Chapter: 243. Akhir HaruBeberapa bulan penuh dengan hati-haro yang lelah, kini terbayarkan. Aku berdiri menikmati pemandangan Jakarta siang ini melalui jendela kaca sambil sesekali menghirup kopi hitamku yang masih hangat. Sejak Kakek menginformasikan keinginan Paman untuk rehat, aku mulai menyusun cara agar aku tak perlu bolak balik Jakarta dan Surabaya. Dan untung saja, Fatih memang mendukung keinginanku. Dan kini, di sinilah aku berada. Di ruanganku sendiri. Bukan lagi sebagai sekretaris Fatih tapi sebagai pemimpin Wiratmaja Group. Memang bukan hal yang mudah karena harus ada beberapa perubahan yang harus aku urus tapi selama ada Pramudya sebagai pengacara keluarga, semua bisa aku lalui dengan mudah. Semua perijinan diselesaikan Pramudya dengan cepat. Dari perubahan domisili perusahaan, pembaruan akta juga pemindahan dokumen, aset dan perijinan operasional. Sedikit rumit dan melelahkan, tapi sangat menyenangkan dan memuaskan. Apalagi, Fatih menginginkan Wiratmaja Group berada satu gedung dengan Al Fa
Last Updated: 2025-12-05
Chapter: 242. Status BaruSetelah ashar, kami kembali memenuhi ruang tengah. Beberapa waktu tak bertemu Kakek, membuat kami rindu. Lebih-lebih ingin sekali mendengar cerita Tante Arini yang kini telah bermukim di Surabaya. "Kamu harus siap-siap Safira. Kemungkinan Pamanmu akan mundur dari Wiratmaja. Itu artinya iamu harus maju untuk memimpin perusahaanmu sendiri!" Aku yang duduk di sebelah Kakek hanya bisa menatap Kakek dengan bingung. Maju untuk pegang Wiratmaja? Apakah itu artinya, aku harus di sana? Sementara Fatih di sini? Aku melirik Fatih yang juga sedang melirikku. Hanya saja dia mengangguk samar. Tak ingin membahasnya sekarang. "Dari mana Kakek tahu?" Tanyaku ingin kejelasan. Kakek menyesap teh hangatnya perlahan lalu kembali menatapku lembut. "Mereka sudah membicarakannya. Pamanmu juga Tantemu. Ya, mungkin saja mereka ingin menjalani rumah tangga dengan cara mereka. Jauh dari hingar bingar kota!" Aku mengangguk. Sepertinya aku harus mulai membicarakannya dengan Fatih, secepatnya. Baru saja ak
Last Updated: 2025-12-04
Chapter: 241. Mulai BerprosesBeberapa minggu ini, kami sibuk dengan urusan masing,masing. Seperti Bayu, yang sesekali harus ijin karena urusan perceraiannya. Kupikir kedatangan Diana malam itu, akan mengubah keputusan Bayu tapi ternyata, sidang tetap berjalan. Dan Diana tak pernah lagi datang ke rumah sejak hari itu. Sedang Fatih. mulai fokus dengan pekerjaannya, menangani proyek-proyek Al Fath yang mulai berjalan bersamaan. Kadang, aku harus menemaninya dalam momen-momen tertentu. Meski kadang, aku juga harus sibuk dengan urusan Wiratmaja Group. Untungnya, Isna dan Bram kembali bergabung setelah satu minggu libur dengan pernikahannya di kampung Majalengka. "Anak-anak gimana, Ma?" Fatih bertanya setelah sekian kali. Maklum, kami meninggalkan mereka sejak pagi karena meeting mendadak tentang tindak lanjut proyek rusunawa di luar Jawa. "Aman. Barusan Isna kasih kabar. Dipta juga udah pulang sekolah. Katanya sih, lagi main sama Buyutnya!" jawabku menjelaskan sambil menyiapkan berkas selanjutnya. "Syukurlah. Ka
Last Updated: 2025-12-03
