LOGINMenjelang sore, ketika Renata sedang membaca buku di ruang tengah, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari dosen pembimbingnya. Renata segera mengambil ponsel, lalu membaca pesan itu dengan jantung berdebar.Dosen pembimbingnya telah menerima dokumen revisi dan akan memeriksanya. Jika tidak ada kendala berarti, Renata diminta datang untuk konsultasi pada jadwal yang telah ditentukan minggu berikutnya.Renata mengembuskan napas lega. Dia memang belum mendapatkan persetujuan akhir, tetapi setidaknya prosesnya berjalan sesuai rencana. Wanita itu segera menghubungi Dirga setelah mendapat pesan tersebut.[Mas, dosenku sudah membalas. Beliau akan memeriksa revisiku dan memintaku datang untuk konsultasi minggu depan.]Balasan Dirga datang beberapa menit kemudian.[Itu kabar baik. Bagaimana perasaanmu sekarang?]Renata tersenyum sebelum mengetik balasan.[Lebih lega. Setidaknya aku tidak perlu menebak-nebak lagi kapan harus menunggu kabar.][Aku senang mendengarnya. Nanti malam kita makan
Pagi itu, Renata bangun dengan perasaan sedikit gugup. Dia berencana mengirimkan hasil revisi skripsinya kepada dosen pembimbing. Setelah berhari-hari memeriksa ulang setiap bagian, Renata berharap pekerjaannya sudah cukup baik untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.Di meja kerja, laptop telah menyala sejak beberapa menit lalu. Renata membaca kembali dokumen yang terbuka di layar, memastikan tidak ada halaman yang tertinggal atau referensi yang belum dicantumkan. Dia bahkan memeriksa daftar isi untuk ketiga kalinya, meskipun sebelumnya sudah memastikan semuanya tersusun dengan benar.Dari ambang pintu, Dirga memperhatikannya sambil menyilangkan tangan di depan dada.“Kamu sudah memeriksanya berapa kali?”Renata menoleh. “Tiga kali.”“Dan masih merasa ada yang kurang?” tanya Dirga.“Entahlah. Aku hanya tidak ingin melakukan kesalahan," jawab Renata. Dirga menghampiri meja, kemudian menarik kursi di sebelahnya.“Kalau kamu terus memeriksanya tanpa henti, kamu akan menemukan sesuatu yan
Sore harinya, Renata tiba di rumah dengan membawa sebuah buku yang berhasil ditemukannya. Dia meletakkan tas di ruang tengah, lalu menghampiri Bi Sari yang sedang menyiapkan makan malam.“Nyonya sudah pulang?” tanya Bi Sari.“Iya, Bi," jawab Renata.“Bagaimana kegiatan di kampus?”“Lancar. Aku juga menemukan buku yang kubutuhkan.”Bi Sari tersenyum senang. “Syukurlah. Semoga skripsinya segera selesai.”“Amin, Bi.”Renata kemudian naik ke kamar untuk berganti pakaian. Setelah itu, dia kembali ke ruang kerja dan mulai memperbaiki bagian yang dibahas bersama Rian.Renara bekerja dengan lebih terarah. Catatan yang sebelumnya terasa membingungkan kini menjadi lebih mudah dipahami. Dia juga menambahkan beberapa penjelasan agar pembahasannya tersusun dengan jelas.Ketika Dirga pulang, Renata sedang membaca ulang paragraf terakhir. Pria itu masuk dengan langkah tenang, meletakkan tas kerjanya, lalu menghampiri meja Renata.“Bagaimana hari ini?”Renata menoleh dengan senyum cerah.“Baik sekali
Pagi itu, Renata menyelesaikan sarapannya dengan lebih cepat daripada biasanya. Setelah membantu Bi Sari membawa beberapa piring ke dapur, dia kembali ke ruang kerja kecil untuk memeriksa berkas skripsi yang akan dikirimkan kepada dosen pembimbing.Ada perasaan lega yang perlahan tumbuh di dalam dirinya. Setelah berminggu-minggu berkutat dengan revisi, akhirnya Renata bisa melihat hasil kerja kerasnya dalam bentuk yang lebih utuh. Dia masih perlu melakukan pemeriksaan terakhir, tetapi setidaknya kini tidak lagi merasa tersesat di antara tumpukan catatan.Renata membuka laptop, membaca kembali halaman demi halaman, kemudian mencocokkan daftar pustaka dengan sumber yang digunakan. Dia tidak ingin ada kesalahan kecil yang terlewat.Ketika sedang berkonsentrasi, ponselnya bergetar. Pesan dari Rian muncul di layar.[Renata, bagaimana perkembangan revisimu? Kalau ada bagian yang masih membingungkan, kita bisa membahasnya di kampus besok.]Renata membaca pesan itu, lalu membalas dengan sopan
Keesokan paginya, Renata kembali duduk di meja kerjanya dengan semangat baru. Percakapan bersama Dirga semalam masih teringat jelas. Bukan karena semua keraguannya langsung menghilang, melainkan karena dia kini memiliki cara pandang yang lebih baik terhadap dirinya sendiri.Renata tidak perlu membandingkan perjalanan hidupnya dengan orang lain. Yang perlu dia lakukan hanyalah menyelesaikan satu demi satu hal yang sudah dimulainya.Renata membuka dokumen skripsi, memeriksa daftar revisi, lalu mulai bekerja. Dia menghabiskan waktu beberapa jam untuk merapikan bagian pembahasan dan memastikan setiap referensi yang digunakan telah dicantumkan dengan benar.Menjelang siang, Renata berhenti sejenak untuk membaca keseluruhan bagian yang sudah diperbaiki. Ada beberapa kalimat yang masih perlu disempurnakan, tetapi secara umum hasilnya jauh lebih baik daripada sebelumnya.Renata menyandarkan tubuh ke kursi sambil mengembuskan napas lega. Kemudian, dia memeriksa jadwal konsultasi yang dikirimka
Malam itu, Renata dan Dirga benar-benar pergi makan malam bersama seperti yang telah mereka rencanakan. Mereka memilih sebuah restoran kecil yang terletak tidak jauh dari tepi Sungai Serayu. Tempat itu tidak terlalu ramai, dengan pencahayaan hangat dan jendela besar yang memperlihatkan pantulan lampu kota di permukaan air.Renata duduk di hadapan Dirga sambil membaca menu. Sesekali dia melirik pria itu, yang sejak tadi memperhatikannya dengan senyum tipis.“Ada apa?” tanya Renata akhirnya.“Tidak ada.”“Kalau tidak ada, kenapa melihatku terus?”Dirga meletakkan menu di atas meja. “Aku sedang menikmati pemandangan.”Renata mengerutkan hidung. “Pemandangan di luar jendela ada di sebelah sana, Mas.”“Aku tahu.”“Lalu, kenapa melihatku?” tanya Renata.“Karena pemandangan di depanku lebih menarik," jawab Dirga.Renata terdiam. Dia sudah beberapa kali mendengar Dirga melontarkan kalimat manis dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kata-kata pada saat yang tidak terduga.“Mas Dirga sekara







