LOGIN"Abang…?"Suara Theo nyaris tertelan deru mesin motor yang baru saja ia matikan. Matanya berpijar, menatap sosok di depannya dengan binar yang sulit diartikan, antara tidak percaya, lega, sekaligus ngeri.Pria di hadapannya hanya melempar senyum tipis. Guratan perak mulai menghiasi pelipisnya, tanda waktu telah berjalan jauh sejak terakhir kali mereka bersisian.Namun, sorot mata pria itu tetap tak berubah, tajam dan tenang secara mematikan. Itu adalah mata seorang pria yang sudah terlalu sering menatap maut hingga maut itu sendiri bosan menunggunya."Bang Sel," bisik Theo lagi, suaranya kini lebih mantap. "Aku kira Abang sudah… mati.""Hampir," potong Selo Ardi dengan nada ringan, seolah sedang membicarakan cuaca. "Tapi sayangnya, dunia belum selesai menggunakan tenaga kita."Theo segera melompat turun dari motornya. Tanpa kata-kata basa-basi, keduanya beradu peluk. Singkat dan keras sebuah pelukan khas pria yang dibesarkan oleh disiplin dan kerasnya dunia yang penuh bahaya, di mana
Naira hanya berdiri mematung, matanya tidak lepas mengikuti setiap gerak-gerik Alex.Pria itu tampak asing. Wajahnya mengeras seperti pahatan batu, otot rahangnya berkedut, terlalu tegang untuk sekadar urusan kantor di hari Minggu."Kamu mau ke mana?" Suara Naira hampir menyerupai bisikan, seolah takut jika ia bicara terlalu keras, kenyataan pahit akan dia temukan di depan matanya.Alex tidak menyahut. Ia menyambar jaket hitamnya dengan gerakan yang terburu-buru yang terlihat mencekam. Seperti seseorang yang sedang berlomba dengan waktu yang tidak berpihak padanya.Di sudut ruangan, Archie masih duduk di atas karpet, menepuk-nepuk mainan kayunya tanpa dosa. Alex menghampiri bocah itu, lalu mengangkatnya dalam satu sentakan. Ia memeluk putranya lama sekali. Terlalu lama untuk ukuran seorang ayah yang hanya akan pergi melakukan pekerjaan rutin."Jaga Mommy," bisik Alex tepat di telinga mungil Archie. Suaranya serak, sarat beban. "Jaga dede bayi juga, ya?"Archie menatap mata ayahnya. Aj
Revan mengepalkan kertas itu hingga kusut dalam genggamannya, seolah ingin meremas keputusan gila Regina.Namun, hanya butuh satu detik bagi pertahanannya untuk runtuh. Dengan gerakan tergesa, hampir putus asa, Revan membuka kembali gumpalan kertas itu. Telapak tangannya meratakan tiap kerutan di sana, matanya menyapu setiap huruf, membedah setiap goresan tinta seolah ada pesan tersembunyi yang tertinggal di sela kata.Kosong. Tak ada pesan rahasia. Regina tetaplah Regina, wanita dengan keras kepala yang jika dia sudah membuat keputusan tak ada yang bisa mencegahnya.Revan merogoh ponselnya, matanya menyala dengan tekad yang gelap."Kau pikir aku akan membiarkanmu mati sendirian, Re?" bisik Revan pada kesunyian apartemen yang menyesakkan. Matanya berkilat dengan tekad yang gelap. "Jangan harap."Selama ini, Revan hanyalah bayangan. Ia adalah tameng yang dipasang Alex untuk menghalau mantan kekasih yang tak lagi diinginkan.Namun, kedekatan yang dipaksakan itu menumbuhkan sesuatu yang
“Lama tak bertemu, Om. Bagaimana kabar Om Peter?”Suara Regina mengalun tenang, memecah kesunyian ruangan yang mencekam. Tidak ada getar ketakutan di sana, apalagi keraguan. Perempuan itu berdiri dengan dagu terangkat, seolah dialah sang pemilik kuasa di ruangan itu, bukan Peter.Regina melangkah mendekat. Gaun sederhananya tampak kontras dengan kemewahan vila ini. Wajah cantiknya masih menyisakan sisa riasan yang memudar, namun matanya tetap jernih. Terlalu tenang, hingga nyaris terlihat seperti permukaan air yang membeku, menyembunyikan badai di bawahnya.Peter menyesap cerutunya perlahan sebelum menjawab, “Aku selalu baik di negara yang tahu cara memperlakukan tamu dengan hormat. Mungkin ini salah satu alasan Alex bisa betah di sini.”Mendengar nama Alexander Quinn Vancroft disebut, senyum tipis terukir di bibir Regina. Memorinya terlempar ke masa lalu. Masa awal bertemu dengan seorang Alex, Bagaimana mereka berdua berjuang dari nol, membangun mimpi dari reruntuhan. Kenangan itu ma
Layar laptop itu meredup, menyisakan keheningan yang menyesakkan di ruang kerja Edward. Ia tidak segera beranjak.Dalam kegelapan layar yang memantulkan citra dirinya, Edward melihat seorang pria yang mulai dikhianati waktu. Rambutnya yang memutih dan garis-garis dalam di sekitar mata adalah peta dari peperangan yang pernah ia menangkan, namun kali ini, musuhnya jauh lebih personal.Edward dulu percaya kekuasaan adalah perisai paling kokoh. Ternyata, ia salah.Jemari Edward menari di atas trackpad. Satu perintah, satu koneksi terenkripsi. Tak butuh waktu lama hingga wajah Lucas muncul di layar. Rahang pria itu tampak lebih kaku dari biasanya, matanya yang tajam menyimpan kegelisahan yang berusaha ia sembunyikan di balik profesionalisme."Bagaimana?" Suara Edward parau, berat oleh kecemasan yang ditekan.Lucas menggeleng perlahan. Sebuah gestur yang membuat jantung Edward berdenyut nyeri. "Maaf, Tuan Belum ada perkembangan berarti.""Tidak satu pun?""Kami sudah menyisir semuanya," lap
Alex menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya sebelum mulai bicara. Suaranya terdengar berat, seperti ada beban tak kasat mata yang menekan pundaknya.“Tadi malam. Kami keluar sebentar. Naira sedang mengidam... dia ingin Mie Jawa.”Edward mengernyit, guratan di dahinya semakin dalam. “Kau membawa istrimu keluar malam-malam dalam situasi seperti ini?”“Ya,” jawab Alex singkat. Ada nada penyesalan yang tajam dalam satu kata itu. “Kesalahanku.”Lalu ceritanya mengalir. Jalan sepi. Tatapan asing. Motor yang terlalu dekat. Theo. Mobil. Rem mendadak. Senjata. Jerit yang tertahan di dada.“Aku hampir kehilangan mereka,” ucap Alex. Suaranya merendah hingga menyerupai bisikan, namun penuh dengan amarah yang tertahan.“Bukan hampir. Mereka sudah membidik, Pa. Mereka siap menarik pelatuk.” Alex seperti anak kecil yang mengadu kepada ayahnya.Edward memejamkan mata rapat-rapat. Ia terdiam cukup lama, seolah sedang menelan rasa bersalah yang selama puluhan tahun tidak pe







