MasukMobil melaju tanpa suara di jalanan pagi yang masih basah oleh sisa hujan malam. Lampu-lampu kota berpendar samar, memantul di aspal seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Jennaira duduk kaku di kursi belakang. Tangannya gemetar di atas pangkuan. Nafasnya pendek-pendek, seolah paru-parunya belum sepenuhnya menyadari bahwa ia masih hidup. Ia selamat—kalimat itu berulang kali muncul di kepalanya, namun anehnya tidak membawa kelegaan. Justru sebaliknya. Radiva duduk di sampingnya. Tegap. Tenang. Tatapannya lurus ke depan, seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah satu langkah kecil dari rangkaian keputusan yang sudah ia perhitungkan sejak lama. Dan itulah yang membuat Jennaira gelisah. Ia melirik pria itu diam-diam. Wajahnya tidak menunjukkan emosi. Tidak ada rasa puas karena 'menyelamatkan' seseorang. Tidak ada janji. Tidak ada empati berlebihan. Hanya ketenangan yang terlalu dingin untuk disebut normal. Siapa dia sebenarnya? Mobil berbelok memasuki jalan yang lebih sempit. Pepohonan tinggi berjajar di kiri kanan, menciptakan bayangan panjang yang menelan kendaraan mereka sedikit demi sedikit. Jennaira memeluk dirinya sendiri. Bayangan rumah itu kembali muncul. Tatapan Pak Handoyo. Tangan ayahnya yang terangkat. Wajah ibunya yang dingin. Dadanya sesak. "Minum." Radiva menyodorkan sebotol air mineral. Jennaira tersentak kecil. Ia menerima botol itu, jemarinya dingin, lalu meneguknya perlahan. Tenggorokannya perih—bukan karena haus, melainkan karena terlalu banyak kata yang tidak sempat keluar. "Terima kasih …." Suaranya nyaris tidaak terdengar. Radiva mengangguk singkat dan tidak lebih. Keheningan kembali turun. Berat. Menekan. "Aku ...." Jennaira ragu, lalu memaksakan diri. "Aku boleh tahu … ke mana kita pergi?" Radiva tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah kursi depan, memberi isyarat kecil pada pria yang sejak tadi menyetir. "Tempat aman," jawab Bima tanpa menoleh. "Untuk sementara." Kata itu lagi. Untuk sementara. Seolah hidupnya kini hanya kumpulan jeda-jeda yang tidak pernah pasti. "Pak Handoyo tidak akan tinggal diam," lanjut Bima tenang. "Dia tidak terbiasa kehilangan." Jennaira menelan ludah. "Dia bilang … akan mencariku?" "Akan," sahut Radiva datar. "Dan dia akan mencoba mengambilmu kembali." Kalimat itu tidak dibungkus penghiburan. Tidak ada usaha menenangkan. Justru karena itulah, kata-kata itu terasa kejam—dan jujur. "Kalau begitu ...." suara Jennaira bergetar, "kenapa kau tetap membawaku pergi?" Radiva menoleh untuk pertama kalinya. Tatapannya tajam, dalam, seolah menembus lapisan pertahanan yang Jennaira bangun sejak kecil. "Karena kau memilih," katanya. Hanya itu. Bukan karena kasihan. Bukan karena iba. Bukan karena ia lemah, tapi karena ia memilih. Dan entah kenapa, itu membuat dada Jennaira bergetar hebat. Mobil berhenti di depan sebuah bangunan tinggi berwarna abu-abu gelap. Tidak mencolok. Tidak mewah. Namun penjagaannya ketat. Gerbang besi terbuka otomatis, menelan mereka masuk. Lift bergerak naik dengan sunyi. Pantulan diri Jennaira terlihat jelas di dinding lift—wajah pucat, mata merah, rambut kusut. Ia tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan hidup lamanya … dan belum tahu kehidupan apa yang menantinya. "Apa ... ini rumahmu?” tanyanya ragu. "Untuk sekarang." Jawaban itu