"Nona Tavisha ...."
Dua orang pria berbadan besar lengkap dengan pakaian serba hitam berdiri di hadapan seorang wanita dengan rambut dicepol asal, pakaian kasual—celana jeans, kaos oversize polos serta sepatu kets putih. Tak lupa, shoulder bag berwarna senada dengan sepatunya. "Sudah saya bilang, jangan menunjukkan eksistensi kalian di lingkungan kampus. Kenapa—" "Maaf, Nona. Bapak ingin bertemu Anda." Salah seorang pria berwajah bulat memotong ucapan perempuan tersebut hingga tampak begitu kesal. Perempuan itu memutar bola matanya malas. "Saya masih ada tugas, minggir!" "Maaf, Nona. Bapak bilang kalau Nona tidak mau datang baik-baik, kami terpaksa—" Belum genap ucapan itu terlontar, Tavisha langsung berdecak sinis. Melihat lingkungan sekitar, dimana beberapa orang menatap ke arahnya dengan pandangan tak suka. Membuat Tavisha menjatuhkan pilihan untuk melangkah secara sukarela. "Oke ... oke!" Perempuan itu menghentakkan kaki, melangkah lebih dulu menuju mobil MV3 dengan plat nomor merah. Tentu saja hal itu membuat Tavisha semakin dongkol. Apa yang akan teman-temannya pikirkan jika mobil yang dibeli dari uang rakyat dipakai untuk menjemputnya? Ah! Memikirkannya saja membuat perempuan itu kesal sendiri. "Kalian tahu kenapa Papa panggil saya?" Di tengah hening dalam perjalanan, Tavisha menatap dua pria dari pantulan spion. "Maaf, Nona. Kami tidak tahu." Sampai akhirnya, mobil tersebut berhasil mengantarkannya ke kediaman Tandjung yang sangat megah bak istana negara. Bahkan dari gerbang menuju pintu utama saja, harus melewati halaman seluas satu hektar. Sungguhan, meski terlahir sebagai putri dari orang berpengaruh senusantara, Tavisha tetap tidak menyukainya. Sebab, itu menjadi alasan mengapa dirinya selalu jadi bulan-bulanan teman kampusnya. Sebagian mereka menganggap bahwa pemerintah hanya bisa menyakiti rakyat. Hidup bergelimang harta, sementara masih banyak rakyat yang hidup dibawah kolong jembatan. Kesenjangan sosial itu juga telah melukai harga diri Tavisha sebagai seseorang yang vokal terhadap hak asasi manusia. Setelah melewati pintu utama, ia langsung disambut oleh beberapa pelayan. "Papa dimana?" tanya Tavisha begitu lolos dari ambang pintu. "Di ruang kerja, Non. Mari saya antar." Tavisha hanya mengangguk lalu mengekori langkah kaki Kepala Pelayan tersebut. Begitu tiba di depan pintu ruang kerja sang ayah, entah mengapa jantungnya berdebar kencang. Kepala Pelayan itu mengetuk pintu sebelum mengatakan bahwa sosok yang dicari sudah disana. "Bapak, Nona Putri sudah datang." Putri adalah panggilan Tavisha di kediaman tersebut. Namun, ia merasa tidak menyukai panggilan itu. Karena setiap kali orang menyebutnya 'putri', seolah-olah ia benar tuan putri yang selalu ayahnya elukan. Padahal ... tidak seperti itu. "Masuk." Kala pintu terbuka, Tavisha menghampiri sang ayah lalu mencium tangannya. "Duduk," ucap pria berusia lebih setengah abad itu. Tatapannya begitu tajam, menunjukkan bahwa ia sosok yang berwibawa. Dan kini, di ruang kerja sang ayah yang dingin dan sunyi, Tavisha duduk diam, mencoba membaca situasi dari wajahnya. Menteri Pertahanan. Pria yang selalu bicara soal prinsip, strategi, dan loyalitas, tapi tak pernah paham caranya mendengarkan isi hati putrinya sendiri. "Papa mau ngomong a—" "Papa