Chapter: 240. Keputusan TerbaikBeberapa hari berlalu. kupikir semua akan bak-bsik saja seperti biasa. Bayu mungkin terluka tapi bisa saja dia mengambil langkah lain yang aku dan Fatih tak tahu. Toh, itu memang area kekuasaan Bayu. Aku dan Fatih tak bisa ikut terlalu jauh, meskipun apa yang Diana lakukan melibatkan aku dan Fatih. Aku sedang di ruang tengah bersama Fatih dan anak-anak yang ditemani oleh Isna. Dipta seperti biasa, selalu fokus dengan menggambarnya sementara Raina, kini suka sekali mengamati kakaknya sambil sesekali menggumam. Sesekali, aku dan Fatih terlibat pembicaraan dengan Isna. Menanyakan tentang kesiapannya menikah dengan Bram dalam waktu dekat ini. Hingga Ketukan pintu terdengar. Fatih berdiri lebih dulu saat aku menatapnya dengan heran. Beberapa saat kemudian, Fatih kembali masuk dengan Pramudya. Laki-laki itu masih rapi dengan kemeja kerja dan jas yang digantung di lengan. "Hai, anak-anak” Sapa Pramudya saat melihat anak-anak. "Ada apa nih, tumben datang dengan tas kerja?" Fatih
Last Updated: 2025-12-02
Chapter: 239. Malam setelah KeributanMalam ini lebih tenang. Begitu sunyi sampai bunyi ketukan jariku di permukaan cangkir terdengar jelas. "Anak-anak sudah tidur?" tanya Bayu memecah keheningan. "Sudah. Di kamar sama Isna!" jawab Fatih pendek. Bayu menunduk sesaat lalu kembali menatao kami bergantian. suaranya pecah saat mulai bicara. “Maaf… Safira. Fatih!" Bayu menghela nafas sejenak. “Aku… bener-bener nggak nyangka kalau Diana… sampai segitunya. Aku pikir… dia perempuan baik. Lembut. Pandai ngomong. Perhatian… ya ampun, aku bodoh banget.” Aku menggeleng pelan, meraih tisu lalu menyodorkannya ke Bayu. “Kamu nggak bodoh, Bayu… kamu cuma… jatuh cinta sama orang yang salah.” Ia tertawa hambar, mengambil tisu itu dan mengusap matanya. “Tambah sakit dengernya.” Fatih menyandarkan punggungnya, lalu menarik napas panjang. “Aku juga nggak nyangka. Aku kaget banget dia masih nyimpen semua itu. Padahal aku cuma nolong dia waktu itu… itu pun karena dia kelihatan benar-benar putus asa.” Bayu mengangkat wajah. “Fatih, aku n
Last Updated: 2025-12-01
Chapter: 238. Pengakuan yang Membuat LukaRuangan yang tadinya hanya dipenuhi aroma tumisan bawang mendadak berubah menjadi ruang vakum. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Hanya detak jantung yang memukul-mukul gendang kuping. Diana berdiri di hadapanku—wajahnya memerah, napasnya memburu, matanya berkaca-kaca bukan karena sedih… tapi karena marah, kecewa, dan… cinta yang salah tempat. “Aku bilang… aku cinta sama Fatih!” ujarnya lagi, lebih keras, seolah ingin menegaskan bahwa ia tidak sedang terganggu atau salah ucap. “Dari dulu! Sejak pertama kerja bareng! Sejak sebelum kamu, Safira! Dan kamu… dengan mudahnya dapat dia—seolah aku nggak ada!” Aku terpaku. Kata-kata itu seperti tamparan dingin di wajahku. Bayu, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, terlihat seperti baru saja ditikam. Matanya membesar, napasnya serak ketika mencoba bicara. “Diana… kamu—kamu ngomong apa barusan?” Diana menoleh cepat ke arah suaminya, seperti baru sadar bahwa Bayu juga ada di sana. Namun bukannya menyesal atau meralat, ia justru te
Last Updated: 2025-11-30
Chapter: 73. Ternyata...Ruang ICU itu terasa dingin.Bukan hanya karena suhu ruangan yang dijaga stabil, tetapi juga karena suasana yang menekan. Bunyi **monitor jantung** berdetak teratur—*beep… beep… beep…*—menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan.Desi berdiri di samping ranjang.Matanya tidak lepas dari tubuh Rendra yang terbaring kaku.Wajah pria itu pucat. Kepalanya dibalut perban tebal. Selang oksigen terpasang di hidungnya, membantu pernapasannya yang lemah. Infus menetes perlahan dari tangan kanannya, sementara kabel-kabel kecil menempel di dada, terhubung dengan monitor yang terus menunjukkan grafik detak jantungnya.“Rendra…” suara Desi bergetar.Untuk pertama kalinya—perempuan itu terlihat rapuh.Tangannya perlahan menyentuh punggung tangan Rendra.“Bangun…” bisiknya lirih. “Kamu gak boleh seperti ini…”Air matanya jatuh.Tanpa ia sadari.Beberapa langkah di belakangnya—Elena berdiri diam.Menatap semuanya.Wajahnya datar.Namun matanya…tidak.Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dir