lagi. Pintu lift terbuka. Lorong panjang dengan karpet gelap dan lampu temaram menyambut mereka. Udara dingin menyentuh kulitnya, membuatnya menggigil tanpa sadar. Saat pintu apartemen terbuka, Jennaira terpaku. Ruangan itu luas. Rapi. Terlalu tenang. Dunia di luar terlihat kecil dari jendela besar di kejauhan—seolah semua kekacauan hidupnya kini berada jauh di bawah sana. "Tidak ada kamera di dalam," kata Bima sebelum pergi. "Kau aman." Aman ... Kata itu terasa asing di lidah Jennaira. Mereka kini hanya berdua. Radiva melepas jasnya dan meletakkannya di sandaran kursi. "Aku tidak akan menyentuhmu," katanya tiba-tiba. Jennaira terkejut. "Aku—aku tidak berpikir seperti itu." "Aku tahu," jawab Radiva. "Tapi kau perlu mendengarnya." Ia melangkah mendekat, lalu berhenti pada jarak yang aman. Tidak menekan. Tidak mengurung. "Namun," lanjutnya, suaranya menurun, "kau juga perlu tahu satu hal." Jennaira menahan napas. "Aku tidak menyelamatkan orang tanpa konsekuensi." Jantungnya berdegup keras. "A-apa maksud dari kalimatmu itu?" Radiva menatap keluar jendela. "Kau sudah menarik perhatian orang-orang yang seharusnya tidak kau hadapi," katanya. "Dan sekarang, kau berada di sisiku." Radiva menoleh kembali. "Itu berarti hidupmu tidak akan pernah kembali sederhana." Kata-kata itu menancap lebih dalam daripada ancaman mana pun. "Kalau aku ingin pergi?" tanya Jennaira pelan. Radiva diam sejenak. "Jika kau pergi sekarang," katanya, "aku tidak akan menahanmu, tapi aku juga tidak akan bisa melindungimu." Bukan ancaman dan itu fakta. Jennaira memejamkan mata. Air mata menggenang, tapi tidak jatuh. Ia terlalu lelah untuk menangis. Ia tidak tahu apakah pria di depannya itu adalah penyelamat … atau pintu menuju neraka yang lebih halus. Namun, satu hal yang Jenna tahu dengan pasti—Ia tidak punya tempat pulang. "Aku …." Jennaira membuka mata. Suaranya nyaris tak terdengar. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi." Radiva mengangguk kecil. "Aku tahu." Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu, Jennaira merasa kakinya benar-benar menyentuh lantai. Ia tidak aman. Ia tidak tenang. Namun, ia hidup. Dan di suatu sudut hatinya, ia sadar— langkah yang ia ambil hari ini bukan sekadar pelarian. Ini adalah awal dari pilihan yang akan menuntut harga jauh lebih mahal dari yang ia bayangkan.Radiva sampai di lapas. Ia segera melangkah menemui polisi yang berjaga. Bima melangkah di belakang Radiva. Polisi itu membawa Radiva beserta Bima menuju ruang tunggu."Pak Diva, tunggu sebentar. Silakan duduk." Polisi yang bertugas mempersilakan Radiva duduk. Radiva hanya mengangguk kepala.Polisi penjaga itu melangkah keluar dari ruang tunggu menuju sel tempat Handoyo.0Ruang kunjungan itu dingin. Dinding abu-abu, meja besi, dan kaca pembatas yang memisahkan dua dunia—bebas dan terkurung. Radiva duduk tegak, tangannya terlipat di atas meja. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam.Di seberang kaca, Handoyo tersenyum. Seragam tahanan tak menghapus wibawanya. Ia tetap terlihat seperti pria yang terbiasa mengendalikan keadaan.“Selamat,” ucapnya santai begitu telepon diangkat. “Kau menang.”Radiva tidak tersenyum. “Ini bukan permainan.”Handoyo terkekeh pelan. “Oh, ini selalu permainan, Radiva. Kau hanya baru sadar sekarang.”Radiva menatapnya lurus. “Kau kalah. Bukti-bukti sudah lengkap.
