LOGINPagi itu terasa seperti vonis mati.
Jennaira Kirei Atmaja duduk kaku di kursi belakang mobil, diapit oleh ayah dan ibunya. Tangannya dingin, saling menggenggam di atas pangkuan, sementara jantungnya berdetak terlalu cepat-seolah tahu, setiap meter yang ditempuh kendaraan itu menyeretnya lebih dekat ke sesuatu yang tidak akan bisa ia hindari. Jennaira melirik pintu mobil. Jika aku lompat sekarang ... Namun bayangan wajah orang tuanya membuat tubuhnya membeku. Tatapan ayahnya keras, tanpa celah untuk bantahan. Ibunya diam, tapi diam yang jauh lebih menyakitkan. Tidak ada satu pun yang bertanya apakah ia baik-baik saja. Tidak ada yang peduli. Mobil berhenti di depan rumah besar berpagar tinggi. Bangunan itu menjulang seperti penjara yang menyamar sebagai kemewahan. "Turun," perintah Aditya singkat. Kaki Jennaira terasa lemas saat menginjakkan diri di tanah. Nafasnya pendek. Rumah itu tidak terasa seperti tempat tinggal-melainkan tempat di mana hidupnya akan diserahkan, ditukar, dan selesai. Baru beberapa langkah mereka menaiki teras, suara mesin mobil terdengar mendekat dengan cepat. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang. Pintu terbuka. Seorang pria turun dari dalamnya. Tinggi. Tegap. Wibawanya membuat udara di sekitar terasa berubah. Setelan jasnya sederhana, tapi pas di tubuhnya. Tatapannya tajam, dingin-tatapan seseorang yang terbiasa memegang kendali dan tidak meminta izin. Jennaira tanpa sadar menoleh. "Berhenti." Satu kata. Namun, kata itu cukup untuk membuat langkah semua orang terhenti. Aditya menoleh dengan wajah tidak senang. "Siapa Anda?" "Radiva," jawab pria itu singkat. Suaranya tenang, tapi berat. "Dan saya ingin tahu kenapa perempuan itu terlihat seperti tahanan yang hendak dibawa masuk ke dalam jeruji besi?" Kemala tersenyum cepat-senyum palsu yang Jennaira kenal sejak kecil. "Ini urusan keluarga." Radiva tidak langsung menanggapi. Tatapannya justru tertuju pada Jennaira. Wajah pucat. Mata sembab. Tubuh gemetar. "Urusan keluarga?" Radiva terkekeh tipis, tanpa humor. "Kalian menyebut paksaan sebagai keluarga?" Aditya menggeram. "Dia akan menikah! Calon suaminya pemilik rumah ini!" Radiva melangkah lebih dekat. Suaranya merendah, menekan. "Menikah," katanya pelan, "atau dijual?" Suasana membeku. Jennaira menahan napas. Kata itu—dijual—menggema keras di kepalanya. Radiva menatap Jennaira lagi. "Jawab jujur," katanya. "Apa kamu ingin menikah?" Tenggorokan Jennaira terkunci. Tubuhnya bergetar hebat. Ia menoleh pada ayah dan ibunya—mencari satu tanda saja, satu isyarat bahwa ia boleh berkata tidak. Namun, yang ia dapatkan hanyalah tatapan mendesak. Dengan sisa keberanian yang hampir habis, Jennaira berbisik, "Tidak ..." Satu kata itu jatuh seperti peluru. Radiva langsung menoleh ke orang tua Jennaira. Tatapannya berubah dingin. "Lepaskan gadis itu," ucapnya tenang, "dan jangan sentuh dia lagi. Jika kalian berani menyentuhnya, maka aku pastikan kalian tidak akan pernah melupakan kejadian hari ini." "Berani sekali kau!" bentak Aditya. Radiva tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. "Aku belum selesai." Ia kembali menatap Jennaira. Tatapannya berbeda—tegas, tapi aman. "Mulai sekarang," katanya, "kamu ikut aku." Dunia Jennaira seolah berhenti berputar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ... seseorang memberinya pilihan. Namun, sebelum ia sempat melangkah— "RADIVA!" Suara berat menggema dari dalam rumah. Seorang pria tua muncul di ambang pintu. Rambutnya klimis, perutnya sedikit membuncit, tapi tatapannya tajam dan penuh rasa memiliki. Senyum puas terbit di wajahnya saat melihat Jennaira. "Jangan ikut campur urusan calon