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: 72. Dua NamaPagi itu seharusnya berjalan seperti biasa.Rendra mengemudikan mobil dengan tenang, sesekali melirik ke kaca spion. Di kursi belakang, Desi duduk sambil memeriksa ponselnya. Wajahnya masih menyimpan sisa ketegangan sejak semalam, tapi ia berusaha terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.“Langsung ke kantor saja, Ren,” katanya singkat.“Iya,” jawab Rendra tanpa banyak bicara.Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai. Suara klakson bersahutan, orang-orang bergegas memulai aktivitas mereka.Tak ada yang aneh.Setidaknya sampai mobil itu berbelok di sebuah tikungan.Semuanya terjadi begitu cepat.Sebuah truk dari arah berlawanan melaju terlalu kencang. Rendra refleks memutar setir. Ban berdecit. Mobil kehilangan keseimbangan.BRAKK!Benturan keras mengguncang segalanya.Tubuh Rendra terpental ke depan, kepalanya menghantam bagian setir. Kaca depan pecah. Suara logam beradu memekakkan telinga.Desi menjerit.Segalanya menjadi kacau.---Beberapa jam kemudian—Lorong rumah sakit
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: 71. Ternyata DiaDesi masih berdiri di dalam ruangan kecil itu setelah panggilan tadi terputus. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu kembali menekan satu nomor lain.Kali ini, ia tidak perlu menunggu lama.“Ya?” suara di seberang langsung menjawab.Desi menyandarkan tubuhnya ke meja. “Semua sudah siap?”Terdengar tawa kecil. “Sejak kapan kamu meragukan aku?”Desi mendengus pelan. “Aku tidak suka menunggu, Rendra.”Nama itu akhirnya disebut.Di seberang sana, Rendra terkekeh rendah. “Tenang saja. Aku sudah cari tahu semua yang kamu minta.”Desi langsung menegakkan tubuhnya. “Dan?”“Apa yang kamu lihat tadi… perempuan yang bersama Dewantara itu…” Rendra berhenti sejenak, seolah sengaja menggantung.Desi menyipitkan mata. “Cepat katakan.”“Itu bukan siapa-siapa.”Desi terdiam.“Apa maksudmu?”“Hanya pekerja biasa,” lanjut Rendra santai. “Namanya Maya. Dia cuma orang yang dipakai Dewantara untuk urusan tertentu.”Desi mengernyit. “Lalu…?”Suara Rendra
Last Updated: 2026-03-28
Chapter: 70. Masih BertahanPanggilan itu kembali dilakukan Elena, tak lama setelah acara mulai sedikit mereda.Di sudut ruang tamu yang mulai dipenuhi obrolan ringan para tamu, Elena berdiri sambil menggenggam ponselnya. Tatapannya sesekali melirik ke arah pintu depan—ke arah perempuan bercadar yang tadi duduk di sisi Dewantara.Dadanya masih terasa sesak.Nada sambung terdengar.Sekali.Dua kali.Lalu akhirnya—“Hallo, Kak?”Suara itu membuat Elena sedikit tersentak.“Sandra?” Elena mencoba menstabilkan suaranya.“Iya, Kak. Maaf baru angkat,” jawab Sandra dari seberang. Suara mesin mobil terdengar samar di latar belakang. “Tadi lagi di jalan.”Elena mengernyit. “Di jalan? Kamu di mana?”“Aku lagi menuju rumah Mas Dewantara,” jawab Sandra santai. “Baru selesai pesanan. Jadi langsung ke sana.”Elena terdiam sejenak.Matanya tanpa sadar kembali mencari sosok perempuan bercadar itu di dalam rumah.“Hmm… iya,” jawabnya akhirnya singkat. “Hati-hati.”“Iya, Kak.”Sambungan terputus.Elena menatap layar ponselnya bebe
