LOGINTak pernah terlintas di benak Renata bahwa hidupnya akan berubah hanya dalam satu malam. Mahasiswi semester akhir yang bekerja sebagai barista itu kehilangan segalanya setelah kedua orang tuanya meninggal. Difitnah mencuri oleh paman dan bibinya, Renata diusir tanpa memiliki tempat untuk pulang. Di saat paling putus asa, seorang pria asing bernama Dirga Mahardika datang menyelamatkannya dari pelecehan. Melihat Renata hidup sebatang kara, Dirga menawarkan tempat tinggal sementara. Namun kebaikan itu justru menyeret mereka pada keputusan yang tak pernah mereka bayangkan. Demi melindungi Renata dari gosip dan memenuhi desakan ibunya, Ratih, agar segera menikah, Dirga mengajukan sebuah lamaran yang mengejutkan. Pernikahan itu berlangsung diam-diam. Tak seorang pun mengetahuinya. Bahkan Celina, sahabat Renata yang ternyata adalah keponakan Dirga, sama sekali tidak menyadari bahwa sahabatnya telah resmi menjadi bibinya sendiri. Mereka sepakat merahasiakan pernikahan tersebut hingga waktu yang tepat. Namun menyimpan rahasia ternyata jauh lebih sulit daripada mengucapkan akad. Saat mantan kekasih Dirga kembali setelah melihatnya sukses, keluarga yang pernah mengusir Renata mulai mengincar warisan orang tuanya, dan rahasia pernikahan mereka perlahan terancam terbongkar, Renata dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan—bertahan sebagai istri yang tak pernah diakui atau pergi demi kebahagiaan pria yang telah memberinya tempat untuk pulang. Mampukah pernikahan yang berawal dari rasa iba berubah menjadi cinta sejati? Ataukah rahasia itu justru menghancurkan mereka sebelum sempat saling mencintai?
View More"Keluar dari rumah ini sekarang juga!"
Suara Arman menggema memenuhi ruang tamu. Renata yang baru saja pulang dari kampus membeku di ambang pintu. Di tangannya masih tergenggam map biru berisi revisi skripsi yang harus dikumpulkan minggu depan. Dia menatap pamannya dengan bingung. "Paman, ada apa?" tanya Renata. Arman menghempaskan sebuah dompet kulit ke atas meja ruang tamu. Benturannya begitu keras hingga beberapa lembar uang receh, kartu ATM, dan kertas-kertas kecil di dalamnya berhamburan ke segala arah. Wajah pria paruh baya itu memerah, sementara sorot matanya penuh amarah. "Jangan pura-pura tidak tahu! Uang lima juta milik Paman hilang." Renata yang baru saja pulang dari kampus terpaku di tempatnya. Tas ransel yang masih menggantung di bahunya terasa semakin berat. Tatapannya bergantian menatap dompet di atas meja dan wajah pamannya yang penuh tuduhan. Perlahan, dia menggeleng. Bibirnya bergetar, tetapi suaranya tetap berusaha terdengar tenang. "Aku tidak mengambilnya," ujar Renata. "Bohong!" sahut Yuni, bibinya, sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Tatapannya dipenuhi cibiran seolah sudah yakin siapa pelakunya. "Sejak pagi hanya kamu yang ada di rumah." Ucapan itu membuat dada Renata sesak. Tuduhan itu datang begitu saja tanpa sedikit pun memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan. "Aku berangkat ke kampus jam delapan, Bi. Setelah itu bimbingan sampai siang. Kalau memang tidak percaya, Paman bisa tanya dosen pembimbingku," sahut Renata.Yuni mendengus sinis. Dia melirik Arman seakan meminta suaminya segera memberi pelajaran kepada gadis itu.
