Istri di Bawah Kuasanya

Istri di Bawah Kuasanya

last updateLast Updated : 2026-01-12
By:  CheezyweezeUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
9Chapters
14views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Ia dijual oleh keluarganya. Ia diselamatkan oleh pria yang lebih berbahaya dari neraka yang ia tinggalkan. Jennaira Kirei Atmaja hanya ingin hidup dengan tenang-namun satu penolakan menyeretnya ke dunia kekuasaan, intrik, dan pernikahan tanpa cinta. Radiva Emha Sanjaya, CEO dingin dengan pengaruh gelap, menawarkan perlindungan ... dengan harga sebuah ikatan yang tak bisa dibatalkan. Di hadapan dunia, mereka adalah pasangan sempurna. Di balik pintu tertutup, mereka adalah dua orang asing yang terjebak dalam permainan berbahaya. Karena di dunia Radiva, cinta bukan senjata-dan menikah hanyalah awal dari perang.

View More

Chapter 1

H1. Aku Akan Dijual

Jam di dinding tepat menunjukkan pukul sepuluh malam saat Jennaira Kirei Atmaja membuka pintu rumahnya. Belum sempat ia menyalakan lampu, suara keras menggelegar lebih dulu-menghantam seperti petir di tengah gelap.

"DARI MANA SAJA KAU, HAH?!"

Tubuh Jennaira menegang seketika. Jantungnya serasa jatuh ke dasar perut. Di ruang tamu yang remang, ayah dan ibunya berdiri menunggunya. Tatapan mereka tajam, penuh amarah-seolah sejak awal malam ini mereka memang menunggu waktu untuk menghukumnya.

"Ayah... maaf," suara Jennaira lirih, hampir tak terdengar. "Kedai hari ini ramai. Aku harus membereskan dulu sebelum pul-"

PLAK!

Tamparan itu mendarat tanpa peringatan. Kepala Jennaira terpelanting ke samping. Pandangannya berkunang-kunang, telinganya berdenging, dan rasa panas langsung menjalar di pipinya. Ia belum sempat berdiri tegak ketika tangan ibunya sudah lebih dulu menarik tas selempangnya dengan kasar.

"Ibu-jangan!" teriak Jennaira panik.

Kemala tidak menjawab. Ia membongkar isi tas itu dengan gerakan kasar, lalu berhenti saat menemukan sebuah amplop cokelat. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Senyum yang membuat Jennaira menggigil.

"Upah kerjamu," gumam Kemala dingin, seolah sedang menilai barang belanjaan.

Jennaira refleks meraih amplop itu.

"Bu, itu punyaku. Kita juga butuh makan, bayar listrik-"

"KAU BERANI MELAWAN?"

Dorongan keras dari Aditya membuat tubuh Jennaira terhuyung dan menghantam dinding.

"Aaagh!" Bahunya terasa nyeri, napasnya tercekat.

"Kau bekerja untuk membayar utang-utangku," ujar Aditya dengan senyum menjijikkan. "Jadi uang ini hak kami!"

Air mata Jennaira jatuh satu per satu. Dadanya terasa perih, seolah diremas dari dalam. "Tapi... tidak harus semuanya. Aku juga butuh pegangan, Yah."

"Kau ini benar-benar menyusahkan!" bentak Kemala. "Sejak kecil hanya jadi beban!"

Aditya bangkit dari duduknya. Tatapannya menyapu tubuh Jennaira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Cara matanya menilai membuat Jennaira mual.

"Kalau saja kau berguna," ucapnya sambil tersenyum miring, "Hidup kita sudah enak. Lebih baik kau melacur saja. Tubuhmu itu bisa menghasilkan uang lebih cepat."

Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Jennaira. "A-apa?" bibirnya bergetar. Dunia seolah runtuh di bawah kakinya.

"Atau," sambung Kemala santai, seakan membicarakan cuaca, "Kau menikah dengan Pak Handoyo."

Nama itu membuat darah Jennaira membeku.

"Aku tidak mau!" serunya spontan. "Bu, dia kasar! Aku takut ... aku mohon-"

PLAK!

Tamparan kedua jauh lebih keras.

Kepala Jennaira terhantam ke samping, bibirnya terasa perih. Kemala menjambak rambutnya tanpa ragu.

"Masuk kamar!" bentaknya tajam. "Pilih salah satu! Melacur, atau menikah dengan Pak Handoyo!"