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: 69. Perempuan itu....Hari itu akhirnya tiba.Rumah besar milik Dewantara tampak berbeda dari biasanya. Sejak pagi, halaman sudah dipenuhi tenda-tenda putih dengan hiasan bunga segar. Nuansa adat dan kekeluargaan terasa begitu kental. Para tamu mulai berdatangan, mengenakan pakaian terbaik mereka.Acara empat bulanan itu digelar dengan meriah.Keluarga besar Dewantara dan Elena hadir tanpa terkecuali. Tawa, sapa, dan obrolan hangat terdengar di setiap sudut.Di tengah keramaian itu—Dewantara berdiri tegap.Ia mengenakan batik dengan potongan rapi yang mempertegas tubuhnya. Warna yang dipilih tidak mencolok, namun justru membuat auranya semakin kuat. Wajahnya tenang. Dingin seperti biasa. Namun kehadirannya tetap menjadi pusat perhatian.Di sisi lain, Helen dan suaminya juga tampil serasi.Kebaya dan batik yang mereka kenakan adalah hasil tangan Sandra. Jahitannya halus, jatuh dengan sempurna, membuat pemakainya terlihat anggun tanpa berlebihan.Beberapa tamu bahkan memuji pilihan busana mereka.“Elagan se
Last Updated: 2026-03-26
Chapter: 68. Kabar GembiraSemua membeku. Sandra menelan ludah, Dewantara menegang. Sementara Elena masih menatap keduanya penuh tanda tanya. Ia tak mengabari Dewantara, bagaimana bisa sekarang ia ada di sana, menjaga Sandra seakan-akan mereka memang pasangan. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Rasa curiga yang sejak semalam ia pendam, kini kembali muncul ke permukaan. Apakah yang dimaksud Dewantara adalah Sandra? “Kalian… kenapa bisa bersamaan di sini?” ulangnya, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tajam. Sandra mencoba membuka mulut, tapi tetap saja tak ada kata yang keluar. Dewantara berdiri diam. Wajahnya kembali datar, ia mencoba bersikap seperti biasa, meski ada nafas yang ia tahan agar tak kentara sedang ketahuan. Dan tepat saat keheningan itu semakin menekan, tiba-toba saja dari arah belakang Dewantara dan Sandra, Bastian muncul. “Kenapa belum pulang? Bukannya kalian sudah selesai pemeriksaan?" Suara Bastian seketika membuat Sandra bernafas lega. Ketiganya menoleh be
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: 107. Akhir Bahagia ( Tamat) Beberapa bulan kemudian, klinik pribadi yang Saka inginkan sudah berdiri. Tepat di samping rumah. Sedikit demi sedikit, harapan kami terwujud satu persatu. "Ibu gak nyangka. akhirnya kamu bisa mewujudksn mimpimu, Saka!" Tante Asa menepuk pundak Saka, terharu. Ruangan mulai penuh dengan tamu-tamu undangan. Beberapa diantaranya banyak yang duduk sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan. Saka justru memelukku dan mencium dahiku lembut, "Semua karena dukungan Nada, Bu!" Tante Asa mengangguk. "Tentu. Ibu tahu jika Nada istri yang hebat untukmu!" Kini, Tante Asa menatapku. "Maafkan ibu, Nada. Mungkin ibu pernah tak percaya padamu!" Aku mengusap punggung tangan Tante Asa sambil menggeleng. "Semua sudah berlalu, Bu. Saka suamiku. Tentu aku akan selalu melakukan yang terbaik untuknya!" Kami menoleh saat terdengar gelak tawa Naren yang ada dalam gendongan ibu. Bersama ibu, tampak Fajar yang sedang menggoda Naren, itu sebabnya Naren tertawa lebar. "Kau harus menjaga rumah
Last Updated: 2025-09-16
Chapter: 106. Setiap Pertanyaan Selalu Ada JawabanMalamnya, setelah Naren tertidur pulas di tengah-tengah kami, Saka memulai percakapannya kembali. "Nada," panggilnya pelan. "Aku minta maaf." Saka mengangkat Naren dan memindahkannya di box bayi yang ada di sisinya. Aku menoleh. "Untuk apa?" "Untuk Larasati. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu. Aku hanya... aku hanya tidak ingin kamu khawatir," jawabnya. Kini, Saka kembali duduk di sisiku. Aku tersenyum. "Aku paham maksudmu!" Jawabku pelan. Aku memang sadar. Tak akan pernah bisa merubah karakter Saka yang ringan tangan dan selalu ingin membantu urusan orang lain. Meskipun kadang, hal itu justru merugikan Saka sendiri. Saka menghela napas lega. Ia mencium keningku. "Nada, aku ingin kamu tahu, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu!" Aku membalas pelukannya. "Aku tahu!" Saka terdiam sejenak. "Kita tak mungkin tak ada masalah, tapi apapun masalahnya, aku harap kita tak saling melepaskan genggaman!" Aku menatapnya, menunggunya melanjutkan kata-kata. "Aku tah
