MasukJennaira tidak tidur malam itu. Ia berbaring kaku di atas ranjang besar yang terlalu empuk untuk tubuh yang terbiasa tidur dengan waspada. Lampu kamar redup. Udara dingin. Namun, yang membuatnya menggigil bukan suhu, melainkan pikirannya sendiri.
Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan itu datang. Tangan ayahnya yang terangkat. Suara ibunya yang dingin— 'Ini demi keluarga.' Tatapan Pak Handoyo yang menyapu tubuhnya seolah ia adalah barang. Napas Jennaira tersendat. Dadanya terasa sempit. Ia duduk, memeluk lututnya sendiri. Kuku jarinya menekan kulit, berusaha memastikan bahwa semua ini nyata—bahwa ia benar-benar sudah pergi dari rumah itu. Namun, rasa aman tidak ikut bersamanya. Pintu kamar terbuka pelan. Jennaira refleks menoleh, tubuhnya menegang. Radiva berdiri di ambang pintu. Masih dengan kemeja gelap yang rapi, seolah waktu tidak berpengaruh apa pun padanya. "Kau belum tidur?" katanya datar. Jennaira menggeleng. "Aku tidak bisa memejamkan kedua mataku." Radiva masuk, tapi tidak mendekat. Ia berdiri di sisi jendela, menjaga jarak seperti sebelumnya. "Trauma tidak mengenal jam," ucapnya singkat. Kalimat itu membuat tenggorokan Jennaira mengeras. "Aku ingin bertanya." Seolah Jenna takut ingin mengutarakannya. Namun, ia memberanikan diri. "Apa yang akan terjadi padaku?" Radiva menoleh. Tatapannya tajam, namun kali ini tidak sepenuhnya dingin. "Yang pasti," katanya, "kau tidak bisa kembali ke kehidupan lamamu." Jennaira tersenyum pahit. "Aku memang tidak pernah punya kehidupan." Radiva diam sejenak. "Kau punya," sanggahnya pelan. "Hanya saja orang-orang di sekitarmu mengambilnya perlahan." Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada teriakan mana pun. Air mata Jennaira jatuh tanpa ia sadari. "Aku tidak pernah memilih," bisiknya. "Semua orang selalu memutuskan untukku." Radiva menatapnya lama. "Kemarin, kau sudah memilih." Jennaira menggeleng lemah. "Aku memilih karena takut." "Itu tetap pilihan." Keheningan kembali jatuh. Berat. Menekan. Pintu kembali terbuka. Bima masuk dengan tablet di tangan, wajahnya serius. "Pak Radiva," ucapnya, "orang-orang Pak Handoyo mulai menyebar. Mereka bertanya ke tetangga lama, ke kenalan lama. Pun Ayah Jennaira ikut bergerak." Tubuh Jennaira langsung kaku. "Ayahku …?" "Dia panik," jawab Bima tenang. "Dan orang panik biasanya nekat." Radiva tidak terlihat terkejut. "Seberapa cepat mereka bisa sampai ke sini?" "Dalam hitungan hari," jawab Bima. "Atau jam, jika mereka cukup nekat dan bergerak cepat." Jennaira menutup mulutnya, napasnya bergetar. "Aku tidak ingin kembali ... tolong." Radiva menatapnya. Tatapan yang membuatnya merasa telanjang—bukan secara fisik, tapi batin. "Aku tidak akan mengembalikanmu," katanya. "Tapi aku juga tidak akan berbohong." Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Jennaira. Tidak menyentuh. "Perlindungan dariku," lanjut Radiva, "selalu punya harga." Jennaira menelan ludah. "Harga … apa?" Radiva memberi isyarat kecil. Bima maju, meletakkan sebuah map hitam di meja kecil di antara mereka. Jennaira menatap benda itu seolah sedang menatap vonis hukuman untuk dirinya. "Apa ini?" suaranya nyaris tidak terdengar. "Kesepakatan," jawab Radiva singkat. "Bentuk perlindungan paling cepat dan paling efektif," lanjutnya. Jennaira membuka map itu dengan tangan gemetar. Sebuah kontrak. Namanya tercetak jelas. Identitas lengkap. Pasal demi pasal. Matanya berkunang saat membaca satu bagian tertentu. Pernikahan kontrak. "Tidak ...," bisiknya. "Aku baru saja lolos dari pernikahan." "Dan justru karena itu," kata Radiva dingin, "kau harus masuk ke pernikahan yang lain." Kepalanya terasa pening. "Aku tidak mengerti." Rasa sakit mulai menyerang kepala Jennaira. Radiva mencondongkan tubuh sedikit. "Jika kau menjadi istriku, secara hukum dan publik, kau berada di bawah perlindunganku. Tidak ada satu pun yang bisa menyentuhmu tanpa berhadapan langsung denganku." "Termasuk … keluargaku?" tanya Jennaira lirih. "Ya. Terutama mereka." Jennaira tertawa kecil, suara yang nyaris seperti tangisan. "Jadi aku harus menyerahkan diriku lagi?" "Tidak," sanggah Radiva cepat. "Ini pernikahan di atas kertas. Tidak ada sentuhan. Tidak ada tuntutan emosional." "Dan jika aku menolak?" tanya Jennaira. Radiva terdiam sejenak. "Aku tetap akan menjauhkanmu dari rumah itu, tapi setelahnya, kau sendirian." Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghancurkan. Sendirian. Kata itu lebih menakutkan daripada pernikahan. Jennaira menutup map itu. Dadanya sesak. Ia teringat malam-malam di mana ia dikunci di kamar. Saat ibunya berpaling. Saat ayahnya berkata, 'Kau harus berkorban.' "Kenapa aku?" tanyanya lirih. "Kenapa kau mau melakukan sejauh ini?" Radiva menatapnya lama. Lalu menjawab pelan, "Karena aku benci pria yang merasa bisa membeli perempuan dan aku benci keluarga yang menjual darah dagingnya sendiri." Bima mengalihkan pandangan, seolah kalimat itu bukan hal yang pantas ia dengar. Jennaira menggenggam map itu erat. Air matanya jatuh membasahi kertas. "Kalau aku tanda tangan," ucapnya gemetar, "aku tidak akan bebas?" "Tidak," jawab Radiva jujur. "Tapi kau akan hidup." Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Ini bukan pilihan antara baik dan buruk. Ini pilihan antara dua neraka. Namun, yang satu setidaknya memberinya perlindungan. Dengan napas tertahan, Jennaira membuka kembali map itu. Tangannya gemetar saat mengambil pulpen. Bima melangkah mundur satu langkah. Radiva berdiri tegak, menatap tanpa mendesak—namun jelas menunggu. Saat ujung pulpen menyentuh kertas, Jennaira berbisik pada dirinya sendiri, Ini bukan akhir. Ini hanya cara bertahan. Ia menuliskan namanya. Jennaira Kirei Atmaja. Radiva menghela napas pelan. "Mulai detik ini," ucapnya dingin, "kau berada di bawah perlindunganku." Jennaira menatap tanda tangannya sendiri dan untuk pertama kalinya, ia sadar—harga keselamatan ternyata bukan kebebasan, melainkan dirinya sendiri."Perlindungan versi siapa?" Radiva menegang. "Aku tidak bisa mengontrol opini semua orang." "Tapi kau mengontrol aku," balas Jennaira cepat. Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan. Radiva menatapnya lama. "Aku melakukan ini agar kau tetap hidup." "Aku hidup," bisik Jennaira. "Tapi aku tidak bernapas." Radiva melangkah maju setengah langkah. "Jenna—" "Jangan,” potong Jennaira. "Jangan sentuh aku dengan nada seperti itu. Aku bukan bagian dari rencanamu." "Kau istriku." "Di atas kertas," sahut Jennaira pahit. "Dan di mata publik, aku milikmu, tapi di dalam diriku … aku kosong." Radiva terdiam. Untuk pertama kalinya, ada keraguan melintas di wajahnya. Bukan ragu pada keputusannya, melainkan pada dampaknya. "Aku tidak pernah berniat menyakitimu," katanya lebih rendah. "Tapi kau melakukannya," jawab Jennaira lirih. "Tanpa sadar dan tanpa bertanya." Radiva menarik napas dalam. "Handoyo tidak akan berhenti. Jika kau goyah sekarang—" "Aku bukan lemah." Jennaira menyela
Pintu kamar tertutup tanpa suara. Namun bagi Jennaira, bunyinya seperti ledakan. Ia berdiri di tengah ruangan luas yang seharusnya terasa mewah, ranjang besar berseprai putih, jendela kaca setinggi dinding, lampu kristal yang berkilau lembut. Tapi semua itu tidak memberi rasa aman. Justru sebaliknya, membuatnya merasa kecil, terkurung, dan … dipajang.Aku bukan pajangan, tapi ... ini yang terjadi padaku.Ponselnya bergetar lagi. Satu notifikasi. Ah ... ralat, bukan hanya satu, tapi puluhan. Jennaira tidak perlu membukanya untuk mengetahui isinya. Ia sudah membaca terlalu banyak sejak konferensi pers berakhir.Istri kontrak ... Boneka CEO ... Perempuan yang dibeli untuk citra.Jarinya gemetar saat akhirnya layar menyala."Cantik sih, tapi kelihatan kosong.""Pasti dibayar mahal.""Kasihan? Ah, tidak. Dia memilih hidup nyaman."Napas Jennaira tersangkut di tenggorokan. Ia menekan ponsel ke dada, seolah itu bisa menghentikan suara-suara di kepalanya,tapi komentar itu sudah terlanjur mera
