LOGINSuara gemercik sisa air hujan yang menetes dari talang atap menjadi satu-satunya latar belakang yang memecah keheningan mencekam di dalam ruang keluarga. Radiva masih berdiri terpaku, memegang ponsel milik eksekutor yang baru saja tewas dengan tangan yang perlahan bergetar. Kabar dari Bima menghantamnya lebih keras daripada peluru mana pun. Markas utamanya jatuh. Brankas rahasia, dokumen legal, dan seluruh fondasi kekuasaan yang ia bangun bertahun-tahun kini berada di bawah cengkeraman Arkana. Dalam satu malam, posisinya berbalik seratus delapan puluh derajat."Pak Radiva, kita tidak bisa berlama-lama di sini," bisik Bima, suaranya sarat akan desakan yang amat sangat. "Orang-orang Arkana yang berada di luar mungkin sedang menuju ke mari setelah menyadari tim pertama mereka gagal."Radiva menarik napas dalam-dalam, memaksa paru-parunya yang sesak untuk bekerja. Ia menepis segala kepanikan dan ego yang sempat melumpuhkan logikanya. Tenang, Radiva. Kalau kamu mati m
"Tiga," suara Arkana bergaung dingin dari pengeras suara tablet, memecah kesunyian malam yang mencekam di dalam ruang keluarga. Eksekutor berjas kelabu itu perlahan menarik pelatuk pistolnya. Moncong senjata berperedam itu menekan lebih dalam ke pelipis ayah Radiva. Sang ayah memejamkan mata rapat-rapat, napasnya yang tersengal menahan sakit membuat bahunya yang renta bergetar. "Jangan turunkan senjatamu, Radiva! Jangan memohon pada keparat ini!" teriak ayahnya dengan sisa tenaga, suaranya parau berkawan darah yang meleleh di sudut bibir. Radiva bergeming, namun isi kepalanya berputar bak angin topan. Keringat dingin mengucur melewati pelipisnya, jatuh ke lantai beton yang senyap. Menurunkan senjata berarti menyerahkan nyawa mereka berdua ke tangan Arkana. Melalui sudut matanya yang tajam, Radiva melirik ke arah bayangan gorden di sisi kanan ruangan dan posisi Bima yang luput dari pandangan sang eksekutor. Radiva memberikan isyarat ket
"Cepat, Bima! Injak gasnya lebih dalam!" raung Radiva, suaranya menggelegar mengalahkan suara gemuruh ledakan gudang yang perlahan menjauh di belakang mereka. Tangannya mencengkeram dasbor jip begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.Bima tidak menjawab. Ia langsung memindahkan gigi dan menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Jip hitam itu melesat membelah jalanan sektor utara yang sepi, menerjang genangan air hujan hingga memercikkan gelombang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan.Radiva menyambar ponselnya lagi dengan tangan gemetar. Adrenalin yang beberapa menit lalu membakar semangatnya kini berubah menjadi rasa takut yang mencekam. Ia menekan nomor kontak rumah pribadinya. Satu kali. Dua kali. Hanya nada sambung monoton yang menyahut, sebelum akhirnya terputus begitu saja."Sialan! Angkat!" umpat Radiva, memukul dasbor dengan kepalan tangannya."Siapa yang ada di rumah, Pak? Bukankah penjagaan di sana sudah diperketat?" tanya Bima, matanya fokus menembus lebatnya hujan yang
Hujan deras yang mengguyur sektor utara seolah bersekongkol dengan rencana Radiva. Suara gemuruh air yang menghantam atap seng menyamarkan deru mesin jip hitam yang perlahan merapat di area vegetasi liar, tak jauh dari dinding pembatas gudang logistik. Di dalam kabin yang gelap, Radiva menarik tuas senjata semi-otomatismu, memastikan peluru pertama sudah naik ke kamar laras.Bima yang duduk di kursi pengemudi meletakkan teropong malamnya. "Pak, Joki sudah dilempar ke gerbang depan oleh anak-anak. Sesuai dugaan, fokus para penjaga Arkana pecah. Tiga orang bergerak ke depan untuk memeriksa.""Bagus. Berarti tersisa empat orang di dalam ruang utama dan pintu belakang," sahut Radiva, matanya menatap tajam ke arah pintu besi logistik yang sedikit berkarat. "Kita masuk lewat jalur belakang. Ingat, lumpuhkan dengan cepat. Jangan beri mereka waktu untuk menekan tombol alarm.""Siap, Pak. Anak-anak sudah bersiap di posisi masing-masing," bisik Bima seraya membuka pintu mobil dengan gerakan
