Beranda / Romansa / Istri yang Terabaikan / Wanita Masa Lalu Gavin

Share

Wanita Masa Lalu Gavin

Penulis: Alverna
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-25 22:01:28

Dari sofa Gavin mengamati Aira, wanita itu terlihat fokus memilih perhiasan. Bibir Gavin menyunggingkan senyum. Sudah ia duga, mana mungkin wanita tidak akan takluk kalau di iming-imingi berlian.

“Gavin? Ini kamu kan?” Gavin menoleh saat seorang wanita menyapanya. Alis Gavin bertaut, memikirkan siapa yang menyapanya.

Melihat Gavin yang seakan bingung. Wanita cantik dengan rambut blondenya terlihat mengulurkan tangan.

“Mitha! Teman SMA kamu, ah... aku sedih kamu tak ingat,” kata wanita itu.

Ah... Gavin baru ingat sekarang.

“Astaga... sudah lama sekali kamu di Australia, tentu saja aku tidak ingat apalagi perubahan kamu malah membuat aku pangling,” kata Gavin menyambut uluran tangan wanita yang bernama Mitha.

Mitha tersenyum malu-malu. Tentu saja dia berubah. Mitha bukan lagi gadis biasa-biasa saja yang mengagumi seseorang sewaktu duduk di bangku SMA, lelaki itu adalah orang dihadapannya. Dari dulu Mitha memang menyukai Gavin, tapi sayang Gavin memilih Lyra ketimbang dirinya.

Maka dari
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri yang Terabaikan   Lelaki Bertopeng

    "Jangan mengarang agar aku salah paham dengan Gavin. Aku tahu kamu punya perasaan padanya. Mungkin saja kamu hanya mengarang agar aku bertengkar dengan Gavin," kata Aira yang sudah tak mampu mengontrol dirinya.Mitha memutar matanya jengah, seakan sangat muak pada Aira. Wanita itu melangkah lebih dalam ke kamar hotel, berdiri tepat di depan ranjang, lalu membuka koper kecilnya untuk mengambil sebuah mini dress hitam dengan lengan bahu transparan, cukup elegan."Aku tidak mengarang. Untuk apa aku melakukannya? Asal kamu tahu, buktinya ada di depan mata, Gavin tertarik padaku, denganku dan menceritakan apa pun padaku ketimbang padamu," kata Mitha, membuat hati Aira terasa makin sesak.Benar. Gavin tidak pernah bercerita apa pun padanya.Dada Aira naik turun, berusaha menahan sakit yang menusuk dadanya."Ini baju bekasku. Pakai. Bersyukurlah aku masih baik padamu," ujar Mitha, seakan menunjukkan bahwa Aira hanyalah wanita rendah dan tidak pantas berada di sisi Gavin.Aira tidak menerim

  • Istri yang Terabaikan   Hanya Pajangan

    Aira tahu betul siapa Mitha. Wanita itu jelas memiliki perasaan pada suaminya dan lebih dari itu, terang-terangan ingin merebutnya.“Aku tidak akan bersikap pura-pura baik padamu, karena kamu sudah tahu aku seperti apa,” ucap Mitha datar tanpa basa-basi. Wajah cantiknya menatap Aira dingin, nyaris tanpa emosi.Wanita yang mengenakan gaun hitam panjang dengan renda di bagian lengan itu mengambil kunci kamar, memutar knop pintu, lalu masuk begitu saja. Aira masih mematung di depan pintu, terpaku setelah mendengar kalimat barusan.Mitha berbalik, menatap Aira dengan sorot tak suka saat Aira tak kunjung melangkah masuk.“Kenapa masih berdiri di sana? Jangan berpura-pura terkejut. Aku tahu kamu melihat kami melakukan hal itu di ruangan Gavin,” katanya sinis. Membanggakan diri. “Jadi aku tidak perlu bersandiwara seolah-olah kamu adalah Nyonya Gavin, padahal nyatanya kamu hanya pajangan sebagai istri. Sebentar lah Gavin milikku.”Nada suaranya ketus, tak tahu malu. “Cepat masuk! Aku tidak s

