Share

Bab 3

Author: Echo
Aku mengambil pembuka surat dari atas meja dan menggores ibu jariku.

Tanpa ragu. Tanpa gemetar. Aku menekan cap ibu jariku di halaman terakhir perjanjian perceraian. Jejak merah itu menjadi segel terakhir, berdarah dan sudah final.

"Akhirnya!" Leo tiba-tiba meronta keluar dari pelukan Dante, wajahnya berseri-seri. "Pengkhianat itu akhirnya pergi dari keluarga! Sekarang aku bisa menegakkan kepala!"

Kebahagiaan di wajahnya nyata, sangat bertolak belakang dengan rasa jijik yang ditujukannya padaku beberapa saat sebelumnya.

Dante mendekat dan mengambil kertas-kertas bernoda darah itu. "Kamu sadar nggak betapa kamu sudah mempermalukan dia, Livia?" katanya, seolah-olah membenarkan reaksi putranya. "Kamu selalu bikin keributan, nggak punya adab. Kamu nggak pernah bersikap seperti Nyonya Keluarga Mardana yang seharusnya. Kamu juga nggak pernah berusaha memahami tekanan yang aku hadapi."

Aku melilitkan serbet di jariku yang perih dan hanya diam.

"Leo sampai diejek di sekolah. Dia bahkan nggak berani menatap pewaris lain."

"Kamu yang selingkuh. Kamu yang bikin skandal, bukan aku," kataku sambil menatap lurus ke arahnya, suaraku datar. "Kamu boleh memutarbalikkan cerita sesukamu, menyalahkan semuanya ke aku, tapi kamu nggak bisa mengubah apa yang sudah kamu lakukan."

Pikiranku melayang ke tiga bulan lalu, ke malam lain saat aku ditinggalkan sendirian sepenuhnya.

Itu acara penggalangan dana besar keluarga. Semua mitra terpenting Keluarga Mardana hadir. Aku mengenakan gaun indah, memainkan peran sebagai nyonya rumah yang sempurna. Semuanya berjalan lancar, sampai aku melihat mereka di taman.

Dante dan Angel berdiri sangat dekat. Dia membisikkan sesuatu di telinga Dante, tangannya bertumpu di dada pria itu. Dante tidak menepisnya.

Ini bukan pertama kalinya.

Setelah insiden vas pecah itu, aku selalu waspada, penuh kecurigaan. Setiap kali melihat mereka berdua saja, setiap kali Angel menatap suamiku dengan mata posesif itu, amarahku mulai mendidih.

"Cukup!" Suaraku membelah keheningan malam. "Kalian bahkan nggak bisa menunggu? Harus melakukan ini di depan semua orang?"

Para tamu di aula dansa menoleh serentak.

"Livia, apa yang kamu bicarakan?" Dante menghampiri, mencoba meraih tanganku. "Aku dan Angel cuma membahas dana amal."

"Membahas?" Aku menarik tanganku. "Harus sedekat itu buat membahas sesuatu? Tangannya harus nempel di dadamu?"

Keheningan mematikan menyelimuti kerumunan.

"Bu Livia." Angel tiba-tiba angkat bicara dengan suara lembut. "Aku paham kekhawatiranmu. Sebagai sesama wanita, wajar merasa nggak nyaman melihat suami berbicara dengan wanita lain. Tapi ini malam yang penting bagi Keluarga Mardana. Mungkin kita bisa menyelesaikan kesalahpahaman ini secara pribadi?"

Nada tenang dan rasionalnya langsung membuatku seperti pihak yang bersalah.

"Kesalahpahaman?" Suaraku makin tajam. "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dan kamu menyebutnya kesalahpahaman?"

"Sayang." Dante melangkah di depanku, peringatan jelas di matanya. "Kamu kebanyakan minum. Mungkin sebaiknya kamu naik ke atas dan istirahat."

"Aku nggak mabuk!" Aku mendorongnya. "Aku melihat kalian! Kamu pikir aku buta?"

Kemudian, Angel memainkan perannya dengan sempurna.

Dia melangkah mendekat dan membungkuk kecil dengan anggun. "Bu, aku minta maaf kalau kehadiranku telah menimbulkan masalah ini. Mungkin sebaiknya aku pergi agar malam yang indah ini bisa berlanjut."

Dia berhenti sejenak, suaranya sarat luka. "Aku hanya ingin berkontribusi pada kegiatan amal keluarga. Kalau itu membuat Bu Livia nggak nyaman, aku akan mundur dari semua proyekku."

