LOGINPada hari jadi pernikahan pertama kami, aku baru menyadari bahwa sekotak pengaman yang kubeli sebelum pernikahan sudah lama kedaluwarsa. Tidak akan ada yang percaya, suamiku yang seorang mafia, Alvaro Munandar, dan aku belum pernah berhubungan seks. Jadi, aku mengumpulkan keberanian untuk membeli satu set piyama seksi. Setelah tiga gelas wiski, begitu Alvaro mendorong pintu masuk, aku memeluknya erat-erat. “Sayang,” bisikku di telinganya. “Tidurin aku hari ini, aku menginginkanmu...” Tetapi Alvaro menepis tanganku dengan dingin dan kejam, seolah-olah sedang mengeluarkan pistol. “Raina, kamu pelacur ya?” “Melakukan hal-hal yang tidak tahu malu berulang kali. Jika kamu benar-benar kesepian, aku akan memesankan beberapa mainan agar kamu bisa bermain sepuasnya.” Wajahku langsung pucat dan aku membeku. Aku tidak mengerti kenapa seorang istri dianggap 'pelacur' ketika dia meminta belaian dari suaminya. Malam itu, aku meringkuk di sofa dan tak kuasa menahan diri untuk mengunggah sesuatu di media sosial. [Suamiku memiliki fungsi seksual normal, kenapa dia tidak menyentuhku setelah menikah?] Seseorang berkomentar, [Mungkin suamimu punya istri lain.] Komentar itu seperti pisau, menusukku hingga tersadar. Aku tiba-tiba menyadari, mungkin bukan karena aku kurang menarik secara seksual, melainkan karena dia memang bukan milikku. Saat aku menekan tombol hapus akun, aku juga memutuskan untuk pergi. Tetapi siapa sangka bahwa pria yang tidak pernah melirikku akan menjadi gila dan mencariku setelah aku menghilang. “Raina, setelah kamu pergi, aku tak pernah bisa ereksi lagi!”
View MoreVia memperhatikan wajah Sean yang terlelap. Rasa cinta yang membuncah pada pria di hadapannya sudah tak lagi terbendung. Ingin dia mengucapkan tiga kata sakral yang pasti akan langsung mengakhiri hubungan mereka bila itu terucap. Berkali-kali dia menahan lidah dan menelan kata cinta hanya untuk mempertahankan hubungan tanpa masa depan mereka.
Gadis dua puluh empat tahun itu mengelus pipi Sean lembut. Hatinya bergetar kala kulit mereka saling bersentuh. Tangan mulusnya terhenti tatkala pria di hadapannya menggeliat karena sentuhan lembut jari-jemari yang dia beri, bahkan terdengar gumaman halus sisa-sisa kepuasan malam tadi.
Tak lepas mata Via memeta wajah Sean yang rupawan. Amat sempurna dengan rahang keras membentuk persegi dengan lesung membelah dagu. Dia dapat mengingat jelas dua lesung pipi yang menambah sempurna ketampanan pria itu.
Masih jelas dalam ingatan Via ketika pertama kali dia memasuki ruang interview, tidak sekali pun Sean mengangkat kepala ketika dua bawahannya menanyakan kualifikasi Via ketika melamar kerja kala itu. Bahkan dia sempat tersipu begitu beradu mata dengan HRD yang mewawancara ketika tertangkap basah mencuri pandang wajah rupawan Sean yang sempurna. Bahkan Via sempat bertanya seperti apa warna mata seorang Sean Reviano saat itu.
Biru, sebiru dalamnya samudra.
Kini mata itu terbuka, menatap sayu ke arahnya.
“Sudah puas memandangku?”
Tubuh Via bergetar mendengar suara maskulinnya. Tidak sekali pun Via bermimpi dapat mendengar suara serak bangun tidur Sean Reviano. Sekarang, dia puas mendengar suara itu setiap pagi.
“Aku tidak akan pernah puas,” jawab Via tanpa malu.
Sean terkekeh pelan dan mendaratkan kecupan di bibirnya.
“Jam berapa ini?” tanya Sean sembari menguap meregangkan tubuh.
Via melirik jam yang terletak di atas nakas tepat di samping Sean.
“Subuh, Jam lima,” jawab Via merasa enggan, karena sebentar lagi matahari akan terbit dan mereka berpisah melewati hari di kantor tanpa menunjukkan kemesraan sedikit saja.
