Masuk"Mereka bergerak cepat, Pak. Sistem komunikasi kita diputus dari pusat kendali," bisik Bima, wajahnya mengeras di bawah temaram cahaya luar ruangan yang menembus kaca jendela.
Radiva tidak terkejut. Ia melipat dokumen intelijen itu dan menyimpannya di balik mantel. "Mereka bukan orang-orang Arkana, Bima. Ini pasukan bentukan orang-orang di ibu kota. Jangan gunakan taktik jalanan."BRAKK!Pintu ruang kerja jebol dihantam tendangan taktis. Dua siluet berpakaian hitRadiva perlahan menurunkan moncong senjatanya, membiarkan keheningan malam kembali menguasai ruang kerja yang porak-poranda itu. Kepalan tangan kirinya perlahan mengendur, menyembunyikan getaran amarah yang nyaris meledak demi sebuah kalkulasi yang jauh lebih matang. Menyerang kepala gurita ini sekarang adalah bunuh diri. Aku harus mengulur waktu sampai posisi Ayah benar-benar aman, batinnya menenangkan diri.Ia merogoh saku mantelnya, mengeluarkan map perak yang dicari Dirgantara, lalu melemparkannya ke atas meja kerja hingga debu kayu jati berterbangan. "Ambil ini dan keluar dari wilayahku. Kamu mendapatkan apa yang kamu mau, Dirgantara."Dirgantara meraih map itu dengan senyum kemenangan yang memuakkan, memeriksa sekilas lembaran koordinat di dalamnya tanpa menyadari bahwa Radiva telah menukar beberapa digit angka penting saat lampu padam tadi. "Keputusan yang sangat bijaksana, Radiva. Aku senang kamu lebih memilih masa depan daripada ego jalanan yang tidak berguna."Pria necis
"Mereka bergerak cepat, Pak. Sistem komunikasi kita diputus dari pusat kendali," bisik Bima, wajahnya mengeras di bawah temaram cahaya luar ruangan yang menembus kaca jendela.Radiva tidak terkejut. Ia melipat dokumen intelijen itu dan menyimpannya di balik mantel. "Mereka bukan orang-orang Arkana, Bima. Ini pasukan bentukan orang-orang di ibu kota. Jangan gunakan taktik jalanan."BRAKK!Pintu ruang kerja jebol dihantam tendangan taktis. Dua siluet berpakaian hitam dengan rompi antipeluru dan helm taktis merangsek masuk, moncong senapan mesin berperedam mereka langsung memuntahkan timah panas secara beruntun. Radiva dan Bima menjatuhkan diri bersamaan ke balik meja kerja kayu jati yang tebal. Peluru-peluru meremukkan kayu, menerbangkan serpihan tajam dan kertas-kertas laporan di udara.Mengandalkan kegelapan, Bima berguling ke sisi kiri sofa, melepaskan dua tembakan presisi dari bawah. Satu penyusup tumbang dengan peluru menembus celah leher y
Arkana terbatuk, memuntahkan cairan kental kemerahan yang langsung menodai lantai marmer di bawah kepalanya. Meskipun ujung pisau taktis Radiva sudah menekan kulit lehernya, sepasang mata yang mulai meredup itu masih memancarkan sisa-sisa kelicikan. Tangan kiri Arkana yang bebas perlahan merayap ke balik pinggang, mencoba menjangkau belati kecil yang sengaja ia sembunyikan untuk situasi darurat seperti ini. Namun, Radiva tidak sedungu itu. Menangkap pergerakan statis yang mencurigakan dari bahu lawannya, Radiva langsung menghentakkan lutut kirinya ke atas pergelangan tangan Arkana hingga terdengar bunyi gemertak tulang yang patah. Arkana menjerit parau, belati kecilnya terlepas dan berdenting di atas lantai. Sebelum gema jeritan itu habis, Radiva menarik pisaunya sedikit ke belakang, lalu menghujamkannya tanpa ragu menembus jakun sang rival dalam satu sentakan kuat yang mematikan. Tubuh Arkana kejang seketika. Sepasang matanya melotot lurus menatap langit-langit ruangan yang han
