Pernikahan Tavisha dan Barathayudha berlangsung seperti prosesi kenegaraan. Mewah, terorganisir, namun hampa. Prosesi upacara pedang pora berlangsung khidmat. Kini, dua pengantin berdiri di pelaminan dengan tubuh yang kaku.
Tavisha berbalut kebaya putih gading hanya mampu menatap para undangan dengan tatapan tajam nan kosong. Ia berdiri tepat di sisi Yudha, pria berseragam TNI dengan sorot mata datar serta rahang mengeras. Tak ada bisikan lembut atau kata-kata yang menenangkan kemelut di hatinya. Hanya ada jeda yang menggantung panjang di antara mereka. Tavisha bahkan tak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Sungguhan, pernikahan ini terlalu tiba-tiba. Bahkan, ia tak sempat mengenal siapa sosok suaminya.
‘Ma, Tavisha akhirnya menikah,’
Dalam keheningan Tavisa bermonolog. Bagaimanapun, peran ibu yang harusnya masih membersamai—tak lagi didapatkan sejak remaja. Itu mengapa, ada kekosongan dalam jiwa perempuan disana.
“Selamat, ya, Nak.”
Begitu para tamu menghampiri, menyapa lalu tersenyum. Saat itu pula kesadaran Tavisha seolah ditarik ke dunia nyata.
Para tamu berpangkat tinggi dari kalangan militer dan politik silih berganti hadir, tersenyum dengan topeng penuh sandiwara. Namun di pelaminan itu, Tavisha dan Yudha yang seharusnya menjadi pusat kebahagiaan hanya berdiri kaku—asing satu sama lain.
Dalam pikiran, Tavisha bertanya-tanya apakah dirinya hanya tumbal dari kesepakatan dua penguasa? Barang tukar agar rahasia tak pernah terungkap? Ia merasa terkekang dan dipermainkan.
Waktu terus berlalu tanpa perempuan itu sadari bahwa mereka sudah tiba di kediaman pengantin baru. Tubuhnya menegang kala pintu mobil dibukakan oleh sopir.
“Silakan, Nona.”
Tavisha mendongak, mencari keberadaan sosok yang seharusnya duduk di sisinya selama perjalanan tadi. Namun kali ini, ia temukan Yudha sudah lebih dulu berjalan masuk ke kediaman tersebut.
Tavisha membeku sampai-sampai sopir tersebut kembali menginterupsi pikirannya.
“Nona?”
“Iya, Pak. Terima kasih.”
Tavisha turun dari mobil, melangkah perlahan seraya mengitari pandangan.
Rumah itu bergaya minimalis dengan fasad hitam yang berdiri tegak bersama garis-garis yang membentuk geometris sempurna. Dari depan tampak struktur kubus berlapis dengan permainan panel kaca besar yang bisa menampilkan interiornya, menyajikan perpaduan kehangatan kayu serta dinginnya logam. Teras depan berundak, dihiasi dengan tanaman hijau segar yang menambah kontras pada dinding yang gelap. Sementara lampu tanam tersembunyi di setiap anak tangga memancarkan cahaya keemasan, menciptakan aura kemewahan ketika malam.
Lantai atasnya seolah melayang, dengan balok hitam pekat yang menjorok ke depan, melindungi area di bawahnya dari terik matahari sekaligus memberikan kesan futuristik. Dinding kaca yang penuh, menciptakan ilusi tanpa batas. Seakan memperlihatkan interior yang dirancang dengan apik—tanaman tropis berdiri gagah di sudut, membawa kesegaran alam ke dalam ruangan. Sentuhan kayu pada plafon juga memperhalus estetika modern, menyiratkan kehangatan di tengah kesempurnaan desain minimalis.
Namun terlepas dari kemewahan itu semua, Tavisha tidak merasakan kehangatan menyambut kedatangannya disana. Ah, tapi ia bersyukur, setidaknya ia tinggal jauh dari asrama.
Tavisha melangkah dengan tubuh yang masih berbalut kebaya. Ada kekosongan dalam jiwanya. Apa yang akan terjadi setelah ini? Setelah dirinya melangkahkan kaki ke dalam rumah pria asing yang bahkan baru ia temui sekali.
