MasukKesalahan tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia muncul sebagai deretan email, panggilan tak terjawab, dan tatapan orang-orang yang tiba-tiba berubah dingin.
Radiva merasakannya pagi itu. Ruang rapat terasa lebih sempit dari biasanya. Tidak ada yang langsung menyalahkannya, tapi itulah masalahnya, diam kolektif jauh lebih menyakitkan. Setiap kalimat yang dilontarkan para direktur terdengar netral, terlalu profesional, terlalu bersih. Namun maknanya satu—kepercayaan tRadiva sampai di lapas. Ia segera melangkah menemui polisi yang berjaga. Bima melangkah di belakang Radiva. Polisi itu membawa Radiva beserta Bima menuju ruang tunggu."Pak Diva, tunggu sebentar. Silakan duduk." Polisi yang bertugas mempersilakan Radiva duduk. Radiva hanya mengangguk kepala.Polisi penjaga itu melangkah keluar dari ruang tunggu menuju sel tempat Handoyo.0Ruang kunjungan itu dingin. Dinding abu-abu, meja besi, dan kaca pembatas yang memisahkan dua dunia—bebas dan terkurung. Radiva duduk tegak, tangannya terlipat di atas meja. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam.Di seberang kaca, Handoyo tersenyum. Seragam tahanan tak menghapus wibawanya. Ia tetap terlihat seperti pria yang terbiasa mengendalikan keadaan.“Selamat,” ucapnya santai begitu telepon diangkat. “Kau menang.”Radiva tidak tersenyum. “Ini bukan permainan.”Handoyo terkekeh pelan. “Oh, ini selalu permainan, Radiva. Kau hanya baru sadar sekarang.”Radiva menatapnya lurus. “Kau kalah. Bukti-bukti sudah lengkap.
Handoyo duduk di balik jeruji, wajahnya memar, tapi senyumnya masih ada. Polisi menutup berkas dengan keras. "Kau sudah selesai, Handoyo." Handoyo mengangkat kepala, matanya berkedip. "Sudah selesai?" Ia terkekeh pelan, seperti mendengar lelucon. Radiva berdiri di depan sel, tatapannya tajam. "Siapa yang membantumu?" Handoyo menatapnya lama. Lalu ia mendekat ke jeruji, suaranya turun. "Kau pikir aku punya cukup kekuatan untuk melakukan semua ini sendirian?" Radiva tidak bergerak. Handoyo tersenyum. "Permainan ini… milik Arkana." Udara mendadak dingin. Radiva membeku. "Apa? Nama itu ...." Handoyo hanya menatapnya, puas. "Iya, benar. Nama itu yang kelak akan menghancurkanmu …" Senyumnya melebar. " ... Ia akan datang menghampirimu." *** Flashback beberapa tahun silam .... Hujan turun deras malam itu. Lampu jalanan berpendar samar di atas aspal basah. Kota seperti kuburan hidup—sunyi, dingin, dan penuh rahasia. Arkana duduk di dalam mobil, kedua tangannya mencengkeram
"Pak Radiva, saya sudah mendapatkan lokasi di mana Bu Jennaira disekap." Bima melapor setelah Radiva mempersilakan masuk ke ruang kantornya.Radiva memutar kursinya. Menatap Bima untuk memastikan sesuatu. Bima menelan ludah dengan kesusahan karena tatapan maut Radiva."Saya bersumpah, Pak. Untuk kali ini, info yang saya dapat benar-benar akurat," aku Bima membela diri."Hm ...." Hanya begitu jawaban Radiva.Bima masih berdiri di sana. Hal itu membuat Radiva kembali menatapnya. "Kenapa masih berdiri di situ? Cepat keluar!"Bima menekuk kedua bibirnya ke dalam, lalu buru-buru keluar dari ruangan Radiva.Beberapa detik setelah itu Bima menyembulkan kepalanya tanpa mengetuk pintu. "Pak Diva, jangan pergi sendirian.""Bimaaa!" teriak Radiva. Pintu langsung tertutup dengan suara yang lumayan memekakkan telinga. Kembali pintu terbuka sedikit dan kepala Bima masuk."Pak, saya serius. Pak Radiva jangan datang sendirian. Itu berbahaya.""Bim, jangan ganggu aku dulu. Pergilah bekerja. Aku ingin