Tubuh Jennaira didorong masuk ke kamar.

BRAKK! KLIK!

Pintu ditutup kasar dan dikunci dari luar.

Jennaira terjatuh di lantai. Napasnya tersengal, dadanya sesak seperti ditindih beban berton-ton. Air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan.

Aku ini anak mereka ... atau hanya barang dagangan?

Dari balik pintu, suara kedua orang tuanya terdengar jelas-tanpa sedikit pun usaha untuk dirahasiakan.

"Besok pagi kita bawa Jenna ke rumah Pak Handoyo," kata Kemala tenang.

"Dia tidak bisa kabur," sahut Aditya puas. "Uangnya sudah kita ambil semua."

Besok pagi.

Tubuh Jennaira gemetar hebat. Ia memeluk lututnya di atas ranjang, menggigit bibir agar tidak menjerit.

Jika aku kabur, aku durhaka.

Jika aku tinggal, aku hancur.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jennaira berharap pagi tidak pernah datang.

***

Jennaira memeluk lututnya lebih erat. Kamar sempit itu terasa semakin menyempit, seolah dinding-dindingnya perlahan mendekat. Udara di dalamnya pengap, membuat napasnya terasa berat.

Ia bangkit dari ranjang dengan langkah gontai, mendekati jendela kecil yang hanya tertutup teralis besi. Di luar, malam tampak sunyi. Jalanan lengang. Tidak ada satu pun orang yang bisa ia mintai tolong.

Tangannya menggenggam teralis dingin itu.

Kalau aku melompat ...

Melompat ke mana, Jenna?

Otak Jenna sudah tidak bisa berpikir jernih. Terlalu tinggi untuk kabur tanpa cedera. Terlalu rendah untuk mengakhiri semuanya.

Jenna menghela napas panjang, lalu tertawa kecil-tawa yang rapuh, nyaris seperti tangisan.

"Lucu," gumamnya pelan. "Aku bahkan tidak punya keberanian untuk kabur."

Langkah kaki terdengar dari luar kamar. Jennaira membeku.

Bayangan sepatu berhenti tepat di depan pintunya.

"Ayah?" panggilnya pelan, meski tubuhnya gemetar.

Tidak ada jawaban.

Yang terdengar justru suara bisik-bisik di ruang tamu. Suara ayah dan ibunya. Sengaja dipelankan, tapi cukup jelas untuk didengar.

"Pak Handoyo sudah setuju," ujar Kemala. "Besok pagi dia datang."

Jennaira menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata mengalir deras, membasahi punggung tangannya.

"Pastikan anak itu tidak keluar kamar," sahut Aditya. "Kalau perlu, kunci saja dari luar."

"Tenang. Dia anak penurut," jawab Kemala enteng. "Lagi pula, mau kabur ke mana tanpa uang?"

Kata-kata itu menusuk lebih kejam daripada tamparan. Jennaira mundur selangkah, punggungnya menempel ke dinding. Tubuhnya melorot perlahan hingga terduduk di lantai. Tangisnya pecah tanpa suara. Ia menutup telinganya, tapi suara itu tetap menggema di kepalanya. Mereka benar-benar akan menjualku. Pandangannya jatuh pada ponsel tua di atas meja. Layarnya retak. Baterainya hampir habis. Ia meraihnya dengan tangan gemetar.

Satu nama muncul di pikirannya-pemilik kedai tempat ia bekerja. Tapi ingatan tentang ucapan ibunya membuat jarinya terhenti.

"Uangnya sudah kita ambil semua. Ia tidak punya apa-apa."

Jennaira mematikan layar ponselnya dan memeluknya ke dada. Untuk pertama kalinya, rasa takut berubah menjadi keputusasaan yang dingin. Jika tidak ada yang menolongnya malam ini ... maka esok pagi, ia bukan lagi milik dirinya sendiri.

Dari balik pintu, suara kunci kembali terdengar-diputar pelan, memastikan pintu benar-benar terkunci.

Klik.

Suara itu seperti vonis. Jennaira mengangkat wajahnya ke langit-langit kamar. Air matanya jatuh membasahi pipi.

"Tolong ...," bisiknya lirih, entah kepada siapa.

Di luar kamar, jam berdetak pelan menuju pagi. Dan di suatu tempat, tanpa Jennaira ketahui, sebuah keputusan besar sedang bergerak menuju hidupnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status