Langkah kaki Radiva dan Bima nyaris tak terdengar saat menyusuri lorong berkarpet tebal menuju ruang VIP lounge Restoran Amethys. Di luar, hujan badai masih lebat, namun di dalam sini, atmosfernya jauh lebih mendominasi. Dua orang penjaga berbadan kekar yang berdiri di depan pintu kayu jati itu bahkan tidak sempat mencabut senjata mereka. Dengan satu gerakan taktis yang cepat, Radiva menghantam tengkuk penjaga sebelah kanan dengan pistol, sementara Bima mengunci dan membanting penjaga satunya hingga tak sadarkan diri di atas lantai. Radiva tidak membuang waktu. Ia memutar knop pintu, lalu mendobraknya dengan satu sentakan kaki yang kuat. BRAKK! Pintu terbuka lebar, mengejutkan tiga orang yang sedang duduk mengelilingi meja marmer di dalam ruangan mewah yang temaram itu. Arkana, yang sedang memegang cerutu, langsung membeku dengan mata membelalak sempurna. Di hadapannya, duduk seorang pria asing bermata sedingin es dengan setelan jas mahal. Dia-lah Ivanov, sang utusan. "Lan
Suara gemercik sisa air hujan yang menetes dari talang atap menjadi satu-satunya latar belakang yang memecah keheningan mencekam di dalam ruang keluarga. Radiva masih berdiri terpaku, memegang ponsel milik eksekutor yang baru saja tewas dengan tangan yang perlahan bergetar. Kabar dari Bima menghantamnya lebih keras daripada peluru mana pun. Markas utamanya jatuh. Brankas rahasia, dokumen legal, dan seluruh fondasi kekuasaan yang ia bangun bertahun-tahun kini berada di bawah cengkeraman Arkana. Dalam satu malam, posisinya berbalik seratus delapan puluh derajat."Pak Radiva, kita tidak bisa berlama-lama di sini," bisik Bima, suaranya sarat akan desakan yang amat sangat. "Orang-orang Arkana yang berada di luar mungkin sedang menuju ke mari setelah menyadari tim pertama mereka gagal."Radiva menarik napas dalam-dalam, memaksa paru-parunya yang sesak untuk bekerja. Ia menepis segala kepanikan dan ego yang sempat melumpuhkan logikanya. Tenang, Radiva. Kalau kamu mati m
"Tiga," suara Arkana bergaung dingin dari pengeras suara tablet, memecah kesunyian malam yang mencekam di dalam ruang keluarga. Eksekutor berjas kelabu itu perlahan menarik pelatuk pistolnya. Moncong senjata berperedam itu menekan lebih dalam ke pelipis ayah Radiva. Sang ayah memejamkan mata rapat-rapat, napasnya yang tersengal menahan sakit membuat bahunya yang renta bergetar. "Jangan turunkan senjatamu, Radiva! Jangan memohon pada keparat ini!" teriak ayahnya dengan sisa tenaga, suaranya parau berkawan darah yang meleleh di sudut bibir. Radiva bergeming, namun isi kepalanya berputar bak angin topan. Keringat dingin mengucur melewati pelipisnya, jatuh ke lantai beton yang senyap. Menurunkan senjata berarti menyerahkan nyawa mereka berdua ke tangan Arkana. Melalui sudut matanya yang tajam, Radiva melirik ke arah bayangan gorden di sisi kanan ruangan dan posisi Bima yang luput dari pandangan sang eksekutor. Radiva memberikan isyarat ket
Pagi itu terasa seperti vonis mati.Jennaira Kirei Atmaja duduk kaku di kursi belakang mobil, diapit oleh ayah dan ibunya. Tangannya dingin, saling menggenggam di atas pangkuan, sementara jantungnya berdetak terlalu cepat-seolah tahu, setiap meter yang ditempuh kendaraan itu menyeretnya lebih dekat
Penampilan yang sempurna, berkat Bima, aib itu bisa ditutup. Tanda merah yang membuat Bima terlihat tidak nyaman karena memang sebelum bertemu dengan Jennaira, Radiva tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Ah, ralat. Sejak pisah dengan Aurelia.Ruang rapat lantai dua puluh tiga terasa
Pagi itu terasa asing, seperti kamar yang salah meski semua benda berada di tempatnya. Jenna duduk di tepi ranjang, punggungnya lurus, napasnya teratur. Terlalu teratur untuk seseorang yang baru saja kehilangan pijakan.Rasa sakit masih menjalar pada area bagian intimnya. Kedua pahanya j
Jam di dinding tepat menunjukkan pukul sepuluh malam saat Jennaira Kirei Atmaja membuka pintu rumahnya. Belum sempat ia menyalakan lampu, suara keras menggelegar lebih dulu-menghantam seperti petir di tengah gelap. "DARI MANA SAJA KAU, HAH?!" Tubuh Jennaira menegang seketika. Jantungnya serasa







