Se connecter“Kalau begitu... kita terpaksa harus berbagi kamar malam ini, Nona Diana.”Arjune menawarkan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal bagi Diana. Otaknya mendadak buntu, tidak tahu harus merespons apa untuk menolak perintah mutlak dari pria itu.Tring!Denting bel di atas pintu berbunyi nyaring saat pintu kayu penginapan didorong terbuka dari luar. Embusan angin malam dan tampias air hujan ikut menerobos masuk ke dalam lobi.“Anda di sini ternyata, Pak,” ujar Yanuar yang baru saja melangkah masuk.Pria berjas itu mengusap bahunya yang tampak basah terkena guyuran air hujan deras di luar. Langkah kakinya bergerak cepat mendekati tempat Arjune dan Diana berdiri.“Akses jalan perbukitan tertutup pohon tumbang karena angin kencang. Kita tidak bisa kembali ke penginapan bale segara secepatnya. Sepertinya malam ini kita harus menginap di sekitar sini,” lapor Yanuar singkat.Tanpa menunggu tanggapan lebih jauh dari Arjune, Yanuar langsung bergerak menuju meja resepsionis, diikuti oleh panda
“Kita sebenarnya mau ke mana, Pak Arjune?” tanya Diana, mempercepat langkah kakinya demi mengimbangi langkah lebar pria di depannya.Arjune tidak menoleh sedikit pun. Ia terus berjalan tegap di jalur setapak.Diana mendengus pelan dalam hati. Seharusnya kalau pria itu hanya ingin berjalan-jalan, ia tidak perlu memaksanya ikut, bukan? Sifat buruknya yang suka menyusahkan orang lain ternyata sama sekali tidak pernah berubah.Saking asyiknya menggerutu dalam hati, Diana tidak menyadari langkah Arjune mendadak terhenti.Bugh!“Aduh!” Diana memekik kecil saat keningnya membentur punggung tegap dan keras bak dinding itu dengan cukup keras. Ia mundur satu langkah sambil mengusap dahinya.Arjune membalikkan tubuh, menatap Diana datar. “Kita makan siang dulu.”Diana menghentikan usapan di dahinya, lalu menoleh ke arah bangunan di samping mereka. Sebuah restoran seafood yang cukup ramai. Detik itu juga, kecemasan mendadak menyergap dadanya. Namun, Arjune sudah melangkah masuk lebih dulu, mau ti
"Pak Arjune berencana berkeliling pulau menggunakan speedboat," ujar Yanuar.Diana mengangkat pandangan. Tatapannya bertemu dengan pria berjas yang sejak kemarin tak pernah jauh dari Arjune."Kebetulan kapal milik kami sudah berangkat ke pulau seberang pagi tadi," jawabnya."Tidak masalah." Yanuar tersenyum tipis. "Kami hanya membutuhkan seseorang yang mengenal wilayah sekitar sebagai pemandu."Diana terdiam sejenak. Ayahnya sejak subuh sudah pergi mengantar hasil tangkapan nelayan, sementara Rendra juga belum kembali dari dermaga. Di penginapan itu kini hanya ada dirinya seorang."Apakah Nona bersedia ikut bersama kami?" tanya Yanuar.Diana segera menggeleng."Maaf, saya tidak bisa naik kapal. Saya mabuk laut.""Begitu?" Yanuar tampak berpikir sejenak. "Kalau begitu, mungkin Nona bisa mencarikan seseorang sebagai pengganti.""Baik. Saya akan coba hubungi orangnya."Diana segera mengambil ponsel dari saku celananya. Ia menghubungi seorang nelayan yang sudah lama membantu keluarga mere
“Pak.”Yanuar melangkah ke area balkon kamar. Di tangannya, ia membawa sebuah amplop tebal berwarna putih gading dengan stempel berlambang resmi negara."Ada surat lagi dari Istana," sambung Yanuar seraya menyodorkan amplop tersebut kepada atasannya.Arjune menerima amplop itu tanpa mengalihkan pandangan dari laut. Ia merobek segelnya dan membaca isinya. Sembari meneliti isi surat, ia mengepulkan asap cerutu dari sudut bibirnya.Sebuah senyum tipis yang dingin terukir di wajah tegasnya."Ayah menyuruhku segera kembali," ucap Arjune, melipat kembali kertas tersebut menjadi dua bagian."Permintaan perjodohan lagi?" tanya Yanuar, suaranya terdengar datar seolah topik itu sudah menjadi rutinitas yang membosankan bagi mereka berdua."Ya. Seperti biasa.""Kalau begitu, apakah saya perlu menyiapkan keberangkatan kita? Kita bisa kembali ke ibu kota besok pagi-pagi sekali," tawar Yanuar, bersiap mengeluarkan ponselnya untuk mengatur jadwal perjalanan.Arjune tidak langsung menjawab. Pria itu m
