登入Hari yang dinanti pun tiba. Hotel mewah di kawasan Jogja malam itu diselimuti atmosfer kemegahan yang luar biasa. Lampu-lampu kristal memantulkan cahaya berkilauan, menyinari karpet merah yang dilewati oleh para tamu undangan kelas atas. Jajaran menteri, pengusaha sukses, hingga sosialita papan atas hadir demi acara lelang amal eksklusif yang diadakan oleh desainer papan atas, Nadine Wirahadi.Di antara kerumunan tamu, Rasya Kumala tampil anggun dengan gaun malamnya bersanding dengan Viviane yang mengenakan gaun hitam berbelahan tinggi. Mata Rasya menyipit tajam saat menangkap siluet Sandra atau yang lebih mereka kenal sebagai Momy Aleya—sedang berbincang akrab dengan Nadine di dekat panggung utama. Sandra malam itu tampak teramat memesona dengan salah satu gaun Arunika rancangannya sendiri, sebuah perpaduan tenun dan sutra pastel yang memancarkan aura berkelas."Lihat perempuan itu," desis Rasya, mempererat cengkeramannya pada gelas kecil di tangannya. "Sok suci sekali dia berdiri d
Hari-hari berjalan biasa bagi Sandra. Studionya memang selalu ramai hanya menambah jam saja. Di satu sudut, mesin jahit menderu tiada henti menyelesaikan pesanan di bawah komando Rian. Sementara di sudut lain, di bawah pengawasan Sandra, sepuluh gaun mahakarya untuk lelang amal Bu Nadine perlahan mulai mewujud. Potongan kain batik sutra bermotif kontemporer berpadu apik dengan brokat prada, menciptakan siluet anggun yang memukau mata.Hingga pada sore hari di hari kelima, deru mesin mobil yang sangat familiar memecah keheningan pekarangan rumah Joglo.Sandra yang baru saja keluar datang berhenti dan membalikkan badan. Jayadi melangkah turun dengan senyum lebar, disusul oleh Dewantara yang langsung mengancingkan jas kasualnya."Papa! Mas Tara!" seru Sandra, matanya berbinar riang menatap kedatangan dua pria itu."Halo, Sandra. Wah, menantu Papa makin bersinar saja setelah pameran kemarin," sapa Jayadi hangat, menepuk pelan bahu Sandra.Dari arah dalam rumah, Helen buru-buru keluar ber
Pagi harinya, Sandra bergegas ke studio hingga tak sempat sarapan karena telpin mendadak dari stafnya. "Mbak Sandra, ada tamu di ruangan Mbak Sandra. Katanya dari Jakarta dan ingin bertemu langsung dengan Mbak," lapor seorang staf administrasi begitu Sandra menjejakkan kakinya. Sandra mengangguk sambil merapikan blazernya.. "Katanya namanya Ibu Nadine, Mbak." Mendengar nama itu, senyum Sandra langsung mengembang. Sandra buru-buru melangkah ke ruang tamu studionya. "Halo, Sandra! Ya ampun, selamat ya atas sukses besarnya di Maison Veloura kemarin!" sapa Nadine begitu melihat Sandra masuk. Wanita sosialita itu langsung bangkit dan memeluk Sandra dengan hangat. "Terima kasih banyak, Bu Nadine. Suatu kehormatan Bu Nadine berkenan datang," jawab Sandra ramah seraya mempersilakan Nadine duduk kembali. Nadine tertawa renyah, meletakkan tas jinjingnya ke samping sofa. "Tentu saja. Aku harus sering-sering berkunjung ke studio kamu ini, yang sekarang jadi incaran semua fashion e
Rasya memaki sendiri sambil menatap layar ponselnya yang sudah menggelap dengan napas memburu. Tangannya gemetar hebat karena amarah yang memuncak. Rencana besarnya untuk membuat Helen histeris dan memicu keributan besar di keluarga Dewantara hancur berantakan hanya dalam hitungan detik. Kepalanya terasa pening, tidak habis pikir mengapa reaksi Helen justru sedatar dan sangat santai itu. Kini, ia memasuki mobil lalu bergegas pergi meninggalkan kediaman Dewantara. Tanpa Rasya tahu jika Jayadi, ayah Dewantara melepas kacamatanya sambil bersandar di kursinya. Pria paruh baya itu menggelengkan kepala, lalu meraih ponsel di atas meja. Ia menekan sebuah nomor, menghubungkan panggilan konferensi antara dirinya, sang istri yang berada di Yogyakarta, dan putra tunggalnya, Dewantara, yang saat ini sedang dalam perjalanan bisnis dengan Ardi. Begitu semua saluran terhubung, suara tawa renyah langsung pecah dari speaker ponsel saat laki-laki tambun itu menceritakan tuduhan Rasya. "Papa be