Dia memainkan perannya dan aku kalah. Ketenangannya membuat amarahku tampak seperti kegilaan.

Dante menatapku, lalu menoleh ke dia. Aku melihatnya lebih memihak ke Angel.

"Livia, kamu mengecewakanku."

Di saat itu, aku tahu aku sudah kalah.

Semua orang mulai memandangku berbeda, seperti cara orang menatap wanita gila yang sebentar lagi akan meledak.

"Pergi ke kamarmu." Dante memerintahku dengan suaranya yang pelan. "Sekarang."

Penghinaan itu masih terasa sampai sekarang.

Namun, bagian terburuknya adalah melihat Leo yang mengamati dari balik bayangan. Itulah yang berujung pada esai itu. Esai sialannya yang menyebutku psikopat.

Hatiku mati sepenuhnya malam itu.

Namun, sekarang semuanya sudah berakhir. Semuanya.

Aku meletakkan pena dan melangkah keluar dari kediaman Keluarga Mardana, tanpa sekali pun menoleh ke belakang, baik ke Dante maupun ke Leo.

Dari belakangku, terdengar suara ejekan Dante. "Sampai jumpa di pengadilan. Semoga kamu sama tegasnya seperti ini nanti."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 11

    Dia terdiam sejenak, lalu berjalan ke jendela dan memandang kota di luar sana."Livia, aku ingin memberitahumu sebuah rahasia." Suaranya menjadi sangat lembut. "Aku sudah mengamatimu sejak lama."Aku membeku."Awalnya hanya karena Victoria sering menyebutmu, kesal karena kamu mengorbankan segalanya demi Dante." Elias menoleh menatapku. "Saat itu, aku setuju dengannya. Aku pikir kamu bodoh.""Jadi kamu menolongku karena kasihan pada perempuan bodoh?" Ada rasa geli yang hampir tak terasa di suaraku."Nggak." Dia menggeleng."Aku tersentuh. Aku menonton beberapa wawancaramu, videomu. Kamu bukan cuma sekadar mengandalkan kecantikanmu. Kamu pernah menghadapi bahaya bersama Dante, tapi selalu menjadi lebih kuat. Berapa banyak wanita yang setangguh itu? Bahkan di balik layar, kamu adalah partner yang luar biasa, mengelola urusan Keluarga Mardana dengan nyaris sempurna. Kamu istimewa, sungguh."Aku tidak berkata apa-apa, menunggu dia melanjutkan."Saat aku tahu Dante berselingkuh, aku nggak bi

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 10

    Tepat saat ketegangan hampir meledak, Leo berlari keluar dari lift."Lepaskan papaku!" teriaknya, menerjang Elias sambil memukul-mukul dengan kepalan kecilnya. "Kalian orang jahat! Mama, kenapa Mama bersama orang jahat!""Leo!" Dante meronta, berusaha menghentikan putranya.Namun, bocah itu sudah berbalik ke arahku, matanya berkaca-kaca, ekspresinya penuh amarah. "Mama pengkhianat! Mama mengkhianati keluarga kita! Guruku bilang orang yang mengkhianati keluarga akan masuk neraka!"Saat itu juga, sisa kehangatan apa pun yang masih tersisa di hatiku membeku menjadi es.Aku berlutut dan untuk pertama kalinya, wajahku dingin saat menatap anak itu. "Leo, kamu tahu nggak apa arti pengkhianat?"Ekspresiku membuatnya terkejut, tetapi dia tetap menatapku dengan keras kepala."Kalau orang yang mengkhianati keluarga masuk neraka, papamu harus antre paling depan, siap menerima siksaan abadi. Dan kamu juga, Leo." Suaraku lembut, tetapi setiap kataku terdengar jelas. "Keluarga ini dibangun di atas pe

