Beranda / Romansa / Istri di Bawah Kuasanya / H3. Antara Aman dan Terperangkap

Share

H3. Antara Aman dan Terperangkap

Penulis: Cheezyweeze
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-18 12:22:32

Mobil melaju tanpa suara di jalanan pagi yang masih basah oleh sisa hujan malam. Lampu-lampu kota berpendar samar, memantul di aspal seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Jennaira duduk kaku di kursi belakang.

Tangannya gemetar di atas pangkuan. Nafasnya pendek-pendek, seolah paru-parunya belum sepenuhnya menyadari bahwa ia masih hidup. Ia selamat—kalimat itu berulang kali muncul di kepalanya, namun anehnya tidak membawa kelegaan.

Justru sebaliknya. Radiva duduk di sampingnya. Tegap. Tenang. Tatapannya lurus ke depan, seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah satu langkah kecil dari rangkaian keputusan yang sudah ia perhitungkan sejak lama.

Dan itulah yang membuat Jennaira gelisah. Ia melirik pria itu diam-diam.

Wajahnya tidak menunjukkan emosi. Tidak ada rasa puas karena 'menyelamatkan' seseorang. Tidak ada janji. Tidak ada empati berlebihan. Hanya ketenangan yang terlalu dingin untuk disebut normal.

Siapa dia sebenarnya?

Mobil berbelok memasuki jalan yang lebih sempit. Pepohonan tinggi berjajar di kiri kanan, menciptakan bayangan panjang yang menelan kendaraan mereka sedikit demi sedikit.

Jennaira memeluk dirinya sendiri. Bayangan rumah itu kembali muncul. Tatapan Pak Handoyo. Tangan ayahnya yang terangkat. Wajah ibunya yang dingin.

Dadanya sesak.

"Minum."

Radiva menyodorkan sebotol air mineral.

Jennaira tersentak kecil. Ia menerima botol itu, jemarinya dingin, lalu meneguknya perlahan. Tenggorokannya perih—bukan karena haus, melainkan karena terlalu banyak kata yang tidak sempat keluar.

"Terima kasih …." Suaranya nyaris tidaak terdengar. Radiva mengangguk singkat dan tidak lebih.

Keheningan kembali turun. Berat. Menekan.

"Aku ...." Jennaira ragu, lalu memaksakan diri. "Aku boleh tahu … ke mana kita pergi?"

Radiva tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah kursi depan, memberi isyarat kecil pada pria yang sejak tadi menyetir.

"Tempat aman," jawab Bima tanpa menoleh. "Untuk sementara."

Kata itu lagi.

Untuk sementara. Seolah hidupnya kini hanya kumpulan jeda-jeda yang tidak pernah pasti.

"Pak Handoyo tidak akan tinggal diam," lanjut Bima tenang. "Dia tidak terbiasa kehilangan."

Jennaira menelan ludah. "Dia bilang … akan mencariku?"

"Akan," sahut Radiva datar. "Dan dia akan mencoba mengambilmu kembali."

Kalimat itu tidak dibungkus penghiburan. Tidak ada usaha menenangkan. Justru karena itulah, kata-kata itu terasa kejam—dan jujur.

"Kalau begitu ...." suara Jennaira bergetar, "kenapa kau tetap membawaku pergi?"

Radiva menoleh untuk pertama kalinya. Tatapannya tajam, dalam, seolah menembus lapisan pertahanan yang Jennaira bangun sejak kecil.

"Karena kau memilih," katanya.

Hanya itu.

Bukan karena kasihan. Bukan karena iba. Bukan karena ia lemah, tapi karena ia memilih. Dan entah kenapa, itu membuat dada Jennaira bergetar hebat.

Mobil berhenti di depan sebuah bangunan tinggi berwarna abu-abu gelap. Tidak mencolok. Tidak mewah. Namun penjagaannya ketat. Gerbang besi terbuka otomatis, menelan mereka masuk.

Lift bergerak naik dengan sunyi.

Pantulan diri Jennaira terlihat jelas di dinding lift—wajah pucat, mata merah, rambut kusut. Ia tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan hidup lamanya … dan belum tahu kehidupan apa yang menantinya.

"Apa ... ini rumahmu?” tanyanya ragu.

"Untuk sekarang."

Jawaban itu lagi.

Pintu lift terbuka. Lorong panjang dengan karpet gelap dan lampu temaram menyambut mereka. Udara dingin menyentuh kulitnya, membuatnya menggigil tanpa sadar.

Saat pintu apartemen terbuka, Jennaira terpaku.

Ruangan itu luas. Rapi. Terlalu tenang.

Dunia di luar terlihat kecil dari jendela besar di kejauhan—seolah semua kekacauan hidupnya kini berada jauh di bawah sana.

"Tidak ada kamera di dalam," kata Bima sebelum pergi. "Kau aman."

Aman ... Kata itu terasa asing di lidah Jennaira.

Mereka kini hanya berdua. Radiva melepas jasnya dan meletakkannya di sandaran kursi.

