membuat bulu kuduk meremang.Diana memekik."Kecoak!"Dalam sekejap, seluruh keberaniannya menghilang.Ia berlari menjauh tanpa arah, sementara serangga itu justru berputar-putar mengikuti pergerakannya."Aaa! Pergi! Jangan dekat-dekat!"Melihat kecoa
Lampu sorot dari deretan kamera paparazzi langsung menyambar ketika sedan hitam mewah mereka berhenti tepat di depan lobi Amanpuri Grand Ballroom. Arjune turun lebih dulu, membetulkan letak kancing jasnya dengan gerakan kaku yang sempurna sebelum berputar mengulurkan tangan. Kilatan blitz semakin m
Villetta terjaga dengan perasaan seolah seluruh sarafnya baru saja disengat listrik. Arjune, suami pajangannya itu tidak mengizinkan dirinya untuk pergi tanpa sepengetahuan. Sejak kapan pria itu perlu peduli dengan dirinya? Viletta membuka mata, bukan karena alarm yang memekakkan telinga, bukan ju
"Buka baju kamu." Perintah itu memotong kesunyian malam. Villetta, yang baru saja keluar dari kamar mandi, mematung di depan meja rias. Jemarinya yang tengah mengencangkan simpul camisole tipisnya mendadak kaku. Jari-jarinya mendingin seketika. Ia tidak berani berbalik, tapi ia bisa merasakan ke
Brak! Ah!Hantaman keras stik golf berlapis baja itu mendarat telak di punggung kiri Arjune, menciptakan bunyi redam yang mengerikan sebelum rasa panas yang membakar menjalar mematikan rasa di kulitnya.Arjune tidak bergeming. Ia tetap berlutut dengan tegak di atas lantai, kedua tangannya mengepal







