Share

Bab 6 Dia yang Tak Peduli

Author: Artemis Z.Y.
Sudut Pandang Mia:

Linda masuk. "Bu Karina menelepon. Beliau ingin kalian berdua pulang untuk makan malam bersama malam ini."

Ibu mertuaku adalah satu-satunya orang yang menganggap pernikahan kami sungguh, yang memandangku lebih dari sekadar perjanjian praktis bagi Keenan.

Rahang Keenan menegang. "Bilang kalau kami sedang sibuk."

"Aku sudah coba, Pak," jawab Linda. "Tapi beliau bersikeras. Kata beliau, dan ini kutipan langsung, 'Bilang sama anakku yang keras kepala itu, kalau dia nggak mengajak menantuku yang manis pulang untuk makan malam hari ini, aku sendiri yang akan datang ke kantornya.'"

"Ya sudah. Kami akan pergi," kata Keenan.

Perjalanan menuju kediaman Keluarga Bramantyo berlangsung dalam keheningan. Aku menatap lingkungan yang sudah kukenal berlalu satu per satu, semakin lama semakin eksklusif, sampai kami tiba di jalan yang dipenuhi pepohonan, tempat Keenan tumbuh besar. Rumah besar itu berdiri megah dan anggun, jendelanya memancarkan cahaya hangat di bawah langit yang mulai gelap.

Karina sudah menunggu di depan pintu, rambut peraknya tertata sempurna, gaun hijau zamrudnya serasi dengan warna matanya.

"Akhirnya!" serunya, "Sayang-sayangku!"

Dia mendatangi aku lebih dulu, memelukku dengan erat. Aroma parfum Chanel No. 5 yang sudah kukenal mendekapku seperti selimut yang nyaman. "Mia sayang," katanya sambil mundur sedikit, menatap wajahku dengan perhatian seorang ibu. "Kamu kelihatan pucat. Putraku yang gila kerja ini bikin kamu bergadang di kantor lagi ya?"

"Ibu," kata Keenan, memperingatkan.

"Sudah, diam dulu kamu." Karina menepisnya, menarik aku masuk ke dalam rumah. "Masuk, masuk. Bi Rohana sudah menyiapkan hidangan yang luar biasa malam ini."

Interior rumah besar itu tidak berubah sejak kunjungan terakhir kami. Lampu kristal menyinari perabotan antik dan potret keluarga dengan cahaya yang hangat. Segalanya mencerminkan kekayaan yang turun temurun, ditata dengan selera tinggi tetapi tetap terasa nyaman. Karina selalu mampu menjaga keseimbangan itu.

Karina tersenyum ketika hidangan pertama disajikan. Sup jamur yang gurih, dengan aroma kaya yang memenuhi ruangan. "Sebenarnya aku kangen masa-masa waktu meja ini lebih penuh. Keenan, kamu ingat dulu kita selalu adakan makan malam setiap hari Minggu? Semua sepupumu datang ...."

"Itu sudah lama sekali, Bu," jawab Keenan.

Karina menghela napas sambil mengaduk supnya. "Semua sudah berubah ya? Eva, tetangga sebelah kita, bulan lalu baru jadi nenek. Anaknya melahirkan bayi kembar." Dia menatap kami, matanya berbinar-binar. "Ngomong-ngomong soal itu, kapan aku bisa gendong cucuku?"

Garpu Keenan beradu dengan piringnya. "Bu ...."

"Jangan sela omonganku," potong Karina. "Kalian sudah menikah selama tiga tahun. Tiga tahun! Kamu tahu berapa banyak temanku yang sudah jadi nenek dua kali?"

"Kami sibuk dengan pekerjaan," kata Keenan.

"Pekerjaan?!" seru Karina dengan jengkel. "Kamu selalu saja ngomong soal pekerjaan, Keenan. Perempuan nggak butuh suami yang cuma sibuk kerja saja. Kalau mau bahagia, dia perlu dicintai."