mau kamu menikah," ucapnya datar, seperti sedang menyusun strategi militer, bukan masa depan anaknya. Tavisha lantas memalingkan wajah, mencoba menahan tawa yang mulai tertahan. "Menikah? Tapi Tavisha masih kuliah, Pa!" "Itu tidak jadi masalah." Aura dingin memancar ke seluruh penjuru ruangan. Tavisha hanya mampu tertawa pahit. "Dengan siapa? Atlet? Pejabat partai? Atau ... anak kolega Papa demi memperluas aliansi?" Pria itu tak menjawab. Ia hanya menggeser map biru tua ke arahnya. "Kapten Barathayudha Dirgantara. Pasukan elit TNI AU. Usianya tiga puluh lima tahun. Lulusan terbaik AAU dan satuan elit lintas udara. Putra dari Panglima TNI." Tavisha tak percaya dengan penuturan sang ayah. Begitu percaya diri bahwa putrinya akan menerima. Tapi, sebenarnya ia juga tak punya kendali untuk menolak. Usia mereka jelas terpaut jauh. Tavisha baru menginjak 22 tahun. Bagaimana mungkin menikahi pria tak dikenal yang usianya saja lebih pantas disebut om? "Papa jual Tavisha?" tanya perempuan itu, matanya menatap tajam tapi sedikit berkaca-kaca. "Putri, ini bukan transaksi. Tapi, aliansi," jawab sang ayah dengan tegas. "Keluarga kita butuh tameng. Politik itu kejam. Dunia militer punya kehormatan untuk bisa melindungi." Tavisha berdiri. Tangannya gemetar, tapi suaranya tidak. "Tavisha bukan tameng, Pa! Tavisha anak perempuan Papa!" "Rendahkan suara kamu, Putri!" Tavisha hanya mampu membisu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, akhirnya Tavisha meninggalkan ruangan. Hatinya terluka dan penuh amarah. Ia seolah tak percaya apa yang baru sang ayah lontarkan. Ia bahkan masih kuliah dan ingin menikmati masa muda meskipun dengan kesendirian seperti yang selalu dilakukan selama ini. Tapi, sifat keras sang ayah selalu tak bisa dibantah. "Anak itu," gumam Manggala, tak percaya. *** Di markas TNI AU, seorang pria berdiri di seberang meja kebesaran Panglima. Tubuh mereka masih berbalut seragam kebanggaan. Namun, ada atmosfer lain yang tercipta kala itu. Entah bisa diartikan sebagai apa. "Tavisha Putri Tandjung, putri Menteri Pertahanan. Usianya dua puluh dua tahun—perempuan ini akan jadi istri kamu." Sebuah pernyataan yang begitu mengejutkan. Wajah datar pria muda disana bahkan sampai mengeras mendengar hal tersebut. Sementara pria tua yang duduk di kursi kehormatannya, menyodorkan sebuah map berwarna biru, menampakkan sosok perempuan dengan senyum yang menawan. Tapi, hal itu sama sekali tak menarik perhatian. "Bapak dan Ibu sudah sepakat untuk menerima. Pak Menhan sendiri yang meminta agar putri semata wayangnya ini menikah dengan kamu." "Skandal apa lagi yang berusaha Bapak tutupi?" tanya pria dengan name tag Kapten Barathayudha Dirgantara. "Jaga bicara kamu, Yudha," tegas pria itu pelan namun penuh penekanan. "Siapa yang diuntungkan dari pernikahan ini, Pak?" "..." Laksamana Dirgantara—nama yang terpampang di meja kehormatannya. Sosok itu menatap sang putra tanpa berbicara. Akan tetapi, tatapan itu sudah menjelaskan segalanya. Bahwa, Dirga bukan sosok yang bisa diintervensi secara langsung. "Persiapkan saja dirimu dengan baik. Bulan depan kalian menikah." Satu kalimat itu menutup perbincangan mereka. Tak ada negosiasi. Dirga langsung beranjak meninggalkan ruangan. Ia memang sosok yang tidak bisa dibantah. Titik