Home / Romansa / Istri di Bawah Kuasanya / H4. Harga dari Perlindungan

Share

H4. Harga dari Perlindungan

Author: Cheezyweeze
last update Last Updated: 2025-12-18 17:33:19

Jennaira tidak tidur malam itu. Ia berbaring kaku di atas ranjang besar yang terlalu empuk untuk tubuh yang terbiasa tidur dengan waspada. Lampu kamar redup. Udara dingin. Namun, yang membuatnya menggigil bukan suhu, melainkan pikirannya sendiri.

Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan itu datang.

Tangan ayahnya yang terangkat. Suara ibunya yang dingin— 'Ini demi keluarga.' Tatapan Pak Handoyo yang menyapu tubuhnya seolah ia adalah barang.

Napas Jennaira tersendat. Dadanya terasa sempit. Ia duduk, memeluk lututnya sendiri. Kuku jarinya menekan kulit, berusaha memastikan bahwa semua ini nyata—bahwa ia benar-benar sudah pergi dari rumah itu.

Namun, rasa aman tidak ikut bersamanya.

Pintu kamar terbuka pelan. Jennaira refleks menoleh, tubuhnya menegang. Radiva berdiri di ambang pintu. Masih dengan kemeja gelap yang rapi, seolah waktu tidak berpengaruh apa pun padanya.

"Kau belum tidur?" katanya datar.

Jennaira menggeleng. "Aku tidak bisa memejamkan kedua mataku."

Radiva masuk, tapi tidak mendekat. Ia berdiri di sisi jendela, menjaga jarak seperti sebelumnya.

"Trauma tidak mengenal jam," ucapnya singkat.

Kalimat itu membuat tenggorokan Jennaira mengeras. "Aku ingin bertanya." Seolah Jenna takut ingin mengutarakannya. Namun, ia memberanikan diri. "Apa yang akan terjadi padaku?"

Radiva menoleh. Tatapannya tajam, namun kali ini tidak sepenuhnya dingin. "Yang pasti," katanya, "kau tidak bisa kembali ke kehidupan lamamu."

Jennaira tersenyum pahit. "Aku memang tidak pernah punya kehidupan."

Radiva diam sejenak.

"Kau punya," sanggahnya pelan. "Hanya saja orang-orang di sekitarmu mengambilnya perlahan."

Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada teriakan mana pun. Air mata Jennaira jatuh tanpa ia sadari.

"Aku tidak pernah memilih," bisiknya. "Semua orang selalu memutuskan untukku."

Radiva menatapnya lama. "Kemarin, kau sudah memilih."

Jennaira menggeleng lemah. "Aku memilih karena takut."

"Itu tetap pilihan."

Keheningan kembali jatuh. Berat. Menekan.

Pintu kembali terbuka. Bima masuk dengan tablet di tangan, wajahnya serius.

"Pak Radiva," ucapnya, "orang-orang Pak Handoyo mulai menyebar. Mereka bertanya ke tetangga lama, ke kenalan lama. Pun Ayah Jennaira ikut bergerak."

Tubuh Jennaira langsung kaku. "Ayahku …?"

"Dia panik," jawab Bima tenang. "Dan orang panik biasanya nekat."

Radiva tidak terlihat terkejut. "Seberapa cepat mereka bisa sampai ke sini?"

"Dalam hitungan hari," jawab Bima. "Atau jam, jika mereka cukup nekat dan bergerak cepat."

Jennaira menutup mulutnya, napasnya bergetar. "Aku tidak ingin kembali ... tolong."

Radiva menatapnya. Tatapan yang membuatnya merasa telanjang—bukan secara fisik, tapi batin.

"Aku tidak akan mengembalikanmu," katanya. "Tapi aku juga tidak akan berbohong."

Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Jennaira. Tidak menyentuh. "Perlindungan dariku," lanjut Radiva, "selalu punya harga."

Jennaira menelan ludah. "Harga … apa?"

Radiva memberi isyarat kecil. Bima maju, meletakkan sebuah map hitam di meja kecil di antara mereka. Jennaira menatap benda itu seolah sedang menatap vonis hukuman untuk dirinya.

"Apa ini?" suaranya nyaris tidak terdengar.

"Kesepakatan," jawab Radiva singkat. "Bentuk perlindungan paling cepat dan paling efektif," lanjutnya.

Jennaira membuka map itu dengan tangan gemetar.

Sebuah kontrak.

Namanya tercetak jelas. Identitas lengkap. Pasal demi pasal. Matanya berkunang saat membaca satu bagian tertentu.

Pernikahan kontrak.

"Tidak ...," bisiknya. "Aku baru saja lolos dari pernikahan."

"Dan justru karena itu," kata Radiva dingin, "kau harus masuk ke pernikahan yang lain."

Kepalanya terasa pening. "Aku tidak mengerti." Rasa sakit mulai menyerang kepala Jennaira.

Radiva mencondongkan tubuh sedikit. "Jika kau menjadi istriku, secara hukum dan publik, kau berada di bawah perlindunganku. Tidak ada satu pun yang bisa menyentuhmu tanpa berhadapan langsung denganku."