Kata "dicintai" menggantung di udara, terasa nyata.

"Perusahaan sedang berada di fase penting," kata Keenan kaku. "Soal anak bisa dibicarakan nanti."

Mata Karina menyipit. "Itu alasan doang, dan kamu tahu itu. Waktu aku mengandung kamu ...."

"Bu, kita sudah pernah bahas ini," potong Keenan dengan suara tajam. "Prioritasku sekarang adalah memperluas perusahaan ke pasar internasional. Anak-anak bakal bikin semua jadi ... merepotkan."

Merepotkan. Kata itu menghantamku seperti pukulan. Perutku bergejolak hebat, aroma makanan tiba-tiba terasa memuakkan. Bintik-bintik hitam menari di tepi penglihatanku, disertai gelombang mual yang datang bertubi-tubi.

"Boleh permisi sebentar?" selaku. "Aku butuh udara segar."

Ekspresi Karina langsung melunak. "Tentu, sayang. Pergilah ke taman. Bunga arum dalu sedang indah-indahnya musim ini."

Aku berjalan menyusuri taman Karina yang terawat sempurna, melewati pagar tanaman yang dipangkas rapi dan bunga-bunga yang bermekaran, sampai akhirnya aku tiba di bangku batu di samping air mancur.

Tanganku bergerak ke perutku. Merepotkan, begitulah sebutan Keenan tentang kehadiran anak dalam pernikahan kami. Apa yang akan dia katakan kalau dia tahu tentang bayi-bayi ini?

Aku memejamkan mata, mengingat setiap kenangan saat aku duduk di tempat ini, memimpikan masa depan di mana Keenan memandang aku seperti dia memandang Tasya. Di mana pernikahan kami lebih dari sekadar kontrak. Kini aku duduk di sini, mengandung anak-anaknya, sementara dia masih memandangku tidak lebih dari sekadar kesepakatan bisnis. Ironi itu nyaris tak tertahankan.

"Sudah kuduga, aku bakal temukan kamu di sini."

Aku menoleh dan melihat Karina mendekat, ada syal kasmir di tangannya. Dia menyampirkannya ke bahuku sebelum duduk di sampingku.

"Kamu selalu suka tempat ini," katanya pelan. "Aku ingat waktu pertama kali Keenan mengajakmu ke sini. Kamu menghabiskan waktu berjam-jam di sini, membuat sketsa bunga-bunga."

"Aku minta maaf, sayang," lanjut Karina sambil menggenggam tanganku. "Aku sangat mengenal putraku. Aku gagal membimbingnya dalam beberapa hal. Setelah ayahnya meninggal ...."

Dia terdiam, suaranya tercekat. "Keenan menenggelamkan dirinya dalam usaha untuk menjadi yang paling sempurna. Nilai sempurna, pebisnis sempurna. Dia lupa bagaimana cara mencerna perasaannya sendiri."

"Ibu, aku ...."

"Biar aku selesaikan omonganku." Genggamannya semakin erat. "Kamu sangat baik buat dia, Mia. Lebih baik dari yang pantas dia dapatkan. Aku bisa lihat caramu memandang dia, seberapa besar kamu mencintai dia."

"Ibu." Suara Keenan membelah kegelapan. "Nggak usah ikut campur."

Karina berdiri, berbalik menghadap putranya. "Jaga istrimu, Nak. Sebelum semuanya terlambat."

Lampu-lampu kota melintas dengan kabur saat Keenan menyetir, buku-buku jarinya memutih karena mencengkeram setir. Aku mengumpulkan keberanian, berusaha menemukan kata-kata yang tepat.

"Keenan," panggilku pelan. "Yang kamu bilang saat makan malam, soal punya anak itu merepotkan ...."

"Kenapa memangnya?" tanyanya dengan suara dingin. "Keluarga bukan hal yang aku inginkan. Kamu sudah tahu itu waktu tanda tangan kontrak."

