LOGINBAB 66 — ORANG YANG PERNAH MINUMMalam itu tidak ada seorang pun yang langsung tidur.Setelah bayangan perempuan berkebaya menghilang dari ujung lorong, para pekerja masih berkumpul di ruang tengah.Tidak ada yang berani kembali ke kamar masing-masing.Bahkan mereka yang biasanya paling berani pun memilih duduk berdekatan.Di atas meja masih terdapat gelas berisi air.Gelas yang muncul begitu saja.Tidak ada seorang pun yang mengaku meletakkannya.Fauzan berdiri di dekat meja.Ia memperhatikan gelas tersebut.Air di dalamnya terlihat biasa.Tidak berwarna.Tidak berbau.Namun beberapa menit sebelumnya, seluruh mess dipenuhi aroma jamu.Kemudian muncul pesan.YANG PERNAH MINUM, AKAN TAHU.Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Bagas duduk di kursi."Zan.""Hm?""Bang Boneng bilang ada orang yang pernah minum jamu Mbak Minah.""Iya.""Dan orang itu masih ada di sini."Fauzan mengangguk."Itu yang harus kita cari tahu."Bagas melihat ke sekeliling.Para pekerja duduk berjajar.Ada Pak
BAB 65 — AIR BERUBAH PAHITPagi setelah kejadian di kamar nomor tiga, suasana mess terasa lebih sunyi.Tidak banyak yang membicarakan perempuan berkebaya.Bukan karena mereka sudah tidak takut.Justru sebaliknya.Mereka takut membicarakannya terlalu keras.Takut kalau sosok itu mendengar.Takut kalau suara perempuan dari kamar nomor tiga kembali muncul.Dan terutama...takut kalau botol kecil bertuliskan angka 3 itu bukan sekadar peringatan.Fauzan masih memikirkan semuanya.Perempuan berkebaya.Kamar nomor tiga.Pak Hasan yang tiba-tiba pulang.Pak Darto yang mengigau tentang gudang.Suara Mandor Suryono dari balik gudang.Dan sekarang...angka 3.Semua seperti terhubung.Namun belum ada satu pun yang bisa menjelaskan hubungan tersebut.Pagi itu, Fauzan duduk di teras mess bersama Bagas.Di depan mereka ada dua gelas kopi.Bagas sesekali melihat ke arah kamar nomor tiga."Zan.""Hm?""Kamu lihat bayangan perempuan itu juga, kan?"Fauzan mengangguk."Iya.""Berarti aku nggak halusinas
BAB 64 — KAMAR NOMOR TIGASejak suara Mandor Suryono terdengar dari balik gudang, Fauzan tidak bisa tidur dengan tenang.Bukan hanya karena suara itu.Ada sesuatu yang lebih mengganggu pikirannya.Mandor Suryono sedang berada di kantor polisi.Namun suara laki-laki itu terdengar jelas dari gudang belakang.Aku ora melu...(Aku tidak ikut...)Kalimat yang sama seperti yang diucapkan Pak Darto ketika mengigau.Dua orang.Dua tempat.Satu kalimat.Fauzan tidak tahu apakah itu kebetulan.Atau justru ada sesuatu yang menghubungkan keduanya.Pagi itu ia menceritakan kejadian tersebut kepada Bagas.Mereka duduk di teras mess sambil menikmati kopi.Bagas terlihat tidak percaya."Kamu yakin suara itu suara Mandor?""Yakin.""Jangan-jangan mirip.""Nggak."Bagas terdiam.Fauzan menatap gudang belakang dari kejauhan.Pintu gudang masih terkunci.Tidak ada seorang pun di sana."Yang bikin aneh..."Fauzan berhenti."Apa?""Mandor sudah dua hari diperiksa polisi.""Iya.""Jadi kalau itu benar suara
BAB 63 — TUKANG YANG MENGIGAUMalam itu, tidak ada yang benar-benar merasa tenang.Setelah pesan “14 — LIHAT SIAPA YANG TIDAK ADA” ditemukan, Fauzan dan Bagas mulai memperhatikan semua orang di mess.Mereka mencoba mengingat siapa yang tidak terlihat.Siapa yang pergi.Siapa yang tiba-tiba jarang muncul.Dan siapa yang mungkin mengetahui sesuatu tetapi memilih diam.Namun tidak ada jawaban.Setidaknya belum.Malam semakin larut.Satu per satu pekerja masuk kamar.Lampu ruang tengah akhirnya dimatikan.Hanya lampu teras yang masih menyala.Fauzan sudah berbaring ketika terdengar suara dari kamar sebelah.Awalnya pelan.Seperti seseorang berbicara dalam tidur."Hmm..."Fauzan membuka mata.Ia mendengarkan.Suara itu terdengar lagi."Aku..."Kemudian diam.Fauzan kembali memejamkan mata.
BAB 62 — BOTOL YANG BERTAMBAHPagi datang tanpa membawa rasa lega.Langit masih sedikit mendung ketika para pekerja mulai keluar dari kamar.Beberapa orang langsung menuju kamar mandi.Sebagian lainnya menuju dapur untuk membuat kopi.Rutinitas pagi seharusnya berjalan seperti biasa.Namun semuanya berubah ketika seorang pekerja membuka pintu mess.Ia langsung berhenti.Wajahnya pucat."Eh..."Tidak ada yang memperhatikan.Ia memanggil lagi."Eh, sini."Seorang pekerja lain keluar."Ada apa?"Lelaki itu menunjuk ke depan."Tadi malam ada botol di sini?"Pekerja yang ditanya menggeleng."Nggak.""Yakin?""Iya."Mereka berdua menatap teras.Di sana terdapat botol-botol kaca.Bukan satu.Bukan dua.Belasan.Semuanya berjajar rapi.Seperti sengaja
BAB 61 — SEMUA MENCIUM BAU JAMUMalam berikutnya, mess proyek kembali dipenuhi pekerja.Tidak seperti biasanya.Mereka makan bersama dalam satu ruangan.Tidak ada yang berani makan sendirian.Setelah kejadian malam sebelumnya, sebagian pekerja bahkan meminta agar lampu ruang makan dibiarkan menyala lebih terang.Tidak ada yang protes.Semua merasa lebih aman ketika ruangan terlihat jelas.Fauzan duduk bersama Bagas.Di depan mereka ada nasi, lauk sederhana, sambal, dan sayur.Namun tidak banyak yang benar-benar menikmati makanan.Pembicaraan mereka masih tentang kejadian di Blok C.Tentang botol-botol jamu.Tentang suara perempuan.Dan tentu saja tentang Mandor Suryono."Pak Joko belum kasih kabar?" tanya salah seorang pekerja.Bagas menggeleng."Belum.""Mandor masih diperiksa?""Katanya begitu."Pekerja