Tavisha memejamkan mata seraya menghembuskan nafas. Seharusnya ia tidak perlu takut dengan keasingan. Bahkan ia sudah merasakan itu sejak sang ibu meninggal. Lalu apa yang ia takutkan?
Setibanya di ruang tamu, Yudha sudah duduk di sofa, seakan menunggu untuk mengatakan sesuatu padanya. Tubuh tegap itu, duduk dengan sempurna. Garis wajahnya benar-benar tegas. Seakan menunjukkan bahwa pria itu memang sosok yang berwibawa.
“Silakan duduk,” titah pria itu dengan tatapan yang tak terbaca.
Tavisha pun duduk, tepat di sofa lain. Dimana meja menjadi pembatas diantara mereka.
“Saya tahu, kamu tidak siap tidur satu kamar dengan saya.”
Satu kalimat itu langsung menohok Tavisha yang bahkan belum benar-benar duduk dengan sempurna. Mendengar ucapan itu, ia memalingkan wajah lalu tersenyum pahit. Apa semua pria dengan seragam kehormatan selalu bersikap angkuh seperti itu?
“Itu mengapa saya sudah siapkan kamar diatas.”
Tavisha masih mencoba mencerna ucapan tersebut.
“Oke. Nggak masalah!”
Tavisha menaikan sedikit dagu, seolah tak terganggu dengan ucapan itu. Padahal, ia merasa sangat tersinggung. Sungguhan!
“Dan saya tidak suka ada orang asing di rumah ini—“
Belum genap ucapan itu terlontar, Tavisha langsung melayangkan tatapan tajam.
“Maksud lo—lo nggak suka sama kehadiran gue di rumah ini?”
Tavisha menghentakan tangan di pahanya. Entah sudah semerah apa kulitnya. Hal itu reflek. Tavisha hanya tidak ingin menunjukkan bahwa dirinya mudah diintimidasi.
“Bukan begitu.”
“Terus maksud lo apa?”
Terdengar hembusan napas yang berat. Yudha berdehem sebelum meluruskan ucapannya.
“Saya tidak suka pakai ART. Jadi, kalau kamu butuh sesuatu—kamu bisa self service.”
Kalimat itu kembali menyulut emosi Tavisha. Ia sama sekali tidak takut. Meski tatapan Yudha sudah setajam pedang di pesta pora tadi.
“Ya—siapa juga yang minta lo layani.”
Tavisha membuang wajahnya. Baru beberapa menit berinteraksi, ia sepertinya sudah bisa menebak seperti apa sifat sang suami.
“Kalau tidak ada lagi yang mau didiskusikan, saya mau istirahat.”
Tanpa menunggu jawaban. Yudha meninggalkan wanita itu dalam keheningan.
‘Apes banget gue bisa nikah sama robot kayak dia!’
Tavisha memandang kepergian Yudha dengan tatapan sinis.
Tangan yang sedikit gemetar akibat menahan emosi, kini mengangkat rok kebayanya, berjalan menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu jati terpoles sempurna.
Setiap pijakan terasa berat, seperti menapak ke sebuah kehidupan yang tak pernah ia bayangkan, penuh ketidakpastian dan bayangan dingin seorang pria yang kini jadi suaminya.
Ketika ia mencapai lantai atas, koridor panjang dengan dinding beton seakan membungkam suara. Dan mempertegas kesan dingin dan asing tempat tersebut. Lampu tanam di sisi lantai memancarkan cahaya lembut, namun sama sekali tak mampu mengusir keheningan.
Sebuah pintu kayu hitam di ujung koridor menarik perhatiannya. Perlahan, Tavisha mengulurkan tangan untuk membuka kenop pintu tersebut. Begitu daun pintu berderit lembut, ruang di baliknya terbuka memperlihatkan kamar yang begitu mewah namun tetap minimalis, sejalan dengan desain keseluruhan rumah itu.
Tempat tidur berukuran king terletak di tengah ruangan, berbalut seprai putih bersih terbentang rapi. Di sisi kanan, sebuah meja kerja dengan lampu duduk berdesain futuristik berdiri kokoh. Layar iMac tipis yang diposisikan dengan hati-hati menambah kesan profesional. Di lain sisi dinding kaca memamerkan pemandangan malam yang damai. Namun, tidak sedamai hatinya saat ini.