Hatiku mencelus. Tentu. Aku seharusnya tidak menaruh harapan seperti itu. Aku menggeser posisi dudukku, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman, ketika sesuatu menggelinding menyentuh kakiku.

Aku meraih ke bawah, jariku menyentuh logam yang halus. Aku mengangkatnya. Sebuah tabung lipstik, Dior Rouge, warna yang persis seperti yang sering kulihat di bibir Tasya di kantor. Tutup emasnya yang berkilau di telapak tanganku seolah-olah mengejek, dan aroma parfum Tasya yang khas masih melekat di sana.

Tentu saja. Dia pernah berada di mobil ini. Baru-baru ini. Ini bukan kebetulan. Tasya tidak pernah membiarkan apa pun terjadi tanpa rencana. Dia sengaja menaruhnya di sini, pengingat kejam bahwa dialah orang yang benar-benar diinginkan Keenan.

"Menepi," bisikku, menahan rasa mual.

"Apa?"

"Menepi!" Kata-kataku keluar lebih keras dari yang kumaksudkan. "Aku butuh udara segar."

Rahang Keenan mengeras saat dia menepi ke pinggir jalan. Tanpa sepatah kata pun, aku turun, memeluk diri sendiri di tengah udara malam yang dingin. Mesin mobil meraung sebelum dia melaju pergi, meninggalkanku sendirian di trotoar.

Lampu-lampu kota mengabur saat air mata menggenangi mataku. Bagaimana hidupku bisa menjadi seperti ini? Kepalaku pening, entah karena kehamilan atau emosi, aku tidak tahu.

"Mia?"

Di balik air mataku, aku melihat wajah yang kukenal. Jonah berdiri di sana, raut khawatir terlihat jelas di wajahnya. Tanpa ragu, dia melepas jaket kulitnya dan menyampirkannya ke bahuku.

"Kamu kedinginan," katanya, tangannya terasa hangat di lenganku. "Ngapain kamu sendirian di sini?"

"Aku nggak apa-apa," jawabku dengan susah payah, tetapi kata-kataku terdengar tidak jelas. Tanah di bawah kakiku seakan bergoyang.

"Kamu nggak baik-baik saja." Suara Jonah menjadi mendesak saat tubuhku terhuyung. "Kamu harus ke rumah sakit."

"Nggak, aku cuma perlu ...." Lututku melemas.

"Ke rumah sakit." Jonah memutuskan sambil menangkapku sebelum aku ambruk. "Sekarang!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 100

    Sudut Pandang Mia:Aku menghabiskan sepanjang malam memikirkan hal-hal tak jelas, jadi aku tidak bisa tidur pulas.Suara lirih Gasol menarik perhatianku. Dia terbaring menyamping dengan posisi meringkuk di atas kasurnya di dekat jendela, cakar-cakarnya bergerak seolah dia sedang mengejar kelinci di dalam mimpinya. Aku iri padanya. Gasol selalu bisa tidur nyenyak setiap malam.Layar ponselku menyala dengan cahaya redup. Jam menunjukkan pukul 6.17 pagi. Tanggal juga terpampang, 15 Oktober. Tanggal itu ... adalah hari jadi pernikahanku yang "lama". Tiga tahun pertama, aku selalu menyiapkan segalanya untuk hari ini. Namun, manusia mudah beradaptasi itu ternyata benar adanya. Aku hampir lupa tentang hari jadi itu.Sejujurnya, aku berharap bahwa setelah bercerai, Keenan akan menghilang dari hidupku sepenuhnya, bahwa aku tidak perlu lagi memikirkan pria itu. Namun sepertinya aku sudah terlalu meremehkan fakta. Apakah Keenan akan melepaskan aku dan bayi-bayiku? Kemudian, soal penculikan itu ..

