Share

48. Tenda khusus

Penulis: Djulitas
last update Tanggal publikasi: 2026-06-06 09:50:18

“Pak.” Suara Belvara memecah keheningan di dalam mobil.

“Iya?” Hagan sekilas menatap Belvara dari spion dalamnya dengan wajah datar, kemudian kembali fokus pada jalanan di hadapannya.

“Kenapa Bapak bisa tahu kalau pelayan tadi yang mencoba sabotase, Aku?”

“Banyak CCTV di rumah, yang Saya pasang secara sembunyi,” jawab Hagan santai.

“Oh…” respon Belvara, tak ada pertanyaan lain setelahnya. ‘berarti benar kata Tina semalam.’

Mobil itu pun belok perlahan, menuju jalan yang lebih kecil dan sedikit
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   84. Di mobil pun jadi

    Meski ragu, perempuan itu yang mudah terangsang membuat jarinya segera meraih ritsleting celana Hagan, tangannya mulai masuk, meraba-rabanya perlahan.Hagan mengerang, “ah…”“Baru juga dielus, Pak.”Terlalu menikmati sentuhan Belvara, hingga iya tak sadar lampu merah tadi sudah berubah menjadi hijau, beberapa kendaraan di belakang membunyikan klaksonnya yang ditujukan untuk mobil yang Hagan kendarai tak langsung melaju, menghalangi kendaraan lain yang terburu-buru di belakang.Haga reflek menginjak pedal gas, membuat Belvara yang hendak menunduk hampir tersungkur. “Aw, Pak!” pekik Belvara, saat kendaraan yang ia naiki kembali melaju.“Maaf, Saya refleks karena kaget di klakson kendaraan lain.”“Lagian, Bapak gak bisa sabar sebentar.” “Benarkan lagi celana Saya!” titah Hagan dengan intonasi datar, tak menoleh pada Belvara sedikitpun, seolah laki-laki itu sedang menahan kesal karena kenikmatannya terganggu.Belvara menatap sinis pria di sebelahnya. “Yakin mau dibenerin sekarang? Gak m

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   83. Dibalik gundukan celana

    Udara di dalam Klinik selalu terasa lebih dingin dari yang seharusnya. Begitu pintu kaca bergeser terbuka, aroma khas yang menusuk hidung langsung menyergap—perpaduan antara tajamnya cairan antiseptik, kapas steril, dan samar-samar wangi bedak bayi dari resep racikan dokter. Tempat ini adalah ruang tunggu tempat waktu seolah berjalan lebih lambat, tempat orang-orang menggantungkan kesembuhan.“Nyonya Belvara,” panggil seorang petugas kesehatan.Belvara segera berdiri, melangkahkan kakinya, dan menghampiri petugas yang memanggil namanya. “Iya, Saya sendiri.”Petugas itu mengulurkan beberapa lembar obat yang sudah di bungkus dengan masing-masing plastik klip, tertulis jenis obat dan berapa kali pemakaian. Petugas itu pun menjelaskan, yang di dengarkan dengan seksama oleh Belvara, meski kepalanya masih terasa berat, ia paksakan untuk tetap kuat.Setelah obat ia terima, Belvara pun berbalik badan. Sesaat ia mematung, menatap sekeliling, banyak orang datang ke klinik ditemani pasangannya,

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   82. Kecoklatan dan mengkilap

    Ia menghela nafas kasar, masih dengan posisi berjongkok, bahkan celana dalam yang ia kenakan pun belum ia rapikan dan dipakai kembali dengan benar.Tesepk itu menampilkan hasil garis satu, hasil yang sangat ia harapkan, dan dengan cepat ia membenarkan pakaian bawahnya.Belvara memotret hasil tespeknya, dan mengirim hasilnya pada Hagan. “Negatif kan, Pak. Aku gak hamil.” Belvara mengusap-usap dadanya, jantungnya kembali berpacu normal. ‘Berarti Aku cuma masuk angin atau mungkin maag karena sering telat makan.’ Ia keluar dari kamar mandi berjalan perlahan, dengan kedua tangan memegangi perutnya yang ia rasa masih kembung. Membuatnya kembali mengirimi Hagan pesan. “Pak, izin istirahat di kamar, ya. Sepertinya Aku sakit.” Belvara kirimkan pesan itu setelah ia kembali ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang.‘Tapi kenapa bisa telat datang bulan sampai dua minggu? Biasanya Aku gak pernah kayak gini, apa karena Aku ikut stres sama masalah Pak Hagan, ya?’ Belvara menggelengkan kepala, kemudi