Last Updated: 2025-09-15
Chapter: 105. Bersikap BiasaSetelah selesai makan, aku beranjak ke kamar diikuti Saka yang berjalan di belakangku. "Nada, kamu marah?" tanyanya, suaranya terdengar ragu. Aku... aku tidak marah," jawabku, suaraku terdengar serak. "Jangan khawatir Saka. Ini bukan masalah. Aku tahu kamu memahami batasan yang jelas tentang hal seperti ini!" Kataku pelan meski kadang aku meragukannya. Saka terdiam. Ia menghela napas. Mungkin saja ia tahu jika aku berbohong. Sesampainya di kamar, aku menatap Naren yang ternyata telah bangun. "Biar aku saja yang menggendongnya!" aku mengangguk lalu berjalan pelan ke sudut ruangan dan duduk di sofa. Saka tampak berbinar menatap anaknya. Berkali-kali Saka mencium pipi gembul Naren. Terang saja, bobotnya lumayan besar. Dengan berat 3,6 kilogram membuatnya seperti bayi besar. Ada hikmahnya anak kecil itu menabrakku hingga aku harus operasi caesar. Aku sendiri tak bisa membayangkan andai aku harus melahirkan normal dengan kondisi Naren yang sebesar itu. Tok. Tok. Kami
Last Updated: 2025-09-14
Chapter: 104. Mengurai HatiAku menutup telepon dengan tangan sedikit gemetar, mencoba menenangkan degup jantung yang terasa begitu kacau. Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lalu meletakkan ponsel di meja nakas. Nada, kamu harus kuat, bisikku pada diriku sendiri. Memikirkan hal ini berlarut-larut hanya akan membuatku semakin sakit. Aku baru saja melahirkan, tubuhku masih belum sepenuhnya pulih, dan Naren membutuhkan perhatianku. Aku mencoba untuk berpikir positif. Larasati mungkin hadir di rumah sakit karena profesionalisme, bukan semata karena hubungan pribadinya dengan Saka. Untuk itu, aku harus belajar percaya… pada Saka, dan juga pada diriku sendiri. Aku memejamkan mata sesaat, menikmati angin yang berhembus semilir melalui jendela yang terbuka dengan semerbak kenanga. Entah, berapa lama aku tertidur pada akhirnya. Yang pasti, aku terbangun saat mendengar rengekan kecil. Sepertinya, seseorang membawa Naren masuk ke kamar dan menidurkannya di box. Perlahan aku bangkit dan mendekat
Last Updated: 2025-09-11
Chapter: 103. Api Kecil yang MenyalaAroma masakan Bu Sri yang memenuhi seluruh ruang makan, seketika membuat perutku yang belum sepenuhnya pulih menjadi terasa lapar. Aku duduk di kursi makan sambil memangku Naren. Di seberang meja, Ibu dan Tante Asa sudah duduk sambil berbincang ringan. Ibu sesekali menatapku dengan mata penuh perhatian, seakan mencoba membaca isi hatiku. “Nada, ayo makan yang banyak. Kamu kan butuh tenaga untuk menyusui Naren,” ucap Ibu sambil menyendokkan bubur hangat ke mangkukku. Aku tersenyum tipis. “Iya, Bu.” Suaraku nyaris tak terdengar. Tante Asa menimpali sambil tersenyum hangat, “Lihat tuh, wajahmu masih pucat. Fokus dulu untuk cepat pulih, ya!" Aku mengangguk kecil tanpa berkomentar. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan Saka. Ia benar-benar belum pulang sampai sekarang. Aku mencoba berkali-kali menenangkan diri, berpikir positif bahwa ia benar-benar hanya membantu Larasati karena situasi darurat. Mbok Nah mendekat dan meminta Naren yang telah kenyang menyusu agar aku bisa
Last Updated: 2025-09-09