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 99 Pertanyaan-Pertanyaan

    Sudut Pandang Mia:Aku mendengarkan percakapan ibuku dengan pengacaranya di telepon. Aku bisa merasakan bahwa dia benar-benar ingin menjerumuskan mantan suaminya ke penjara. Aku duduk di sofa dan mengganti-ganti posisi duduk, ingin mencari posisi yang nyaman mengingat perutku kian hari kian membesar. Gasol berbaring di dekat kakiku."Ya, aku mengerti implikasinya." Nada melengking yang biasa Ibu pakai saat dia berurusan dengan hukum terdengar dari dapur. "Tapi aku butuh catatan dari tahun 1995 sampai 2000. Semuanya."Gasol menyenggol pergelangan kakiku dengan moncongnya, menaruh mainan tali favoritnya di pangkuanku, lalu menatapku dengan penuh harap. Aku tersenyum dan mengambil potongan tali yang usang itu. Sejak aku hamil, permainan yang kami mainkan tidak terlalu berat. Gasol benar-benar sangat perhatian padaku."Hati-hati ya, Ibu," bisikku pada diriku saat kami bermain versi modifikasi dari lempar tangkap. Berhubung aku sedang hamil, aku tidak bisa melempar terlalu jauh. Meski begit

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 98 Claudia

    Sudut Pandang Mia:Aku memutuskan untuk tidur sejenak di mobil, tetapi kemudian aku tiba-tiba menyadari sesuatu. Keenan tidak menyinggung soal Tasya yang sengaja menabrakku kemarin. Ini pertama kalinya dia mengabaikan Tasya.Setelah kuingat-ingat lagi, dia memang sama sekali tidak menyebut nama Tasya. Dia kini tahu bahwa akulah gadis itu, makanya pemikiran soal Tasya adalah gadis itu sudah tergantikan. Singkatnya, dia sudah tidak tertarik lagi dengan Tasya.Tampaknya aku sudah berhasil mengalahkan Tasya. Aku akhirnya "menang". Namun, pemikiran itu sama sekali tidak membuatku senang karena cinta Keenan sudah menjadi sesuatu yang tak ada artinya lagi bagiku. Mirisnya, kata "cinta" pun terasa tidak tepat untuk mendeskripsikannya."Nanda?" Suaraku terdengar kecil di mobil yang sunyi. "Apa kamu pernah jatuh cinta?"Dia menatapku sejenak. Untuk sesaat, aku kira dia tidak akan menjawab. Entah mengapa aku merasa dia pasti menganggapku bodoh.Namun, dia tetap menjawab, "Pernah."Kata itu terasa

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 97 Ayah Biologis

    Sudut Pandang Mia:Lokasi kafe itu berada tepat di tengah antara rumah lama kami dan apartemen baruku. "Wilayahnya netral", begitulah sebutan pengacaraku ketika menyarankan lokasi ini kepadaku. Dari jendela, aku bisa melihat Keenan yang duduk di meja ujung, tampak sempurna seperti biasa dalam balutan salah satu setelan jasnya yang terjahit rapi. Dia datang lebih awal.Sebelum aku sempat melangkah, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Rafa masuk.[ Ingat, kamu nggak harus menyetujui semuanya hari ini. Ini cuma diskusi awal. ]Aku menarik napas dalam-dalam, lalu merapikan sweterku di atas perut yang jelas terlihat menonjol. Sudah tidak ada gunanya lagi menyembunyikannya. Statusku sebagai wanita hamil sudah tersebar di setiap situs gosip dan blog sosial di kota. Judul-judul berita berkisar dari yang penuh simpati seperti "Mantan Istri Pengusaha Kaya yang Sedang Hamil Jadi Target Serangan Mengejutkan", sampai ke yang penuh skandal seperti "Drama Anak Rahasia Keenan Bramantyo".Keenan berd

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 96 Sudah Jelas?