Renata mengepalkan jemarinya di balik tas yang masih digenggam. Dia menarik napas panjang, menahan gejolak emosi yang mulai memenuhi dada. Sejak orang tuanya meninggal, tuduhan seperti itu bukan pertama dia terima. Namun, saat itu terasa jauh lebih menyakitkan. Belum sempat suasana mereda, Arman menghantam meja dengan telapak tangannya hingga membuat semua orang terkejut. "Sudah cukup!" bentak Arman. "Kami sudah terlalu sabar menghadapi kamu." Suasana rumah mendadak sunyi. Hanya terdengar napas berat Arman yang masih dipenuhi amarah, sementara Renata berdiri mematung, menatap kedua orang yang selalu mengaku sebagai keluarganya, tetapi tak pernah benar-benar memberinya kepercayaan. Renata menatap pria yang sejak lima tahun terakhir menjadi walinya itu dengan perasaan campur aduk. Sejak ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan, Arman dan Yuni memang tinggal di rumah itu. Mereka selalu berkata bahwa mereka hanya "menjaga rumah" sampai Renata dewasa. Kala itu Renata masih tujuh belas tahun. Dia percaya sepenuhnya. Seluruh sertifikat rumah, dokumen tanah, bahkan tabungan peninggalan kedua orang tuanya diurus oleh pamannya dengan alasan dia masih di bawah umur. Namun, tahun demi tahun berlalu. Yang berubah bukan hanya sikap mereka. Rumah yang dulu dipenuhi foto ayah dan ibunya semakin lama hampir tak menyisakan kenangan. Semua perabot diganti tanpa pernah meminta persetujuannya. Kamar utama yang dulu ditempati kedua orang tuanya kemudian menjadi kamar Arman dan Yuni. Sedangkan Renata dipindahkan ke kamar kecil bekas gudang. "Aku hanya menjaga rumah ini, Renata," kata pamannya setiap kali dia bertanya. Namun, semakin dewasa, Renata mulai menyadari sesuatu. Rumah itu bukan lagi dijaga, tetapi telah dikuasai. Bahkan, setiap sudut membuatnya merasa seperti tamu. "Kami sudah capek membiayai hidupmu!" bentak Yuni. Wajah wanita itu memerah. Telunjuknya mengarah tepat ke dada Renata seolah gadis itu adalah beban terbesar dalam hidupnya. Renata justru tertawa lirih. Tawa yang terdengar getir, lebih mirip luapan rasa kecewa daripada sebuah hiburan. "Membiayaiku?" Renata mengulang kata itu pelan. Mata gadis itu mulai memanas, menahan air mata yang mengancam jatuh. Dadanya naik turun menahan emosi yang siap meledak kapan saja. "Sejak semester dua aku bekerja sebagai barista. Uang kuliah dari beasiswa. Gajiku setiap bulan juga Bibi yang minta untuk biaya listrik dan belanja." Ruangan seketika hening. Tak ada satu pun dari ucapan Renata yang bisa dibantah. Semua itu adalah kenyataan yang mereka sama-sama tahu. Namun, Yuni tidak mau kehilangan muka. Dia mendengus kasar sebelum kembali meninggikan suara. "Itu balas budi! Kami sudah mengurusmu bertahun-tahun," ujar Yuni. Kalimat itu menghantam dada Renata lebih keras daripada bentakan sebelumnya. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat. Balas budi. Kata itu merupakan kata yang selalu mereka gunakan setiap kali ingin membungkamnya. Setiap kali Renata ingin mempertanyakan sesuatu atau menolak diperlakukan semena-mena. Padahal, kenyataannya jauh berbeda. Rumah yang mereka tempati bukanlah milik Arman ataupun Yuni. Rumah itu adalah peninggalan ayah dan ibu Renata Tempat yang dulu dipenuhi tawa, tetapi berubah menjadi tempat yang membuatnya merasa asing. Bahkan, pajak rumah itu dibayar menggunakan tabungan yang ditinggalkan kedua orang tuanya untuk masa depan Renata. Renata menatap Arman dengan sorot mata yang mulai dipenuhi keberanian. Untuk pertama kali, dia tak ingin lagi membiarkan dirinya terus diperlakukan tidak adil di rumah itu. Dadanya naik turun menahan emosi yang sudah lama dipendam rapat. "Paman." Suara Renata bergetar, bukan karena takut, melainkan karena luka yang terlalu lama dipendam sendirian. "Rumah ini rumah Papa dan Mama." Tatapan gadis itu beralih kepada Yuni. "Papa juga meninggalkan tabungan untuk masa depanku. Tapi, uang itu habis dipakai membiayai anak Paman dan Bibi. Aku tidak pernah mempermasalahkannya karena menganggap kita keluarga." Renata mengembuskan napas pelan. Senyum pahit terukir di bibirnya. "Aku bekerja sejak kuliah supaya tidak merepotkan siapa pun. Aku tidak pernah menuntut uang itu kembali." Mata gadis itumulai berkaca-kaca. "Tapi, sekarang... aku malah dituduh mencuri di rumah yang seharusnya menjadi milikku sendiri." Arman hanya mendengus sinis, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. "Jangan mulai lagi!" bentak Arman. Renata menggeleng pelan. Senyum kecewa