Handoyo duduk di balik jeruji, wajahnya memar, tapi senyumnya masih ada. Polisi menutup berkas dengan keras. "Kau sudah selesai, Handoyo." Handoyo mengangkat kepala, matanya berkedip. "Sudah selesai?" Ia terkekeh pelan, seperti mendengar lelucon. Radiva berdiri di depan sel, tatapannya tajam. "Siapa yang membantumu?" Handoyo menatapnya lama. Lalu ia mendekat ke jeruji, suaranya turun. "Kau pikir aku punya cukup kekuatan untuk melakukan semua ini sendirian?" Radiva tidak bergerak. Handoyo tersenyum. "Permainan ini… milik Arkana." Udara mendadak dingin. Radiva membeku. "Apa? Nama itu ...." Handoyo hanya menatapnya, puas. "Iya, benar. Nama itu yang kelak akan menghancurkanmu …" Senyumnya melebar. " ... Ia akan datang menghampirimu." *** Flashback beberapa tahun silam .... Hujan turun deras malam itu. Lampu jalanan berpendar samar di atas aspal basah. Kota seperti kuburan hidup—sunyi, dingin, dan penuh rahasia. Arkana duduk di dalam mobil, kedua tangannya mencengkeram
"Pak Radiva, saya sudah mendapatkan lokasi di mana Bu Jennaira disekap." Bima melapor setelah Radiva mempersilakan masuk ke ruang kantornya.Radiva memutar kursinya. Menatap Bima untuk memastikan sesuatu. Bima menelan ludah dengan kesusahan karena tatapan maut Radiva."Saya bersumpah, Pak. Untuk kali ini, info yang saya dapat benar-benar akurat," aku Bima membela diri."Hm ...." Hanya begitu jawaban Radiva.Bima masih berdiri di sana. Hal itu membuat Radiva kembali menatapnya. "Kenapa masih berdiri di situ? Cepat keluar!"Bima menekuk kedua bibirnya ke dalam, lalu buru-buru keluar dari ruangan Radiva.Beberapa detik setelah itu Bima menyembulkan kepalanya tanpa mengetuk pintu. "Pak Diva, jangan pergi sendirian.""Bimaaa!" teriak Radiva. Pintu langsung tertutup dengan suara yang lumayan memekakkan telinga. Kembali pintu terbuka sedikit dan kepala Bima masuk."Pak, saya serius. Pak Radiva jangan datang sendirian. Itu berbahaya.""Bim, jangan ganggu aku dulu. Pergilah bekerja. Aku ingin
Suara telepon itu masih menggema di kepala Radiva.“Kalian pikir aku tidak tahu kamu bersembunyi di mana?”Radiva berdiri kaku, napasnya berat. Aurelia menurunkan gagang telepon perlahan, wajahnya tidak pucat—tapi dingin, seperti seseorang yang baru saja menyadari permainan ini jauh lebih besar dari dugaan mereka.“Dia sengaja,” bisik Radiva.Aurelia mengangguk pelan.“Dia ingin kamu kehilangan kendali.”Radiva menatapnya tajam.“Jenna masih hidup?”“Kita tidak punya pilihan selain menganggap iya,” jawab Aurelia cepat. “Kalau dia ingin Jenna mati, dia tidak akan menelepon. Handoyo butuh kamu hidup dalam ketakutan.”Radiva mengepalkan tangan.“Aku akan membunuhnya.”“Tidak,” potong Aurelia. “Kamu akan menyelamatkan istrimu dulu.”Radiva terdiam, matanya merah oleh amarah yang ditahan paksa. Aurelia membuka laptop dan beberapa dokumen di meja.“Dia sudah tahu lokasi ini. Itu artinya… dia punya orang yang memantau pergerakanmu. Kita harus bergerak sekarang, sebelum dia memindahkan Jenna
Radiva tidak langsung pergi. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di tempat yang sama, ponsel masih dalam genggamannya dan pesan itu seperti bara api.[Kau akan bermain sesuai aturanku.]Handoyo mengira Radiva akan datang sendiri. Mengira ia akan panik, kehilangan logika, dan masuk ke dalam perangkap seperti binatang yang mengejar umpan.Radiva memang panik. Tapi ia bukan bodoh.Ia menutup mata, menarik napas panjang, memaksa dirinya kembali waras. Lalu ia berbalik, masuk ke mobil, dan melaju tanpa arah yang jelas—bukan untuk kabur, tapi untuk berpikir.Tangannya gemetar saat menekan nomor Aurelia sekali lagi. Kali ini tersambung.“Aurelia,” suara Radiva serak, berat.“Aku dengar,” jawab Aurelia cepat. Tidak ada basa-basi.“Kamu dapat video itu, ya?”Radiva menelan ludah.“Jenna ada di tangan Handoyo.”Hening sesaat di seberang. Lalu Aurelia berkata pelan, tapi tegas,“Kalau
Alamat itu membawanya ke pinggir kota. Jalanan semakin sepi, lampu-lampu semakin jarang, dan setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk dada Radiva. Tangannya mencengkeram setir sampai buku-buku jarinya memutih. Ia tidak peduli aturan. Tidak peduli strategi. Yang ia pedulikan hanya satu: Jennaira.Mobil berhenti mendadak di depan bangunan tua yang bahkan nyaris tidak terlihat sebagai tempat layak. Halaman kosong. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.Radiva turun dengan langkah cepat, matanya menyapu setiap sudut. Kosong.Ia berjalan masuk, pintu besi berderit pelan saat didorong. Debu. Udara pengap. Dan… tidak ada siapa-siapa.Radiva berdiri di tengah ruangan, napasnya berat, dadanya naik turun seperti menahan amarah yang sudah mendidih sejak tadi.“Bajingan…” gumamnya.Ia melangkah lebih jauh, memeriksa ruangan satu per satu, tapi jawabannya tetap sama. Tidak ada Jenna. Tidak ada Handoyo. Tidak ada apa pun selain kesunyian yang mengejek.Radiva mengangkat ponselnya, menatap alamat