Tanpa diduga, Arjune mengulurkan tangan.Jemarinya menyentuh lembut ujung rambut Diana yang masih basah oleh tetesan air. Dengan gerakan tenang, ia mengambil sehelai benang halus yang tersangkut di antara rambut wanita itu, lalu membuangnya begitu saja."Kamu bisa membantuku," gumamnya pelan, seolah sentuhan singkat itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan."Ah... ya," jawab Diana, berusaha menahan gugup yang mulai merambat di dadanya.Arjune melangkah mundur, memberi ruang.Diana segera melewatinya menuju kamar mandi. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara berat pria itu kembali terdengar dari belakang."Diana."Panggilan itu membuat langkahnya terhenti.Ia menoleh perlahan."Maaf, Nona Diana..." ujar Arjune datar.Diana menggeleng kecil. "Panggil saja Diana. Itu memang nama saya."Arjune mengangguk tipis. Namun, bukannya membalas, ia justru menatap Diana lekat-lekat. Sorot mata gelapnya tampak sedang mencari sesuatu yang hanya ia sendiri yang mengerti."Aroma itu..."Diana men
“Apakah Anda begitu sibuk, Nona... hingga dengan sengaja mengabaikan permintaan tulus dari saya?” tanya Arjune lagi “Maaf, Pak Arjune,” ujar Diana, berusaha mengatur napas agar suaranya terdengar setenang mungkin. Namun, baru dua kata itu keluar dari bibirnya, alis Arjune perlahan bertaut. Tatapan tajam pria itu mengunci wajah Diana. Ada sesuatu pada intonasi suara wanita itu yang membuatnya berhenti sejenak, seolah sedang mencari serpihan ingatan yang nyaris berhasil diraihnya. Jantung Diana seketika berdebar tidak karuan. Tidak… Jangan sampai dia mengenalinya. “Kalau kedatangan Anda ke tempat terpencil ini hanya untuk berterima kasih tentang kejadian hari itu... sepertinya itu sama sekali tidak perlu, Pak,” tegas Diana “Atau...” Diana menjeda kalimatnya sejenak, tatap kemudian bergeser pada balutan perban yang samar terlihat di balik kerah jas Arjune “Anda datang karena khawatir saya akan membocorkan apa yang terjadi malam itu, Anda tidak perlu cemas. Saya tidak akan meng
"Kami juga sering menginap di sini, Villeta. Sepertinya, Arjune masih menyimpan barang-barangku di lemari kamar itu?"Villeta langsung mengepalkan tinju di balik saku sweater-nya. Rasa takut yang sejak kemarin menghimpit dadanya mendadak hilang, berganti jadi rasa panas yang membakar harga diri. Bi
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kayu membangunkan Villeta. Sisi ranjang di sebelahnya sudah dingin. Rasa panik sempat menyergap dadanya, namun aroma kopi hitam yang kuat dan gurih dari arah dapur perlahan menenangkan debar jantungnya.Villeta bangkit, melilitkan jubah mandi satinnya,
Arjune melumat bibir Villeta dengan lapar, seolah menyalurkan seluruh rasa frustrasi, kemarahan pada dunia, dan rasa cintanya yang posesif. Tangan kokohnya merayap naik, mencengkeram tengkuk Villeta untuk memperdalam tautan mereka, sementara tangan lainnya memeluk pinggang sang istri begitu erat, m
Bruk!Tubuh wanita yang terhempas dari lantai atas itu menghantam tanah dengan suara mengerikan. Di antara rerumputan basah, darah mulai mengalir perlahan. Arjune terpaku, napasnya tertahan selama satu detik yang menyiksa. Ia melangkah maju dengan tangan bergetar, mengarahkan senter taktisnya ke wa