Terkadang Via ingin mengutarakan isi hati, mengatakan dia keberatan dengan aturan hubungan yang Sean tetapkan sejak awal hubungan dimulai. Masih dia ingat saat itu Sean mengatakan; “No Commitment. No Pregnancy. No Wedding. Jika kau masih ingin memiliki affair denganku, hubungi nomor ini.”
Awalnya dia mengira hatinya pasti kuat, ternyata dia salah kira sekilo kapas tidaklah lebih ringan dari sekilo baja. Semakin hari dilewati bersama, beratnya semakin terasa.
“Masih ada dua jam lagi, jauh lebih cukup,” ucap Sean sembari menarik Via dalam pelukan dan memulai kecupan-kecupan panas hingga mereka terbuai hasrat yang tertunda.
………………………………………………………………..
Jam makan siang baru saja dimulai, tetapi percakapan akan tersiarnya berita pertunangan Sean Reviano dengan seorang model cantik menyebar dengan cepat. Ruang kantin karyawan Hotel Luna Star bising dengan bisik-bisik diskusi kabar pertunangan CEO muda mereka.
Awalnya Via menulikan telinga, tetapi percakapan di sekitar tidak lagi terbendung, bahkan sekretaris pribadi Sean yang bernama Altha paling bising di antara kumpulan itu. Malangnya, Via duduk berhadapan sehingga mau tidak mau harus mendengar pembicaraan.
“Pak Sean masih belum mengklarifikasi, tetapi dari apa yang aku baca itu bukan hoax. Mereka sering terlihat bersama di setiap acara,” kata Amber ikut menimpali.
“Iya, benar. Kemarin mereka juga terlihat makan berdua di Moon Café,” bahkan Reina juga tak mau ketinggalan.
“Katanya, mereka sudah dekat sejak kanak-kanak. Jadi, wajar saja bila mereka menikah. Evelyn kan putri konglomerat perusahaan ekspedisi, statusnya setara dengan Pak Sean.”
Tanpa Via sadari sendok yang dia pegang sejak tadi bentuknya sedikit berubah, bengkok karena lama ditekan.
“Ya ampun, lihat-lihat mereka benar-benar serasi….” Satu meja mencondongkan tubuh ke arah Cece yang mengayunkan ponsel ke udara, memamerkan foto kemesraan Sean dengan seorang wanita. Keduanya terlihat saling merangkul, berpose pada kamera dibalut baju mewah elegan usai menghadiri acara gala.
Sekilas Via melihat wanita yang berpasangan dengan Sean. Sungguh dia merasa insecure dengan tubuhnya yang tidak seramping dan setinggi itu. Bahkan make up yang dipoles ke wajah benar-benar sempurna, bersih terawat disentuh dokter spesialis kulit ratusan juta.
“Andaikan saja wajahku secantik dia dan berasal dari keluarga kaya, pastilah setengah masalahku selesai. Betapa iri memiliki paras sempurna,” desah Amber dengan mata berandai-andai.
Altha hanya tertawa mendengar pujian dari rekan kerjanya yang tak putus-putus pada wanita bernama Evelyn. Hanya senyum lemah tidak tulus terukir di wajah Via yang mulai lesu. Kini nafsu makannya hilang sudah, sangat susah dia menelan sisanya.
“Kau sedang sakit?” tanya Keiza yang duduk di sebelah. Sejak tadi dia tidak ikut hanyut dalam lautan kekaguman yang rekan kerjanya alami. Seakan imun sama seperti dirinya.
“Tiba-tiba perutku mulas,” jawab Via berpura-pura.
“Ya ampun kenapa diteruskan, pakai ini,” kata Kezia menatapnya simpati sembari menyodorkan minyak kayu putih.
“Terima kasih, nanti juga membaik,” ucap Via menerima.
“Apa kau percaya dengan berita yang beredar?” tanya Kezia tiba-tiba.
Via menggeleng pelan. “Aku tidak tahu, semua bisa saja benar. Fakta bahwa mereka sangat dekat sudah cukup menjadi bukti.”
Kezia mendengus tidak setuju. Dia berkata; “Sebelum ada klarifikasi, berita yang beredar masih abu-abu.”
Malas memberi balasan, Via tertunduk ke meja. Dia ingin jam istirahat berlalu saja. Bahkan telinganya seolah memiliki kehendak sendiri, mendengarkan satu per satu percakapan di sekitar. Tanpa malu mencuri dengar, walau arahnya dua meja dari grupnya berkumpul.