Tavisha menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang masih ia miliki. Ia tahu, malam ini akan panjang. Bahkan, terlalu panjang untuk seorang perempuan yang tak pernah bisa memilih takdirnya sendiri. Sekali lagi, bayangan sang ibu melintas dalam benak. Wajah yang selalu penuh kasih, namun kini tak bisa lagi ia temui.
‘Ma, Tavisha nikah. Tapi kenapa hati ini rasanya begitu kosong? Apa ini yang Mama rasakan dulu, ketika hidup bersama Papa?’
***
“Atau Mas maunya aku bikin suasana lebih … panas?” “Apa maksud kamu?” Tavisha semakin berani. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat, sampai kedua kakinya berada diatas pangkuan pria itu. Tangannya terulur, memainkan dada bidang sang suami dengan godaan-godaan nakalnya. “Mas tahu nggak, aku paling suka kalau kamu udah diem kayak gini. Soalnya, tingkat ketampanan kamu tuh jadi bertambah dan pastinya kamu nggak bisa marah, ‘kan?” goda Tavisha. Jari-jarinya semakin lihai menggelitik dada bidang sang suami, seolah memancing raksi. Yudha hanya menoleh pelan, tapi jelas ada kilatan buas di matanya. Seperti hewan yang tengah memangsa. “Tavisha,” ucap Yudha rendah, seolah memberi peringatan. “Ya, Mas?” tanya Tavisha, mendayu-dayu, raut wajahnya dibuat sepolos mungkin sembari menatap sang suami dari samping. “Ada apa?” “Jangan macam-macam.” “Lho, aku cuma pegang dada Mas aja, bukan yang lain.” Tavisha terkekeh pelan, lalu semakin menjelajahi ke bawah, tepat di atas pusar pria itu. “N
Perut Tavisha sudah terisi, tapi ada yang lebih menyenangkan dari sekadar perut yang kenyang. Ialah kebersamaan yang tercipta bersama sang terkasih. Sisa senyum masih melekat di wajah perempuan itu ketika meletakkan garpu di pinggir piring. Yudha sudah mengangkat piring kosongnya, beranjak, lalu melangkah ke dapur.“Biar aku aja yang cuci, Mas,” ujar Tavisha refleks.Yudha menoleh sekilas, sorot matanya biasa saja, tapi ada sedikit nada perintah dalam jawabannya.“Sudah, kamu duduk saja. Nanti kalau tumbang lagi, malah repot.”“Cuma cuci piring nggak bakal buat tumbang, kok, Mas …,” gumam Tavisha setengah protes.Yudha tidak menjawab, hanya menggeleng kecil. “Tidak boleg.”Selepas itu, Yudha langsung menyelesaikan tugasnya mencuci piring. Tangannya bergerakcekatan di wastafel dibersamai air mengalir dan bunyi piring yang beradu pelan. Tavisha terdiam, menatap punggung sang suami yang kembali serius. Ada rasa aneh menggelitik jiwanya, yaitu senang sekaligus canggung. Setelah pria itu
“Mulai malam ini, kamu tidur di bawah.” “Ya?” Tavisha terperanjat. Pergelangan tangannya masih dalam genggaman Yudha, membuat langkah kaki itu seketika terhenti. Ia menatap dalam manik kelam sang suami yang tak memancarkan ekspresi apapun. Sungguhan, sulit sekali pria itu ditebak—pikirnya. “Mulai malam ini, kamu tidur di bawah,” ulang Yudha, nada suaranya datar tapi tak ada keraguan.Mata Tavisha membola. “Ma-maksud Mas … satu kamar?”Yudha mengangguk pelan. Tidak ada senyuman atau senda gurau, hanya tatapan yang benar-benar sulit diterka. Namun, genggaman itu tidak mengendur sama sekali. “Bukannya dari awal Mas—”“Itu saat saya pikir kamu belum siap. Nyatanya, kita sudah pernah tidur satu kamar, bahkan lebih dari itu, ‘kan?”Glek.Pernyataan macam apa itu? Tavisha sampai berkedip beberapa kali, memastikan bahwa yang bicara seperti itu adalah suaminya sendiri. Pria yang sangat sulit ditebak dan jarang berekspresi. “Tapi, Mas ….”Tavisha masih berusaha denial, mau tahu seberapa gig