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   81. Mual hebat

    Belvara menelan ludah, menatap Ayas dengan tatapan nanar dan sedikit terkejut, nafasnya masih terengal-engal karena mual. ‘Gak! Jangan sampai Aku hamil dalam situasi seperti ini.’ Sangkalnya dalam batin, ia masih menutup mulutnya dengan telapak tangan.Hagan pun datang, dengan alisnya yang sedikit bertaut, matanya menyipit sejenak seolah sedang mencerna apa yang baru saja ia lihat. “Belvara.” Sapanya ketika melihat Belvara baru saja keluar dari kamar mandi.Perempuan itu meremas pakaian tepat di bagian perutnya, dan rasa tidak enak di perut kembali ia rasakan, membuatnya segera berlari lagi ke kamar mandi.“Kenaoa?” Tanya Hagan pada sang anak.Ayas menggeleng ragu. “Apa Mama hamil?”Jantungnya berdegup lebih kencang, ia melengkah segera menyusul Belvara ke kamar mandi. “Benar yang Ayas katakan?” Belvara mengusap mulutnya dengan air di wastafel kamar mandi, sejenak ia memejamkan mata menetralkan rasa mual yang kini mulai menjalar di kepala, membuatnya semakin pusing.Hagan semakin me

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   80. Maag atau hamil?

    Ayas bersembunyi di balik tubuh Belvara, memeluk pinggangnya erat-erat, an membenamkan wajahnya di punggung perempuan itu, saat masa mengerubungi kediamannya, beberapa orang yang berdemo mencoba menerobos masuk, security berjaga ketat di sana, namun banyaknya masa tidak sebanding dengan banyaknya penjagaan security kediaman mewah itu.Hagan memijat pelipisnya berulang kali, mondar-mandir tanpa arah dan tujuan, seolah mencari cara pintas dari masalah yang saat ini ia hadapi. “Semakin hari bukan semakin redup rumor itu, kenapa malah semakin melejit!” gerutunya, rahangnya terlihat kaku dengan tangan yang mengepal di samping tubuhnya.Belvara yang berada di ruang tengah bersama Hagan juga Miranti hanya bisa diam, dan terus memeluk Ayas yang sedang ketakutan, tiap kali suara keras menggema dari luar. Rasanya hari ini, Belvara sedikit kurang sehat, apa pun yang ia lihat seperti berputar tanpa henti, kendati begitu, ia harus tetap terlihat kuat dan sehat, meski wajahnya kini lebih pucat dar

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   79. Obrolan dua pria dewasa

    Ibra menoleh pada Hagan secepat kilat, dengan mata melotot hebat seolah hendak keluar dari kepala. “Pak jangan ngawur, reputasi Bapak makin hancur yang ada, seorang ketua Yayayan menggauli pengasuh anaknya,” ucapnya sambil mencebik. Hagan tertawa sumbang. “Ya saya tunjukan bukti bahwa Saya sudah menikahinya satu tahun lalu. Agar tidak dianggap zina.” Ibra menghela nafas dan mengusap wajahnya. “Bayangkan di posisi Belvara, Pak. Dia akan dihujat habis-habisan, dituduh sebagai penggoda.” Hagan manggut-manggut paham. “Iya juga.” “Pak.” Ibra kembali menghela nafas, seolah ia turut frustasi atas masalah ini. “Yang paling benar memang Bapak nikahi Bu Ayana.” Hagan menatap sinis asistennya, sorot matanya mengunci Ibra untuk tidak kembali bersuara. “Kamu tahu, istri Saya Belvara!” “Istri rahasia,” timpal Ibra sambil membuang muka. “Saya hanya menunggu momen yang pas untuk mengakui dia adalah istri Saya.” Ucapan Hagan kali ini tegas syarat akan banyahan, yakin tanpa ada keraguan. “Eman

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   68. Perempuan di apartemen

    Setelah meletakan pakaian yang sudah ia pilih untuk Hagan, Belvara keluar dari kamar itu mengendap-ngendap, menyapu pandangan memastikan tidak ada yang memergoki. Dan syukurnya area rumah itu masih sepi. Namun di dapur, kehidupan sudah di mulai, beberapa pelayan sedang mempersiapkan bahan untuk sar

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   67. Topeng itu kembali?

    Belvara terbangun lebih dulu dengan tubuhnya yang Hagan peluk erat, salah satu kaki pria itu melingkar pula di tubuhnya, membuat tubuh Belvara pegal tertindih Hagan semalaman.Ia mengernyit, berusaha melepaskan pelukan Hagan, semakin ia banyak bergerak, semakin Hagan memeluknya kian erat.“Bayi bon

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   66. Deeptalk

    Setelah ia menutup pintu kamar Ayas, Belvara memejamkan mata rapat, seraya dengan bibir bawahnya yang ia gigit cukup kuat, ingin menolak namun sulit, akhir-akhir ini ia mulai enggan melayani sang suami. Meski malas, ia tetap mematuhi keinginan Hagan—mendatangi kamarnya, dan seolah tak perlu permis

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   64. Tamu tak di undang

    Hagan menarik nafas dan menghembuskannya kasar, menoleh sekilas pada Ibra. “saya tidak kenal Ayah Kamu, untuk apa Saya bicarakan dia?” Hagan kembali merapikan kotak P3K-nya, menyandarkan bahunya di sandaran sofa dengan kedua tangan terlentang bebas.Mata Belvara menyipit, menatap Hagan penuh selidi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status