Se connecterLayar laptop itu meredup, menyisakan keheningan yang menyesakkan di ruang kerja Edward. Ia tidak segera beranjak.Dalam kegelapan layar yang memantulkan citra dirinya, Edward melihat seorang pria yang mulai dikhianati waktu. Rambutnya yang memutih dan garis-garis dalam di sekitar mata adalah peta dari peperangan yang pernah ia menangkan, namun kali ini, musuhnya jauh lebih personal.Edward dulu percaya kekuasaan adalah perisai paling kokoh. Ternyata, ia salah.Jemari Edward menari di atas trackpad. Satu perintah, satu koneksi terenkripsi. Tak butuh waktu lama hingga wajah Lucas muncul di layar. Rahang pria itu tampak lebih kaku dari biasanya, matanya yang tajam menyimpan kegelisahan yang berusaha ia sembunyikan di balik profesionalisme."Bagaimana?" Suara Edward parau, berat oleh kecemasan yang ditekan.Lucas menggeleng perlahan. Sebuah gestur yang membuat jantung Edward berdenyut nyeri. "Maaf, Tuan Belum ada perkembangan berarti.""Tidak satu pun?""Kami sudah menyisir semuanya," lap
Alex menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya sebelum mulai bicara. Suaranya terdengar berat, seperti ada beban tak kasat mata yang menekan pundaknya.“Tadi malam. Kami keluar sebentar. Naira sedang mengidam... dia ingin Mie Jawa.”Edward mengernyit, guratan di dahinya semakin dalam. “Kau membawa istrimu keluar malam-malam dalam situasi seperti ini?”“Ya,” jawab Alex singkat. Ada nada penyesalan yang tajam dalam satu kata itu. “Kesalahanku.”Lalu ceritanya mengalir. Jalan sepi. Tatapan asing. Motor yang terlalu dekat. Theo. Mobil. Rem mendadak. Senjata. Jerit yang tertahan di dada.“Aku hampir kehilangan mereka,” ucap Alex. Suaranya merendah hingga menyerupai bisikan, namun penuh dengan amarah yang tertahan.“Bukan hampir. Mereka sudah membidik, Pa. Mereka siap menarik pelatuk.” Alex seperti anak kecil yang mengadu kepada ayahnya.Edward memejamkan mata rapat-rapat. Ia terdiam cukup lama, seolah sedang menelan rasa bersalah yang selama puluhan tahun tidak pe
Ruang keluarga pagi itu terasa hangat. Matahari jatuh lembut dari jendela besar, menyentuh lantai, menyentuh rambut Naira yang tergerai saat ia duduk di karpet.Alex berdiri beberapa langkah di belakangnya. Diam, mematung. Tatapannya melekat pada punggung istrinya seolah sedang memahat pemandangan itu ke dalam ingatan permanen. Ada ketakutan yang terselip di balik matanya, ketakutan bahwa bayangan ini bisa saja sirna dalam sekejap mata.Naira tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting lonceng di telinga Alex.“Archie, jangan dimakan mainannya, Sayang.”Bayi itu tidak peduli. Tangan mungilnya sibuk meremas mainan karet, mulutnya bekerja keras, dunianya masih utuh dan tanpa celah.Namun, di kepala Alex, dunia itu hampir saja hancur semalam. Kilatan lampu jalan yang menyilaukan, decit ban yang memekakkan telinga, dan jeritan yang tertahan di tenggorokan kembali menyerbu ingatannya. Jarak antara hidup dan kehilangan yang tragis ternyata hanya setipis embusan napas.Alex menghela
Revan terkejut mendengar apa yang baru saja terlontar dari mulut Regina.Udara di koridor itu mendadak terasa tipis, seolah oksigen direnggut paksa dari paru-paru Revan. Ia terpaku, menatap Regina seolah perempuan itu baru saja berubah menjadi sosok asing yang mengerikan.Salah satu orang kepercayaan Alex itu sempat hampir melontarkan pertanyaan siapa ayah dari bayi yang dikandung Regina, tapi sebuah ingatan langsung menamparnya.Revan teringat laporan medis beberapa tahun lalu, tentang sebuah prosedur ilegal yang gagal, tentang rahim yang terpaksa diangkat demi menyelamatkan nyawa Regina.Perempuan cantik di hadapannya ini tidak memiliki rahim, namun ia membawa sesuatu yang jauh lebih menghancurkan."HIV?" desis Revan. Suaranya nyaris berupa bisikan. Dia tidak ingin lebih menghancurkan Regina lagi dengan membuka aibnya di tempat umum seperti ini.Regina tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan. Bahunya yang biasa tegak menantang dunia, kini meluruh. Ada keputusasaan
Spion kiri mobil itu kini hanya menyisakan rangka. Retak, tergantung tak berguna, menari-nari ditiup angin malam.Namun bagi Theo, hilangnya separuh penglihatan belakang bukanlah kiamat. Matanya justru semakin tajam, menyipit fokus.Theo membaca jalanan bukan lagi dari cermin, melainkan dari pantulan lampu di aspal dan insting yang terasah oleh ribuan malam berbahaya.Di kursi belakang, Alex mengangkat kepala. Di pelukannya, Naira masih bersandar lemas. Napas wanita itu masih memburu, menyisakan sisa trauma yang belum sempat diredam.Tiba-tiba, dari sudut kaca samping, sebuah bayangan melesat. Motor.Jaraknya terlalu dekat. Terlalu nekat. Dua orang berjaket gelap dengan gestur yang tidak asing bagi Theo. Penumpang belakang menggerakkan tangan ke pinggang, sebuah gerakan refleks yang Theo yakini bukan untuk merogoh rokok."Tahan," gumam Theo dingin.tak butuh izin. Mesin mobil meraung, memutus jarak dalam satu entakan gas yang membuat punggung Alex dan Naira menempel ke jok. Tepat saat
Penjual mie itu terlonjak. Jantungnya nyaris melompat saat tangan Theo, orang kepercayaan Alex yang dingin, menyelipkan segepok uang lembaran merah ke dalam saku celemek lusuhnya yang ternoda minyak.“Pak. Tutup. Sekarang,” titah Theo. Suaranya datar dan singkat, tapi nadanya tidak membuka ruang tawar.Pria tua itu menelan ludah dengan susah payah. Matanya menyapu sekitar. Area pinggir jalan yang tadi terasa tenang, tiba-tiba berubah mencekam.Di bawah temaram lampu jalan, muncul pria-pria bertubuh kekar. Tatapan mereka tajam, seperti anjing penjaga yang menunggu satu peluit.“Cepat,” ulang Theo, kali ini lebih rendah, lebih mendesak.Suara gerobak berderit memecah keheningan malam yang ganjil. Tungku arang yang masih membara dipadamkan tergesa dengan siraman air, menimbulkan desis uap yang singkat.Tanpa berani menoleh lagi, pria tua itu mendorong gerobaknya menjauh. Bahunya gemetar, langkahnya limbung. Orang seusianya sudah cukup kenyang dengan asam garam kehidupan untuk tahu kapan