pandang Yudha mengekori punggung sang ayah yang mulai menjauhi ruangan. Ketika pria itu menghilang, Yudha menarik map biru yang tergeletak di meja. Ia mengamati foto yang beserta biodata calon istrinya. Tidak ada yang memberatkan selain usia mereka yang terpaut jauh. "Tavisha ... Putri ... Tandjung ...," gumamnya sambil menarik secarik foto perempuan berambut panjang tersebut. ***Hai! Aku buat karya baru di goodnovel. Sebelumnya udah tamat, Sebatas Pernikahan Bisnis. Yuk baca karya aku disini. Kasih support, like, ulasan, dan gem. Makasih
“Atau Mas maunya aku bikin suasana lebih … panas?” “Apa maksud kamu?” Tavisha semakin berani. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat, sampai kedua kakinya berada diatas pangkuan pria itu. Tangannya terulur, memainkan dada bidang sang suami dengan godaan-godaan nakalnya. “Mas tahu nggak, aku paling suka kalau kamu udah diem kayak gini. Soalnya, tingkat ketampanan kamu tuh jadi bertambah dan pastinya kamu nggak bisa marah, ‘kan?” goda Tavisha. Jari-jarinya semakin lihai menggelitik dada bidang sang suami, seolah memancing raksi. Yudha hanya menoleh pelan, tapi jelas ada kilatan buas di matanya. Seperti hewan yang tengah memangsa. “Tavisha,” ucap Yudha rendah, seolah memberi peringatan. “Ya, Mas?” tanya Tavisha, mendayu-dayu, raut wajahnya dibuat sepolos mungkin sembari menatap sang suami dari samping. “Ada apa?” “Jangan macam-macam.” “Lho, aku cuma pegang dada Mas aja, bukan yang lain.” Tavisha terkekeh pelan, lalu semakin menjelajahi ke bawah, tepat di atas pusar pria itu. “N
Perut Tavisha sudah terisi, tapi ada yang lebih menyenangkan dari sekadar perut yang kenyang. Ialah kebersamaan yang tercipta bersama sang terkasih. Sisa senyum masih melekat di wajah perempuan itu ketika meletakkan garpu di pinggir piring. Yudha sudah mengangkat piring kosongnya, beranjak, lalu melangkah ke dapur.“Biar aku aja yang cuci, Mas,” ujar Tavisha refleks.Yudha menoleh sekilas, sorot matanya biasa saja, tapi ada sedikit nada perintah dalam jawabannya.“Sudah, kamu duduk saja. Nanti kalau tumbang lagi, malah repot.”“Cuma cuci piring nggak bakal buat tumbang, kok, Mas …,” gumam Tavisha setengah protes.Yudha tidak menjawab, hanya menggeleng kecil. “Tidak boleg.”Selepas itu, Yudha langsung menyelesaikan tugasnya mencuci piring. Tangannya bergerakcekatan di wastafel dibersamai air mengalir dan bunyi piring yang beradu pelan. Tavisha terdiam, menatap punggung sang suami yang kembali serius. Ada rasa aneh menggelitik jiwanya, yaitu senang sekaligus canggung. Setelah pria itu
“Mulai malam ini, kamu tidur di bawah.” “Ya?” Tavisha terperanjat. Pergelangan tangannya masih dalam genggaman Yudha, membuat langkah kaki itu seketika terhenti. Ia menatap dalam manik kelam sang suami yang tak memancarkan ekspresi apapun. Sungguhan, sulit sekali pria itu ditebak—pikirnya. “Mulai malam ini, kamu tidur di bawah,” ulang Yudha, nada suaranya datar tapi tak ada keraguan.Mata Tavisha membola. “Ma-maksud Mas … satu kamar?”Yudha mengangguk pelan. Tidak ada senyuman atau senda gurau, hanya tatapan yang benar-benar sulit diterka. Namun, genggaman itu tidak mengendur sama sekali. “Bukannya dari awal Mas—”“Itu saat saya pikir kamu belum siap. Nyatanya, kita sudah pernah tidur satu kamar, bahkan lebih dari itu, ‘kan?”Glek.Pernyataan macam apa itu? Tavisha sampai berkedip beberapa kali, memastikan bahwa yang bicara seperti itu adalah suaminya sendiri. Pria yang sangat sulit ditebak dan jarang berekspresi. “Tapi, Mas ….”Tavisha masih berusaha denial, mau tahu seberapa gig