Sisa asap hitam dari ledakan di area parkir masih melayang di udara, menyusup masuk melalui celah kaca jendela ruang kerja Radiva yang hancur berantakan. Bau hangus karet dan bensin yang terbakar tercium pekat. Radiva berdiri bergeming di tepi pecahan kaca, menatap ke bawah di mana bangkai sedannya lahap dimakan api. Alih-alike gentar, ledakan itu justru memicu kembali naluri predator dalam dirinya yang sempat tertidur sejak Handoyo mendekam di penjara hingga tewas tadi malam.Bima masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat pasi tertutup debu jelaga. "Pak Radiva, situasi di bawah kacau. Kita harus segera evakuasi dari gedung ini sekarang. Arkana tahu kita di sini, dia bisa saja mengirim orang lagi!"Radiva membalikkan tubuhnya dengan perlahan. Tatapannya dingin, kontras dengan kobaran api di luar jendela. "Evakuasi ke mana, Bima? Bersembunyi seperti tikus dan membiarkan Arkana mengambil alih seluruh wilayahku?""Tapi keselamatan Anda—""Keamanan terbaik adalah memburu kepa
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden ruang kerja Radiva, memantulkan berkas cahaya pada permukaan meja kayu mahoni yang mengilat. Radiva menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, menyesap kopi hitamnya dengan perlahan. Untuk pertama kalinya dalam hitungan tahun, bahunya terasa ringan. Berita pagi ini melegakan: Handoyo dinyatakan tewas akibat serangan jantung di sel isolasi dan telah dimakamkan secara tertutup.Pintu ruangan terbuka pelan. Bima melangkah masuk dengan kemeja yang rapi, meski ada plester kecil yang masih menempel di pipinya akibat insiden penghadangan semalam."Semua laporan dari jaringan kita di penjara sudah bersih, Pak. Polisi menutup kasusnya. Kematian Handoyo murni dianggap karena penyakit bawaan," ujar Bima sembari meletakkan beberapa berkas di meja.Radiva tersenyum tipis, menaruh cangkirnya. "Bagus. Bajingan itu mengira dia aman di balik tembok penjara, tapi dia lupa kalau maut bisa datang lewat piring makan
Kemala menangis lebih dulu. Bukan dengan suara keras, bukan juga dengan drama. Tangisnya jatuh pelan, seperti tubuh yang akhirnya menyerah setelah terlalu lama bertahan. Aditya berdiri kaku di sampingnya, rahangnya mengeras, matanya kosong. "Kami pilih yang kedua," ucap Aditya akhirnya. Suaranya s
Bima dengan mudahnya menemukan Aditya dan Kemala. Tidak butuh lama dan lebih cepat dari Handoyo. Mereka berdua belum pergi terlalu jauh dari pusat kota.Transaksi kecil, berulang, selalu tunai dibayar oleh orang yang sama, di tempat yang sama. Sebuah motel tua di pinggiran kota, jauh dari pusat, cu
Handoyo tidak pernah membutuhkan bukti untuk mulai curiga. Bukti hanya diperlukan untuk menghabisi jika perlu.Ia duduk sendirian di ruang kerjanya malam itu, lampu meja menjadi satu-satunya cahaya. Di hadapannya tergeletak laporan-laporan yang sudah ia baca berulang kali. Uang, waktu transfer, dan
Radiva tidak menyukai rasa ini. Rasa panas di dada yang muncul terlalu cepat, terlalu tajam, dan terlalu jujur untuk diabaikan. Jenna sedang tertawa, bukan kepadanya. Ia berdiri di sisi ruangan, segelas minuman tidak tersentuh di tangannya, menyaksikan istrinya berbincang dengan seorang pria—keraba