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 9

    "Kalian berdua dekat?" desis Dante, matanya terpaku pada tanganku."Itu bukan urusanmu," jawabku tenang."Bukan urusanku?" Suara Dante meninggi. "Livia, kita baru dua bulan bercerai dan kamu sudah pindah ke 'dompet berjalan' berikutnya?"Para tamu lain mulai memperhatikan keributan itu. Elias mengernyit, hendak bicara, tetapi aku menghentikannya."Dompet berjalan?" kata-kata itu membuatku tertawa. "Dante, siapa kamu sampai berani menuduhku?""Menuduhmu? Aku mengingatkanmu apa itu kesetiaan!" Kecemburuan dan rasa posesifnya tak terkendali. "Kamu pikir ada pria di luar sana yang benar-benar akan mencintaimu? Mereka cuma menginginkan tubuhmu, atau memanfaatkanmu demi nilai yang kamu punya!"Ironinya menyesakkan.Aku meraih gelas anggur dan tanpa ragu menyiramkan isinya ke wajahnya. Cairan merah itu menetes di pipinya, membasahi kemeja mahalnya. Seluruh restoran mendadak sunyi."Kesetiaan?" Aku berdiri, menatapnya dari atas. "Dante, hak apa yang kamu punya untuk bicara soal kesetiaan padak

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 8

    Akhirnya, manajer restoran berhasil membujuk Dante dan Leo untuk menjauh dari meja kami. Mereka enggan, tetapi harga diri mereka menang."Kamu masih peduli padanya?" tanya Elias sambil dengan hati-hati meletakkan sepotong daging di piringku.Aku tidak menjawab, memilih mengalihkan pembicaraan."Ibuku baru-baru ini menceritakan sesuatu padaku," kataku pelan. "Dua tahun lalu, Dante membuat keputusan buruk dan Keluarga Mardana terjerembap dalam masalah keuangan serius. Dia meminta bantuan ayahku, meski tahu ayahku sudah punya keluarga baru dan sama sekali nggak peduli padaku ...."Aku menggeleng, senyum getir terukir untuk kebodohan diriku sendiri.Elias mendengarkan dalam diam."Lalu ibuku menemuinya. Ibuku memberinya uang, tapi berbohong dengan mengatakan sudah menjual properti-propertinya untuk mendapatkannya, berharap Dante akan memperlakukanku lebih baik. Tapi dia nggak pernah menceritakan semua itu padaku."Entah itu pergi ke ayahku di belakangku atau diam-diam menerima uang ibuku,

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 7

    Kembali di Cimago, aku duduk di kursi belakang sebuah Rolls-Royce, mengenakan mantel Hermes warna cokelat, memandangi kota yang terasa begitu familier tetapi sekaligus asing saat melintas di hadapanku."Uang 750 miliar itu membutuhkan tanda tanganmu," kata Elias, duduk di sampingku sambil membolak-balik berkas. "Rekening Zwiss Keluarga Waluyo aman, tapi proses pemindahannya harus dengan otorisasi langsung."Aku mengangguk. Selama dua bulan terakhir, Elias bukan hanya menata hidupku di Landan, tetapi juga membantuku memahami kerajaan bisnis ibuku. Kekayaan Keluarga Waluyo jauh lebih besar dan tersembunyi daripada yang pernah kubayangkan."Aku ingin mengajakmu makan malam malam ini," kataku sambil menatapnya. "Sebagai ucapan terima kasih resmi.""Kamu nggak perlu begitu.""Ini bukan soal perlu atau nggak. Ini karena aku mau."Aku memilih Restoran Alana, restoran paling eksklusif di Cimago. Setiap malam hanya menerima segelintir tamu dan reservasinya harus dilakukan berbulan-bulan sebelum

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 6

    "Universitas Ekonomi Landan." Ibuku meletakkan surat penerimaan di hadapanku. "Kamu butuh pendidikan bisnis formal untuk mengambil alih aset Keluarga Waluyo."Aku menatap surat bersegel emas itu. Alamatnya tertulis untuk Livia Waluyo. Bukan lagi Mardana, melainkan Waluyo."Usiaku tiga puluh tahun. Ibu mau aku duduk di kelas bareng anak muda?""Nggak pernah ada kata terlambat untuk belajar," kata ibuku sambil menyesap anggur dengan anggun. "Lagian, kamu butuh kesempatan untuk memulai dari awal."Keesokan harinya, kami terbang ke Landan.Kediaman ibuku di Landan adalah rumah bergaya barat dekat Taman Dinari. Dari luar tampak sederhana, tetapi di dalamnya murni kemewahan."Seseorang akan datang menemuimu malam ini," kata ibuku saat aku sedang membongkar koper. "Temanku, sekaligus rekan bisnis. Dia punya pengaruh besar di Landan. Aku ingin dia melindungimu selama kamu kuliah."Pukul delapan malam, bel pintu berbunyi.Pria yang masuk berusia sekitar tiga puluh lima tahun, berdarah Ivalia te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status