Sandra mengerjap lalu membuka matanya perlahan. "Udah mau sampai ya, Pak?" Tanya Sandra sambil menatap luar jendela. Laki-lski setengah baya itu menoleh sesaat lalu mengangguk. "Iya, Mbak. Udah masuk gang." Sandra meregangkan tubuhnya sesaat. Akhirnya perjalanan panjang Jakarta Jogja selesai. Ketika mobil mewah kiriman Dewantara akhirnya memasuki pekarangan rumah, Sandra mengernyitkan dahinys. Mobil sang mertua terparkir di garasi dengan rapi. Sandra melangkah turun dari mobil setelah sang sopir membukakan pintu, ia segera masuk. Kakinya berhenti melangkah saat melihat Aleya dan Helem ada di gazebo taman samping. "Mami!" Aleya yang pertama kali menyadari kehadiran ibunya langsung bangkit berdiri dan berlari kencang, menubruk kaki Sandra dengan erat. Sandra berlutut, memeluk tubuh mungil putrinya dan mencium kedua pipinya yang gembul. "Aleya Sayang... anak pintar. Wah, lagi main apa ini sama Eyang Putri?" Helen ikut bangkit sembari merapikan pakaiannya, wajah paruh bayanya be
"Kamu yakin tidak mau aku antar sampai stasiun, Sandra?" Nicholas mengancingkan koper premiumnya sembari melirik Sandra yang sedang merapikan tas jinjing di lobi hotel. Pagi itu, atmosfer kesibukan berganti menjadi momen perpisahan. Nicholas harus segera bertolak kembali ke Paris untuk mempersiapkan pameran lanjutan Arunika, sementara Hana juga sudah bersiap-siap."Tidak usah, Nicholas. Lagipula jadwal penerbanganmu ke Paris kan sebentar lagi. Perjalanan ke bandara pasti macet," jawab Sandra dengan senyum tulus.Hana yang berdiri di samping Sandra ikut menimpali sambil memeluk sahabatnya itu erat-erat. "Aku juga harus langsung balik ke Malaysia pagi ini, Sandra. Kerjaan di sana sudah menumpuk. Kamu hati-hati ya naik keretanya ke Jogja. Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai.""Iya, Hana. Kamu juga hati-hati di jalan. Sampaikan salamku untuk tim di sana," ucap Sandra melepaskan pelukan Hana.Setelah Nicholas dan Hana melangkah keluar lobi menuju taksi bandara masing-masing, Sandra m
“Itu… itu…!” Sandra refleks melangkah ke depan, menghadang Elena yang terus berjalan ke depan. Tangan Sandra terulur meraih lengan kakaknya cepat, berharap ia bisa menghentikan langkah Elena yang sudah telanjur maju. “Kak, jangan ke situ,” ucap Sandra dengan suara tegang. Ia tak bisa mengambil
hampir jam dua belas malam dan mobil Elena berhenti tepat di depan butik Sandra. Elena tersenyum. Lampu butik menyala. Dan yang membuat dada Elena sedikit lega adalah mobil Sandra yang masih terparkir rapi di halaman. Elena turun dengan langkah cepat lalu mengetuk pintu kaca butik satu kali. Tak
Elena merapikan tas kerjanya sambil berdiri. "Ayo. Kita ketemu Bastian sekarang!" Sandra mengangguk, meski perutnya terasa mengencang. “Aku ingin secepatnya menyiapkan kondisi kamu!" katanya mantap. “Biar semuanya lebih jelas. Lebih cepat lebih baik!" “Baik, Kak.” “Kita ke RSPI Pondok Indah saj
Bastian menatap Elena dan Sandra bergantian lalu menyandarkan punggung ke kursi. Kini, matanya fokus kepada Sandra, sedikit lebih lama dari sebelumnya. “Ngomong-ngomong, Sandra,” katanya datar namun menusuk, “Kamu... memang belum menikah?" Pertanyaan itu jatuh seperti benda berat yang menimpa