Hatinya membisik, ada baiknya langsung bertanya daripada menduga. Tetapi kepalanya menolak hingga mata dan telinga seakan tuli serta buta logika.
……………………………………………………..
Rapat baru saja dimulai, tetapi Via ingin semua cepat berakhir. Mungkin tidur sebentar bisa membuatnya berfungsi kembali. Pikirannya melayang entah kemana, namun dia tersentak saat suara maskulin yang familiar memangil, membuat beberapa kepala memandang Via penuh tanya.
“Via, dari tadi aku memanggilmu. Apa kau sakit?” walau intonasinya terdengar biasa, Via masih dapat mendengar sekilas nada khawatir dari suara itu.
Berdehem sebelum bersuara, Via sedikit malu menjadi pusat perhatian.
“Sejak tadi siang saya merasa kurang enak badan,” jawabnya dan melanjutkan, “Maaf, sudah mengganggu konsentrasi Anda.”
“Tidak-tidak, jika memang sudah tidak kuat mengikuti rapat kamu bisa beristirahat.”
Sean dikenal sebagai pimpinan yang perhatian, walau terkadang dia sangat tegas dan disiplin, kesehatan karyawan selalu menjadi prioritas.
“Seperti sebelum-sebelumnya, mintalah izin jika merasa kurang sehat sebelum rapat dimulai,” ucap Sean sembari membuka dokumen yang dia jelaskan tadi. “Kembali ke rapat, aku ingin kita meningkatkan pelayanan Luna Star dan ….”
Rapat berlangsung lancar seperti biasa, namun Via yang tidak fokus mengalihkan perhatian pada sosok Sean yang duduk di bangku kebesaran. Dia terhanyut dalam buain suara Sean yang selalu dia dengar setiap malam ketika membisikkan kata manis dan lembut diranjang mereka yang panas. Bibir melengkung bagai bulan sabit itu tak luput dari perhatian.
Dalam benak, Via bertanya; berapa lama lagi dia bisa menikmati semua itu. Sampai kapan tangan kekar itu melingkari tubuhnya, dan melindunginya dari mimpi malam yang menghampiri. Bisakah dia menikmati sandaran lembut pada dada bidangnya yang selalu dibalut stelan jas hitam formal saat bekerja, atau mungkin ini adalah hari-hari terakhirnya menikmati semua. Sungguh, dia dilema. Bisa-bisa tidak ada pria yang dapat mengimbangi sosok Sean Reviano dalam hidup Viania.
Aku mengikuti orang tuaku kembali ke Negara Yila.Kami menetap di kota kecil yang indah.Kehidupan terasa bahagia dan damai hingga seorang teman berkunjung dan dengan ragu bertanya, “Raina, setelah kamu pergi, apa kamu mendengar kabar tentang Alvaro?”Aku menggelengkan kepala dengan lembut.Jika tidak ada yang menyebutkannya, aku hampir melupakannya.“Tidak lama setelah kamu pergi, Keluarga Munandar dan Keluarga Ashari tidak dapat bertahan lebih lama dan bangkrut.”“Alvaro tidak dapat menerima pukulan seperti itu dan menjadi gila. Dia sering duduk di kantor sambil memegang jaket wanita, menggumamkan nama, tetapi tidak ada yang bisa memahami kata-katanya.”“Aku tahu, dia merindukanmu.”“Beberapa bulan kemudian, dia dibunuh oleh musuh-musuhnya. Sebelum meninggal, dia menggenggam sesuatu erat-erat di tangannya, cincin pernikahan.”Aku terkejut sejenak. Aku ingat cincin itu adalah perhiasan peninggalan yang diwariskan dari generasi ke generasi di Keluarga Munandar.Saat melamar, dia mengat
Wajah Alvaro mendadak pucat. Dokter itu tergagap-gagap mengungkapkan kebenaran, lalu buru-buru menjelaskan, “Ketua, Nyonya melarang saya memberi tahu Anda.”Pada saat ini, dia akhirnya menyadari bahwa aku sudah mempertimbangkan perceraian saat itu.Dia tidak berani memikirkannya, apalagi menerimanya.Pada saat ini, harga dirinya sebagai Ketua Keluarga Munandar hancur total. Mengabaikan upaya para penjaga untuk menghentikannya, dia menyerbu ke arahku, berantakan dan kelelahan, ditemani oleh anak buah Keluarga Munandar. Dia tidak lagi terlihat seperti Ketua Grup Munandar, dia lebih mirip pengemis di jalanan.Kali ini, aku tidak mengusirnya.Aku menatapnya, suaraku tenang dan datar, “Ada apa mencariku?”Alvaro tidak menyangka aku akan setenang ini. Jakunnya naik-turun beberapa kali sebelum akhirnya dia bicara, suaranya serak dan nadanya memohon, “Raina, maafkan aku, ya? Aku sudah tahu kebenarannya sekarang, kamulah yang menyelamatkanku...”“Kamu sebenarnya tidak ingin bercerai denganku,