"Termasuk … keluargaku?" tanya Jennaira lirih.

"Ya. Terutama mereka."

Jennaira tertawa kecil, suara yang nyaris seperti tangisan. "Jadi aku harus menyerahkan diriku lagi?"

"Tidak," sanggah Radiva cepat. "Ini pernikahan di atas kertas. Tidak ada sentuhan. Tidak ada tuntutan emosional."

"Dan jika aku menolak?" tanya Jennaira.

Radiva terdiam sejenak. "Aku tetap akan menjauhkanmu dari rumah itu, tapi setelahnya, kau sendirian."

Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghancurkan.

Sendirian.

Kata itu lebih menakutkan daripada pernikahan.

Jennaira menutup map itu. Dadanya sesak. Ia teringat malam-malam di mana ia dikunci di kamar. Saat ibunya berpaling. Saat ayahnya berkata, 'Kau harus berkorban.'

"Kenapa aku?" tanyanya lirih. "Kenapa kau mau melakukan sejauh ini?"

Radiva menatapnya lama. Lalu menjawab pelan, "Karena aku benci pria yang merasa bisa membeli perempuan dan aku benci keluarga yang menjual darah dagingnya sendiri."

Bima mengalihkan pandangan, seolah kalimat itu bukan hal yang pantas ia dengar.

Jennaira menggenggam map itu erat. Air matanya jatuh membasahi kertas. "Kalau aku tanda tangan," ucapnya gemetar, "aku tidak akan bebas?"

"Tidak," jawab Radiva jujur. "Tapi kau akan hidup."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

Ini bukan pilihan antara baik dan buruk. Ini pilihan antara dua neraka. Namun, yang satu setidaknya memberinya perlindungan.

Dengan napas tertahan, Jennaira membuka kembali map itu. Tangannya gemetar saat mengambil pulpen.

Bima melangkah mundur satu langkah. Radiva berdiri tegak, menatap tanpa mendesak—namun jelas menunggu.

Saat ujung pulpen menyentuh kertas, Jennaira berbisik pada dirinya sendiri,

Ini bukan akhir. Ini hanya cara bertahan.

Ia menuliskan namanya.

Jennaira Kirei Atmaja.

Radiva menghela napas pelan.

"Mulai detik ini," ucapnya dingin, "kau berada di bawah perlindunganku."

Jennaira menatap tanda tangannya sendiri dan untuk pertama kalinya, ia sadar—harga keselamatan ternyata bukan kebebasan, melainkan dirinya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri di Bawah Kuasanya   H79. Penjara yang Dingin

    Radiva sampai di lapas. Ia segera melangkah menemui polisi yang berjaga. Bima melangkah di belakang Radiva. Polisi itu membawa Radiva beserta Bima menuju ruang tunggu."Pak Diva, tunggu sebentar. Silakan duduk." Polisi yang bertugas mempersilakan Radiva duduk. Radiva hanya mengangguk kepala.Polisi penjaga itu melangkah keluar dari ruang tunggu menuju sel tempat Handoyo.0Ruang kunjungan itu dingin. Dinding abu-abu, meja besi, dan kaca pembatas yang memisahkan dua dunia—bebas dan terkurung. Radiva duduk tegak, tangannya terlipat di atas meja. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam.Di seberang kaca, Handoyo tersenyum. Seragam tahanan tak menghapus wibawanya. Ia tetap terlihat seperti pria yang terbiasa mengendalikan keadaan.“Selamat,” ucapnya santai begitu telepon diangkat. “Kau menang.”Radiva tidak tersenyum. “Ini bukan permainan.”Handoyo terkekeh pelan. “Oh, ini selalu permainan, Radiva. Kau hanya baru sadar sekarang.”Radiva menatapnya lurus. “Kau kalah. Bukti-bukti sudah lengkap.

  • Istri di Bawah Kuasanya   H78. Nama Itu ....

    Handoyo duduk di balik jeruji, wajahnya memar, tapi senyumnya masih ada. Polisi menutup berkas dengan keras. "Kau sudah selesai, Handoyo." Handoyo mengangkat kepala, matanya berkedip. "Sudah selesai?" Ia terkekeh pelan, seperti mendengar lelucon. Radiva berdiri di depan sel, tatapannya tajam. "Siapa yang membantumu?" Handoyo menatapnya lama. Lalu ia mendekat ke jeruji, suaranya turun. "Kau pikir aku punya cukup kekuatan untuk melakukan semua ini sendirian?" Radiva tidak bergerak. Handoyo tersenyum. "Permainan ini… milik Arkana." Udara mendadak dingin. Radiva membeku. "Apa? Nama itu ...." Handoyo hanya menatapnya, puas. "Iya, benar. Nama itu yang kelak akan menghancurkanmu …" Senyumnya melebar. " ... Ia akan datang menghampirimu." *** Flashback beberapa tahun silam .... Hujan turun deras malam itu. Lampu jalanan berpendar samar di atas aspal basah. Kota seperti kuburan hidup—sunyi, dingin, dan penuh rahasia. Arkana duduk di dalam mobil, kedua tangannya mencengkeram