“Mas…,” gumam Tavisha ketika matanya kembali terbuka. Hari sudah menjelang siang. Tanpa sadar ia terlalu lama terlelap. Kala matanya terbuka, ia masih melihat kehadiran Yudha di ruangan tersebut. Tepatnya, sang suami tengah berbaring di sofa. Kelopak mata pria itu bergerak pelan, sebelum terbuka sepenuhnya. Yudha menoleh ke arah Tavisha. Sejenak, hanya keheningan yang terjalin diantara mereka. Yudha lantas berdiri, menghampiri ranjang. Jemarinya ia selinapkan di antara ceruk leher sang istri seraya mengusap pipi lembut itu. “Kamu sudah bangun? Apa ada yang sakit?” tanya Yudha, nadanya rendah tapi penuh kekhawatiran. Tavisha menggeleng pelan. “Nggak, Mas. Cuma … capek aja, tidur terus.” Yudha duduk di tepi ranjang. Ia tersenyum, meski tampak kaku. “Dokter bilang kalau kondisi kamu sudah stabil. Mungkin besok atau lusa sudah bisa pulang.” “Pulang?” Tavisha terdiam. Ada rasa lega sekaligus cemas. Kalau pulang, itu artinya mereka akan kembali ke rutinitas yang ada. Yudha akan sibu
“Aku mau percaya, Mas … tapi tolong, jangan buat aku ngerasa sendirian lagi, ya?” Yudha mengusap puncak kepala Tavisha seraya tersenyum. Sebelum pintu kamar itu kembali terbuka. Suara ketukan pintu seakan tidak terdengar, sebab sosok yang baru saja masuk tidak menunggu jawaban mereka. Seorang pria berusia lebih dari setengah abad, berjalan tegap dengan setelan resmi. Wajahnya berwibawa dan serius. Setiap langkah tampak berat dan mantap. Di belakangnya beberapa ajudan membersamai. Bisik-bisik dari lorong sebelumnya masih terdengar. Sosok yang begitu berpengaruh dalam dunia militer kini berada disana. Menteri Pertahanan, Manggala Trianto Tandjung, ayah Tavisha datang tanpa pemberitahuan. Suasana mendadak berubah. Seolah pasokan udara di dalam kamar langsung berkurang, menyisakan sesak yang begitu nyata. Terlebih bagi Tavisha yang masih ada dalam pelukan Yudha. Tubuhnya, kontan menegang. Ia langsung melepaskan diri, beringsut dari tempatnya lalu duduk dengan tegap. Sebisa mungkin, ia m
“Bu … tolong ajari Tavisha, bagaimana caranya untuk kuat,” gumamnya lirih, dibersamai air mata yang mengalir di pipi. Dahlia mengusap lembut rambut sang menantu yang terlihat kusut. Air matanya mengalir semakin deras dan sepertinya Tavisha juga tak berusaha untuk menyembunyikannya. Perempuan itu tampak rapuh, seolah hembusan angin sekecil apapun bisa meruntuhkannya. “Tentu, Nak. Ibu akan selalu ada di samping kamu. Bagi Ibu, kamu bukan cuma menantu, tapi kamu juga anak Ibu sekarang. Jangan pernah merasa sendirian lagi, ya.” Suara Dahlia terdengar dalam dan penuh kehangatan. Sampai-sampai membuat ruang rawat vvip itu terasa lebih luas. Tavisha mengangguk pelan. Bibirnya bergetar, seperti ingin mengatakan banyak hal, tapi tak bisa semuanya terucap. Di balik pintu yang tertutup rapat, Yudha berdiri. Tubuhnya membeku, lidahnya menjadi kelu. Langkah kaki yang terpasang sepatu bot, seolah menancap di lantai rumah sakit. Ia baru saja kembali dari markas setelah diberi izin. Tenggorokann