Ruangan itu terlalu terang. Lampu-lampu sorot menyilaukan mata Jennaira begitu ia melangkah masuk. Kilatan kamera menyambutnya seperti hujan peluru. Suara klik, bisik-bisik, dan gumaman para jurnalis berlapis-lapis, menciptakan dengung yang menusuk telinganya.Tangannya dingin, tapi bukan karena pendingin ruangan—melainkan karena ratusan pasang mata menatapnya dalam satu waktu.Di sampingnya, Radiva Emha Sanjaya berjalan dengan langkah mantap. Setelan jas hitamnya rapi, wajahnya tenang, nyaris tanpa cela. Seolah konferensi pers ini hanyalah satu rapat biasa yang bisa ia kuasai dengan satu kalimat.Jenna menelan ludah dengan susah payah. Seolah tercekat di tenggorokan.Ia adalah istrinya sekarang. Namun, di hadapan dunia—ia hanya seorang perempuan asing yang tiba-tiba berdiri di sisi seorang CEO berpengaruh."Tarik napas." Suara Radiva rendah, hampir tidak terdengar. Tangannya menyentuh punggung Jenna sekilas. Bukan pelukan, juga bukan genggaman. Hanya sentuhan singkat. Cukup untuk men
Malam itu terlalu sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menekan—seperti ruang tertutup tanpa jendela. Jennaira duduk di tepi ranjang besar yang bahkan belum sempat ia sentuh dengan tubuhnya sepenuhnya. Gaun tidur sederhana membalut tubuhnya, namun rasa dingin merambat sampai ke tulang.Ini kamar mereka atau lebih tepatnya kamar yang disediakan untuknya.Tangannya gemetar saat memeluk lutut. Pernikahan kilat itu masih terasa tidak nyata. Semua berlangsung terlalu cepat. Tanda tangan, saksi, cincin, dan nama yang kini terikat secara hukum.Istri Radiva Emha Sanjaya.Status itu seharusnya memberi rasa aman., tapi yang Jenna rasakan justru sebaliknya.Dadanya sesak.Ia menoleh ke pintu. Sejak mereka kembali ke penthouse, Radiva hanya mengantarnya ke kamar ini dan berkata singkat agar ia beristirahat, lalu pergi ke ruang kerja. Tanpa sentuhan, tanpa penjelasan., tanpa satu pun kalimat yang memberi kehangatan pada dirinya."Ini hanya kontrak," ucap Jennaira pada dirinya
Waktu tidak memberi Jennaira kesempatan untuk bernapas. Jam di dinding bergerak terlalu cepat, seolah mengejarnya. Setiap detik berdetak seperti palu yang menghantam dadanya. Tangannya masih gemetar saat map kontrak itu diambil kembali oleh Bima dan dimasukkan ke dalam tas kerja."Dua jam," ucap Radiva datar. "Itu waktu yang kita punya."Jennaira menatapnya kosong. "Untuk apa?""Untuk mengakhiri semua celah," jawab Radiva. "Dan membuatmu tidak bisa disentuh siapa pun."Kata terakhiri terdengar seperti vonis.Ponsel Radiva bergetar. Ia mengangkatnya tanpa ekspresi, mendengarkan sebentar, lalu menutup panggilan."Mereka sudah tahu bahwa kau tidak pulang ke rumah," katanya. "Ibumu yang pertama kali bicara."Jennaira tersentak. "Ibu ...?""Ia menangis di telepon," lanjut Radiva dingin. "Tapi bukan karena kehilanganmu, tapi arena takut kehilangan uang."Tubuh Jennaira melemas. Ia sudah menduganya, tapi mendengar kebenaran tetap terasa seperti pisau yang diputar perlahan."Ayahmu mengancam
Jennaira tidak tidur malam itu. Ia berbaring kaku di atas ranjang besar yang terlalu empuk untuk tubuh yang terbiasa tidur dengan waspada. Lampu kamar redup. Udara dingin. Namun, yang membuatnya menggigil bukan suhu, melainkan pikirannya sendiri. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan itu datang. Tangan ayahnya yang terangkat. Suara ibunya yang dingin— 'Ini demi keluarga.' Tatapan Pak Handoyo yang menyapu tubuhnya seolah ia adalah barang. Napas Jennaira tersendat. Dadanya terasa sempit. Ia duduk, memeluk lututnya sendiri. Kuku jarinya menekan kulit, berusaha memastikan bahwa semua ini nyata—bahwa ia benar-benar sudah pergi dari rumah itu. Namun, rasa aman tidak ikut bersamanya. Pintu kamar terbuka pelan. Jennaira refleks menoleh, tubuhnya menegang. Radiva berdiri di ambang pintu. Masih dengan kemeja gelap yang rapi, seolah waktu tidak berpengaruh apa pun padanya. "Kau belum tidur?" katanya datar. Jennaira menggeleng. "Aku tidak bisa memejamkan kedua mataku." Radiva masuk, ta







