Share

Bab 4

Author: Echo
Seminggu kemudian, aku melihat sebuah foto di majalah gosip.

Dante dan Angel. Mereka mengenakan busana malam yang serasi. Leo menggenggam tangan mereka berdua, senyum lebar terpampang di wajahnya. Tiga orang itu menghadiri sebuah gala amal, tampak seperti keluarga sempurna.

Judul besarnya tertulis "Awal Baru bagi Keluarga Mardana".

Jariku menelusuri foto itu. Leo terlihat begitu bahagia. Lebih bahagia daripada saat dia bersamaku.

"Mereka terlihat cocok," gumamku pelan.

Ibuku merebut majalah itu dari tanganku dan melemparkannya ke perapian. "Jangan lihat sampah seperti itu."

Namun, aku sudah melihatnya. Kerusakannya sudah terjadi.

Aku memejamkan mata sekejap dan kenangan pun menyerbu.

Malam saat Leo lahir, enam tahun lalu. Operasi bedah sesar. Aku mengira Dante menunggu tepat di luar ruang operasi. Seorang perawat mengatakan operasinya berhasil. Aku melahirkan bayi laki-laki yang sehat. Tubuhku lemah, tetapi aku masih sempat bertanya, "Suamiku di mana?"

Perawat itu mengalihkan pandangan. "Pak Dante ada urusan mendesak. Katanya akan kembali secepat mungkin."

Belakangan aku baru tahu, "urusan mendesak" itu adalah makan malam ulang tahun Angel. Saat aku berjuang antara hidup dan mati di meja operasi, dia sedang menyalakan lilin untuk wanita lain di restoran Michelin bintang tiga.

Malam itu, Leo terkena demam tinggi untuk pertama kalinya. Termometer berhenti di angka empat puluh derajat. Aku membawanya ke rumah sakit sendirian. Aku menelepon Dante belasan kali, tetapi tidak ada jawaban.

Dia baru muncul keesokan paginya, setelannya kusut, ada bekas lipstik di kerahnya.

"Maaf, ponselku mati semalam," katanya.

Namun, aku bisa mencium parfum Angel di mobilnya.

Setiap pengkhianatan selalu ditebus dengan perhiasan mahal. Kalung berlian Cartier, cincin zamrud Bulgari, gelang edisi terbatas Van Cleef & Arpels.

"Semua wanita suka benda berkilau, 'kan?" katanya suatu kali. "Kasih kamu cukup uang dan kamu bakal diam."

Jauh sekali dari pria yang enam tahun sebelumnya bersumpah akan mencintaiku selamanya.

Dulu, dia hanyalah bos kecil, mengendarai mobil bekas dan tinggal di apartemen kumuh. Namun, saat dia menatapku, ada api di matanya. Ada kejujuran dan ada cinta yang kukira akan bertahan selamanya.

"Livia, aku bersumpah, kamu satu-satunya wanita yang akan pernah kucintai," katanya di atap gedung tempat kencan pertama kami. "Kekuasaan, status, itu semua bisa berubah. Tapi cintaku padamu nggak akan pernah berubah."

Sungguh lelucon. Kekuasaan mengubahnya dan juga mengubah cintanya.

Aku sudah selesai mengemasi barangku.

Enam tahun pernikahan dan yang kubawa pergi hanya beberapa pakaian dan segelintir buku. Aku mengumpulkan semua foto kami dan membakarnya di perapian. Aku menyaksikannya melengkung, menghitam, lalu berubah menjadi abu.

Sama seperti setiap jejak diriku di rumah ini. Hilang untuk selamanya.

Tanggal sidang tiba begitu cepat. Aku sengaja mengenakan gaun tua merah yang dulu dia berikan saat melamarku. Lembut, potongannya sempurna, dan berwarna darah dan api.

"Kenapa kamu pakai gaun itu?" tanya Dante, tertegun, saat melihatku di luar ruang sidang.

"Karena hari ini ulang tahunku yang baru," jawabku tenang. "Aku ingin merayakannya."

Senyumnya goyah. Sesaat, ada sesuatu yang lain di matanya. Mungkin bingung? Atau penyesalan? Namun, ekspresinya kembali tenang sebelum sempat kumengerti.

"Terkait hak asuh anak, Bu Livia Mardana secara sukarela melepaskan seluruh haknya kepada Pak Dante Mardana ...."

"Terkait pembagian aset, Pak Dante Mardana akan membayar kepada Bu Livia Mardana sejumlah 750 miliar sebagai pembayaran satu kali dalam waktu satu bulan ...."