    Sudut Pandang Mia:Pintu terus digedor, setiap bunyi membuat jantungku berdetak lebih cepat. Suara ayahku terdengar dari balik pintu, dengan nada yang begitu familier, nada yang meneror masa-masa remajaku. "Mia Wongso, buka pintunya sekarang juga!"Aku menatap ibuku yang berdiri tak jauh di sana, matanya tajam, wajahnya serius.Setelah ibuku siuman, dia tidak pernah bertemu ayahku lagi. Aku tak tahu apa yang dirasakan ibuku saat ini. Namun, aku tahu, dia pernah mendambakan cinta kasih suaminya, seperti halnya diriku. Di lain sisi, aku juga sadar, orang seperti apa ayahku itu. Dia seorang yang manipulatif, yang tega mengorbankan istrinya sendiri demi bisa meraup hartanya."Duduklah," perintah ibuku dengan tegas, tidak memberi ruang bagiku untuk melawan. "Pergelangan kakimu sedang cedera, jangan terlalu banyak bergerak.""Biar Ibu yang urus ini," kata Ibu. Kemudian, dia melangkah ke pintu dengan sikap tegas, tampak anggun meski dia melangkah dengan pergelangan kaki yang juga cedera. Pada

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 95 Sang Ayah

    Sudut Pandang Mia:Pagi hari membawa gelombang kekacauan yang baru. Starla tiba-tiba datang pukul 7 pagi, entah bagaimana berhasil meyakinkan polisi yang berjaga untuk membiarkannya masuk. Dia menerobos ke kamar tidurku, masih mengenakan pakaian yang terlihat seperti busana resor. Wajahnya tanpa riasan dan dipenuhi kekhawatiran."Ya Tuhan!" Dia menjatuhkan diri ke tempat tidurku, nyaris menimpa Gasol yang buru-buru menjauh dengan dengusan kesal. "Aku hampir kena serangan jantung waktu lihat berita! Kamu nggak apa-apa? Coba kulihat pergelangan kakimu. Perempuan jalang itu sudah dipenjara belum? Demi Tuhan, Mia, kalau kamu berani menyembunyikan hal seperti ini dariku lagi ....""Starla," kataku, berusaha duduk meskipun masih setengah mengantuk. "Bernapas dulu.""Bernapas? Bernapas?" Dia menarik diri untuk menatapku tajam. "Sahabatku hampir dibunuh dan kamu menyuruhku bernapas?""Ya, karena kamu bisa mengalami hiperventilasi." Aku meraih tangannya yang bergerak ke sana sini. "Aku baik-bai

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 11 Kalah dan Ditinggalkan

    Sudut Pandang Mia:Dunia seakan berputar-putar saat aku tergeletak di dasar tangga, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku dengan gelombang tanpa ampun. Pertunjukan Tasya dimulai dengan satu tetes air mata yang jatuh di saat yang tepat."Keenan!" Suara Tasya pecah, penuh keputusasaan yang dibuat-bua

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 8 Dia Tahu

    Sudut Pandang Mia:"Ke mana kita?" Jonah menyalakan Audi R8-nya, suara mesinnya berdengung pelan."Perempuan berengsek itu keterlaluan banget!" sela Starla. "Kamu lihat nggak cara dia menempel terus ke Keenan? 'Keenan perhatian banget,'" katanya, menirukan suara Tasya. "Sialan, seharusnya tadi aku .

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 9 Laporan Palsu

    Sudut Pandang Mia:Bumi seakan bergoyang ketika aku menatap laporan medis di tanganku yang gemetar. Ini tidak mungkin benar. Tanggalnya, perinciannya, semuanya keliru. Tiga bulan? Itu mustahil. Aku baru mengetahui kehamilanku dua minggu lalu. Tulisan hitam di kertas itu tampak berputar-putar di depa

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 7 Masalah Datang Bertubi-tubi

    Sudut Pandang Mia:Langit-langit putih. Bau antiseptik. Bunyi monitor yang berdetak stabil."Tekanan darahnya sangat rendah. Kalau dia terus mengabaikan kesehatannya, dia bisa kehilangan bayi-bayinya.""Barusan Dokter bilang apa?" Suara tajam Starla menepis kabut di benakku. "Bayi-bayi?"Aku membuka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status