  • Istri di Bawah Kuasanya   H77. Akhir Dari Dendam

    "Pak Radiva, saya sudah mendapatkan lokasi di mana Bu Jennaira disekap." Bima melapor setelah Radiva mempersilakan masuk ke ruang kantornya.Radiva memutar kursinya. Menatap Bima untuk memastikan sesuatu. Bima menelan ludah dengan kesusahan karena tatapan maut Radiva."Saya bersumpah, Pak. Untuk kali ini, info yang saya dapat benar-benar akurat," aku Bima membela diri."Hm ...." Hanya begitu jawaban Radiva.Bima masih berdiri di sana. Hal itu membuat Radiva kembali menatapnya. "Kenapa masih berdiri di situ? Cepat keluar!"Bima menekuk kedua bibirnya ke dalam, lalu buru-buru keluar dari ruangan Radiva.Beberapa detik setelah itu Bima menyembulkan kepalanya tanpa mengetuk pintu. "Pak Diva, jangan pergi sendirian.""Bimaaa!" teriak Radiva. Pintu langsung tertutup dengan suara yang lumayan memekakkan telinga. Kembali pintu terbuka sedikit dan kepala Bima masuk."Pak, saya serius. Pak Radiva jangan datang sendirian. Itu berbahaya.""Bim, jangan ganggu aku dulu. Pergilah bekerja. Aku ingin

  • Istri di Bawah Kuasanya   H76. Dendam yang Membakar Hati

    Suara telepon itu masih menggema di kepala Radiva.“Kalian pikir aku tidak tahu kamu bersembunyi di mana?”Radiva berdiri kaku, napasnya berat. Aurelia menurunkan gagang telepon perlahan, wajahnya tidak pucat—tapi dingin, seperti seseorang yang baru saja menyadari permainan ini jauh lebih besar dari dugaan mereka.“Dia sengaja,” bisik Radiva.Aurelia mengangguk pelan.“Dia ingin kamu kehilangan kendali.”Radiva menatapnya tajam.“Jenna masih hidup?”“Kita tidak punya pilihan selain menganggap iya,” jawab Aurelia cepat. “Kalau dia ingin Jenna mati, dia tidak akan menelepon. Handoyo butuh kamu hidup dalam ketakutan.”Radiva mengepalkan tangan.“Aku akan membunuhnya.”“Tidak,” potong Aurelia. “Kamu akan menyelamatkan istrimu dulu.”Radiva terdiam, matanya merah oleh amarah yang ditahan paksa. Aurelia membuka laptop dan beberapa dokumen di meja.“Dia sudah tahu lokasi ini. Itu artinya… dia punya orang yang memantau pergerakanmu. Kita harus bergerak sekarang, sebelum dia memindahkan Jenna

  • Istri di Bawah Kuasanya   H75. Langkah Diam-Diam

    Radiva tidak langsung pergi. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di tempat yang sama, ponsel masih dalam genggamannya dan pesan itu seperti bara api.[Kau akan bermain sesuai aturanku.]Handoyo mengira Radiva akan datang sendiri. Mengira ia akan panik, kehilangan logika, dan masuk ke dalam perangkap seperti binatang yang mengejar umpan.Radiva memang panik. Tapi ia bukan bodoh.Ia menutup mata, menarik napas panjang, memaksa dirinya kembali waras. Lalu ia berbalik, masuk ke mobil, dan melaju tanpa arah yang jelas—bukan untuk kabur, tapi untuk berpikir.Tangannya gemetar saat menekan nomor Aurelia sekali lagi. Kali ini tersambung.“Aurelia,” suara Radiva serak, berat.“Aku dengar,” jawab Aurelia cepat. Tidak ada basa-basi.“Kamu dapat video itu, ya?”Radiva menelan ludah.“Jenna ada di tangan Handoyo.”Hening sesaat di seberang. Lalu Aurelia berkata pelan, tapi tegas,“Kalau

  • Istri di Bawah Kuasanya   H74. Tempat Kosong

    Alamat itu membawanya ke pinggir kota. Jalanan semakin sepi, lampu-lampu semakin jarang, dan setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk dada Radiva. Tangannya mencengkeram setir sampai buku-buku jarinya memutih. Ia tidak peduli aturan. Tidak peduli strategi. Yang ia pedulikan hanya satu: Jennaira.Mobil berhenti mendadak di depan bangunan tua yang bahkan nyaris tidak terlihat sebagai tempat layak. Halaman kosong. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.Radiva turun dengan langkah cepat, matanya menyapu setiap sudut. Kosong.Ia berjalan masuk, pintu besi berderit pelan saat didorong. Debu. Udara pengap. Dan… tidak ada siapa-siapa.Radiva berdiri di tengah ruangan, napasnya berat, dadanya naik turun seperti menahan amarah yang sudah mendidih sejak tadi.“Bajingan…” gumamnya.Ia melangkah lebih jauh, memeriksa ruangan satu per satu, tapi jawabannya tetap sama. Tidak ada Jenna. Tidak ada Handoyo. Tidak ada apa pun selain kesunyian yang mengejek.Radiva mengangkat ponselnya, menatap alamat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status