istriku," ucapnya santai. Tubuh Jennaira membeku. Radiva menatap pria itu lama. Terlalu lama. "Justru sekarang," katanya dingin, "aku akan ikut campur sepenuhnya." Udara di halaman terasa berat, menekan dada Jennaira hingga sulit bernapas. Pak Handoyo melangkah keluar dengan santai. Tatapannya langsung menyapu Jennaira dari kepala hingga kaki, tanpa rasa malu. Hal itu membuat perut Jennaira serasa diaduk dan ingin memuntahkan semuanya, karena merasa jijik dipandang oleh Handoyo. "Kau akhirnya datang juga," katanya sambil terkekeh. "Cantik sekali. Lebih cantik dari yang aku bayangkan." Perut Jennaira mual. "Pak Handoyo," Kemala cepat-cepat menyela, "Jenna hanya sedikit gugup." "Wajar," sahut pria itu. "Perempuan memang seharusnya gugup sebelum menikah." Radiva melangkah maju, posisinya kini tepat di depan Jennaira—tanpa menyentuh, tapi jelas melindungi. "Menarik," ucap Radiva datar. "Calon istri Anda terlihat seperti hendak pingsan." Pak Handoyo mengerutkan kening. "Sejak kapan kau ikut campur urusanku?" Radiva menatapnya lurus. "Sejak kau kembali menggunakan cara lama." Senyum Pak Handoyo menegang sesaat—lalu kembali merekah. "Kau pikir kau siapa? Pahlawan?" Radiva tidak menjawab. Ia hanya menoleh pada Jennaira. "Lihat aku." Dengan ragu, Jennaira mengangkat wajahnya. "Jika kau melangkah masuk ke rumah ini," ujar Radiva rendah, "kau tidak akan punya kesempatan kedua." Jennaira menoleh pada orang tuanya. Tidak ada belas kasihan di sana. Tidak ada penyesalan. Hanya harapan agar ia cepat 'diserahkan'. Dadanya perih. "Aku tidak ingin menikah," ucap Jennaira. Suaranya bergetar, tapi jelas. "KURANG AJAR!" Aditya mengangkat tangannya. Namun, sebelum tamparan itu mendarat, Radiva menangkap pergelangan tangannya. Tidak kasar. Tidak keras. Tapi cukup untuk menghentikannya. "Berani menyentuhnya," ucap Radiva tenang, "dan kau akan menyesal seumur hidup." Aditya terdiam. Tangannya gemetar. Radiva mengeluarkan ponsel. Satu ketukan. Dua mobil hitam berhenti di depan rumah. Beberapa pria bersetelan rapi turun dengan langkah cepat. "Kau punya satu pilihan sekarang," kata Radiva pada Jennaira. "Masuk ke rumah itu ... atau ikut aku." Jennaira menatap tangan Radiva yang terulur. Tangannya bergetar. Namun, sesuatu di dalam dirinya—yang selama ini mati—perlahan bangkit. Ia melangkah maju. Tangannya menyentuh tangan Radiva. Hangat. Kokoh. "Aku hanya ingin hidup," ucapnya lirih. Radiva menariknya mendekat. "Mulai sekarang," bisiknya, "jangan menoleh ke belakang." Mobil hitam melaju meninggalkan rumah itu. Dan Jennaira sadar—Pernikahannya memang dihentikan. Namun, hidupnya baru saja masuk ke permainan yang jauh lebih berbahaya.Radiva sampai di lapas. Ia segera melangkah menemui polisi yang berjaga. Bima melangkah di belakang Radiva. Polisi itu membawa Radiva beserta Bima menuju ruang tunggu."Pak Diva, tunggu sebentar. Silakan duduk." Polisi yang bertugas mempersilakan Radiva duduk. Radiva hanya mengangguk kepala.Polisi penjaga itu melangkah keluar dari ruang tunggu menuju sel tempat Handoyo.0Ruang kunjungan itu dingin. Dinding abu-abu, meja besi, dan kaca pembatas yang memisahkan dua dunia—bebas dan terkurung. Radiva duduk tegak, tangannya terlipat di atas meja. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam.Di seberang kaca, Handoyo tersenyum. Seragam tahanan tak menghapus wibawanya. Ia tetap terlihat seperti pria yang terbiasa mengendalikan keadaan.“Selamat,” ucapnya santai begitu telepon diangkat. “Kau menang.”Radiva tidak tersenyum. “Ini bukan permainan.”Handoyo terkekeh pelan. “Oh, ini selalu permainan, Radiva. Kau hanya baru sadar sekarang.”Radiva menatapnya lurus. “Kau kalah. Bukti-bukti sudah lengkap.