Chapter: 102. Menyembunyikan luka Aku duduk di tepi ranjang dengan napas sedikit terengah. Rasa sakit mulai terasa membebani perutku yang masih nyeri pasca operasi. Saka menuntunku dengan hati-hati, kedua tangannya tak pernah lepas dari pinggangku. “Pelan-pelan, Nada.” ucapnya lembut, namun aku bisa merasakan nada tegas yang terselip. Ia membantuku duduk, lalu merapikan bantal di belakangku sebelum menyelimutiku hingga dada. “Kamu baru melahirkan, jangan memaksakan diri untuk berdiri terlalu lama. Apa yang kamu pikirkan sampai-sampai turun sendirian tanpa aku?” Aku memaksakan senyum, mencoba terlihat tenang meski hatiku kacau. “Aku hanya… ingin pamit pada tamu. Lagipula, tidak enak kalau mereka pulang tanpa sempat aku sapa,” jawabku pelan mencari alasan. Saka menghela napas, lalu duduk di tepi ranjang di sebelahku. Tangannya terulur, menyentuh pipiku dengan lembut. “Aku tahu tapi kondisimu lebih utama! Mereka juga akan paham!" Kata-kata itu seharusnya bisa menenangkan, tapi yang kudengar justru gema suara Lara
Last Updated: 2025-09-09
Chapter: 14. Ada yang Cemburu Mobil hitam yang dikendarai Kendra akhirnya melaju dengan stabil memasuki area depan sekolah. Di kursi penumpang, Lidya yang sejak tadi hanya menggenggam tasnya erat, menatap jendela dengan diam. Ia berusaha untuk tenang, tak ingin mengeluarkan suara sepatahpun, karena sepanjang perjalanan, Kendra juga bersikap sama. Sesekali Kendra memang melirik ke arah Lidya tapi ia lakukan tanpa benar-benar menoleh, dan setiap kali itu terjadi Lidya buru-buru mengalihkan pandangan ke kiri. Kini, ketika mobil yang mereka tumpangi, berhenti tepat di depan gerbang sekolah, Lidya dengan susah payah menegakkan tubuhnya. “Terima kasih sudah mengantar,” ucapnya sopan. “Hmm.” Hanya gumaman pendek yang keluar dari bibir Kendra. Lidya baru hendak membuka pintu ketika suara deru motor terdengar keras dari arah belakang. Sebuah motor sport merah datang melaju, berhenti hanya beberapa meter dari mobil Kendra. Pengendaranya membuka helm dengan kedua tangannya. Azzam. Rambutnya sedikit berantakan
Last Updated: 2025-12-09
Chapter: 13. Awal Pagi yang CanggungCahaya matahari menerobos masuk melalui celah tirai kamar Lidya yang sedikit terbuka. yang mau tak mau membuatnya mengerjap pelan. Tidurnya semalam memang tak terlalu nyenyak. Itu sebabnya, kepalanya masih terasa berat. Mungkin saja. karena ia belum terbiasa tidur di tempat yang baru. Ia bangkit perlahan, merapikan rambut panjangnya yang kusut lalu bersiap turun. Menyambar handuk yang ada di lipatan lemari, lalu menyiapkan seragam yang masih ada di koper pakaian. Tak ada yang istimewa. Semuanya masih sama dalam beberapa hal. Selesai mengepang rambutnya, ia mengenakan cardigan hitamnya. "Oke. Selesai!" Senyumnya mengembang meski samar. Dan perlahan, ia melangkah turun. “Kendra! Mama tuh gak habis pikir. Bisa-bisanya Melisa datang malam-malam begitu? Mama malu tahu!" Lidya otomatis berhenti melangkah. Ia tak ingin mengganggu mereka yang sedang berbincang serius. Ia menyandarkan tubuhnya dengan bersembunyi di balik dinding. Ia memang tak bermaksud menguping, tapi suara Rima terla
Last Updated: 2025-12-09
Chapter: 12. Wanita LainMalam mulai datang dan Lidya mencoba untuk mulai membiasakan diri di tempat barunya. Setelah makan, ia segera memasuki kamar dan mandi, lalu duduk di kursi belajanya, kembali membuka buku-buku pelajaran. Ujian sudah di depan mata, ia tak bisa terus menerus diam dan menyesali keadaan. Hingga waktu berlalu tanpa terasa yang pada akhirnya Lidya mulai merasakan matanya yang perih dengan kepala yang mulai berdenyut pelan. Pelajaran-pelajaran yang biasanya mudah masuk dalam kepalanya, malam ini harus berlarian keluar tanpa bisa ia cegah. Matanya melirik jam dinding. Pukul sembilan malam. Pantas saja ia sudah merasa lelah. Lidya segera merapikan buku-bukunya. Sesaat ia menatap ranjang besar miliknya. Ia masih tak ingin merebahkan diri di sana. Udara malam yang menyapa membuat Lidya menoleh. pintu balkon masih terbuka. Hembusan angin membawa aroma melati memenuhi ruangannya. Dengan perlahan, Lidya bangkit. Menyambar cardigan tipis yang ada di sandaran kursi belajarnya lalu berjalan