terukir di bibir pucatnya. "Aku hanya mengatakan kenyataannya," kata gadis itu tegas. Namun, bagi Arman dan Yuni, kebenaran yang diucapkan Renata justru terasa seperti ancaman yang sewaktu-waktu bisa menggugurkan semua yang telah mereka kuasai. Arman hanya mendengus sinis. Bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan seolah ucapan Renata hanyalah omong kosong. "Ini memang rumah orang tuaku!"Makan malam akhirnya dimulai. Mereka duduk mengelilingi meja makan panjang. Renata awalnya masih merasa canggung. Dia duduk di samping Dirga. Di seberangnya Celina terus memperhatikannya.Setiap kali mata mereka bertemu, Celina tersenyum dengan ekspresi yang sulit diartikan.Akhirnya Renata berbisik, “Kenapa lihat aku terus?”Celina menjawab dengan suara pelan.“Aku masih mencoba membiasakan diri.”“Membiasakan diri dengan apa?” tanya Renata.“Dengan kenyataan bahwa sahabatku sekarang bibi aku," jawab Celina.Renata hampir tersedak. Dirga yang mendengar percakapan itu menahan tawa.“Celina," panggil Dirga.“Apa?”“Jangan menggodanya terus," lanjut Dirga.Celina tersenyum, lalu berucap, “Paman membela istri.”“Memang."Jawaban Dirga begitu cepat sampai Celina langsung tertawa. Renata pun tidak mampu menahan senyumnya.Ratih memperhatikan mereka dengan wajah puas. Baginya, suasana seperti itu sudah lama tidak ada di rumah utama.Dirga yang biasanya lebih banyak diam kini terlihat jauh l
Makan malam yang seharusnya menjadi acara keluarga biasa berubah menjadi sesuatu yang sama sekali tidak pernah dibayangkan Renata. Setelah pengakuan tentang pernikahannya dengan Dirga terbongkar, suasana ruang keluarga sempat dipenuhi keheningan.Celina masih berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya bergantian berpindah antara Renata dan Dirga. Seolah-olah dia masih berusaha memastikan bahwa semua yang baru saja didengarnya bukan lelucon.“Jadi, ....” Celina akhirnya bersuara setelah beberapa saat hanya menatap Renata dan Dirga secara bergantian.Sejak mengetahui hubungan mereka, wanita itu tampak kesulitan mencerna kenyataan yang baru saja terungkap. Sesekali, pandangannya beralih kepada Dirga, seolah berharap pamannya akan mengatakan bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman. Namun, Dirga tetap duduk tenang di sofa. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyangkal apa pun.Renata yang duduk di sampingnya mulai merasa gelisah. Dia bisa memahami
“Iya," jawab Dirga.Celina terdiam sejenak, berusaha mencerna jawaban singkat yang baru saja didengarnya. Dia menatap pamannya, lalu mengalihkan pandangan kepada Renata yang berdiri tidak jauh dari sana. Tatapannya bergerak bergantian di antara keduanya, seolah berharap dirinya salah memahami situasi.“Dan .…”Kalimat Celina terputus. Perlahan, dia mengangkat tangannya dan menunjuk Renata dengan ekspresi tidak percaya.“Paman menikah dengan Renata?”“Iya."Jawaban itu kembali terdengar begitu tenang, seolah tidak ada sesuatu yang mengejutkan dari pengakuan tersebut.Celina langsung memegang kepalanya dengan kedua tangan. Matanya membulat, sementara bibirnya terbuka lebar karena terlalu terkejut untuk segera mengeluarkan kata-kata.“Ya ampun!”Renata semakin salah tingkah. Dia tahu Celina bukan marah. Sahabatnya itu hanya terlalu terkejut untuk mencerna kenyataan bahwa dua orang yang selama ini berada di kehidupannya ternyata memiliki hubungan yang jauh lebih dekat daripada yang pernah
“Celina?”Seketika suasana yang sebelumnya hangat berubah menjadi penuh tanda tanya. Ratih menoleh dari satu wanita ke wanita lainnya.“Kalian sudah saling kenal?”Celina tidak langsung menjawab. Dia justru berjalan cepat menghampiri Renata dengan ekspresi yang masih dipenuhi rasa tidak percaya.“Kamu ngapain di sini?” tanya Celina.Nada suara Celina terdengar spontan, seperti seorang sahabat yang tiba-tiba menemukan temannya berada di tempat yang sama sekali tidak pernah dibayangkan.Renata membuka mulut. Namun, sebelum sempat memberikan jawaban, pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan. Dia tidak pernah membayangkan akan bertemu Celina malam itu. Apalagi di rumah Dirga.“Aku .…”Renata melirik Dirga sekilas. Dirga yang menyadari kegugupan istrinya hanya berdiri tenang.Celina kemudian mengikuti arah pandangan Renata. Tatapannya berhenti pada Dirga. Lalu kembali kepada Renata.“Kamu datang sama siapa?” tanya Celina.Pertanyaan itu membuat jantung Renata berdegup lebih cepat. Ia












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.