"Aku tidak akan menyentuhmu," katanya tiba-tiba.

Jennaira terkejut. "Aku—aku tidak berpikir seperti itu."

"Aku tahu," jawab Radiva. "Tapi kau perlu mendengarnya."

Ia melangkah mendekat, lalu berhenti pada jarak yang aman. Tidak menekan. Tidak mengurung.

"Namun," lanjutnya, suaranya menurun, "kau juga perlu tahu satu hal."

Jennaira menahan napas.

"Aku tidak menyelamatkan orang tanpa konsekuensi."

Jantungnya berdegup keras. "A-apa maksud dari kalimatmu itu?"

Radiva menatap keluar jendela. "Kau sudah menarik perhatian orang-orang yang seharusnya tidak kau hadapi," katanya. "Dan sekarang, kau berada di sisiku." Radiva menoleh kembali. "Itu berarti hidupmu tidak akan pernah kembali sederhana."

Kata-kata itu menancap lebih dalam daripada ancaman mana pun.

"Kalau aku ingin pergi?" tanya Jennaira pelan.

Radiva diam sejenak.

"Jika kau pergi sekarang," katanya, "aku tidak akan menahanmu, tapi aku juga tidak akan bisa melindungimu."

Bukan ancaman dan itu fakta.

Jennaira memejamkan mata. Air mata menggenang, tapi tidak jatuh. Ia terlalu lelah untuk menangis.

Ia tidak tahu apakah pria di depannya itu adalah penyelamat … atau pintu menuju neraka yang lebih halus.

Namun, satu hal yang Jenna tahu dengan pasti—Ia tidak punya tempat pulang.

"Aku …." Jennaira membuka mata. Suaranya nyaris tak terdengar. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi."

Radiva mengangguk kecil. "Aku tahu."

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu, Jennaira merasa kakinya benar-benar menyentuh lantai.

Ia tidak aman. Ia tidak tenang. Namun, ia hidup.

Dan di suatu sudut hatinya, ia sadar—

langkah yang ia ambil hari ini bukan sekadar pelarian.

Ini adalah awal dari pilihan yang akan menuntut harga jauh lebih mahal dari yang ia bayangkan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri di Bawah Kuasanya   H9. Kau Istriku

    "Perlindungan versi siapa?" Radiva menegang. "Aku tidak bisa mengontrol opini semua orang." "Tapi kau mengontrol aku," balas Jennaira cepat. Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan. Radiva menatapnya lama. "Aku melakukan ini agar kau tetap hidup." "Aku hidup," bisik Jennaira. "Tapi aku tidak bernapas." Radiva melangkah maju setengah langkah. "Jenna—" "Jangan,” potong Jennaira. "Jangan sentuh aku dengan nada seperti itu. Aku bukan bagian dari rencanamu." "Kau istriku." "Di atas kertas," sahut Jennaira pahit. "Dan di mata publik, aku milikmu, tapi di dalam diriku … aku kosong." Radiva terdiam. Untuk pertama kalinya, ada keraguan melintas di wajahnya. Bukan ragu pada keputusannya, melainkan pada dampaknya. "Aku tidak pernah berniat menyakitimu," katanya lebih rendah. "Tapi kau melakukannya," jawab Jennaira lirih. "Tanpa sadar dan tanpa bertanya." Radiva menarik napas dalam. "Handoyo tidak akan berhenti. Jika kau goyah sekarang—" "Aku bukan lemah." Jennaira menyela

  • Istri di Bawah Kuasanya   H8. Perlindungan Versi Siapa?

    Pintu kamar tertutup tanpa suara. Namun bagi Jennaira, bunyinya seperti ledakan. Ia berdiri di tengah ruangan luas yang seharusnya terasa mewah, ranjang besar berseprai putih, jendela kaca setinggi dinding, lampu kristal yang berkilau lembut. Tapi semua itu tidak memberi rasa aman. Justru sebaliknya, membuatnya merasa kecil, terkurung, dan … dipajang.Aku bukan pajangan, tapi ... ini yang terjadi padaku.Ponselnya bergetar lagi. Satu notifikasi. Ah ... ralat, bukan hanya satu, tapi puluhan. Jennaira tidak perlu membukanya untuk mengetahui isinya. Ia sudah membaca terlalu banyak sejak konferensi pers berakhir.Istri kontrak ... Boneka CEO ... Perempuan yang dibeli untuk citra.Jarinya gemetar saat akhirnya layar menyala."Cantik sih, tapi kelihatan kosong.""Pasti dibayar mahal.""Kasihan? Ah, tidak. Dia memilih hidup nyaman."Napas Jennaira tersangkut di tenggorokan. Ia menekan ponsel ke dada, seolah itu bisa menghentikan suara-suara di kepalanya,tapi komentar itu sudah terlanjur mera