"Karena kedua belah pihak telah menyepakati syarat perceraian, dengan ini pengadilan menyatakan pernikahan antara Livia Mardana dan Dante Mardana resmi berakhir, berlaku efektif segera ...."

Saat palu hakim diketukkan, aku merasakan kelegaan yang belum pernah kurasakan selama bertahun-tahun.

Hukuman enam tahun itu akhirnya selesai.

Ketika aku melangkah keluar dari gedung pengadilan, Dante memanggil namaku.

"Livia, kamu mau ke mana? Kamu nggak lupa, 'kan? Ayahmu sudah punya keluarga baru. Dia mencuci tangan darimu bertahun-tahun lalu. Kamu mau balik hidup dari belas kasihannya? Oh iya, ibumu masih punya sedikit uang. Dengar, demi Leo, kalau kamu menyesali ini ...." Suaranya sarat dengan keyakinan yang tak tergoyahkan, dan aku sangat membencinya.

Dia masih melihatku sebagai gadis malang yang ditinggalkan ayahnya, yang tak akan bisa bertahan hidup tanpanya.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa ibuku adalah Victoria Waluyo, kepala keluarga paling berkuasa di Ivalia ... dan aku satu-satunya ahli warisnya.

"Aku nggak akan menyesal," kataku tanpa menoleh. "Aku belum pernah seyakin ini seumur hidupku."

Mobil ibuku sudah menunggu di tepi jalan. Aku masuk tanpa memperlambat langkahku. Mobil itu melaju meninggalkan gedung pengadilan. Di kaca spion, kulihat Dante masih berdiri di sana, tangannya terulur seakan-akan ingin meraih sesuatu, tetapi yang didapatkannya hanyalah udara yang dingin dan hampa.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 11

    Dia terdiam sejenak, lalu berjalan ke jendela dan memandang kota di luar sana."Livia, aku ingin memberitahumu sebuah rahasia." Suaranya menjadi sangat lembut. "Aku sudah mengamatimu sejak lama."Aku membeku."Awalnya hanya karena Victoria sering menyebutmu, kesal karena kamu mengorbankan segalanya demi Dante." Elias menoleh menatapku. "Saat itu, aku setuju dengannya. Aku pikir kamu bodoh.""Jadi kamu menolongku karena kasihan pada perempuan bodoh?" Ada rasa geli yang hampir tak terasa di suaraku."Nggak." Dia menggeleng."Aku tersentuh. Aku menonton beberapa wawancaramu, videomu. Kamu bukan cuma sekadar mengandalkan kecantikanmu. Kamu pernah menghadapi bahaya bersama Dante, tapi selalu menjadi lebih kuat. Berapa banyak wanita yang setangguh itu? Bahkan di balik layar, kamu adalah partner yang luar biasa, mengelola urusan Keluarga Mardana dengan nyaris sempurna. Kamu istimewa, sungguh."Aku tidak berkata apa-apa, menunggu dia melanjutkan."Saat aku tahu Dante berselingkuh, aku nggak bi

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 10

    Tepat saat ketegangan hampir meledak, Leo berlari keluar dari lift."Lepaskan papaku!" teriaknya, menerjang Elias sambil memukul-mukul dengan kepalan kecilnya. "Kalian orang jahat! Mama, kenapa Mama bersama orang jahat!""Leo!" Dante meronta, berusaha menghentikan putranya.Namun, bocah itu sudah berbalik ke arahku, matanya berkaca-kaca, ekspresinya penuh amarah. "Mama pengkhianat! Mama mengkhianati keluarga kita! Guruku bilang orang yang mengkhianati keluarga akan masuk neraka!"Saat itu juga, sisa kehangatan apa pun yang masih tersisa di hatiku membeku menjadi es.Aku berlutut dan untuk pertama kalinya, wajahku dingin saat menatap anak itu. "Leo, kamu tahu nggak apa arti pengkhianat?"Ekspresiku membuatnya terkejut, tetapi dia tetap menatapku dengan keras kepala."Kalau orang yang mengkhianati keluarga masuk neraka, papamu harus antre paling depan, siap menerima siksaan abadi. Dan kamu juga, Leo." Suaraku lembut, tetapi setiap kataku terdengar jelas. "Keluarga ini dibangun di atas pe

