Dewantara mengendarai mobilnya menuju villa setelah berpikir lama di ruangannya. Biasanya, ia akan menghabiskan waktu di kantor. Berkutat dengan dokumen-dokumen bersama Ardi sampai pagi. "Di..." Yang dipanggil menoleh dengan bingung. Tak biasanya sang pimpinan memanggilnya saat sedang fokus menatap berkas yang menumpuk di meja. "Apa yang kau rasakan setelah menikah?" Ardi menautkan kedua alisnya. Pertanyaan macam apa itu, batinnya lirih. "Entahlah, Mas. Aku kan belum menikah!" Dewantara tertawa. Mendengar tawa Dewantara, Ardi lebih kaget lagi. Jangan bilang kalau kesurupan! Lagi-lagi, batinnya bermonolog. "Aku lupa kalau kamu jomblo akut!" Ardi ternganga. Kata-kata dari mana lagi, itu? Dia mendehem, "Mas, sejak aku kerja sama Mas Tara, jam kerjaku mulai jam tujuh sampai suka-sukanya Mas Tara. Mana ada waktu buatku cari perempuan!" Ardi tak terima dikatakan jomblo akut. Tapi tak urung, kini dia yang menegang kala Dewantara menatapnya tajam. "Maksudmu, aku gila ker
Read more