“Mas…,” gumam Tavisha ketika matanya kembali terbuka. Hari sudah menjelang siang. Tanpa sadar ia terlalu lama terlelap. Kala matanya terbuka, ia masih melihat kehadiran Yudha di ruangan tersebut. Tepatnya, sang suami tengah berbaring di sofa. Kelopak mata pria itu bergerak pelan, sebelum terbuka sepenuhnya. Yudha menoleh ke arah Tavisha. Sejenak, hanya keheningan yang terjalin diantara mereka. Yudha lantas berdiri, menghampiri ranjang. Jemarinya ia selinapkan di antara ceruk leher sang istri seraya mengusap pipi lembut itu. “Kamu sudah bangun? Apa ada yang sakit?” tanya Yudha, nadanya rendah tapi penuh kekhawatiran. Tavisha menggeleng pelan. “Nggak, Mas. Cuma … capek aja, tidur terus.” Yudha duduk di tepi ranjang. Ia tersenyum, meski tampak kaku. “Dokter bilang kalau kondisi kamu sudah stabil. Mungkin besok atau lusa sudah bisa pulang.” “Pulang?” Tavisha terdiam. Ada rasa lega sekaligus cemas. Kalau pulang, itu artinya mereka akan kembali ke rutinitas yang ada. Yudha akan sibu
“Aku mau percaya, Mas … tapi tolong, jangan buat aku ngerasa sendirian lagi, ya?” Yudha mengusap puncak kepala Tavisha seraya tersenyum. Sebelum pintu kamar itu kembali terbuka. Suara ketukan pintu seakan tidak terdengar, sebab sosok yang baru saja masuk tidak menunggu jawaban mereka. Seorang pria berusia lebih dari setengah abad, berjalan tegap dengan setelan resmi. Wajahnya berwibawa dan serius. Setiap langkah tampak berat dan mantap. Di belakangnya beberapa ajudan membersamai. Bisik-bisik dari lorong sebelumnya masih terdengar. Sosok yang begitu berpengaruh dalam dunia militer kini berada disana. Menteri Pertahanan, Manggala Trianto Tandjung, ayah Tavisha datang tanpa pemberitahuan. Suasana mendadak berubah. Seolah pasokan udara di dalam kamar langsung berkurang, menyisakan sesak yang begitu nyata. Terlebih bagi Tavisha yang masih ada dalam pelukan Yudha. Tubuhnya, kontan menegang. Ia langsung melepaskan diri, beringsut dari tempatnya lalu duduk dengan tegap. Sebisa mungkin, ia m
“Bu … tolong ajari Tavisha, bagaimana caranya untuk kuat,” gumamnya lirih, dibersamai air mata yang mengalir di pipi. Dahlia mengusap lembut rambut sang menantu yang terlihat kusut. Air matanya mengalir semakin deras dan sepertinya Tavisha juga tak berusaha untuk menyembunyikannya. Perempuan itu tampak rapuh, seolah hembusan angin sekecil apapun bisa meruntuhkannya. “Tentu, Nak. Ibu akan selalu ada di samping kamu. Bagi Ibu, kamu bukan cuma menantu, tapi kamu juga anak Ibu sekarang. Jangan pernah merasa sendirian lagi, ya.” Suara Dahlia terdengar dalam dan penuh kehangatan. Sampai-sampai membuat ruang rawat vvip itu terasa lebih luas. Tavisha mengangguk pelan. Bibirnya bergetar, seperti ingin mengatakan banyak hal, tapi tak bisa semuanya terucap. Di balik pintu yang tertutup rapat, Yudha berdiri. Tubuhnya membeku, lidahnya menjadi kelu. Langkah kaki yang terpasang sepatu bot, seolah menancap di lantai rumah sakit. Ia baru saja kembali dari markas setelah diberi izin. Tenggorokann