  • Istri yang Terabaikan   Jebakan

    “Sepertinya Tuan Obi juga lupa memberi tahumu,” ujar Mitha cepat, menyadari raut Gavin yang mulai mengeras. Ia sengaja melempar kesalahan pada Obi. Mitha tidak ingin Gavin marah padanya, terlebih setelah lelaki itu mau membuka diri, meski hanya sebagai teman.“Sudahlah. Ayo kita pulang….” kata Gavin dingin sambil menarik tangan Aira, berniat keluar dari acara.Amarahnya bukan tanpa alasan. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, semua tamu mengenakan pakaian hitam, bahkan para pelayan pun seragam dalam warna yang sama. Hanya para penghibur yang mengenakan warna lain. Dan hanya Aira… yang berdiri mencolok dengan gaun berbeda.Seolah-olah hanya dia yang tak diberi tahu.Namun tangan Mitha sigap menahan lengan Gavin.“Obi sebentar lagi akan memberi sambutan. Dia akan mengucapkan terima kasih padamu dan memintamu menemaninya menyambut para kolega,” ujar Mitha cepat namun lembut. “Apa kamu ingin membuat dia kecewa karena kamu tidak ada? Lagipula ini kesempatan besar buatmu, mencari koleg

  • Istri yang Terabaikan   Pesta

    “Kamu terlihat sangat cantik,” puji Gavin saat melihat sang istri baru saja keluar dari salon.Salon itu milik teman Lyra, sebab itu Gavin bisa datang kapan saja meski jam operasional sudah tutup. Rambut Aira dikepang membentuk gulungan rapi, dihiasi beberapa aksesoris putih yang menempel anggun di sela-selanya. Poni yang kini terbelah membuat wajahnya terlihat lebih segar, lebih hidup.Gaun merah yang kemarin mereka beli semakin membuat Aira terlihat bersinar. Gavin yakin, tak ada satu pun wanita di sana yang bisa menandingi kecantikan istrinya malam ini.Sementara itu, Gavin tampak gagah dalam balutan jas hitam yang melekat sempurna di tubuhnya, serasi berdiri di samping Aira.Aira terlihat berbeda. Aura kecantikannya benar-benar keluar, padahal hanya dengan riasan tipis. Wajahnya bersih, lembut, namun memikat.“Apa aku mirip dengan Lyra?” tanya Aira sambil tersenyum lebar. “Aku seperti melihat dia di diriku sendiri.”Mata Aira yang berbinar membuat Gavin kembali jatuh cinta, entah

  • Istri yang Terabaikan   Luluhnya Berhati Batu

    Gavin memicingkan matanya lalu terkekeh pelan saat menyadari bahwa benar, mata Eyang Mandala telah berkaca-kaca. Mungkin terharu karena sebentar lagi akan memiliki cicit. Gavin masih sulit percaya, Eyangnya yang keras kepala, berhati dingin, dan dikenal kejam itu bisa terharu hanya karena melihat gambar janin di layar ponsel.“Eyang menangis?”Alih-alih mendapat jawaban, Gavin justru sengaja mengejek.“Tidak! Mata saya hanya perih karena cahaya ponselmu terlalu terang,” sanggah Eyang Mandala ketus. Namun gerakan tangannya yang mengusap mata justru membuat Gavin tertawa semakin lebar.“Bilang saja Eyang cengeng. Astaga… aku tidak pernah menyangka Eyang bisa menangis hanya karena melihat gambar janin yang bahkan belum benar-benar berbentuk. Apa dulu Eyang juga menangis setiap kali para Nenek hamil?” tanya Gavin, masih dengan nada mengejek.“Diam kamu!” bentak Eyang Mandala. “Sudah saya bilang saya tidak menangis. Lagipula… kamu tahu sendiri anakmu itu akan menjadi penerus keluarga ini.

  • Istri yang Terabaikan   Menguji Kesabaran

    “Benarkah aku jadi lebih berisi?” tanya Aira sambil mengamati tubuhnya sendiri.“Padahal berat badanku masih turun,” gumamnya pelan. Seperti biasa, Aira sangat nyaman bercerita dengan Elvand. Dua kali sebelumnya, lelaki itu yang menemani Aira cek kandungan dan selalu memberi semangat, terutama saat berat badannya terus turun karena sulit makan.“Iya. Kayaknya dedeknya udah makin besar di sana. Sayang banget bulan ini aku nggak ikut lihat kamu cek kandungan. Padahal pengen banget nyapa dedek bayinya,” kata Elvand sambil menunjuk perut Aira.Gavin yang mendengar itu langsung melotot. “Mulai sekarang gue yang nemenin istri gue. Orang yang nggak berkepentingan nggak usah sok peduli,” katanya ketus.“Dih… Aira, dia kenapa sih? Obatnya habis? Kemarin ke mana? Bukannya nggak peduli dan masa bodoh, lah… sekarang sok perhatian,” Elvand mendecak. “Ini orang beneran kesambet setan, ya? Atau emang udah gila?” lanjutnya, nada suaranya jelas mengejek.Elvand cukup terkejut melihat perubahan Gavin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status