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 9

    "Kalian berdua dekat?" desis Dante, matanya terpaku pada tanganku."Itu bukan urusanmu," jawabku tenang."Bukan urusanku?" Suara Dante meninggi. "Livia, kita baru dua bulan bercerai dan kamu sudah pindah ke 'dompet berjalan' berikutnya?"Para tamu lain mulai memperhatikan keributan itu. Elias mengernyit, hendak bicara, tetapi aku menghentikannya."Dompet berjalan?" kata-kata itu membuatku tertawa. "Dante, siapa kamu sampai berani menuduhku?""Menuduhmu? Aku mengingatkanmu apa itu kesetiaan!" Kecemburuan dan rasa posesifnya tak terkendali. "Kamu pikir ada pria di luar sana yang benar-benar akan mencintaimu? Mereka cuma menginginkan tubuhmu, atau memanfaatkanmu demi nilai yang kamu punya!"Ironinya menyesakkan.Aku meraih gelas anggur dan tanpa ragu menyiramkan isinya ke wajahnya. Cairan merah itu menetes di pipinya, membasahi kemeja mahalnya. Seluruh restoran mendadak sunyi."Kesetiaan?" Aku berdiri, menatapnya dari atas. "Dante, hak apa yang kamu punya untuk bicara soal kesetiaan padak

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 8

    Akhirnya, manajer restoran berhasil membujuk Dante dan Leo untuk menjauh dari meja kami. Mereka enggan, tetapi harga diri mereka menang."Kamu masih peduli padanya?" tanya Elias sambil dengan hati-hati meletakkan sepotong daging di piringku.Aku tidak menjawab, memilih mengalihkan pembicaraan."Ibuku baru-baru ini menceritakan sesuatu padaku," kataku pelan. "Dua tahun lalu, Dante membuat keputusan buruk dan Keluarga Mardana terjerembap dalam masalah keuangan serius. Dia meminta bantuan ayahku, meski tahu ayahku sudah punya keluarga baru dan sama sekali nggak peduli padaku ...."Aku menggeleng, senyum getir terukir untuk kebodohan diriku sendiri.Elias mendengarkan dalam diam."Lalu ibuku menemuinya. Ibuku memberinya uang, tapi berbohong dengan mengatakan sudah menjual properti-propertinya untuk mendapatkannya, berharap Dante akan memperlakukanku lebih baik. Tapi dia nggak pernah menceritakan semua itu padaku."Entah itu pergi ke ayahku di belakangku atau diam-diam menerima uang ibuku,

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 7

    Kembali di Cimago, aku duduk di kursi belakang sebuah Rolls-Royce, mengenakan mantel Hermes warna cokelat, memandangi kota yang terasa begitu familier tetapi sekaligus asing saat melintas di hadapanku."Uang 750 miliar itu membutuhkan tanda tanganmu," kata Elias, duduk di sampingku sambil membolak-balik berkas. "Rekening Zwiss Keluarga Waluyo aman, tapi proses pemindahannya harus dengan otorisasi langsung."Aku mengangguk. Selama dua bulan terakhir, Elias bukan hanya menata hidupku di Landan, tetapi juga membantuku memahami kerajaan bisnis ibuku. Kekayaan Keluarga Waluyo jauh lebih besar dan tersembunyi daripada yang pernah kubayangkan."Aku ingin mengajakmu makan malam malam ini," kataku sambil menatapnya. "Sebagai ucapan terima kasih resmi.""Kamu nggak perlu begitu.""Ini bukan soal perlu atau nggak. Ini karena aku mau."Aku memilih Restoran Alana, restoran paling eksklusif di Cimago. Setiap malam hanya menerima segelintir tamu dan reservasinya harus dilakukan berbulan-bulan sebelum

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 6

    "Universitas Ekonomi Landan." Ibuku meletakkan surat penerimaan di hadapanku. "Kamu butuh pendidikan bisnis formal untuk mengambil alih aset Keluarga Waluyo."Aku menatap surat bersegel emas itu. Alamatnya tertulis untuk Livia Waluyo. Bukan lagi Mardana, melainkan Waluyo."Usiaku tiga puluh tahun. Ibu mau aku duduk di kelas bareng anak muda?""Nggak pernah ada kata terlambat untuk belajar," kata ibuku sambil menyesap anggur dengan anggun. "Lagian, kamu butuh kesempatan untuk memulai dari awal."Keesokan harinya, kami terbang ke Landan.Kediaman ibuku di Landan adalah rumah bergaya barat dekat Taman Dinari. Dari luar tampak sederhana, tetapi di dalamnya murni kemewahan."Seseorang akan datang menemuimu malam ini," kata ibuku saat aku sedang membongkar koper. "Temanku, sekaligus rekan bisnis. Dia punya pengaruh besar di Landan. Aku ingin dia melindungimu selama kamu kuliah."Pukul delapan malam, bel pintu berbunyi.Pria yang masuk berusia sekitar tiga puluh lima tahun, berdarah Ivalia te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status