Suara telepon itu masih menggema di kepala Radiva.“Kalian pikir aku tidak tahu kamu bersembunyi di mana?”Radiva berdiri kaku, napasnya berat. Aurelia menurunkan gagang telepon perlahan, wajahnya tidak pucat—tapi dingin, seperti seseorang yang baru saja menyadari permainan ini jauh lebih besar dari dugaan mereka.“Dia sengaja,” bisik Radiva.Aurelia mengangguk pelan.“Dia ingin kamu kehilangan kendali.”Radiva menatapnya tajam.“Jenna masih hidup?”“Kita tidak punya pilihan selain menganggap iya,” jawab Aurelia cepat. “Kalau dia ingin Jenna mati, dia tidak akan menelepon. Handoyo butuh kamu hidup dalam ketakutan.”Radiva mengepalkan tangan.“Aku akan membunuhnya.”“Tidak,” potong Aurelia. “Kamu akan menyelamatkan istrimu dulu.”Radiva terdiam, matanya merah oleh amarah yang ditahan paksa. Aurelia membuka laptop dan beberapa dokumen di meja.“Dia sudah tahu lokasi ini. Itu artinya… dia punya orang yang memantau pergerakanmu. Kita harus bergerak sekarang, sebelum dia memindahkan Jenna
Radiva tidak langsung pergi. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di tempat yang sama, ponsel masih dalam genggamannya dan pesan itu seperti bara api.[Kau akan bermain sesuai aturanku.]Handoyo mengira Radiva akan datang sendiri. Mengira ia akan panik, kehilangan logika, dan masuk ke dalam perangkap seperti binatang yang mengejar umpan.Radiva memang panik. Tapi ia bukan bodoh.Ia menutup mata, menarik napas panjang, memaksa dirinya kembali waras. Lalu ia berbalik, masuk ke mobil, dan melaju tanpa arah yang jelas—bukan untuk kabur, tapi untuk berpikir.Tangannya gemetar saat menekan nomor Aurelia sekali lagi. Kali ini tersambung.“Aurelia,” suara Radiva serak, berat.“Aku dengar,” jawab Aurelia cepat. Tidak ada basa-basi.“Kamu dapat video itu, ya?”Radiva menelan ludah.“Jenna ada di tangan Handoyo.”Hening sesaat di seberang. Lalu Aurelia berkata pelan, tapi tegas,“Kalau
Alamat itu membawanya ke pinggir kota. Jalanan semakin sepi, lampu-lampu semakin jarang, dan setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk dada Radiva. Tangannya mencengkeram setir sampai buku-buku jarinya memutih. Ia tidak peduli aturan. Tidak peduli strategi. Yang ia pedulikan hanya satu: Jennaira.Mobil berhenti mendadak di depan bangunan tua yang bahkan nyaris tidak terlihat sebagai tempat layak. Halaman kosong. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.Radiva turun dengan langkah cepat, matanya menyapu setiap sudut. Kosong.Ia berjalan masuk, pintu besi berderit pelan saat didorong. Debu. Udara pengap. Dan… tidak ada siapa-siapa.Radiva berdiri di tengah ruangan, napasnya berat, dadanya naik turun seperti menahan amarah yang sudah mendidih sejak tadi.“Bajingan…” gumamnya.Ia melangkah lebih jauh, memeriksa ruangan satu per satu, tapi jawabannya tetap sama. Tidak ada Jenna. Tidak ada Handoyo. Tidak ada apa pun selain kesunyian yang mengejek.Radiva mengangkat ponselnya, menatap alamat