Alvaro merasa seperti seseorang telah menuangkan seember air es ke atas kepalanya, membuatnya kedinginan sampai ke tulang.Dia mengepalkan tinjunya, buku-buku jarinya memutih, suaranya bergetar karena tak percaya, “Apa kamu bilang? Ulangi lagi!”Teman Alvaro berkata dengan suara gemetar, “Pada hari kamu diserang, Raina seorang diri menyelamatkanmu dari pembunuh bayaran itu. Ketika dia membawamu keluar, kamu berlumuran darah, dan dokter bilang dia tertembak di bahu...”Wajah Melisa memucat, dia langsung berteriak, “Bukan seperti itu!”“Alvaro, akulah yang menyelamatkanmu, bukan Raina!”Alvaro sedikit menyipitkan matanya dan berkata, “Kalau begitu katakan padaku, berapa banyak pembunuh bayaran yang ada di sana hari itu?!”Melisa terkejut, dan sedetik kemudian dia buru-buru berkata, “Du... dua!” Mobil balap itu hanya bisa menampung dua orang, jadi dia tidak punya pilihan selain mengambil risiko.Perasaan buruk baru muncul dalam dirinya ketika ekspresi Alvaro berubah dingin.Jejak terakhi
Begitu aku selesai bicara, suasana di dek kapal hening sejenak, lalu meledak dengan tawa.Teman Alvaro menunjukku, tertawa terbahak-bahak hingga membungkuk. “Hanya orang desa sepertimu yang berani mengucapkan omong kosong seperti itu. Kamu mungkin sudah kehilangan akal sehat setelah menjadi simpanan pria!”Ibu kandungku mengerutkan kening, suaranya tajam, “Ketua dari Kru Bajak Laut Pasifik hampir tiba. Jangan sampai kita terbunuh karena omong kosongmu, atau kamu akan dilempar ke laut untuk memberi makan ikan!”Melisa yang entah bagaimana berhasil menyelinap di samping Alvaro, meraih lengannya dan berkata dengan suara lemah, “Kakak, aku tahu kamu kesal, tapi kamu tidak bisa bercanda tentang hal seperti ini. Alvaro sudah lama mencarimu. Tolong ikut kembali bersama kami, ya? Jangan permalukan dirimu di sini.”Wajah Alvaro berubah muram dan dia berkata, “Jangan membuat keributan!”Dia melambaikan tangannya, dan dua anak buahnya segera melangkah maju, mengulurkan tangan untuk meraih lengank
Ekspresi Alvaro berubah.Kemudian panggilan telepon dari ayah kandungku membuat ponselnya berdering, dan detik berikutnya dia berteriak.“Alvaro, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Kru Bajak Laut Pasifik tiba-tiba membatalkan kerja sama mereka dengan Keluarga Ashari?!”“Mereka bahkan meminta kita m
Namun sedetik kemudian, dia membeku di tempat.Dia hanya tahu bahwa aku telah naik kapal, tetapi dia bahkan tidak yakin ke arah mana aku akan pergi.Negara Yila? Lautan Negara Kori? Atau wilayah laut lainnya?Dia tiba-tiba menyadari bahwa dia tidak pernah bertanya kepadaku tentang orang tua angkatku
Di dalam rumah sakit.Alvaro menatap kosong pada berkas-berkas perceraian yang berserakan dan pernyataan pemutusan hubungan keluarga di atas meja, sampai cerutu membakar ujung jarinya, baru dia tersadar.Bayangan kepergianku terus terputar di benaknya, menusuk dadanya seperti jarum.Dia hendak mengh
Rasanya seperti petir lain menyambar di ruang rapat.Alvaro mendongak dengan tak percaya, mengabaikan bisikan di sekitarnya, matanya tertuju pada surat cerai di tangan pengacara.Setelah mengenali tanda tanganku, wajahnya pucat pasi.Dia mencoba bicara, tetapi pengacara itu memutar rekaman terlebih


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.