Handoyo duduk di balik jeruji, wajahnya memar, tapi senyumnya masih ada. Polisi menutup berkas dengan keras. "Kau sudah selesai, Handoyo." Handoyo mengangkat kepala, matanya berkedip. "Sudah selesai?" Ia terkekeh pelan, seperti mendengar lelucon. Radiva berdiri di depan sel, tatapannya tajam. "Siapa yang membantumu?" Handoyo menatapnya lama. Lalu ia mendekat ke jeruji, suaranya turun. "Kau pikir aku punya cukup kekuatan untuk melakukan semua ini sendirian?" Radiva tidak bergerak. Handoyo tersenyum. "Permainan ini… milik Arkana." Udara mendadak dingin. Radiva membeku. "Apa? Nama itu ...." Handoyo hanya menatapnya, puas. "Iya, benar. Nama itu yang kelak akan menghancurkanmu …" Senyumnya melebar. " ... Ia akan datang menghampirimu." *** Flashback beberapa tahun silam .... Hujan turun deras malam itu. Lampu jalanan berpendar samar di atas aspal basah. Kota seperti kuburan hidup—sunyi, dingin, dan penuh rahasia. Arkana duduk di dalam mobil, kedua tangannya mencengkeram
"Pak Radiva, saya sudah mendapatkan lokasi di mana Bu Jennaira disekap." Bima melapor setelah Radiva mempersilakan masuk ke ruang kantornya.Radiva memutar kursinya. Menatap Bima untuk memastikan sesuatu. Bima menelan ludah dengan kesusahan karena tatapan maut Radiva."Saya bersumpah, Pak. Untuk kali ini, info yang saya dapat benar-benar akurat," aku Bima membela diri."Hm ...." Hanya begitu jawaban Radiva.Bima masih berdiri di sana. Hal itu membuat Radiva kembali menatapnya. "Kenapa masih berdiri di situ? Cepat keluar!"Bima menekuk kedua bibirnya ke dalam, lalu buru-buru keluar dari ruangan Radiva.Beberapa detik setelah itu Bima menyembulkan kepalanya tanpa mengetuk pintu. "Pak Diva, jangan pergi sendirian.""Bimaaa!" teriak Radiva. Pintu langsung tertutup dengan suara yang lumayan memekakkan telinga. Kembali pintu terbuka sedikit dan kepala Bima masuk."Pak, saya serius. Pak Radiva jangan datang sendirian. Itu berbahaya.""Bim, jangan ganggu aku dulu. Pergilah bekerja. Aku ingin
Suara telepon itu masih menggema di kepala Radiva.“Kalian pikir aku tidak tahu kamu bersembunyi di mana?”Radiva berdiri kaku, napasnya berat. Aurelia menurunkan gagang telepon perlahan, wajahnya tidak pucat—tapi dingin, seperti seseorang yang baru saja menyadari permainan ini jauh lebih besar dari dugaan mereka.“Dia sengaja,” bisik Radiva.Aurelia mengangguk pelan.“Dia ingin kamu kehilangan kendali.”Radiva menatapnya tajam.“Jenna masih hidup?”“Kita tidak punya pilihan selain menganggap iya,” jawab Aurelia cepat. “Kalau dia ingin Jenna mati, dia tidak akan menelepon. Handoyo butuh kamu hidup dalam ketakutan.”Radiva mengepalkan tangan.“Aku akan membunuhnya.”“Tidak,” potong Aurelia. “Kamu akan menyelamatkan istrimu dulu.”Radiva terdiam, matanya merah oleh amarah yang ditahan paksa. Aurelia membuka laptop dan beberapa dokumen di meja.“Dia sudah tahu lokasi ini. Itu artinya… dia punya orang yang memantau pergerakanmu. Kita harus bergerak sekarang, sebelum dia memindahkan Jenna
Radiva tidak langsung pergi. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di tempat yang sama, ponsel masih dalam genggamannya dan pesan itu seperti bara api.[Kau akan bermain sesuai aturanku.]Handoyo mengira Radiva akan datang sendiri. Mengira ia akan panik, kehilangan logika, dan masuk ke dalam perangkap seperti binatang yang mengejar umpan.Radiva memang panik. Tapi ia bukan bodoh.Ia menutup mata, menarik napas panjang, memaksa dirinya kembali waras. Lalu ia berbalik, masuk ke mobil, dan melaju tanpa arah yang jelas—bukan untuk kabur, tapi untuk berpikir.Tangannya gemetar saat menekan nomor Aurelia sekali lagi. Kali ini tersambung.“Aurelia,” suara Radiva serak, berat.“Aku dengar,” jawab Aurelia cepat. Tidak ada basa-basi.“Kamu dapat video itu, ya?”Radiva menelan ludah.“Jenna ada di tangan Handoyo.”Hening sesaat di seberang. Lalu Aurelia berkata pelan, tapi tegas,“Kalau
Alamat itu membawanya ke pinggir kota. Jalanan semakin sepi, lampu-lampu semakin jarang, dan setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk dada Radiva. Tangannya mencengkeram setir sampai buku-buku jarinya memutih. Ia tidak peduli aturan. Tidak peduli strategi. Yang ia pedulikan hanya satu: Jennaira.Mobil berhenti mendadak di depan bangunan tua yang bahkan nyaris tidak terlihat sebagai tempat layak. Halaman kosong. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.Radiva turun dengan langkah cepat, matanya menyapu setiap sudut. Kosong.Ia berjalan masuk, pintu besi berderit pelan saat didorong. Debu. Udara pengap. Dan… tidak ada siapa-siapa.Radiva berdiri di tengah ruangan, napasnya berat, dadanya naik turun seperti menahan amarah yang sudah mendidih sejak tadi.“Bajingan…” gumamnya.Ia melangkah lebih jauh, memeriksa ruangan satu per satu, tapi jawabannya tetap sama. Tidak ada Jenna. Tidak ada Handoyo. Tidak ada apa pun selain kesunyian yang mengejek.Radiva mengangkat ponselnya, menatap alamat