Last Updated: 2025-12-08
Chapter: 11. Insiden Telur DadarSetelahnya, Lidya sendirian di ruangan yang kini telah menjadi kamarnya. Perlahan, Lidya duduk di sisi ranjang sambil menatap sekitar. Semua isi kamarnya memang bagus dan mewah, tapi saat sendiri, semua terasa gak ada artinya lagi. Lidya merebahkan tubuhnya di ranjang. Menikmati semilir angin yang membawa harum melati di seluruh ruangan. Rima memang benar-benar memanjakannya. Ia tahu betul aroma wewangian yang Lidya suka. Itu sebabnya, di balkon kamar Lidya, ia penuhi dengan tanaman bunga melati yang telah berjajar rapi. Tanpa sadar Lidya memejamkan matanya. Hingga ia tak tahu jika Mbok Nah dan suaminya telah tiba dengan barang-barang mereka. "Sekarang, kalian tinggal di sini. Temani Lidya di sini, ya?" Rima menatap pasangan tua itu dengan haru. "Nggeh, Nyonya!" Sahut mereka bersamaan. Seketika membuat Rima tertawa. "Kalian kenal betul siapa aku bisa-bisanya panggil aku, nyonya!" Sahutnya setelah berhenti tertawa. "Ya sudah, kalian ke kamar dulu. Nanti Mbok Karti yang tunjuk
Last Updated: 2025-12-07
Chapter: 10. Keluarga JugaLidya membalas senyum dengan tulus. Wanita itu tampak berkelas. Cantik dan anggun. Aura mahal terpancar dari wajahnya meski dengan tampilan yang cukup sederhana. "Tante ini Mamanya Kendra! Tante Rima!" Ia memperkenalkan dirinya sambil merangkul Lidya dan membawanya masuk. "Barang kamu mana?" Seperti tersadar, Rima berbalik menatap Kendra dan Lidya dengan bingung. Kendra tak menjawab. Berlalu dengan santai mendahului keduanya. "Dasar. Anak gak punya sopan!" Rima mendengus sambil menatap tajam anak semata wayangnya. "Kamu yang sabar ya kalau Kendra bikin ulah sama kamu. Tapi Tante bisa jamin, dia anak baik kok!" Lidya tersenyum samar. Baik katanya? Malah kayak preman gitu, batin Lidya gemas. "Ayo, duduk dulu!" Lidya menurut. Ia duduk tepat di sisi Rima lalu muncullah seseorang dengan seragam ART-nya. Ia meletakkan orange juice di meja sambil tersenyum hangat. "Silakan, Mbak!" Lidya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. "Ayo diminum dulu!" Perintah Rima halus. Lidya
Last Updated: 2025-12-04
Chapter: 9. Awal yang BaruSatu minggu berlalu dan luka itu masih sama meski tak lagi kentara. "Sarapan dulu, ya Mbak. Mbok masak sayur gudeg kesukaan kamu!" Lidya tersenyum lalu duduk di meja makan. "Ayo, Pak. Mbak Lidya sudah siap!" Mbok Nah setengah berteriak memanggil suaminya. Tak lama Pardi berlari kecil dari arah belakang. "Hari ini gak usah diantar Pak. Aku berangkat sendiri aja. Lagian juga gak lama. Ada rapat di sekolah jadi kayaknya pulang pagi, deh!" Lidya memberi informasi sambil menyendok nasinya. "Beneran gak papa, Mbak?" Pak Pardi menatap wajah Lidya. Sejak Lidya pindah Semarang, praktis hanya menjadi sopir Danu karena Lodra juga jarang mau di antar oleh sopir. "Gak papa, Pak. Tenang aja! Lidya tersenyum sambil terus mengisi perutnya. "Rapat apa sih, Nduk?" Mbok Nah bertanya sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Meskipun ketika di jawabpun, dia tak akan paham tapi dia tahu, perhatian kecil itu bisa membuat majikannya tak merasa sendirian. "Mau persiapan ujian kelulusan, Mb
Last Updated: 2025-12-02