  • Istri di Bawah Kuasanya   H7. Di Hadapan Dunia

    Ruangan itu terlalu terang. Lampu-lampu sorot menyilaukan mata Jennaira begitu ia melangkah masuk. Kilatan kamera menyambutnya seperti hujan peluru. Suara klik, bisik-bisik, dan gumaman para jurnalis berlapis-lapis, menciptakan dengung yang menusuk telinganya.Tangannya dingin, tapi bukan karena pendingin ruangan—melainkan karena ratusan pasang mata menatapnya dalam satu waktu.Di sampingnya, Radiva Emha Sanjaya berjalan dengan langkah mantap. Setelan jas hitamnya rapi, wajahnya tenang, nyaris tanpa cela. Seolah konferensi pers ini hanyalah satu rapat biasa yang bisa ia kuasai dengan satu kalimat.Jenna menelan ludah dengan susah payah. Seolah tercekat di tenggorokan.Ia adalah istrinya sekarang. Namun, di hadapan dunia—ia hanya seorang perempuan asing yang tiba-tiba berdiri di sisi seorang CEO berpengaruh."Tarik napas." Suara Radiva rendah, hampir tidak terdengar. Tangannya menyentuh punggung Jenna sekilas. Bukan pelukan, juga bukan genggaman. Hanya sentuhan singkat. Cukup untuk men

  • Istri di Bawah Kuasanya   H6. Ruang yang Terlalu Sunyi

    Malam itu terlalu sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menekan—seperti ruang tertutup tanpa jendela. Jennaira duduk di tepi ranjang besar yang bahkan belum sempat ia sentuh dengan tubuhnya sepenuhnya. Gaun tidur sederhana membalut tubuhnya, namun rasa dingin merambat sampai ke tulang.Ini kamar mereka atau lebih tepatnya kamar yang disediakan untuknya.Tangannya gemetar saat memeluk lutut. Pernikahan kilat itu masih terasa tidak nyata. Semua berlangsung terlalu cepat. Tanda tangan, saksi, cincin, dan nama yang kini terikat secara hukum.Istri Radiva Emha Sanjaya.Status itu seharusnya memberi rasa aman., tapi yang Jenna rasakan justru sebaliknya.Dadanya sesak.Ia menoleh ke pintu. Sejak mereka kembali ke penthouse, Radiva hanya mengantarnya ke kamar ini dan berkata singkat agar ia beristirahat, lalu pergi ke ruang kerja. Tanpa sentuhan, tanpa penjelasan., tanpa satu pun kalimat yang memberi kehangatan pada dirinya."Ini hanya kontrak," ucap Jennaira pada dirinya

  • Istri di Bawah Kuasanya   H5. Nikah Kilat

    Waktu tidak memberi Jennaira kesempatan untuk bernapas. Jam di dinding bergerak terlalu cepat, seolah mengejarnya. Setiap detik berdetak seperti palu yang menghantam dadanya. Tangannya masih gemetar saat map kontrak itu diambil kembali oleh Bima dan dimasukkan ke dalam tas kerja."Dua jam," ucap Radiva datar. "Itu waktu yang kita punya."Jennaira menatapnya kosong. "Untuk apa?""Untuk mengakhiri semua celah," jawab Radiva. "Dan membuatmu tidak bisa disentuh siapa pun."Kata terakhiri terdengar seperti vonis.Ponsel Radiva bergetar. Ia mengangkatnya tanpa ekspresi, mendengarkan sebentar, lalu menutup panggilan."Mereka sudah tahu bahwa kau tidak pulang ke rumah," katanya. "Ibumu yang pertama kali bicara."Jennaira tersentak. "Ibu ...?""Ia menangis di telepon," lanjut Radiva dingin. "Tapi bukan karena kehilanganmu, tapi arena takut kehilangan uang."Tubuh Jennaira melemas. Ia sudah menduganya, tapi mendengar kebenaran tetap terasa seperti pisau yang diputar perlahan."Ayahmu mengancam

  • Istri di Bawah Kuasanya   H4. Harga dari Perlindungan

    Jennaira tidak tidur malam itu. Ia berbaring kaku di atas ranjang besar yang terlalu empuk untuk tubuh yang terbiasa tidur dengan waspada. Lampu kamar redup. Udara dingin. Namun, yang membuatnya menggigil bukan suhu, melainkan pikirannya sendiri. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan itu datang. Tangan ayahnya yang terangkat. Suara ibunya yang dingin— 'Ini demi keluarga.' Tatapan Pak Handoyo yang menyapu tubuhnya seolah ia adalah barang. Napas Jennaira tersendat. Dadanya terasa sempit. Ia duduk, memeluk lututnya sendiri. Kuku jarinya menekan kulit, berusaha memastikan bahwa semua ini nyata—bahwa ia benar-benar sudah pergi dari rumah itu. Namun, rasa aman tidak ikut bersamanya. Pintu kamar terbuka pelan. Jennaira refleks menoleh, tubuhnya menegang. Radiva berdiri di ambang pintu. Masih dengan kemeja gelap yang rapi, seolah waktu tidak berpengaruh apa pun padanya. "Kau belum tidur?" katanya datar. Jennaira menggeleng. "Aku tidak bisa memejamkan kedua mataku." Radiva masuk, ta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status